Makna Api
Makna Air
Makna Prosesi
Makna Waisak
_______________

• Waisak 2009

• Waisak 2008

• Waisak 2007

• Waisak 2006

• Waisak 2005

• Waisak 2004

• Waisak 2003

• Waisak 2002

• Waisak 2001




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

Sinopsis Hukum Kesunyataan Tilakkhana

Hukum kesunyataan
TILAKKHANA
ANICCA, DUKKHA , ANATTA

Oleh : Bhiksuni Viryaguna Mahasthavira

 

Perjalanan sebuah kehidupan -- lahir , tumbuh, berkembang, tua, sakit, dan mati – adalah fakta yang akan hadir dan mewarnai langkah semua makhluk. Lalu, bagaimana kita menghayati dan menjalani ketidakkekalan hidup ini, ANICCA terus berproses, semuanya serba tidak pasti , yang pasti suatu hari kita akan mati, hal ini tidak bisa terhindari dan tidak ada yang bisa dibawa hanya amal dan kebajikan tanpa pamrih menentukan setelah ini kita KEMANA ?

Hidup dan kehidupan ini terus berjalan, terus berproses tanpa bisa kita menghentikannya, kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan kemarahan silih berganti terus berubah tanpa bisa mengatakan tidak mau, ia akan terus menghampiri sesuai dengan apa yang menjadi pikiran , selalu diliputi keinginan berlebihan, muncul keserakahan, tidak tercapai menjadi marah, iri dan benci, tidak tahu menempatkan diri menjadi penuh kegelapan batin atau avidya, tutur bahasa, akan mengikuti apa yang ada dan berkembang didalam pikiran itu , sehingga manusia sulit keluar dari tidak mengeluarkan kata-kata dusta, kata-kata kasar, kata-kata fitnah/gossip, kata-kata tidak senonoh/kotor, perbuatan akan mengikuti dan mensukseskan apa yang ada dibenak pikiran , keluar melalui kata-kata dan diterusi dengan perbuatan ini akan berakibat dengan penderitaan.

DUKKHA meliputi kehidupan lahir, tumbuh, berkembang, tua, sakit dan mati ,
berkumpul dengan orang dibenci; berpisah dengan orang dicintai, keinginan tidak tercapai dan terikat dengan Panca Skandha yang meliputi keterikatan dengan kondisi tubuh jasmani (rupa), keterikatan dengan perasaan (vedana), keterikatan dengan bentuk-bentuk pencerapan (samjna). Keterikatan dengan kemampuan dari bentuk batin (Samkara) dan keterikatan dengan kemampuan kesadaran (Vijnana) dan yang pasti segala yang diperoleh didunia ini akan berakhir dengan PENDERITAAN atau DUKKHA.

Segala sesuatu yang terbentuk, terwujud, dibuat semua terdiri dari unsur2 dan tidak bisa berdiri sendiri ANATTA atau TANPA SANG AKU . Lihatlah diri kita manusia dan alam semesta ini ada 4 unsur besar yang mempengaruhi hidup dan kehidupan ini yaitu unsur padat /bumi (manusia tulang , daging dan organ tubuh).
Unsur cair / air, (manusia, darah, air seni, ludah, air mata, ), Unsur panas (energi) , api, (manusia semangat, energi/chi). Unsur angin/udara (manusia ada angin atau udara didalam tiap ruas tubuh manusia karenanya manusia bisa buang angin). Kalau saja ke4 unsur ini bercerai berai apa yang terjadi pada manusia, demikian juga kalau tidak ada keseimbangan di alam semesta , bencana akan mewarnai kehidupan ini .

Kita tidak bisa menghindari ANICCA, DUKKHA dan ANATTA , tetapi bagaimana agar kelak berguna bagi sesama dan diri sendiri?

Kita tahu bahwa lahir kembalinya diri ini sebagai manusia merupakan hasil dari buah karma baik di dalam kehidupan sebelum ini. Lalu, setelah berada di muka bumi ini sebagai manusia, kita diajarkan untuk memilih bentuk atau pilihan tumimbal lahir agar setelah kematian menjadi layak memasuki alam itu. Untuk mencapai atau meraihnya, caranya sudah diajarkan, yaitu perbanyaklah berbuat baik dan tahu membalas budi. Sebagai siswa Buddha, inilah kata kunci yang sebaiknya mewarnai hati dan kesadaran sehingga bisa menjadi pegangan dalam meniti kesempatan kehidupan di dunia yang fana ini.

Modal dasar ini yang akan membuat diri kita mampu menerima proses dan kenyataan tidak kekalnya kehidupan, yang oleh Buddha diajarkan sebagai Hukum Kesunyataan Tilakkhana.. Kita sadar bahwa dalam menjalani misi kehidupan di dunia yang sementara ini membutuhkan uang lewat bekerja tetapi dengan tidak memaksakan diri dan apalagi menghalalkan cara. Kita bisa bersahabat dengan penyakit dan siap terenggut olehnya kalau memang sudah jalannya. Kita mengerti betul bahwa kematian hanya dilengkapi dengan beberapa barang dunia dan pakaian saja. cuma itu dan yang lainnya harta benda harus tertinggal di dunia.

Penghayatan terhadap Hukum Kesunyataan ini yang akan membangunkan kesadaran kita untuk selalu fokus terhadap tujuan hidup di dunia yang fana ini lewat karma-karma baik yang nampak pada pemikiran, perkataan, dan perbuatan. Kita sadar betul bahwa terus menerus berbuat dan menambah kebaikan bukanlah sesuatu yang luar biasa atau hebat sekali. Tetapi, eksekusi kehendak bebas kita itu memang mempunyai tujuan – keluar dari proses kelahiran dan kematian yang kita inginkan – dan itu baru bisa dicapai lewat menjadi manusia berbudi luhur, baik serta tahu membalas budi.

Melalui Hukum Kesunyataan ini, Buddha sebenarnya melatih kita untuk menghadapi hidup ini sebagai proses pembelajaran. Bekal itu bila benar-benar tertanam dan mengakar di dalam hati dan kesadaran akan menjadi alat pengingat bahwa konflik itu tidak berbuahkan karma baik. Bahwa kita sebenarnya tidak layak menghujat atau menghakimi orang lain. Kita tidak boleh memaksakan kehendak meski dengan alasan demi kebaikan sekalipun karena manusia punya kehendak bebas, yang sayangnya tidak digunakan untuk semakin menambah kebaikan. Memusuhi tidak akan membuahkan karma baik. Materi atau uang tidak lebih cuma menjadi pelengkap dalam kehidupan ini.

Kesadaran terhadap Hukum Kesunyataan membuat otak kita semakin pandai dalam mengolah informasi atau pikiran yang datang ke otak. Kemampuan itu akan membuat kita menjadi orang yang tidak mau dan tidak akan terhanyut di dalam kesedihan, kekecewaan, keraguan, kebimbangan, kekawatiran, ketakutan, kecurigaan, dan pikiran-pikiran negatif lainnya. Kenapa bisa begitu? Jawabannya, kita sudah memiliki tujuan hidup dan harapan yang jelas untuk kelahiran kita selanjutnya.

Mengenai Hukum Kesunyataan ini, agama Buddha mengingatkan kita melalui cerita “Khissa Gotami Dengan Segenggam Biji Lada”. Itu dimulai dengan kedatangan seorang perempuan bernama Khissa Gotami yang memaksa bertemu Sang Buddha untuk menghidupkan kembali anaknya yang mati tergigit ulat hitam kecil berbisa. Keletihan, lapar dan haus terkalahkan oleh harapannya bahwa sang anak bisa disembuhkan oleh Sang Buddha.

Dengan langkah gontai dan terhuyung -- dengan kedua tangan memeluk sang buah hati yang warna kulitnya sudah menghijau oleh bisa ular itu -- Khissa menghampiri Anandha. Dengan diselingi oleh isak tangis, ia memohon dan menuturkan kedatangannya itu. Dengan penuh kasih, Anandha menjelaskan bahwa Sang Buddha pergi ke tabib untuk berobat dan tidak mungkin bisa menghidupkan kembali anaknya yang sudah mati selama dua hari itu.

Tetapi, Khissa Gotami tidak percaya. Bagi dirinya, Sang Buddha adalah maha segalanya, pasti bisa menghidupkan kembali anaknya. Anandha dengan penuh kesabaran berusaha menyadarkan sang ibu tadi dan menjelaskan bahwa Sang Buddha tidak bisa menyembuhkan orang sakit, tetapi dapat menyembuhkan orang yang sedang menderita karena batinnya resa dan tidak seimbang.

Sang Buddha yang sedang bermeditasi pun lalu membuka kedua kelopak mata karena Khissa Gotami menjatuhkan diri dan duduk bersimpuh memandang Sang Buddha dengan penuh harap. Dengan pancaran hati yang penuh welas asih dan kasih sayang, Sang Buddha lalu menatap Khissa Gotami dengan menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menghidupkan orang yang telah mati, termasuk Sang Buddha.

Khissa Gotami terperangah, terkejut, hatinya begitu hancur yang diikuti oleh kekecewaan yang begitu besar karena harapannya sia-sia belaka. Dengan masih terisak dan memeluk kencang sang anak, ia bangkit berdiri untuk pergi. Baru beberapa langkah, Sang Buddha memanggil Khissa Gotami dengan berkata, “Carilah segenggam biji lada dari sebuah keluarga yang belum pernah ada kematian di dalam sanak keluarganya. Kalau engkau berhasil, maka anakmu akan hidup kembali.”

Keputusasaan yang mencekam pun berganti dengan hadirnya pengharapan baru. Wajahnya kembali bersemangat. Buah hatinya yang sudah mati itu dititipkan kepada Sang Buddha. Dengan membungkuk dan mohon pamit, Khissa Gotami dengan tergesa pergi untuk mencari persyaratan itu. “Sampai ke ujung bumi pun harus kucari,” ujarnya di dalam hati.

Anandha yang mendengarkan percakapan itu lalu bertanya kepada Sang Buddha, “Mengapa Khissa Gotami diberi persyaratan yang tidak masuk di akal itu, Sang Guru? Bukankah kematian sudah menjadi bagian dari kehidupan setiap keluarga yang ada di muka bumi ini? Dia pasti tidak akan mungkin menemukannya.”

Dengan tersenyum penuh welas asih, Sang Buddha menjelaskan kepada Anandha bahwa kematian anak yang sangat dicintainya itu membuat Khissa Gotami sangat menderita dan tergoncang jiwanya. “Akibatnya, dia tidak dapat lagi berpikir wajar oleh kegelapan batin yang sedang berkecamuk. Mencari segenggam lada bukanlah pekerjaan yang sulit. Tetapi, dari keluarga yang sama sekali tidak pernah ditinggal oleh kematian sanak-keluarga adalah mustahil. Dengan dihadapkan kepada kenyataan itu, kegelapan batin itu akan menghilang dan berganti dengan kesadaran bahwa kematian adalah bagian dari kenyataan yang harus dijalani di dalam kehidupan yang tidak kekal ini.”

Perkataan Sang Buddha memang terjadi. Setelah begitu banyak rumah yang membukakan pintu untuk Khissa Gotami, segenggam lada yang hendak diberikan ditolaknya dengan terpaksa karena setiap rumah selalu menjawab bahwa kematian hadir di dalam kehidupan keluarga mereka. Berbagai bentuk dan cara kematian orang pun menambah perbendaharaannya. Khissa Gotami tersadar bahwa kematian memang tidak bisa dielakkan.

“Kematian adalah bukti ketidakkekalan hidup. Itu tak lebih jalan kita menuju kepada kelahiran baru,” jelas Sang Buddha kepada Khissa Gotami tatkala dirinya kembali menghadap Sang Buddha.

Meski dirinya sudah mulai mampu menerima kenyataan hidup itu, Khissa Gotami memohon petunjuk agar dirinya bisa tetap memiliki semangat hidup tanpa kehadiran anaknya itu. “Kerinduan pasti akan menyiksa. Kalau kemudian saya melahirkan anak lahir dan meninggal juga, apa yang harus saya lakukan?” Tanyanya dengan masih diliputi kesedihan.

Sang Buddha lalu berkata: “Lihatlah disekelilingmu, engkau tidak sendirian. Bila bertemu dengan orang yang lebih tua, anggaplah dia kakakmu. Bila lebih muda, perlakukanlah sebagai adikmu. Kasihilah mereka sebagaimana engkau mengasihi orangtua dan sanak-keluargamu. Jadikanlah mereka sebagai sahabat-sahabatmu yang baik. Dengan mengasihi mereka, engkau akan berbahagia. Terimalah anak yatim-piatu terlantar dan kehilangan kasih-sayang orangtua. Cintailah mereka sebagai anak tunggalmu. Cinta kasih adalah sumber kebahagiaan. Barangsiapa yang hidup dengan cinta kasih, ia akan hidup berbahagia, semua kesedihan, penderitaan karena benci, dan amarah akan musnah dengan cinta kasih. Kebencian tidak akan berakhir dibalas dengan kebencian. Kebencian akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih.
Hanya ada satu jalan yang dapat membebaskan dirimu dari penderitaan yakni dengan melepaskan dirimu dari kemelekatan dari segala ikatan kesenangan hidup ini, hanya dengan membebaskan diri dari segala bentuk keterikatan kebahagiaan hakiki akan dapat diwujudkan. Berpengharapanlah untuk kelahiran barumu dan bukan pada dunia yang tidak kekal ini. Itulah Hukum Kesunyataan.”
Dengan menyadari hal ini Khissa Gotami mohon diijinkan menadi siswa sang Buddha .

Kisah ini menyadarkan kita bahwa tidak kekalnya kehidupan adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri atau kita lawan atau tolak. Berpengharapan pada ketidakkekalan adalah pekerjaan sia-sia. Untuk itu, jalanilah hidup ini dengan terus menerus menambah kebaikan. Adalah bijaksana bila pengharapan dalam menjalani hidup yang tidak kekal di dunia ini tertuju kepada kesadaran tertinggi.
Apa yang kita terima di dunia ini -- materi dan kekuasaan – tak lebih warna dunia yang sementara dan tidak akan terbawa pada kehidupan yang berikutnya. Karma baik – kasih dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya – adalah deposito yang akan menemani dan membawa kita menuju kepada kesadaran tertinggi

Pada saat pengharapan bukan kepada sraddha terhadap kebenaran Dharma, kita akan dikuasai dan memuja dunia yang tidak kekal ini. Kita begitu mudah dipenuhi oleh kegelapan batin, menjadi picik, gila kekuasaan, munafik, aji mumpung, berani melakukan kecurangan, memfitnah, menumpuk kekayaan dengan segala macam cara, dan perbuatan-perbuatan yang semakin menambah keburukan dan penderitaan baru. Akibatnya, berbuat baik menjadi barang mewah karena tidak menarik untuk dikerjakan. Kita lupa bahwa keberadaan kita di dunia adalah buah dari karma baik kehidupan lalu, adalah sangat bijak untuk terus ditingkatkan melalui eksekusi kehendak bebas yang semakin menambah kebaikan.

Jadi, berbuat baik bukanlah sebuah kebanggaan, sesuatu yang patut ditonjol-tonjolkan atau membuat diri jadi membusungkan dada. Kesadaran dan penghayatan yang kuat terhadap Hukum Kesunyataan sangat membantu dan menyadarkan kita agar terus menerus menambah kebaikan dari waktu ke waktu karena memang itulah cara yang harus ditempuh dan merupakan deposito yang akan berbuah pada kelahiran kita mendatang.

 

 

 

Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.