Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 WAISAK NASIONAL 2546/2002
DI CANDI AGUNG BORUBUDUR

oleh : Toto Sugiharto

Monumen Candi Borobudur sudah begitu banyak orang tahu dan dikenal di dunia. Keberadaannya dikagumi sebagai salah satu dari tujuh keajaiban. Bila dilihat dari kacamata pariwisata, Borobudur merupakan salah satu obyek wisata di Jawa tengah yang wajib dikunjungi, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Tetapi alangkah baik lebih meriah, bila datang saat perayaan Waisak. Suasana yang ditawarkan jauh merasuk dan lebih berkesan. Alkisah Candi Borobudur itu sendiri sebenarnya berada dalam lembah yang dikelilingi bukit. Di antaranya Bukit Menoreh yang berada di sisi selatan dan Bukit Tidar di sisi Utara. Lembah dan perbukitan itulah yang menjadi penyebab Candi Borobudur seakan tersembunyi.

Borobudur merupakan candi megah peninggalan nenek moyang yang tak ternilai dan ini sebagai candi agama Buddha yang terbesar di Asia Tenggara. Keajaiban bangunan candi terkesan unik, terbagi tiga susun ornamen relief bangunan terpahat antara lain kama dhatu, rupa dhatu dan arupa dhatu. Bentuk yang berbukit dengan visualisasi narasi dikehidupan Sidharta Gautama semasih hidup dan meliputi ajaran-ajaran Sang Buddha dalam kehidupan.

Bangunan candi itu sendiri didirikan sejak jaman Kerajaan Mataram kuno, sekitar tahun 750 hingga 850 masehi oleh Wangsa Syailendra. Secara psikologis memang candi Borobudur serta candi candi Buddha lainnya tersebut memiliki ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat Buddha di Asia.

Candi Borobudur adalah asset bangsa sebagai cagar budaya selain wisata ziarah. Bila bercermin dari ikatan emosional antara candi Borobudur dan umat Buddha di dunia. Para peziarah melaksanakan ritual ini biasanya dilakukan saat di hari Waisak dengan perjalanan prosesi melewati setiap tingkatan, dan berlangsung dari arah timur ke barat. Berarti berawal dari Candi Mendut, melewati Candi Pawon lalu melewati sungai Elo dan Progo, kemudian melanjutkan menuju Candi Agung Borobudur.

Pemerintah akan membuka pintu Borobudur seluas luasnya bagi umat Buddha. Mereka diperkenankan pradaksina dan naik ke wilayah puncak candi untuk melakukan puja bakti dengan jumlah kapasitas umat akan ditentukan pihak Panitia.

Pakar ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Edy Suandi Hamid. Mengatakan, dari hitungan ekonomi, besarnya potensi Borobudur dapat diharapkan dari datangnya kunjungan wisata mancanegara dan ini dapat diterima akal sehat disamping itu harus gencar memberikan promosi dari pemerintah dan industri wisata, serta di dukung pula oleh suasana Indonesia khususnya Yogyakarta yang nyaman dan aman.

Tetapi sayang, Borobudur nasibnya pada dunia parawisata, belum sebaik apa yang diharapkan ada seperti di negara-negara lain, misalnya Thailand. Dari ketimpangan angka dan hikmah krisis moneter sekarang, agaknya mulai menggugah kesadaran banyak orang.




 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.