Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 TANYA JAWAB DENGAN SEORANG ALIM ULAMA
Oleh: Maha Acharya Liansheng Huofo

Seorang alim ulama datang mengunjungi saya untuk mengadakan tanya jawab.

Dia memulai dialog tersebut dengan mengatakan: 'Sang Buddha Sakyamuni pernah tenggelam dalam perenungan yang mendalam sekali ketika sedang berada di bawah pohon Jambu di Jambudvipa. Masalah yang direnungkan oleh Beliau adalah pertentangan-pertentangan yang tak habis-habisnya terjadi didunia ini. Ikan-ikan di dalam air saling menggigit; satwa dihutan rimba saling bertarung, saling membunuh dan akhirnya saling makan-memakan. Demikian juga yang terjadi pada manusia, dari zaman ke zaman selalu terjadi peperangan antar negara. Tolong anda jawab, apakah semua permasalah ini dapat diselesaikan?'

Saya jawab: 'Untuk sementara masih belum bisa.'

Si alim ulama itu melanjutkan: 'Sang Buddha Sakyamuni juga pernah merenungkan kehidupan seorang petani. Ia berangkat bekerja ketika fajar mulai menyingsing, dan baru kembali ke rumah untuk istirahat setelah mentari tenggelam di saat sandyakala. Rutinitas ini dilakukan dan dijalaninya setiap hari, dari masa mudanya hingga usia tua dan lalu menghadapi kematian. Tolong anda berikan jawabannya, apakah penderitaan sang petani ini mempunyai makna tertentu di dalam ruang dan waktu kehidupan manusia yang tak terbatas ini.'

Lagi saya menjawab: 'Hanya memenuhi kewajiban belaka.'

Kembali si alim ulama melanjutkan: 'Ketika sang Sakyamuni berziarah mengunjungi para sramana, beliau menjumpai dan menyaksikan kejadian-kejaidan berupa kelahiran; usia tua; sakit dan kematian. Maka beliau pun bertekad untuk meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjalani kehidupan rohani sebagai seorang sramana. Apakah dapat dikatakan bahwa tekad Sakyamuni itu dilandaskan oleh sikap pasif yang pesimis terhadap dunia ini?'

Jawaban saya kepadanya adalah: 'Meninggalkan kehidupan duniawi tidak sama artinya dengan tidak mau tahu dengan urusan duniawi. Sang Sakyamuni meninggalkan kehidupan duniawi bertujuan untuk menemukan jalan, agar umat manusia dapat terbebaskan dari penderitaan dan mencapai Nirvana. Beliau bertapa di bawah pohon Bodhi untuk menemukan kebenaran Catvari Arya Satyani (Empat Kebenaran Mulia) dan Dvadasanga Pratityasamputpada, dan akhirnya membawa beliau mencapai pencerahan sempurna sebagai seorang Buddha yang membimbing dan menunjukkan jalan kepada para manusia dan deva. Setelah itu, dalam kurun waktu 49 tahun berikutnya, Beliau mengelilingi seluruh pelosok di empat penjuru dunia untuk membabarkan Dharma. Semua ini adalah bukti bahwa Beliau tidaklah pasif, tetapi sebaliknya sangat-sangat aktif dan optimis!'

Si alim ulama itu terus mengejar dengan pertanyaan berikutnya: 'Setelah sang Buddha mencapai pencerahan sempurna, apakah Beliau memberi manfaat kepada ikan yang ada dalam perairan, binatang di dalam hutan rimba, para petani yang bekerja di ladang serta apakah beliau juga memberikan solusi terhadap permasalahan kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian?'

Saya menjawab: 'Segala sesuatu yang ada di dunia ini bersifat dualisme, memiliki dua rupa, yakni kehidupan dan kematian. Dan setiap entitas yang memiliki dua rupa, yakni kehidupan dan kematian. Dan setiap entitas yang memiliki dua rupa, pasti dapat dan akan musnah suatu ketika. Buddha Dharma tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat manusia, dan hanya para makhluk hidup di alam manusia yang dapat menerima bimbingan Buddha Dharma untuk melenyapkan segala macam nafsu keduniawian, meningkatkan sifat maitri karuna untuk menuju jalan ke Nirvana.'

Si alim ulama meneruskan: 'Dalam dunia kita yang modern ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang semakin canggih, dan manusia pun semakin kehilangan hati nurani mereka, Semakin tinggi mutu kehidupan material, semakin anjlok tingkat kesadaran moralitas manusia. Dimana-mana terjadi pertentangan dan perselisihan, keamanan semakin tak terjamin. Hati manusia semakin hari semakin busuk, tindakan kriminal semakin meningkat baik kualitas maupun kuantitas. Dan peperangan seolah-olah tak pernah akan berhenti, rasanya mustahil kita mengharapkan kehidupan yang damai, aman sentosa di dunia ini. Kalau demikian keadaan di dunia kita, maka masih bermanfaatkah Buddha Dharma?'

Saya menjawab: 'Semua itu bukan dikarenakan Buddha Dharma tidak berperanan, tetapi karena manusia modern yang selalu mengejar dan mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir. Akibatnya mereka tak sempat lagi meluangkan waktu untuk membina kehidupan mental spiritual mereka, mereka seakan acuh dengan kehidupan rohani. Banyak orang yang beranggapan bahwa hukum karma sama sekali tidak pernah berlaku, maka para pelaku kriminal menjadi semakin bertambah banyak dari hari kehari, dan orang yang sadar akan perbuatan amal menjadi semakin berkurang. Dan celakanya, salah pandang dan salah pengertian terhadap Buddha Dharma, mereka mengira ajaran Sang Buddha terlalu pesimis dan pasif, menganggap Buddha Dharma adalah sebuah ajaran takhayul. Kalau semua ini dibiarkan berlarut-larut, dengan sendirinya dunia kita ini akan menghadapi berbagai macam bencana dan karma buruk yang diakibatkan oleh ulah manusia sendiri.'

Si alim ulama itu mengejar saya dengan pertanyaan yang menghujat: 'Anda mengatakan bahwa dizaman modern ini hati manusia semakin hari semakin busuk, tindakan kriminal semakin bertambah, dari hari kehari adalah akibat dari manusia tidak lagi mempercayai Buddha Dharma?'

Saya jawab dengan tegas: "Ya, memang demikian.' dan segera saya tambahkan: 'Sarva Dharma Sunyata, dan hukum karma berada didalam ajaran Dharma itu.'

Si alim ulama itu melontarkan pertanyaan lain: Apakah anda tidak merasakan bahwa kehidupan manusia modern terlalu kelabu, terlalu muram?'

Saya menjawab: 'Justru karena demikian, maka saya berusaha menekuni ajaran Buddha Dharma, melaksanakannya dengan tekun, dan tetap berusaha membimbing dan menyelamatkan para makhluk hidup, walaupun menghadapi berbagai macam fitnahan.'

Sang alim ulama itu tetap bermuram durja: "Berapa banyak yang dapat kau selamatkan?'

Saya menjawab: 'Bila tak berhasil dalam kehidupan kali ini, saya akan melanjutkan usaha penyelamatan itu pada kehidupan yang akan datang, dan seterusnya dan seterusnya!'

Sang alim ulama itu terdiam.

Setelah sang alim ulama itu pergi meninggalkan saya, saya kembali merenungi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan olehnya. Memang benar, di dasar lautan yang dalam itu, ikan-ikan saling memangsa satu sama lain, ikan besar memangsa ikan kecil, ikan kecil memangsa udang, dan seterusnya. Begitu juga halnya dengan satwa yang hidup di hutan rimba, mereka saling bertarung satu sama lain, hanya untuk saling mengalahkan saling memangsa! Bagaimana dengan manusia? Ternyata sama saja! Perebutan harta kekayaan, kedudukan, kehormatan membawa manusia pada tindakan-tindakan kejahatan yang saling memfitnah, saling mencelakai dan saling membunuh!

Namun, diantara semua manusia itu, masih ada seorang petani tua, yang dibawah terik matahari setiap hari mencangkuli sawahnya dalam kesendirian!

Saya menjadi bimbang, ingin menangis rasanya, tetap tak ada lagi air mata yang tersisa!

Di dunia saha ini, tidaklah banyak makhluk hidup yang memiliki kesempatan untuk mengenal Buddha Dharma. Demikian pula mereka yang memiliki pandangan benar terhadap Buddha Dharma jumlahnya semakin sedikit dan sedkit! Apalagi mereka yang mau dan mampu melaksanakan ajaran sang Buddha dengan tekun masih sisa berapa di dunia ini?

Semua ini menjadi cambuk bagi saya untuk lebih giat dan tekun menulis karangan-karangan yang kiranya bermanfaat untuk menyadarkan para makhluk hidup yang tersesat itu!*

Sumber :
Bulanan CENFO Indonesia
NO:18, SEPT 2002



 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.