Unit Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bekerjasama dengan tokoh-tokoh agama untuk mempromosikan pentingnya ASI bagi bayi di usia kelahiran.
Acara diselenggarakan di Hotel Park Lane, Ambasador Jakarta (21 Des. 2010), yang dihadiri kurang lebih 100 peserta dari berbagai kalangan penggiat promosi ASI.
Dari WALUBI dihadiri oleh Abbhayahema Kaharuddin dalam hal ini mewakili Ketua Umum WALUBI.
“Kelompok tokoh agama dipilih untuk membantu dalam promosi pentingnya ASI oleh kementerian kesehatan dikarenakan agama memiliki tokoh yang lebih mudah di di anut, akan tetapi bila yang memberikan saran oleh bidan muda, mereka tidak mau mendengar”, demikian di ungkapkan DR Minarto MPS sebagai Dirjen Bina Gizi Masyarakat.
Minarto juga menuturkan, bahwa jumlah anak yang mendapatkan asupan ASI eksklusif diberikan dalam kurun waktu 6 bulan, seiring waktu bertambahnya usia bayi, semakin menurun pula pemberian ASI oleh sang ibu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal itu, diantaranya :
- Ketidak yakinan orang tua terhadap manfaat ASI karena tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai ASI, sehingga ibu menjadi mudah goyah dan tergoda oleh iklan-iklan susu formula yang beredar. Selain itu kadang terkendala masala kultural atau budaya dari nenek moyangnya.
- kondisi lingkungan yang belum mendukung pemberian ASI. Beberapa lingkungan terkadang tidak mendukung program pemberian ASI eksklusif, seperti di pusat perbelanjaan, pabrik, terminal atau kantor terkadang tidak memiliki tempat yang layak untuk menyusui.
- Promosi dan iklan dari susu formula yang sangat intensif, sehingga banyak ibu menyusui yang akhirnya beralih ke susu formula.
Sementara itu Angela Kearney selaku kepala perwakilan UNICEF di Indonesia menuturkan peningkatan pemberian ASI bisa mengurangi masalah kekurangan gizi dan juga kematian anak-anak di Indonesia secara drastis. Selain itu manfaat ASI berlangsung terus selama masa pertumbuhan hingga dewasa yang membuatnya menjadi lebih produktif dan lebih sehat.
"Semua kitab suci memuat ayat-ayat yang menganjurkan pentingnya pemberian ASI. Untuk itu para pemimpin agama, rohaniawan, serta pimpinan organisasi keagamaan di Indonesia bisa menjalankan peran yang penting, karena dengan iman tidak ada yang mustahil," ungkapnya.
Dengan adanya peran dari para tokoh agama dan juga masyarakat, nantinya diharapkan bisa memberikan tekanan bagi penentu kebijakan untuk membuat regulasi yang dapat memenuhi kebutuhan para bayi dan jumlah bayi yang mendapatkan ASI akan semakin meningkat.
Pada tanggal 22 Desember 2010, usai kegiatan Lokakarya “Pandangan dan Peran Organisasi Berbasis Agama dalam Memasyarakatkan Asi” Wanita Walubi mengadakan pertemuan kepada pengurus Majelis-majelis untuk meneruskan tentang promosi pentingnya ASI kepada pengurus majelis Propinsi dan daerah serta vihara-vihara.
Share |
|