Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 JANGAN MEMFITNAH ALIRAN TANTRAYANA

Banyak tanggapan dan tulisan tulisan yang bernuansa agama Buddha dengan berbagai penafsiran-penafsiran yang bersifat memojokkan aliran Tantrayana. Sebenarnya pada tujuan dasar dari mayoritas umat Buddha itu sendiri masih banyak yang belum mengerti tentang aliran Tantrayana. Dan sedemikian begitu sempitnya umat Buddha dalam menghayati serta mengembangkan ajaran Buddha Dharma. Namun lebih diutamakan egoisme membenarkan aliran sendiri yang lebih murni, ketimbang faham mengerti lebih dulu bahwa agama Buddha bukan hanya satu dan dua aliran yang berkembang di Indonesia.

Maha Acharya Liansheng Huo fo pernah membaca buku majalah, surat kabar dan berbagai media Buddhis, ketika memulai mempelajari Buddha Dharma, banyak sekali kritikan-kritikan yang muncul mengatakan bahwa aliran Tantrayana mencampur adukan konsep "polyties" dari agama Brahmanisme ke dalam ajaran Buddha Dharma. Bahkan ada pula yang menuduh bahwa aliran ini adalah bagian dari Brahmanisme. Adalagi yang berkomentar ritual ini yaitu hanya melatih Prana, Nadi dan Bindu bukanlah ajaran Buddha. Dan semua itu disamakan dengan pelatihan Chi Kung, peredaran siklus besar(peredaran 12 meridian didalam tubuh) dan siklus kecil (peredaran meridian Ren dan Tu), yakni melatih sari, prana, semangat dari ajaran non Buddhis. Sehingga kritikan diarahkan dengan mengatakan bahwa pelatihan Prana, Nadi dan Bindu bukanlah ajaran Buddhis.

Disamping itu ada pula yang mengkritik bahwa aliran Tantrayana merupakan ajaran "Yoga yang dirahasiakan" dan sering disebut dalam kategori sebagai ajaran sempalan. Semua tulisan-tulisan yang mengkritik itu sangatlah banyak, terutama kritikan yang diarahkan kepada upacara persembahan Api dalam upacara Homa, disama artikan dengan upacara penyembahan api dalam agama tertentu.

Satu hal yang Liansheng Huofo ketahui adalah bahwa Maha Bhiksu Hong Yi juga pernah mengaku dihadapan sejumlah umat ketika memberikan ceramah, bahwa dahulu Hong Yi juga pernah mengkritik aliran Tantrayana, dan menganggap Tantrayana adalah bagian dari ajaran sesat. Akan tetapi Bhiksu ini setelah membaca Vairocana Sutra, barulah memahami makna yang begitu dalam dari aliran Tantrayana, sehingga terbangun dari sadar, bahwa ternyata ajaran Tantrayana tidaklah sesederhana yang telah dipikirkan, selanjutnya Bhiksu Hong Yi menyesali atas perkataan yang pernah dibuatnya dahulu.

Master Hong Yi berpendapat bahwa untuk menilai Tantrayana janganlah melihat hanya pada kulit luarnya saja, namun harusnya masuk kedalam untuk menyelami makna ajaran-ajarannya. Setelah memahami semua itu, pasti tidak akan berani mengkritik aliran Tantrayana. Karena bila memfitnah Tantrayana berarti sama saja dengan memfitnah Buddha Dharma, dan itu merupakan kelakuaan dosa yang sangat besar.

Ajaran Tantrayana adalah salah satu aliran dari ajaran agama Buddha yang begitu dalam, sehingga tidaklah mudah diperuntukkan bagi setiap orang bagi yang belum mengerti serta memahami lebih dulu ajaran dasar agama Buddha Mazhab Theravada dan Mazhab Mahayana. Oleh karena itu disebut ajaran Esoteris.

Disini dikatakan Maha Guru Liansheng Huofo bahwa; ajaran tentang polyteis dalam Tantrayana adalah ajaran analisis internal pembuktian perlindungan dharma. Seperti mempelajari segala bentuk bentuk latihan untuk Prana, Nadi dan Bindu. Sedangkan Tantra Yoga adalah Dharma untuk membersihkan dan mensucikan dari hati nurani, pikiran dan perbuatan badan jasmani.

Persembahan Api dalam upacara Homa adalah Dharma untuk memancarkan Cahaya Terang. Dari semua bentuk proses latihan-latihan yang dikembangkan dalam Tantrayana adalah untuk mengikis karma buruk dan untuk meningkatkan kebijaksanaan,selanjutnya akan terlahir sebagai seorang suci. Kekuatannya sangat besar dan apabila anda mengkritik aliran Tantrayana, berarti anda mengkritik "Dharmakaya Tathagata Vairocana". Karena pada awal tujuh hari setelah Sang Buddha Sakyamuni mencapai penerangan, beliau pernah memberikan kotbah 'Ajaran tentang Pembuktian Internal', dan kotbah itu lebih dikenal yang disebut "Vairocana Sutra". [toto]

Sumber :
Bulanan CENFO Indonesia
NO:19, OKT 2002




Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.