Masalah pembinaan kepribadian tergantung pada realisasi nyata oleh setiap individu karena ini bukan hanya menyangkut teori atau konsep belaka. Pembinaan kepribadian meliputi dua aspek yaitu statis dan dinamis.
- Aspek Statis Pembinaan Kepribadian
Yang dimaksud dengan aspek statis pembinaan kepribadian adalah pembinaan kepribadian yang dilakukan dalam kondisi pasif. Mencakup: Kehidupan kontemplasi sebagai kehidupan yang sangat spiritual untuk berhadapan dan berbicara dengan diri sendiri. Pembinaan kepribadian ini terdiri atas dua bagian, yaitu:
- Berpaling ke dalam diri, berintrospeksi diri, menilik diri atas semua kekhilafan, kesalahan dan dosa yang telah diperbuat.
- Berhadapan dengan Aku yang ilahi, Hati Nurani.
Kehidupan kontemplasi sebagai saat-saat teduh untuk berbicara dan mendengarkan suara Tuhan dan Buddha Bodhisatva. Pembinaan kepribadian dalam kehidupan spiritual dengan setiap hari menjadwalkan saat teduh untuk berkomunikasi dengan Tuhan, Buddha Maitreya, Shecun-Shemu, para Buddha Bodhisatva.
Kehidupan kontemplasi sebagai kehidupan yang sangat spiritual dalam pembinaan kepribadian dengan menghadapi diri sendiri adalah melihat diri dari dua sisi, yaitu sisi diri yang sesat/fana dan sisi diri yang terang/sejati.
Bangkitkanlah kepedulian yang selama ini tidur dan milikilah kesungguhan hati untuk membina kepribadian. Betapapun sibuk dan letihnya kita dalam pembinaan sepanjang hari, luangkanlah waktu teduh bagi diri sendiri. Setiap hari aturlah waktu dengan baik untuk kontemplasi rohani, baik 15 menit ataupun 30 menit. Bila bisa 1 jam, ini lebih baik. Ini semua sebagai saat tenang untuk berpaling dari segenap aktifitas yang ada. Mengapa hal ini penting? Selama ini kita sibuk dengan segala macam kegiatan yang ada dalam Wadah Ketuhanan, dan kita telah tahu bahwa membina Ketuhanan bukanlah sebatas segala aktifitas di luar diri. Untuk mampu memperoleh sari dari segala aktifitas luar guna mencapai nurani, kita memerlukan kontemplasi rohani.
Dalam menghadapi diri, carilah tempat yang damai dan tenang, setidaknya dapat menghindarkan diri dari berbagai kontak dengan dunia luar. Misalnya dengan menyendiri di dalam altar ataupun di dalam kamar. Untuk sementara waktu hentikanlah semua aktifitas rutin yang ada. Tenangkan diri dan berpalinglah ke dalam sanubari dasar jiwa yang hening. Mulailah dengan mengenali diri sendiri, melihat jelas akan diri sendiri. Aku yang terdiri dari dua sisi; Aku yang Buddha dan aku yang mara; aku yang berhati nurani dan aku yang sesat; aku yang suci cemerlang dan aku yang penuh dosa. Di antara dua aku ini, kenalilah dengan sangat jelas. Habiskan gelap dan pulihkan terang dalam jiwa, bertekadlah sepenuh hati untuk mengikis aku yang jahat, jangan biarkan dia terus berkuasa atas diri, dan pada saat yang bersamaan pancarkanlah Aku yang Buddha, Aku yang penuh kasih, Aku yang berhati nurani.
Berhadapan dengan Sisi Diri yang Sesat/Fana
Intropeksi adalah bagian yang sangat penting karena setiap orang pastilah memiliki perangai, kebiasan, sikap yang tak baik dan memilki pelbagai kemelekatan dan keterikatan. Sementara diri juga masih berselimutkan dosa karma yang begitu tebal. Kita semua memiliki sisi gelap yang juga merupakan kelemahan dan kekurangan terbesar dalam diri, oleh karena itu kita harus mengenal dan memahami diri. Temukanlah diri yang penuh penyakit mara. Dengan demikian kita baru bisa mengobatinya lebih mawas diri di masa mendatang.
Kita sering mendengar pepatah yang mengatakan, "Bagaikan menimba air dengan keranjang bambuĻ. Seluruh amal kebajikan luar yang besar akan bocor oleh kepribadian yang cacat yaitu aku yang pernah dosa dan kesesatan, yang tak pernah berubah dan diperbaiki. Bila membina diri tanpa merubah dan memperbaiki seluruh kebiasaan yang buruk; tidak mengenali kelemahan dan kekurangan diri.
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|