Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 MENGENANG SETAHUN WAFATNYA YANG ARYA GAO SHAN YU REN

BAGIAN I

Sungguh! Yang Arya adalah seorang pejuang dan pekerja ulet. Baik dalam khotbah umum maupun bimbingan individual, dengan penuh semangat Beliau memberikan penegasan yang berulang-ulang bahwa kita melaksanakan Misi Ketuhanan hendaklah berjuang dari detik ke detik, bekerja dengan sekuat tenaga, intensif dalam pembinaan, walaupun letih tetap berjuang hingga napas terakhir bahkan darah penghabisan, badan hancur lebur pun tetap ikhlas dan bersuka cita. Untuk itu, Beliau sendiri telah lebih duluan mengamalkannya. Mengesampingkan semua urusan duniawi, dengan segenap jiwa dan tekad bulat mengabdikan hidupnya secara total dalam Misi Ketuhanan. Ia telah menjadikan dirinya sebagai suri-teladan baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Yang Arya lahir pada tahun 1921 bulan ke-7 hari ke-28 (imlek) dalam sebuah keluarga petani di propinsi Shandong, kabupaten Changyi, kecamatan Nanpeng, kota Zhanggu. Ia adalah anak ketiga dari lima saudara. Usia antara saudara yang satu dengan yang lain berjarak 4 tahun. Mereka adalah orang-orang yang polos dan bakti. Pada usia 8 tahun, ayahnya meninggal dunia dan tinggal bersama ibunya. Tanah sawah yang mereka miliki amatlah sedikit. Kondisi ekonomi keluarga cukup sulit. Abang-abangnya tidak sempat sekolah. Demi membantu ekonomi keluarga, abang keduanya pernah bekerja bertahun-tahun sebagai pekerja di rumah orang kaya. Sejak kecil sudah terlihat bahwa Yang Arya berotak cemerlang. Ketika itu ia belajar di Sekolah Khusus, karena prestasinya yang luar biasa, lompat dari tingkat 1 ke tingkat 3. Sekolah Khusus hanya ada empat tingkat, namun tingkat 4 bisa belajar bertahun-tahun.

Walaupun masih muda, Yang Arya sudah berpikiran dewasa dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Demi memperbaiki ekonomi keluarga, ia berhenti sekolah dan bekerja. Di kota tetangga, ada seorang pengusaha penyalur bahan makanan pokok yang bernama Han Tian Shun. Yang Arya bekerja di sana di bidang pembukuan dan jual-beli. Beberapa tahun kemudian, Yang Arya bergabung dengan toko bahan tekstil yang dikelola oleh abang keduanya di kota Qingdao. Karena sudah berpengalaman, abangnya menempatkan Yang Arya di bidang pembukuan. Dua bersaudara berjuang beberapa tahun, akhirnya berhasil mengumpulkan sejumlah uang. Kemudian kerjasama dengan beberapa rekan membuka perusahaan tekstil. Ketika itu, Yang Arya berusia 16 tahun. Sepuluh tahun kemudian sudah merupakan seorang pengusaha sukses. Uang yang dihasilkan dari jerih-payah usaha tidak lupa diserahkan kepada ibunya, untuk disimpan ataupun dipergunakan. Di kemudian hari Yang Arya pindah ke Taiwan, rasa bakti ini masih tetap diamalkan. Kiriman akan dititipkan kepada rekan sekampung yang tinggal di Hong Kong untuk diserahkan kepada ibunya.

Ketika berusia 27 tahun, banyak pengusaha Shandong berdagang ke Asia Tenggara. Orang-orang suka mengembara ke tempat lain meniti karir. Kala itu, Yang Arya masih muda namun berwawasan luas. Melihat usaha di Shandong tidak akan ada terobosan baru, ia pun berencana untuk berkarir di tempat lain. Setelah matang mempertimbangkannya, ia menyerahkan tugas pekerjaan kepada orang lain, mengatur baik urusan keluarga, kemudian siap-siap berjuang lagi!

Pada tahun 1947, Yang Arya inap di sebuah hotel kota Qingdao. Malamnya, bersama beberapa teman bisnis mencari angin segar. Jalan punya jalan, tiba di sebuah stand ramalan nasib yang berada di depan kuil. Semuanya berebutan minta diramalkan, bagaimana masa depan masing-masing. Tempat yang akan menjadi tujuan Yang Arya adalah Nanjing, Shanghai dan Taiwan. Ia juga ikut mempertanyakannya. Sang peramal diam sejenak kemudian berkata: "ke Nanjing dan Shanghai akan dapat duit banyak, kalau ke Taiwan akan ketemu orang mulia dan bertugas sosial". Yang Arya sejak kecil sangat suka belajar, pernah mendalami Si Shu Wu Jing, ilmu tabib, dan astrologi Tiongkok. Terhadap jawaban peramal yang begitu singkat, Yang Arya merasa kurang dan ingin penjelasan lebih lanjut. Sang peramal sudah berpuluh-puluh tahun berkecimpung dalam masyarakat, pertama kali ketemu dengan orang demikian. Ia pun memberikan penjelasan yang mendetil dan berpesan beberapa hal yang harus diperhatikan. Dalam hati, Yang Arya masih ada sedikit keraguan. Namun sudah dibuktikan oleh peramal dengan merujuk ayat-ayat kitab suci, Beliaupun tidak berkata apa-apa lagi. Karena sudah terbiasa dengan semangat belajar yang tinggi, ia membuat catatan inti pembicaraan satu per satu. Hanya dengan bekal pendidikan Sekolah Khusus beberapa tahun, mungkinkah menjadi seorang pegawai negeri (sosial)? Hal ini baru terjawab setelah terjun dalam Misi Ketuhanan. Rupanya seorang pekerja sosial Tuhan. Setelah pulang ke hotel, semalaman memikirkannya. Esok pagi, mengambil keputusan bulat, setelah urus tiket kapal segera berangkat menuju Taiwan.

Sebagai seorang pemuda yang enerjik, dengan contoh-contoh kain yang dibawa, Yang Arya mulai menjajaki kesempatan bisnis ke berbagai toko tekstil yang ada diseluruh Taiwan. Aneh bin ajaib, walaupun tidak bisa berbahasa lokal (hokkien dan khek) hanya dengan gerakan, menerima banyak pesanan. Memang punya bakat bisnis, sekalipun di lingkungan baru, dalam waktu tidak sampai setengah tahun, karirnya berhasil dan berkembang pesat. Pada tahun 1948, Yang Arya terpilih sebagai ketua Asosiasi Persaudaraan Shandong di kota Taipei, juga sebagai pengurus Koperasi Xinyong. Waktu itu, banyak bersumbangsih dalam penyelesaian konflik antar orang Shandong. Pada tahun 1951, beli satu ruko di kota Xinzhu sebagai terminal barang antara Taipei dan Taicung. Tindakan ini juga diambil dengan pertimbangan sebagai tempat tinggal bagi abang kedua dan adik bungsunya sekaligus lokasi strategis untuk berusaha. Lagipula Xinzhu masih belum menjadi kota metropolis, masyarakatnya aman dan penduduknya ramah, ditambah dengan iklim dan cuaca yang cocok. Yang Arya yang telah menjelajahi berbagai kota di pulau Taiwan, akhirnya mengambil keputusan untuk menetap di kota Xinzhu.

Pada tahun 1953, usahanya terus berkembang. Tidak bisa mencukupi permintaan pasar. Lalu kerjasama dengan rekan lain mendirikan pabrik Dafu Garment Industri di kota Lugang, Zhanghua. Banyak urusan yang harus dikerjakan sendiri. Yang Arya menjadi bertambah sibuk.

Pada tahun 1954, Ada sebuah rumah di jalan Nanda, Xinzhu yang bergaya khas tradisional Jepang ditawar oleh pemerintah untuk dikontrakkan. Yang Arya pun mengontraknya hingga tahun 1999 dan mengembalikannya tanpa syarat kepada pemerintah.

Yang Arya memiliki satu kebiasaan dalam menempuh perjalanan jauh, yaitu naik kereta api malam. Misalnya dari Xinzhu menuju Gaoxiong, naik kerepa api yang berangkat pukul 10 malam, tibanya esok pukul 7 pagi. Berupaya tidak inap di hotel. Begitulah Beliau terbiasa tidur dalam kereta, tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk tidur, memanfaatkan setiap menit dan detik. Seringkali membaca-baca buku, merenung Hukum Ketuhanan, membuat rencana dalam perjalanan. Begitu turun dari kereta, langsung ambil tindakan.

Setelah tiba di Taiwan tidak lama, Yang Arya diajak oleh teman sekampung ke fotang. Maha Sesepuh Ci Zheng Da Di yang memberikan Satu Inisiasi Pencerahan¤. Karena kesibukan bisnis, Yang Arya jarang ke fotang. Sekalipun demikian Maha Sesepuh Ci Zheng Da Di menyadari bahwa Yang Arya adalah seorang kader yang baik. Ia fleksibel dalam pergaulan, tegas dalam keputusan, semangat kerja yang tinggi, suka menolong orang, menyelesaikan tugas dengan tuntas-sempurna. Suka menyenangkan semua orang. Orangnya jujur dan polos, cermat membaca karakter orang lain, berbelas kasihan, bertoleransi tinggi, membalas kejahatan dengan kebaikan, suka menyelesaikan masalah daripada mencari kesalahan orang, dapat mengendalikan emosi, mengorbankan pendapat sendiri demi kepentingan umum, teliti dan matang dalam pemikiran, berpendirian teguh dan jelas, menjunjung tinggi keadilan, menarik garis jelas antara kepentingan pribadi dan umum. Tentu semua ini tidak lepas dari pengalaman yang diperoleh sejak muda. Ditambah dengan pembinaan diri, suka belajar, kuat merenung, evaluasi diri. Sungguh seorang kader yang berkemampuan sekaligus berkebajikan. Makanya, Maha Sesepuh Ci Zheng Da Di berupaya mengarahkan dan membimbingnya ke dalam Misi Ketuhanan. Waktu itu, Yang Arya malam haripun sibuk, belum ada niat untuk hidup bervegetarian. Seringkali mengabaikan bimbingan Maha Sesepuhnya, tidak pernah serius menanggapinya. Dibimbing umat senior lainpun, tetap tidak masuk hati, belum mau bervegetarian. Tentang hal ini, Yang Arya bernostalgia dengan berkomentar bahwa kalau seseorang lagi sesat, sekalipun ditarik oleh jutaan ekor sapi besi, tidak mampu menyadarkannya dari perjalanan menuju lautan kehancuran.

Barangkali waktunya sudah tiba. Suatu hari, Yang Arya pergi ke fotang dan mendengarkan khotbah Maha Sesepuh Ci Zheng Da Di: "apabila seseorang dapat hidup bervegetarian, lalu beramal dan bertugas dalam Misi Ketuhanan akan mendatangkan jasa-pahala untuk berbakti besar bahkan menyelamatkan jiwa orang tua kembali ke surga". Begitu mendengar uraian ini, terenyuh sanubari Yang Arya. Sang ayah yang telah meninggalkannya ketika masih kecil, tak sempat berbakti. Kini, meninggalkan kampung, tidak bisa menjaga ibu di rumah. Sungguh membuatnya prihatin sekali. Pada malam itu, Yang Arya merenung kembali budi-jasa orang tuanya. Tak tertahankan air mata membasahi wajah, dan tak bisa masuk tidur. Esok pagi-pagi, Yang Arya menyatakan kepada Maha Sesepuh Ci Zheng Da Di bahwa ia mau berikrar vegetarian. Sejak saat itu, Yang Arya mulai aktif dalam Misi Ketuhanan, merintis jalan bagi Unifikasi Buddha Maitreya. Berita Yang Arya hidup dengan pola makanan vegetarian sempat menggemparkan Asosiasi Persaudaraan Shandong dan rekan-rekan bisnisnya. Banyak orang meragukannya, mana mungkin hal itu bisa terjadi! Sesuatu yang telah dipertimbangkan secara matang dan diambil keputusannya, maka Yang Arya akan melakukannya secara nyata dan konsisten. Akhirnya, teman-teman dan kenalan harus menerima fakta ini. Kemudian, masalah rambut. Ketika Ia berkata kepada tukang cukur bahwa ia ingin potong rambut model cepak, sang tukang tidak percaya. Bertanya ulang sampai tiga kali. Begitulah Yang Arya. Berprinsip dan tegas. Sejak saat itu Yang Arya tampil dengan wajah baru, juga menandakan babak baru dalam perjalanan hidupnya.

Orang yang sudah lama bergelut dalam masyarakat, apalagi berhasil dalam karir, tentu ada kebiasaan dan keinginan untuk meninggi-ninggikan diri. Tetapi Yang Arya lain, memasuki dunia yang baru (pembinaan), Ia bermulai dari tugas dan pekerjaan yang paling sepele. Ini merupakan hal yang fundamental dan esensial. Sejak berikrar vegetarian, menghadiri undangan dan resepsi makan sudah berkurang perlahan-lahan. Sebagai gantinya, sering ke fotang untuk mengikuti berbagai acara dan kegiatan. Ia memiliki semangat yang tinggi dalam semua pekerjaan dan pelayanan. Selain melakukannya dengan sepenuh hati juga banyak belajar dengan sikap rendah hati. Kalau sudah datang di fotang, ia tidak bisa santai. Ada saja yang dikerjakan. Baik menyapu, ngepel lantai, bersihkan kursi dan meja, ataupun siapkan air minum, paling hobby masak di dapur dll. Ketika Maha Sesepuh Ci Zheng Da Di berusia 60 tahun, ada beberapa tamu yang merupakan anggota lembaga-lembaga tinggi negara dan dokter-dokter ingin merayakannya untuk Maha Sesepuh. Mereka ada bahas tentang resepsi vegetarian di restoran seperti yang diinginkan oleh Maha Sesepuh. Tetapi Yang Arya mengusulkan di fotang saja. Kita dapat membeli bahan-bahan vegetarian untuk masak sendiri. Kalaupun ada sisa, para umat dapat menghabiskannya. Tak seperti di restoran, pasti banyak sisa dan dibuang begitu saja. Usul ini diterima dengan baik oleh semua pihak, tetapi siapa yang akan memikul tugas ini? Begitulah prinsip Yang Arya, berani mengusulkannya, berani memikulnya. Maha Sesepuh Ci Zheng Da Di khawatir apakah Yang Arya mampu menangani dengan baik untuk orang yang begitu banyak? Yang Arya menyanggupi dengan mantap.

Tamu-tamu yang akan hadir banyak yang ahli dalam makanan dan banyak pula yang sangat hobby makan. Yang Arya pun mempersiapkan segala sesuatu sebaik mungkin. Semua bumbu dipersiapkan jauh-jauh hari, semua cara masak dipergunakan. Belasan macam sayur yang dihidangkan, semuanya ditata dengan serasi sehingga menambah selera makan. Bahkan ada yang mirip dengan masakan non-vegetarian, cuma tidak menggunakan daging. Para tamu mencicipi masakan dengan antusias dan senang hati. Mereka memberi pujian dengan mengacungkan jempol. Setiap hidangan dimakan sampai bersih, tidak menyisakannya. Yang terakhir adalah hidangan buah, namun tidak banyak disentuh, karena sudah kenyang dengan hidangan sayur sebelumnya. Baik tuan rumah maupun tamu, semuanya bergembira. Maha Sesepuh Ci Zheng Da Di pun tak lupa menyisipkan sedikit khotbah pada acara tersebut. Tujuan sesungguhnya dalam resepsi pun tercapai. Peristiwa ini semakin menambah keyakinan Maha Sesepuh bahwa harapan besar pada Yang Arya tidaklah salah tempat. Selanjutnya, baik tugas berat maupun ringan Maha Sesepuh mempercayakan kepada Yang Arya dan selalu dikerjakan dengan baik-sempurna. Setelah cukup berpengalaman dalam wadah Ketuhanan, Yang Arya menerima tugas kepanditaan. Ada juga tugas dalam kegiatan khotbah di berbagai tempat, menjadi kader pembantu utama Maha Sesepuh.

Suatu kali, Yang Arya baru menyelesaikan pekerjaan dapur. Ia melewati ruang sembahyang. Saat itu ada kegiatan khotbah umum. Maha Sesepuh Ci Zheng Da Di memanggil Yang Arya untuk tampil berkhotbah. Dengan tanpa ragu, Yang Arya maju ke mimbar. Tugas ini sederhana, pikirnya dalam hati. Sudah lama bergelut di dunia bisnis, berbicara tidaklah sulit. Ternyata, baru bicara 5 menit, sudah kehabisan kata. Tak mampu melanjutkan lagi. Sama sekali tidak mampu menyambungnya. Akhirnya, bergegas turun dari mimbar. Malu juga rasanya. Malamnya sebelum tidur, mengadakan evaluasi. Dalam dunia bisnis, yang dikuasai adalah bahasa bisnis. Sendiri sangat menguasainya. Lain ladang lain padinya. Hukum Kebenaran yang religius berbeda dunianya. Kalau belum pernah mendalami tentu akan kehabisan kata. Setelah berpikir ulang, segera beranjak dari ranjang. Mengambil buku "Dao Li Qian Yan" baca berulang-ulang hingga ingat betul sampai dini hari. Pada hari ada khotbah, Yang Arya sendiri yang mohon pada Maha Sesepuh untuk memberikan kesempatan sekali lagi kepadanya untuk berkhotbah. Ternyata, penampilannya sungguh berbeda dengan hari kemarin. Sampai waktu habis, masih terasa ingin melanjutkan lagi.

Maha Sesepuh Ci Zheng Da Di cari tahu bagaimana Yang Arya mempersiapkan diri, lalu muncul sebuah ide untuk melatihnya. Maha Sesepuh menyerahkan kitab "Dao De Jing Jiang Yi" yang dikomentari oleh Song Long Yuan terbitan dinasti Qing kepada Yang Arya untuk dipelajari. Bahkan berpesan kepadanya untuk dihapal dengan baik. Tidak hanya teks utama, termasuk penjelasannya yang huruf sangat kecil. Beberapa bulan kemudian, menyerahkan buku "Xin Deng Lu" yang disusun oleh Zhan Yu Lao Ren terbitan dinasti Ming. Tidak hanya hapal tetapi harus memiliki intuisi sendiri. Berikutnya adalah buku dan kitab seperti "Jin Gang Jing", "Liu Zu Tan Jing", "Qing Jing Jing", "Leng Yan Jing", "Yi Jing" dll. Sungguh diberkati! Yang Arya dilahirkan bakat tinggi, daya ingat yang kuat, semangat belajar yang tinggi dan cepat. Ini juga berkat pondasi yang telah dimiliki ketika kecil belajar di Sekolah Khusus. Selain mampu menerima didikan ketat dari Maha Sesepuh, juga karena sendiri masih muda, ingin belajar dan membina secara intensif.

Begitulah, siang hari tetap berusaha sebagaimana biasanya, malam hari membaca kitab tidak merasa letih bahkan adakalanya hingga dini hari tidak merasa kantuk. Tugasnya tidak sekedar baca, harus buat intuisi setelah membaca dan mengadakan perenungan. Adakalanya Maha Sesepuh mengeluarkan satu pernyataan, lalu ditanya apa makna yang terkandung didalamnya. Bila hanya hapalan belaka, tidak banyak berarti dalam pencerahan watak diri. Itulah sebabnya, banyak sekali sastrawan dan ahli kitab di dunia ini, tetapi ada berapa orang yang berkepribadian seperti alam menguntungkan umat manusia? Yang Arya kalau membaca sebuah kalimat, ia akan bertanya dulu mengapa Orang Suci bersabda seperti ini? Apa makna murninya? Bila ganti posisi, apakah aku dapat berkata seperti itu? Mengapa aku tidak bisa? Mengapa dia bisa dan aku tidak bisa? Apa yang menyebabkan Orang Suci mampu mengamalkannya, sedangkan saya tidak? Setelah menemukan penyebabnya, bagaimana memperbaikinya? Orang Suci Sun adalah manusia, saya juga adalah manusia, orang yang berkemauan pasti bisa!

Demikian, batin Yang Arya mengalami kemajuan yang pesat. Beberapa tahun kemudian, sudah menjadi manusia baru. Melampaui keduniawian mencapai kesucian. Hati Nurani berfungsi menjadi majikan pengendali diri. Senantiasa perdoman pada hati nurani dalam setiap ucapan dan perbuatan. Hubungan antara Maha Sesepuh Ci Zheng Da Di dengan Yang Arya bagaikan ayah dan anak. Sangat akrab. Karena sejak kecil sudah kehilangan ayah dan sudah lama meninggalkan rumah, Yang Arya memandang Maha Sesepuh bagaikan ayah sendiri. Sangat hormat dan patuh kepadanya. Dan Maha Sesepuh pun juga memandang Yang Arya bagaikan anak sendiri. Kalaupun adakalanya bersikap ketat dan disiplin terhadap Yang Arya, itu semata-mata karena dorongan kasih, ingin Yang Arya menjadi orang yang berhasil. Maha Sesepuh mendidik Yang Arya bukanlah dengan cara perlahan-lahan, tapi cara kilat bahkan boleh dikatakan keras. Hebatnya, Yang Arya sendiri mampu menerima cara didikan seperti itu, sehingga berkembang pesat dalam pembinaan. Ia adalah seorang kader yang bermental baja dan tahan derita. Setelah digembleng sana-sini, akhirnya menjadi "manusia besar".

Maha Sesepuh sangat menekankan budi-pekerti. Bermulai dari prinsip "Yang tidak bermoral jangan dilihat, didengar, dibicarakan dan dilakukan" hingga hukum "Sesungguhnya tiada sesuatu apapun" sebagai tujuan. Semua didikan dan gemblengan berlangsung dengan ketat dan disiplin. Bila Saudara sempat hidup bersama Yang Arya, Saudara akan menemukan bahwa Beliau tidak suka berbicara sesuatu yang tidak bermakna. Hanya membicarakan hal-hal penting yang berkaitan dengan Misi Ketuhanan. Walaupun demikian, dalam bimbingannya, Beliau memiliki banyak bahan untuk perumpamaan. Beliau hampir tidak pernah baca koran/majalah, menonton tv, mendengar radio, dll. Bagaimana perkembangan dunia, perubahan kehidupan manusia, peristiwa apa yang sedang terjadi, apa yang sedang popular dsb. dapat ditutur dan dikuasai dengan baik. Problem dan kesulitan apapun yang terjadi, Beliau bagaikan Abang yang penuh tanggung jawab mengemban dan mengatasinya serta memberikan rasa nyaman sebagai tempat lindungan. Beliau sungguh memiliki banyak pengalaman, baik dari segi budi-pekerti maupun keahlian dalam menyelesaikan pekerjaan. Memang demikianlah hukum alam bekerja. Orang yang berjuang dari nol, akan memiliki watak yang mandiri dan penuh rasa tanggung jawab. Setiap hal yang dialami merupakan pengalaman yang sangat berharga. Berkali-kali menghadapi rintangan dan keterjatuhan, tidak mematahkan semangat untuk terus berjuang. Bertubi-tubi menghadapi situasi dan kondisi sulit, tidak membuatnya bertekuk lutut. Semua ini telah melatih, mendidik dan mengembleng seseorang memiliki pribadi luhur dan tangguh untuk Misi Ketuhanan. Demikianlah, Yang Arya merupakan murid kesayangan Maha Sesepuh Ci Zheng Da Di yang sangat diandalkan. Inilah yang membuat Maha Sesepuh berani mengusulkannya sebagai kader untuk melayani Maha Guru Shemu

Sumber :
PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA




Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.