BAGIAN I
Enam puluh sembilan tahun yang lalu, yakni pada tahun 1926, seorang pemuda dengan pembawaan tenang, berwibawa, kalem, tampan, jujur dan skolastik datang ke Indonesia dengan membawa ijasah kesarjanaan dari Fakultas Kedokteran Gigi Tokyo yang terkenal di Jepang. Beliau adalah seorang dokter gigi yang cemerlang dan berpengalaman yang telah membuka praktek di kota Shang Hai dan Tokyo sebelum kedatangannya di Indonesia. Pemuda yang berpostur tubuh sedang (seperti umumnya orang Asia) dengan sinar mata yang lembut itu bernama Tin Sing alias Pik Ling dengan marga Tan. Beliau berasal dari Taiwan, lahir pada tanggal 1 Maret 1896 di Kota Fung Yen (Hong Guan) sebuah kotamadya di Thai Cung (Taiwan Tengah). Leluhur beliau berasal dari Cang Cou, propinsi Fu Cien, Tiongkok.
Seorang Profesional yang sukses di bidangnya
Terdorong oleh jiwanya yang lembut, cinta damai dan rasa seni yang tinggi, pemuda Tan Ting Sing ini lalu memilih kota Malang yang sejuk dan damai sebagai tempat berpijak untuk memulai lembaran hidup dengan karier sebagai seorang dokter gigi. Namun pada masa itu beliau hanya berhasil membuka praktek sebagai tukang gigi. Walaupun beliau lulus sebagai dokter namun dokter lulusan Jepang tidak diakui ijasahnya oleh pemerintah Belanda sehingga beliau dianggap hanya setingkat "Tukang Gigi".
Untuk mendapat ijin praktek sebagai dokter gigi, pemuda Tan Tin Sing ini harus mengikuti ujian yang diadakan oleh pemerintah. Namun beliau tak berkehendak menggunakan peluang itu. Jiwa spiritualnya yang tinggi dan penghayatan hidupnya yang amat intuitif membuat ia tidak berambisi untuk mengejar hidup yang berlebih-lebihan seperti pemuda berpendidikan tinggi umumnya. Sehingga walaupun hanya menjadi tukang gigi, pemuda skolastik ini tetap menunjukkan wajah yang berseri-seri degan senyumannya yang khas! Ada sesuatu yang amat tinggi dan halus yang melandasi jiwanya yang membuat pemuda ini berbeda dengan pemuda-pemuda lainnya. Beliau hidup amat disiplin dan sopan. Tidak pernah menyentuh rokok dan minuman keras, tak ada kehidupan malam dan berfoya-foya bagi hidupnya. Di sela-sela kesibukannya sebagai tukang gigi, beliau selalu meluangkan waktu untuk merenungkan jauh-jauh ke depan seolah ada sesuatu yang bukan milik dunia ini yang sedang ingin ia temukan! Ada sisi-sisi lain dalam hidup manusia yang ingin ia tembus dan pahami. Dorongan inilah yang membuat beliau mempunyai hobi baca yang amat besar.
Beliau suka membaca buku spiritual dari berbagai agama dan filsafat baik dari pemikir Barat maupun Timur. Membaca menjadi sesuatu yang teramat penting yang tak dapat dipisahkan dari hidupnya. Barangkali hobi baca inilah yang membuat alam renungannya begitu luas dan mendalam. Beliau tidak berbicara namun kuat berpikir. Disamping itu pemuda Tan Tin Sing ini amat terkenal dengan kesabarannya. Seakan tak ada api amarah di balik dadanya. Kelapangan dada dan kelapangan jiwa untuk memahami seseorang atau sesuatu yang tidak menyenangkan amatlah menakjubkan! Kehadiran beliau di tengah kota Malang cepat menarik perhatian banyak orang. Kehidupan beliau bagaikan air telaga bening yang mengalir tenang.
Walaupun beliau tidak berambisi besar dan hanya berpraktek sebagai tukang gigi, aneh sekali nama "Poliklinik Dental" dokter gigi yang sabar ini justru amat terkenal dan laris hingga ke mana-mana. Pasiennya banyak dan berasal dari berbagai daerah jauh. Keberhasilan ini membuat kehidupannya menjadi lebih dari cukup pada waktu itu. Dengan kondisi ekonomi yang kuat beliau pun dipandang sebagai salah satu bangsawan pada masa itu. Beliau dapat menikmati kemudahan-kemudahan hidup dari hasil usaha beliau yang gampang sebagai tukang gigi. Beliau mampu memiliki mobil berkelas senilai Rp 4000 (setara dengan BMW model terakhir masa kini). Di samping memiliki hobi dengan seni tinggi merangkai tanaman bonsai, beliau juga memiliki hobi yang mahal yaitu fotografi yang kala itu hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang yang berkantong tebal saja.
Sebagai pemuda yang berpendidikan dan berpergaulan luas di kalangan atas, beliau selalu berpenampilan rapi dan tampak anggun dengan baju-bajunya yang berwarna khas putih-putih atau warna merah-gelap coklat tua dengan bahan pilihan yang khas pula, yang amat serasi dengan warna kulit beliau yang bersih dan putih. Ditambah lagi dengan perilaku beliau yang disiplin, sopan dan halus budi bahasa membuat beliau selalu tampak ningrat dengan pribadi yang amat menawan. Demikianlah dokter gigi yang berkharisma namun rendah hati ini pada waktu itu mempunyai citra seorang professional yang sukses di bidangnya. Sekalipun beliau sukses dengan mudah, beliau tidak sombong. Beliau tetap rendah hati, bertenggang rasa dan suka menolong. Kepada pasiennya yang tidak punya, beliau memberikan pelayanan gratis bahkan memberikan bantuan material kepadanya. Tutur katanya begitu lembut dan penuh perhatian, membuat semua orang yang pernah berkomunikasi dengannya merasa dekat dan senang kepadanya. Beliau amat berjiwa sosial suka membagikan sandang dan pangan kepada fakir miskin. Beliau juga terkenal pandai bergaul ke semua lapisan terutama bergaul dengan kalangan bawah yang tidak punya. Beliau kenal baik dengan para penarik becak yang banyak mangkal di depan rumahnya (Jl. Kidul dalam).
Sepuluh tahun kemudian yaitu pada tanggal 5 Oktober 1936, Pemuda Tan Tin Sin menikah dengan Ang Giok Lian, putri dari Lao Yue (semacam pemimpin orang-orang keturunan yang bertugas menarik pajak dari mereka). Pernikahan seperti yang dikisahkan oleh orang-orang Malang, berlangsung sangat meriah, bahkan diramaikan dengan drum band dari kesatuan militer Belanda. Sejak itu dokter gigi yang baik hati ini pun hidup bahagia bersama isterinya Ang Giok Lian.
Cobaan Pertama dalam Keheningan Jiwanya
Namun perkawinan yang berbahagia itu tidak berjalan lama. Pada tahun 1941 terjadilah peristiwa yang mengejutkan dunia. Jepang menyerang Pearl Harbour. Amerika Serikat kemudian menyatakan bergabung dengan pihak sekutu dan ikut terjun dalam kancah perang dunia melawan Jerman dan Jepang. Getaran gelombang kejut itu juga menyapu Indonesia, bahkan mencapai kota sejuk di Jawa Timur, Malang, yang menjadi kacau balau. Semua orang keturunan Jepang dicekal dan diinterogasi, karena Taiwan pada masa itu berada di bawah kekuasaan Jepang serta banyak orang Taiwan yang direkrut menjadi tentara bayaran Jepang. Kebetulan dokter gigi yang sukses ini (Tan Pik Ling) adalah kelahiran Taiwan dan dikenal sebagai seorang yang sangat fasih berbahasa Jepang.
Membaca gelagat tidak baik tersebut beliau pun berusaha keluar dari Indonesia untuk sementara waktu untuk menunggu sampai kekacauan mereda. Namun malang tak dapat ditolak. Tiket kapal yang berangkat ke Taiwan telah habis, dan kapal dengan tujuan yang sama baru akan tiba seminggu kemudian. Terpaksa beliau meninggalkan pelabuhan dengan langkah berat dan kembali ke rumahnya. Keesokan harinya beliau didatangi polisi untuk diinterogasi. Berhubung pemuda Tan Pik Ling ini fasih berbahasa Jepang maka beliau dicurigai sebagai mata-mata Jepang. Sedang isterinya dibawa ke penjara wanita yang juga diinterogasi. Tetapi pihak yang berwajib mengenal Ang Giok Lian sebagai putri dari orang yang berpengaruh di Malang, maka beliau dibebaskan. Tidak demikian halnya dengan suaminya. Tanpa alasan yang jelas beliau dipenjarakan ke Cilacap. Dalam tahanan Belanda, dokter gigi yang halus budi bahasa ini harus menjalani hidup yang keras tanpa sedikit pun kebebasan. Dari kehidupan seorang professional yang sukses dengan keluarga yang bahagai, tiba-tiba harus beralih ke dalam kehidupan terpidana dalam tahanan yang keras.
Sungguh merupakan suatu cobaan hidup yang berat. Beliau dipaksa meninggalkan semua kesuksesan dan kebahagiaan yang beliau miliki tanpa alasan yang jelas. Demikianlah beliau dipisahkan dari isterinya yang terkasih dan hidup sebatang kara dalam kesepian yang menyiksa alam penjara. Sekalipun demikian, beliau tetap tenang seolah tidak terjadi sesuatu apapun. Hidup yang serba kekurangan dan terkekang tidak membuat ia merasakan kehilangan aau termenung dalam kedukaan seperti umumnya orang. Beliau tetap tenang dengan pembawaan yang kalem dan sinar mata yang lembut. Beliau seolah telah banyak mengerti tentang hakekat hidup yang penuh ketidaktentuan ini. Beliau dapat menerimanya dengan hati yang lapang. Di waktu senggang dalam tahanan itu dipergunakan untuk membaca buku-buku religius dan filsafat, serta untuk merenungkan hakekat dan misteri kehidupan manusia. Sungguh beliau memiliki jiwa yang teramat meditatif. Beliau memiliki pandangan dan pola pikir yanga sangat mendalam. Sikap inilah yang membuat beliau dapat hidup dengan jiwa yang bebas seakan tidak ada batasan tembok penjara. Sungguh beliau memiliki pribadi yang luar biasa!
Penyunting: Pdt. Halim Z.B
Sumber bahan Majalah Maitreyawira vol 1
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|