BAGIAN II
Selama dalam tahanan di Cilacap beliau hanya sekali berkirim surat pada isterinya yang isinya penuh dengan kata-kata yang menghibur dan minta dikirimkan satu dua pakaiannya. Beliau sama sekali tidak menyinggung tentang penderitaannya, seolah beliau sedang berpiknik ke kota lain saja. Dari Cilacap beliau dibawa lagi bersama-sama dengan tahanan lainnya yang terdiri dari orang Jepang dan Taiwan ke Australia. Di Australia beliau tidak lama ditahan, sebab tiada bukti yang cukup untuk mencap beliau sebagai mata-mata. Malah sebaliknya, dipengaruhi oleh pembawaan diri yang jujur dan berbudi, dokter Tan ini dipercayai oleh sekutu untuk menyumbangkan bakat beliau sebagai dokter gigi di dalam kamp tahanan Austrlia. Dan beliau pun mengabdi dengan penuh semangat dan rasa tanggung jawab. Waktu terasa berjalan dengan amat cepat tidak terasa tiga tahun berlalu.
Awal Sebuah Keinsafan
Sewaktu perang dunia berakhir (1945), Tan Tin Sing pun dipulangkan ke Taiwan dari Australia. Sesampainya di Taiwan, beliau mencari sahabat-sahabatnya, beliau mulai mengenali Jalan Ketuhanan Buddhisme Maitreya. Mendengar uraian singkat sahabatnya tentang Inisiasi Firmani dan pengenalan diri, beliau menjadi sangat tertarik. Segenap jiwa raganya terpanggil! Demikianlah ada suatu dorongan yang amat kuat yang telah lama mengendap di bawah dasar hatinya. Dorongan yang membuat beliau selama ini terus mencari-cari; mencari untuk menemukan sesuatu yang menjadi miliknya yang asaliah! Dan kini ia merasa sesuatu yang teramat ia kenal itu telah sangat dekat dan akan segera ia temukan; itulah Kebenaran Tuhan Yang Agung! Pada hari itu juga dengan sepenuh hati beliau menerima Pendhiksaan Firmani dalam Buddhisme Maitreya. Ritual agung dilaksanakan di sebuah Vihara kecil dari group Pau Kuang di kota Fung Yen. Pandita pemimpin ritual agung itu bernama She Tu Cin, dan sesepuh mereka bernama Yang Yong Ciang. Seperti yang tertulis dalam diary-nya, pemuda Tan ini berkata: "Itulah peristiwa yang paling berbahagia dalam segenap hidup saya (1946). Seluruh hidup saya mengalami kebangkitan dan perubahan total yang tak mungkin diuraikan dengan kata-kata."
Setelah menjalani ritual Dhiksa Firmani, jiwa beliau spontan mengalami kebangkitan keinsafan yang luar biasa! Beliau begitu bahagia. Kebahagiaan yang tak mungkin dapat dilukiskan dengan kata-kata. Kesukacitaan yang tak pernah beliau alami selama ini. Dada beliau sesak dipenuhi oleh getaran panggilan nuraniah. Panggilan untuk mengabdi dan berkorban demi umat manusia serta bervegetarian seumur hidup. Pada saat itu juga, dalam pandangan beliau, hidup bukanlah sekedar mencari kenikmatan jasmani dan indra. Hidup juga bukan hanya untuk membina keluarga dan memberikan keturunan. Hidup adalah untuk mengabdi dan berkorban demi kebahagiaan dan keselamatan umat manusia. Itulah tujuan dan makna hidup seorang manusia. Demikianlah pada hari itu juga beliau berikrar untuk memberikan segenap hidupnya untuk menyampaikan kebenaran Tuhan dalam Buddhisme Maitreya pada umat manusia.
Sejak hari itu, tidak ada lagi urusan duniawi yang menarik minat dan perhatiannya. Satu-satunya hal yang beliau pikirkan adalah bagaimana beliau harus memulai tugas suci panggilan Tuhan kepadanya. Bagaimana ia harus bekerja dan ke mana ia harus memulainya. Panggilan Ketuhanan begitu kuat mendesak dalam dadanya bagaikan kobaran api yang tak mungkin dipadamkan. Saat demi saat dilewati dengan cemas dan tak tenang seperti petugas pemadam kebakaran yang tak sabar melihat musibah kebakaran di depan matanya. Makan minum tak lagi dirasa. Tidur pun tak lagi dinikmati. Anak isteri dan keluarga tak ada lagi dalam hatinya. Yang ada hanyalah tugas Tuhan kepadanya!
Hatinya terus berdoa, pikirannya terus berencana sebab ia sadar betapa berat tugas yang akan dia emban, betapa besar pengorbanan yang harus ia berikan sebab ia menyadari berbagai rintangan, kesakitan dan penderitaan telah menunggunya di depan mata. Namun, apapun yang akan terjadi, penderitaan apapun yang akan menimpanya ia telah siap untuk menerimanya! Sungguh mulia panggilan jiwanya. Sungguh agung tugasnya. Sungguh luhur budinya. Sungguh besar pengorbanannya. Siapakah dia ini? Yang telah melupakan kebahagiaan dunia dan kenikmatan diri pribadi? Siapakah dia yang telah siap untuk menderita begitu besar? Dialah Yang Mulia Maha Sesepuh Maitreyawira! Perintis Buddhisme Maitreya Indonesia. Orang yang paling berjasa bagi Wadah Ketuhanan Indonesia. Orang yang paling dihormati oleh seluruh umat Ketuhanan Buddhisme Maitreya Indonesia. Budi jasa besarnya tak mungkin terlupakan. Pribadinya yang agung, selamanya terpatri dalam hati seluruh umatnya. Terpujilah segenap budi, kasih, pengabdian dan pengorbanannya.
Datanglah Panggilan Agung itu
Walaupun Tan Pik Ling (selanjutnya disebut M.S. Maitreyawira) memiliki cita-cita dan panggilan Ketuhanan yang begitu kuat mendesak namun beliau tidak berani bertindak sendiri-sendiri sebelum mendapat titah dari panditanya (demikianlah tradisi dalam Buddhisme Maitreya). Dalam waktu penantian itulah beliau membina diri dengan nyata. Membina jiwa, pikiran, ucapan dan perbuatan. Beliau menyadari dengan jelas yang namanya keinsafan bukanlah sekedar kata-kata di mulut atau pikiran di hati melainkan harus diwujudkan dalam perbuatan nyata. Beliau lalu memutuskan untuk hidup membiara di vihara dimana ia telah didhiksa dalam kebenaran Tuhan.
Dalam kehidupan membiara itu beliau dengan rendah hati, penuh rasa ikhlas, mengerjakan semua tugas vihara. Mengepel lantai, membersihkan meja, kursi dan jendela, membersihkan kamar mandi dan toilet, memasak di dapur, mencuci piring dan mangkuk, membelah kayu bakar, membersihkan pekarangan dan halaman vihara. Di samping itu beliau juga melatih diri untuk menguasai semua kode etik ritual dan Kebuddhaan dalam vihara. Membaca amanat dan kitab suci Ketuhanan. Belajar melayani umat dan memberikan khotbah-khotbah singkat. Semua tugas dan pekerjaan yang walaupun tampak kecil dan sepele, dikerjakan beliau dengan tulus, sepenuh hati dan rasa hormat yang tinggi.
Sungguh luar biasa! Walaupun beliau seorang sarjana namun beliau dapat merendahkan diri beliau untuk mengerjakan tugas-tugas yang dianggap rendah dan kasar oleh pandangan umum, terutama oleh mereka yang berpredikat sarjana. Beliau banyak ditertawai bahkan diejek oleh teman-teman sekuliahnya dulu. Ada pula yang menganggap beliau telah putus asa karena gagal dalam hidup hingga bertekad meninggalkan kehidupan duniawi, ada pula yang menganggap beliau gila dan sebagainya. Begitu banyak komentar yang menusuk perasaan yang hinggap di telinganya. Namun Maha Sesepuh menanggapi itu seolah tiupan angin lalu. Hati beliau tidak berpengaruh sedikit pun. Beliau tetap konsentrasi penuh dalam kesibukannya dari pagi hingga malam. Setiap hari beliau bekerja tanpa memperhatikan keadaan penampilannya. Wajah dan pakaiannya tampak kotor sehingga banyak kerabat yang tidak mengenalinya. Sungguh beliau telah berubah total.
Malam sebelum tidur beliau pasti meluangkan waktu untuk bersujud di depan altar, kemudian membaca kitab-kitab suci hingga larut malam. Keesokan harinya belaiu bangun tepat pukul 03.30 untuk mengerjakan tugas rutinnya. Demikianlah M.S. Maitreyawira telah menjadi suri tauladan yang agung bagi kita semua. Sebuah pengabdian yang tampaknya sederhana dan kecil, namun luar biasa bagi jiwa yang sadar! Sikap rendah hati yang agung inilah yang telah menjadi pola hidup beragama yang dianut oleh beribu-ribu umat Maitreya Indonesia hingga sekarang. Orang suci dahulu bersabda, "Manusia awam selalu mengejar sesuatu yang luar biasa, namun manusia luar biasa justru mencari hal-hal yang biasa. Dalam hal-hal yang wajar dan biasa itulah para Nabi dan Buddha sepanjang masa menemukan kesukacitaan yang tak ada habisnya." Bagi para Nabi dan Buddha, hal yang wajar dan biasa itulah mukjizat yang abadi. Demikianlah M.S. Maitreyawira selalu mengajarkan agar membina diri harus dimulai dari hal-hal yang kecil, wajar dan sederhana, jangan mencari yang aneh dan tak wajar, sebab semua itu tidak sejalan dengan kebenaran Tuhan.
Hari demi hari, bulan demi bulan dilewati dengan penuh kesibukan tanpa terasa 2 tahun pun telah berlalu. Gemblengan dan pengertian selama 2 tahun telah membuat Maha Sesepuh mengalami kemajuan spiritual yang luar biasa. Pada musim gugur 1949, Maha Sesepuh Agung Phan Hua Ling beserta maha sesepuh lainnya berhasil melindungi Ibunda Suci sampai Hongkong setelah berjuang dengan susah payah meninggalkan Tiongkok yang pada waktu itu mulai dikuasai komunis. Maha Sesepuh Agung Phan Hua Ling, selaku pemimpin tertinggi group Pau kuang, datang ke Taiwan untuk meninjau perkembangan Buddhisme Maitreya di sana. Ketika beliau berkunjung ke kota Fung Yen, beliau bertemu dengan Maha Sesepuh Maitreyawira. Melihat pengabdian dan pengorbanan Maha Sesepuh yang begitu besar dengan pembinaan diri yang begitu disiplin, Maha Sesepuh Agung Phan sangat tersentuh. Sejak itu beliau mengajak M.S. Maitreyawira berjalan-jalan pagi, beranjak dari situlah beliau mengetahui bahwa Sesepuh pernah tinggal di Indonesia (di Malang). Sekembalinya Maha Sesepuh Agung Phan ke Hongkong beliau segera melaporkan perihal ini kepada Maha Guru Agung Ibunda Suci. Ibunda Suci pun segera mengangkat M.S. Maitreyawira menjadi pandita dan memberikan mandat suci pada beliau untuk merintis pengembangan Jalan Ketuhanan Buddhisme Maitreya di bumi nusantara. Demikianlah setelah menunggu selama 2 tahun akhirnya tibalah panggilan agung yang dinanti-nantikan!
Penyunting: Pdt. Halim Z.B
Sumber bahan Majalah Maitreyawira vol 1
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|