Paritta

Dhammapada
Paritta Umum

Mantra
Sutra




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 KITAB SUCI DHAMMAPADA

XVIII.  NODA BATIN

 

  1. Sekarang ini Engkau tua bagaikan daun layu. Raja Kematian sedang menantimu. Engkau sedang berdiri di ambang pintu keberangkatan, namun Engkau belum memiliki bekal perjalanan

  2. 235

     

  3. Bangunlah pulau perlindungan bagi dirimu sendiri. Bergegaslah dalam upaya dan isilah dirimu dengan kebijaksanaan. Setelah membersihkan noda serta kekotoran batin, Engkau akan mencapai bumi surgawi para suciwan.

  4. 236

     

  5. Sekarang ini usia kehidupanmu telah mendekati akhir. Engkau telah melangkah mendekati Raja Kematian. Tak ada tempat peristirahatan di antara perjalananmu, namun Engkau tidak mencari bekal perjalanan.

  6. 237

     

  7. Bangunlah pulau perlindungan bagi dirimu sendiri. Bergegaslah dalam upaya dan isilah dirimu dengan kebijaksanaan. Setelah membersihkan noda serta kekotoran batin, Engkau tak akan lahir dan mengalami ketuaan lagi.

  8. 238

     

  9. Orang bijak hendaknya secara bertahap membersihkan noda batinnya sedikit demi sedikit pada setiap saat bagaikan tukang mas membersihkan emas berkarat.

  10. 239

     

  11. Karat timbul dari besi, dan jika telah timbul akan mengikis besi itu sendiri. Demikian pula, perbuatan jahat diri sendiri akan membawa pelakunya ke alam kesengsaraan.

  12. 240

     

  13. Tidak diuncarkan adalah noda bagi mantra. Tidak dipugar adalah noda bagi rumah. Kemalasan [berdandan] adalah noda bagi kecantikan. Kelengahan adalah noda bagi penjaga.

  14. 241

     

  15. Perangai buruk adalah noda bagi wanita. Kekikiran adalah noda bagi dermawan. Segala jenis kejahatan adalah noda dalam dunia sekarang maupun mendatang.

  16. 242

     

  17. Noda yang lebih buruk daripada semua itu ialah kedunguan. Kedunguan adalah noda terburuk. Duhai para bhikkhu, bersihkanlah noda ini dan jadilah orang tanpa noda.

  18. 243

     

  19. Hidup adalah mudah bagi orang yang taktahu malu, yang nekad seperti burung gagak, yang suka menghancurkan orang lain dari belakang, yang suka mencari muka, yang takabur, yang berpenghidupan kotor.

  20. 244

     

  21. Hidup adalah sukar bagi orang yang tahu malu, yang senantiasa mencari kesucian, yang tidak malas, yang rendah hati, yang berpenghidupan bersih, yang arif.

  22. 245

     

  23. Barangsiapa membunuh makhluk hidup, berdusta, mencuri, berzinah, dan suka bermabuk-mabukan; orang semacam ini seakan menggali liang kubur bagi dirinya sendiri di dunia sekarang ini juga.

  24. 246

     

  25. Barangsiapa membunuh makhluk hidup, berdusta, mencuri, berzinah, dan suka bermabuk-mabukan; orang semacam ini seakan menggali kubur bagi dirinya sendiri di dunia sekarang ini juga.

  26. 247

     

  27. Ketahuilah, duhai orang berkembang, bahwa kejahatan bukanlah suatu hal yang gampang dikendalikan. Jangan biarkan keserakahan dan kejahatan menyeretmu ke dalam penderitaan sepanjang waktu.

  28. 248

     

  29. Orang-orang berdana sesuai dengan keyakinan dan keikhlasan hati mereka. Barangsiapa beriri hati atas makanan dan minuman orang lain niscaya tidak akan tenang batinnya, baik siang maupun malam hari.

  30. 249

     

  31. Barangsiapa berhenti berpikir begitu, ia niscaya akan memperoleh ketenangan batin, baik siang maupun malam hari.

  32. 250

     

  33. Tak ada api menyamai nafsu; tak ada cengkeraman menyamai kebencian; tak ada jaring menyamai kedunguan; tak ada arus menyamai keinginan.

  34. 251

     

  35. Amatlah mudah melihat kesalahan orang lain, namun sangatlah sulit melihat kesalahan sendiri. Kesalahan orang lain dibeberkan seperti menampi dedak, tetapi kesalahan sendiri disembunyikan seperti pemburu burung unggas yang menutupi dirinya dengan ranting pohon.

  36. 252

     

  37. Barangsiapa hanya melihat dan selalu mencari-cari kesalahan orang lain; noda batin dalam dirinya niscaya berkembang. Ia semakin jauh dari penghapusan noda batin.

  38. 253

     

  39. Tak ada jejak di angkasa; tak ada pertapa suci di luar agama ini. Makhluk hidup bergembira dalam noda batin yang merintangi pencapaian Nibbana, namun para Tathagata telah terbebas dari noda batin itu.

  40. 254

     

  41. Tak ada jejak di angkasa; tak ada pertapa suci di luar agama ini. Tak ada perpaduan bersyarat yang bersifat kekal. Tak ada lagi kesangsian bagi para Buddha [dalam hal ini].

  42. 255
Back Next

 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.