BAGIAN IV
Awal Perjuangan Ketuhanan
Setibanya di Malang Sesepuh Maitreyawira menemukan semuanya telah berubah. Rumah indah yang beliau tempati bersama thai thai (istrinya) telah berpindah ke tangan orang lain. Sebab ketika terjadinya peristiwa penyerangan Pearl Harbour, rumah Sesepuh beserta semua peralatan dan perabotan semuanya dititipkan pada seorang teman Sesepuh (keturunan Tionghoa) yang membuka toko obat. Hal ini terpaksa ditempuh, jika tidak Belanda akan menyita rumah-rumah orang Jepang dan orang kelahiran Taiwan, namun tidak akan menyita rumah orang keturunan Tionghoa seperti teman beliau yang keturunan Tionghoa. Waktu itu teman Sesepuh memberikan jaminan sebanyak Rp. 3000, untuk penjualan "pura-pura" rumah tersebut dan menurut perjanjian lisan rumah beserta isinya akan dikembalikan bila ditukar dengan uang jaminan yang telah disepakati bersama begitu perang selesai. Namun ternyata, teman Sesepuh itu tidak jujur ketika Jepang masuk, rumah itu dijual sedangkan perabotan dan perlengkapan untuk praktek dokter gigi semuanya diambil angkatan laut Jepang. Kenyataan yang pahit inilah yang Sesepuh temukan setelah bersusah payah kembali ke kota Malang yang ia cintai. Semua harta milik telah diambil orang, tinggal kedua tangan terjuntai kosong. Namun beliau tidak putus asa. Beliau tidak sedih seolah tidak terjadi sesuatu apa! Beliau telah menemukan Hukum Kebenaran Tuhan Tertinggi dalam Buddhisme Maitreya. Dalam pandangan beliau hidup ini tidak lebih hanya bagaikan sebuah sandiwara yang singkat dan penuh ilusi. Hatinya tenang bagaikan air telaga yang tetap mengalir diam.
Karena beliau sudah tidak punya rumah, Sesepuh pun tinggal di rumah mertuanya. Selama ditinggalkan Sesepuh, mertuanya pun menjalani hidup yang penuh derita. Ketika sekutu memborbardir Surabaya (1945) dari darat, laut dan udara, Sang Lo Tia, papa mertua Sesepuh meninggal dunia. Dan sampai tiga minggu jenasahnya disembayamkan di rumah, karena waktu itu tak ada orang yang berani keluar rumah apalagi menguburkan orang. Kemudian terjadi pula pergantian mata uang yang membuat keadaan semakin kacau. Mata uang Belanda diganti mata uang Jepang ketika Jepang masuk. Kemudian mata uang Jepang diganti mata uang RI setelah proklamasi dikumandangkan. Lalu mata uang Belanda ketika Belanda mencoba lagi menjajah, dan akhirnya kembali lagi ke mata uang RI. Saat itu kehidupan mereka amatlah susah dan memprihatinkan. Sandang, pangan dan papan pun menjadi masalah. Istri dan ibu mertuanya tampak amat tertekan dengan keadaan hidup yang serba kekurangan ini. Namun lain halnya dengan Sesepuh. Jiwanya tetap tengan, sinar matanya lembut, nafasnya pelan penuh kesabaran. Bagi beliau inilah timing (saat,*Red) yang tepat untuk memulai tugas suci yang telah dipercayakan oleh Maha Guru Agung Ibunda Suci kepadanya!
Pada suatu malam yang tenang setelah semua anggota keluarga telah menyelesaikan tugas masing-masing, Sesepuh mulai menyampaikan suara hatinya yang terdalam tentang kebenaran Tuhan dalam khotbah yang singkat kepada anggota keluarganya sembari mengajak mereka untuk menempuh hidup dalam Jalan Ketuhanan dan bersayurani. Semua anggota keluarga beliau dengan tulus dan penuh iman menyambut panggilan suci itu dan mereka semua pun menjadi sayurawan sejak malam itu. Mulai saat itulah Sesepuh berjuang sendiri menyiapkan segala sarana dan perangkat kebutuhan bagi sebuah vihara. Meja, kursi dan jok-jok bakti-puja semuanya dibuat oleh Sesepuh sendiri hingga tiba Pengagungan Tuhan di musim semi 1950, dengan persiapan yang amat sederhana diresmikanlah Vihara Buddha Maitreya (Chiau Kuang Fo Thang) sebuah nama yang diberi oleh Patriat Agung Cin Kung melalui amanat sucinya kepada Sesepuh sewaktu beliau berada di Hongkong. Itulah saat berdirinya vihara pertama yang menjadi vihara induk untuk seluruh Vihara Maitreya di Indonesia. Sebuah momentum yang teramat penting untuk dikenang selama-lamanya oleh segenap umat Maitreya Indonesia.
Setelah berdirinya Vihara Buddha Maitreya yang walaupun amatlah sederhana dengan ukuran 3x4 meter, Sesepuh mulai sibuk memberikan waktu, semangat, pikiran dan semuanya yang ada pada bahtera suci (vihara) yang masih bayi dan lemah itu. Sekalipun vihara itu kecil namun memiliki prinsip yang kuat yaitu tidak menerima sumbangan dana dari luar! Untuk itulah kembali Sesepuh berjuang untuk mencari nafkah sebagai tukang gigi dengan peralatan yang amat minim. Sedang thai thai membuat kue tau sa untuk dijual ke pasar guna mendapat kelangsungan berkibarnya bahtera Tuhan yang masih kecil itu. Sekali pun Sesepuh dan thai thai hidup bersama namun mereka berdua telah bertekad menjalani hidup suci (brahmacaria). Sungguh agung dan luhur tekad mereka.
Hari-hari pertama Sesepuh memperkenalkan kebenaran Tuhan kepada sahabat atau tetangganya, namun yang ia dapatkan hanya cemoohan, kata-kata sindiran, bahkan makian kasar dan tuduhan bukan-bukan, komentar yang amat menusuk perasaan. Berhari-hari beliau coba namun tetap gagal. Tidak ada yang mau mempercayainya. Meskipun demikian, beliau tetap sabar dan menunggu kedatangan umat manusia yang berjodoh dengan kebenaran Tuhan. Setiap hari, kapan dan di mana pun juga, beliau tidak akan sia-siakan waktu terutama pada saat-saat praktek pengobatan gigi, di sela-sela kesibukan beliau pasti akan menyelipkan sedikit penjelasan tentang keagungan Kuasa Firman Tuhan dan betapa itu adalah Jalan Keselamatan yang abadi dan sebagainya. Akhirnya berhasil juga beliau memperkenalkan Jalan Ketuhanan kepada seorang pemuda bernama Lim Cui Cin. Pemuda inilah orang pertama yang menjadi umat Maitreya Indonesia (beliau masih hidup hingga kini dan telah berumur lebih dari 90 tahun). Sungguh berat dan tidak gampang perjuangan Maha Sesepuh Maitreyawira pada waktu itu. Untuk membimbing seorang umat saja beliau harus berkorban waktu berbulan-bulan untuk meyakinkannya. Oh Sesepuh yang mulia, sungguh besar pengorbananmu, sungguh besar budi jasamu. Dimuliakanlah semua penderitaanmu.
Bila ada yang mau memohon Ketuhanan, maka beliaulah yang paling sibuk. Beliaulah yang memasak air dan menyiapkan buah-buahan. Beliaulah yang menjadi sang-li dan shia li, beliau pula yang melaksanakan ritual persembahan sajian, ching than (pemanjatan doa kepada Tuhan dan para Buddha), menulis naskah suci Firmani, mendhiksa, menguraikan Tri Mustika lalu menyiapkan makan siang untuk melayani umat baru tersebut. Belum lagi tugas pembersihan vihara yang rutin, mencuci kain jok sembahyang, kain kursi dan meja altar, kain jendela dan banyak lagi.
Semua itu beliau kerjakan sendiri tanpa dibantu oleh siapa pun. Ditengah sela-sela kesibukannya sebagai dokter gigi beliau pandai membagi waktu hingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia tanpa mengerjakan tugas Tuhan. Semua jerih payah dan keletihan beliau tanggung sendiri. Menahan cemoohan dan kekecewaan sudah menjadi makanan sehari-hari. Ketika beliau kecewa dan putus asa tiada seorang pun yang membesarkan hatinya. Semua kepahitan beliau telan sendiri. Air mata beliau hanya menitik ke dalam rongga dadanya sendiri. Demikianlah beliau berjuang dalam kesendiriannya". Dan Tuhan melihat itu semua
Tuhan Maha Pengasih. Kasih Tuhan tidak pernah berubah hingga kapan pun. Demikianlah perjuangan Sesepuh Maitreyawira pun sedikit demi sedikit menampakkan hasil. Orang-orang yang memohon Ketuhanan pun bertambah. Hingga suatu hari beliau berhasil memperkenalkan Jalan Ketuhanan pada seorang saudagar muda yang bernama Jeo Chai Kui yang berasal dari Pasuruan. Saudagar Jeo ini luar biasa sekali panggilan Kebuddhaannya. Setelah memohon Jalan Ketuhanan beliau segera bertekad untuk mengabdikan hidupnya pada Jalan Ketuhanan. Atas bimbingan Sesepuh yang intensif pada bulan 12 tanggal 15 Imlek 1950 saudagar Jeo ini membuka cetya di keluarganya yang akhirnya berkembang menjadi Vihara Yen Ming dan beberapa vihara lainnya. Saudagar Jeo inilah yang kemudian dikenal sebagai Sesepuh Sasanavira.
Setahun berselang kembali Sesepuh berhasil memperkenalkan Jalan Ketuhanan pada seorang pedagang muda yang amat energik. Pemuda Oei ini sangat kritis dan skolastik. Beliau juga memiliki kebulatan tekad untuk mengabdikan hidupnya bagi Wadah Ketuhanan. Berkat bimbingan Sesepuh Maitreyawira, pemuda Oei yang berasal dari Semarang ini akhirnya pada bulan 9 tanggal 15 Imlek 1951 mendirikan Vihara Kuang Ming (Mahabodhi Maitreya) dan beberapa vihara lainnya di Semarang dan Jawa Tengah. Pemuda Oei inilah yang kemudian menjadi dharma duta yang handal dan dikenal sebagai Sesepuh Dharmavira. Kemudian datanglah seorang pedagang muda yang kekar dari Jakarta untuk menjumpai M.S. Maitreyawira. Pedagang muda ini kelihatannya sudah seperti sangat akrab dengan Sesepuh. Begitu bertemu mereka pun segera bersalaman dan sambil berpelukan hangat. Hubungan mereka tampaknya amat istemewa seperti orang tua dan anak yang sudah lama berpisah. Rupanya dialah pemuda yang telah berbaik hati menyediakan tempat tidurnya pada Sesepuh sewaktu mereka berlayar bersama dari Hongkong menuju Surabaya. Pemuda itulah Gautama Hardjono. Kini ia datang untuk memohon Jalan Ketuhanan. Setelah memohon Jalan Ketuhanan pemuda Gautama ini langsung bervegetarian dan berjanji membangun vihara di Jakarta.
Penyunting: Pdt. Halim Z.B
Sumber bahan Majalah Maitreyawira vol 1
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|