Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 MENGENANG MAHA SESEPUH MAITREYAWIRA

BAGIAN III

Pada akhir tahun 1949 beliau berangkat ke Hongkong untuk mengurus ijin kembali ke Indonesia. Karena pengurusan ijin yang agak berbelit-belit beliau terpaksa menunggu hingga 3 bulan. Sambil menunggu, selama 3 bulan itu pula beliau menerima gemblengan yang ketat dari Maha Sesepuh Chen Hwi Ru di Hongkong hingga beliau betul-betul menguasai segala kode etika dan kewajiban seorang pandita, kode etika ritual bakti puja dan peraturan-peraturan suci Kebuddhaan. Selama 3 bulan kehidupan di Hongkong tidak gampang dilewati, sandang, pangan sangat terbatas, uang simpanan pun sangat sedikit. Simpanan yang sangat sedikit itulah yang dipergunakan untuk membeli sebuah pratima Buddha Maitreya dan seperangkat pelita suci. Tak lama kemudian keluarlah ijin untuk berangkat ke Indonesia (1949). Beliau segera berkemas seadanya dan tak lupa membawa serta pratima Buddha Maitreya yang senantiasa dipegangnya erat-erat penuh rasa syukur, haru dan kasih. Tugas agung telah menantinya di depan mata,. Ketika kapal berlayar angin sepoi-sepoi meniup, gelombang dan ombak terus silih berganti mendorong-dorong lambung kapal seolah-olah alam ingin berkata pergilah, pergilah, tugas mulia sedang menunggumu di seberang sana.

Setelah kapal berlayar, penumpang-penumpang mulai mempermasalahkan tempat tidur mereka. Rupanya setiap dek untuk tidur harus telah dipesan jauh hari sebelumnya sedangkan Sesepuh tidak pernah tahu tentang itu. Sehingga beliau diusir ke sana ke mari. Di sini dibenatk di sana mau dipukul, beliau terus berpindah-pindah sambil membawa bungkusan bajunya serta memeluk erat-erat pratima Buddha Maitreya. Dengan sabar dan ikhlas beliau menerima bentakan, hinaan dan cemoohan dari sesama penumpang. Maju ke depan dimaki, mundur ke belakang juga disalahkan, sampai ada penumpang yang sudah mulai kasar dan menari-narik baju beliau, ada pula yang mulai mendorong, begitu mendorong, Maha Sesepuh pun jatuh terduduk ke satu sisi, di sisi seorang pemuda yang kekar dan berwajah bersih dengan pembawaan yang polos. Pemuda kekar ini spontan merasa iba dan berkata, "Tenang jangan takut duduk saja di samping saya,.." Rupanya pemuda itu sedang menunggu sahabatnya untuk memastikan dipan tempat tidurnya. Dan sahabatnya belum muncul sampai sekarang, dan kini dengan tenang ia mempersilahkan pula Maha Sesepuh Maitreyawira duduk di sampingnya. Melihat kenyataan ini para calo, biro jasa tiket beserta para penumpang lainnya menjadi berang mereka mau menyingkirkan Maha Sesepuh. Tiba-tiba terdengar suara parau dengan omongan yang kasar, "Siapa berani mengganggu teman saya? Mau cari mati!" Semua orang terdiam, suara itu keluar dari mulut seorang lelaki kekar setengah baya, rupanya dia inilah sahabat pemuda kekar yang mengijinkan Sesepuh duduk di sampingnya itu. Semua orang menjadi takut sebab mereka kenal, orang kekar setengah baya itulah preman Tio Ciu. Tukang pukul yang terkenal itu.

Demikianlah akhirnya Sesepuh terus duduk istirahat di samping pemuda kekar yang baik hati ini, dialah pemuda Gautama Harjono (yang kemudian menjadi suksesi M.S. Maitreyawira sebagai Maha Sesepuh Wadah Ketuhanan Buddhisme Maitreya Indonesia). Inilah yang namanya jodoh. Bila Tuhan menghendaki, maka sejauh apapun jarak yang memisahkan akan tetap dipertemukan! Mereka berdua sama-sama terhambat, yang satu terhambat karena ijin berangkat, sedang yang lain terhambat karena keadaan di Cina yang sedang gawat (sedang perang). Jika tiada hambatan itu maka pasti salah satunya akan berangkat lebih dahulu atau lebih terlambat, dan pertemuan di atas dek kapal yang sesak itu pun takkan pernah terjadi.

Selama pelayaran, kapal yang kecil itu penuh sesak dengan suara gaduh, suara orang bertengkar, orang berbicara keras, tertawa lepas, suara benturan antar bagasi, peti, botol dan sebagainya. Pokoknya suara riuh rendah tak habis-habisnya. Semua orang tampaknya sibuk dan tak tahu apa yang disibukkan. Sekali pun demikian angin laut tetap bertiup dengan lembut diikuti dengan baris-berbarisnya gelombang laut yang membuat kapal bergoyang tenang dalam irama alam yang seolah membisikkan dharma tentang kesabaran dan kedamaian yang terus membelai Maha Sesepuh yang sedang duduk tenang dalam samadhinya yang khusuk yang tidak terganggu sedikit pun oleh suara ribut dari sesamanya. Sekali-kali beliau membuka matanya dengan sinar mata yang lembut memandang jauh, jauh, ke depan seolah menembus batas ruang dan waktu! Beliau sedang memikirkan sesuatu yang begitu tinggi dan halus,. Oh, hanya Lau Mu yang mengetahui, Orang-orang membicarakan badan dan debu dunia, anak, istri, kesenangan dan kenikmatan indrawi, namun Maha Sesepuh sibuk dalm keheningan jiwanya. Jiwanya melebur dalam keheningan alam! Batinnya teduh dalam terang kasih Lau Mu.

Penumpang-penumpang sibuk tidak pernah memperhatikannya, namun pemuda Gautama terus mengamatinya. Timbul rasa kagum dan hormat pada paman yang tidak biasa ini. Mulailah pemuda Gautama memberanikan diri untuk memperkenalkan nama kecilnya sambil bertanya tuan siapa? Darimana dan mau kemana serta membawa tugas besar apa? Dalam kesempatan itulah Maha Sesepuh menjelaskan apa yang telah menjadi misi hidupnya. Dan memperkenalkan pada pemuda Gautama serta memberikan satu buku untuk dibaca. Sambil membaca dan sambil mendengarkan uraian Sesepuh, pemuda Gautama menjadi amat terkesan dan memutuskan untuk memohon Jalan Ketuhanan Buddhisme Maitreya.

Di dalam kapal ada peraturan 6 orang yang tidur berdekatan hanya mendapatkan 6 mangkuk dan 1 piring. Besoknya beliau hendak mencuci piring (yang dipakai bersama itu) namun pemuda Gautama segera mengambil alih sambil berkata, "Usiamu lebih lanjut biarkan saya saja yang mencuci." Waktu makan semua orang berebutan takut kehabisan lauk dan nasi, namun Sesepuh tenang-tenang saja, beliau sejak awal terus bersikap mengalah. Melihat gelagat demikian pemuda Gautama sekali lagi siap mengambilkan nasi untuknya. Pada waktu makan, Sesepuh terus memberikan sayur padanya. Di sanalah ikatan batin mereka menjadi semakin kuat. Setiap ada waktu senggang M.S. Maitreyawira pasti memberikan uraian Dharma Hati kepada pemuda Gautama Hardjono yang mendengarkannya dengan sepenuh hati. Hati pemuda Gautama ini pun menjadi semakin terbuka.

Perjalanan dari Hongkong ke Surabaya membutuhkan waktu 8 hari perjalanan. Hari-hari yang indah itu mereka lewati dengan studi spiritual yang mendalam. Tanpa mereka sadari, telah terjalin sebuah ikatan batin yang kuat seperti seorang tua dengan anaknya. Sesampainya di pelabuhan Surabaya, Yang Mulia memberikan alamat beliau di Malang kepada pemuda Gautama. Dan sewaktu hendak berpisah, terasa amat berat di hati masing-masing. Sehingga pada malam harinya setelah perpisahan itu, "Saya meneteskan air mata seolah kehilangan orang tua tercinta "(Demikian aku M.S. Gautama Hardjono pada MM).

Penyunting: Pdt. Halim Z.B
Sumber bahan Majalah Maitreyawira vol 1

Sumber :
PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA



 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.