Ketuhanan Sejati, Kebenaran Sejati, Firman Sejati, Ujian dan Ikrar pun Sejati
Pada usia 25 tahun, saya sudah mulai membina Ketuhanan, setelah setengah tahun memohon Ketuhanan saya bervegetarian, dan sejak saat itupun ujian datang menghampir. Mengapa bisa ada ujian?
Ini disebabkan karena dosa karma pada kehidupan sekarang dan dosa karma selama enam laksa tahun lamanya yang telah matang dan datang menagih kita. Ujian dapat dibedakan menjadi ujian yang berperasaan, ujian yang tak berperasaan, ujian tak lancar, ujian lancar, ujian yang ganjil, ujian yang menjatuhkan, dsb. Ujian yang saya hadapai adalah ujian yang tak berperasaan, kalau benar-benar sudah memahami kesejatian Ketuhanan maka tak akan takut terhadap segala macam ujian.
Setelah saya berikrar vegetarian, mendampingi sesepuh Yang pergi membuka kelas pertobatan selama lima hari. Setelah pulang dari kelas pertobatan istri saya meninggal dunia. Waktu itu saya sangat tulus, namun rasa sedih yang tak tertahan, setelah selesai mengurus segala sesuatunya, kembali mendampingi sesepuh pergi membuka kelas ceramah yang baru, juga selama lima hari, ketika pulang ke rumah anak tertua saya meninggal dunia. Sayapun bersedih, karena mau pergi membuka kelas dan berceramah, ada ratusan, ribuan umat sedang menunggu untuk mendengar khotbah bagaimana saya tega hanya karena anak ini saya bersedih terus, kemudian ibu saya menangis tak mengijinkan saya pergi membuka kelas ceramah. Saya tetap pergi juga mendampingi sesepuh membuka kelas ceramah, setelah membuka 3 kali kelas ceramah, pulang ke rumah anak yang paling kecil juga meninggal dunia, umat-umat yang mengikuti kelas dan mengetahui berita ini semuanya menangis. Sesepuh saya pun menangis dan berkata: "Mohon welas asih Tuhan, dia begitu tulus, kalau terus diuji, dan akhirnya mundur dari Ketuhanan sungguh sangat disayangkan sekali." Saya lalu berkata kepada sesepuh: "Setiap orang akan meninggal dunia jika waktunya telah tiba, mohon sesepuh jangan khawatir, asalkan sehari saya masih bisa hidup, maka sehari juga saya akan melaksanakan Ketuhana, hingga sampai napas yang terakhir." Setelah mendengar ini sesepuh baru merasa lega.
Dulu asalkan membuka kelas penataran Buddha, kelas pertobatan, pasti para Buddha hadir, ketika Bapak Guru Agung hadir di vihara, sesepuh kami memohon welas asih Bapak Guru Agung: "Liu Bing Hong mengalami ujian yang begitu berat, apa penyebab sebenarnya?" Bapak Guru Agung berwelas asih berkata:" Ini bukanlah ujian, ini adalah welas asih Tuhan kepadanya, karena kelak tanggung jawab besar akan jatuh di pundaknya, kalau masih ada ikatan, maka tak akan berhasil membina Ketuhanan. Ikatan jodoh tiga kehidupan dengan istrinya telah dilunasi dan istrinya pun kembali lebih dulu, kedua anaknya adalah inkarnasi dari dewa, setelah mendapat inisiasi sejati juga kembali, dan akan selalu membantu, jika masih ada ikatan dari anak-anak maka tak bisa baik-baik membina Ketuhanan.
Sejak kejadian tersebut saya lalu bertekad untuk membina Ketuhanan, dan menegakkan ikrar mengabdi dan membiara, menegakkan ikrar sebagai sesepuh. Sesepuh saya berkata: "Ujian yang begitu besar tak dapat menjatuhkan saya, maka sesepuhpun menurunkan Firman Tuhan kepada saya, dan menugaskan untuk mengurus wadah Ketuhanan di sepuluh kecamatan di daerah Bao San dan sekitarnya. Umat-umat sangat tulus, saya mana ada waktu memikirkan anak sendiri. Namun ujian masih banyak, pada awal sebelum pergi ke luar negeri, harus terlebih dulu menyingsingkan kedua lengan baju, bekerja membantu orang membuka lahan dan menggarap sawah, menanam teh, dan mengeringkan teh, hidup mengandalkan perjuangan sendiri mencari nafkah, sampai akhirnya kebutuhan hidup dapat dipenuhi, menabung sedikit uang dan bersiap-siap mendirikan vihara. Setelah mendirikan 2 atau 3 vihara, orang-orang mengira saya ini kaya raya, lalu menangkap saya, dan dijadikan tahanan tebusan. 30 tahun yang lalu seorang yang disandera harus ditebus dengan mata uang Birma (mymard) satu juta dolar, saya disandera selama 1/2 tahun di atas gunung, leher dan kedua kaki diikat dengan rantai besi, waktu malam hari tidur, ranjangpun dipenuhi rantai besi, terus begini hingga tentara pemerintah menemukan saya, mereka baru membebaskan saya. 1/2 tahun kemudian, ujianpun datang lagi, waktu itu pasukan gerilya di Bang Hai, memberi 100 ribu dolar, dan menyuruh saya menjadi pejabat tinggi, saya lalu berkata bahwa saya tak bisa menjadi pejabat, mereka berkata akan mencari sekretaris untuk saya, saya pun berkata bahwa dari dulu saya membina Ketuhanan hanya bisa bersujud, hanya bisa memuja kepada Buddha, saya tidak bisa menghitung uang, mereka lalu berkata akan mencarikan orang untuk membantu saya, saya lalu berkata bahwa apa saja saya tak bisa. Akhirnya mereka pun mengancam jika saya menolak akan menangkap saya dan tak akan mengijinkan saya pulang. Akhirnya saya pun berkata akan pulang dulu besok baru akan memberi jawaban, saya segera kembali ke kota Nam Khan, lalu tengah malam secara diam-diam pindah ke kota Wa Cheng dan bersembunyi di sana selama 3 tahun. Ini adalah ujian harta benda, ujian kenamaan. Seandainya waktu itu saya serakah akan uang yang diberikan, maka berarti saya tak lolos dari ujian. Seandainya serakah akan kedudukan, ingin jadi pejabat, maka tak akan lolos dari ujian tersebut.
Setelah lewat beberapa waktu, lagi-lagi ujian datang, mereka tahu saya telah tak memiliki istri dan anak, ada yang ingin memberikan saya wanita untuk dijadikan istri, setelah saya mengetahui hal ini, segera bersembunyi di Bang Hai selama 3 tahun, menggarap lahan dan menanam sayu-sayuran untuk menyambung hidup, usaha kecil-kecilan semuanya saya lakukan. Waktu itu benar-benar penuh dengan penderitaan, iblis di dalam dan di luar diri pun berat, apalagi saya tak punya kartu identitas diri, sampai ke tempat mana saja, kantor imigrasi lagi-lagi mencari masalah, ujian diri sendiri juga berat. Harus menghidupi diri sendiri, merintis wadah Ketuhanan, harus menjaga murid-murid, juga mendirikan vihara-vihara, ditambah lagi menghadapi begitu banyak ujian. Ini semua adalah kesejatian kuasa Firman Tuhan maka ujianpun menjadi sejati.
Ditambah lagi bencana dan musibah yang sejati, bencana air, angin, api, perang, kelaparan, bermacam-macam musibah saya alami berkali-kali, namun Buddha Maitreya yang penuh dengan kebahagiaan merubah kemalangan menjadi kemujuran, musibah menjadi berkah. Saya sering kali mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobil terbalik hingga remuk (gepeng), namun saya tak apa-apa. Beberapa kali naik kapal laut, hampir kapal mau tenggelam, saya lalu memohon welas asih Tuhan dan Buddha Maitreya, membaca ucapan suci di dalam hati, dn memohon welas asih dari Bodhisatva Kwan Im, akhirnya kapalpun bisa sampai ke tepian dengan selamat; masih ada lagi bencana api, 5 tahun yang lalu terjadi kebakaran, ratusan rumah umat terbakar, vihara dan sekolahan juga terbakar. Orang luar mengejek kita bervegetarian kalian ini tidak punya masa depan. Begitu mendengar hal ini saya segera pergi ke tempat kejadian dan menghubungi pengurus vihara di berbagai tempat, para pandita, thancu, umat-umat sekalian, meminta mereka beramai-ramai membantu, ada yang mengeluarkan uang, pakaian, minyak, beras, bahan makanan, semuanya dikumpulkan. Bantuan-bantuan untuk para korban bencana telah terkumpul, umat-umat kita yang terkena bencana pun dapat tertolong, vihara dan sekolahanpun sudah dibangun kembali, istana "Long Hua" di LA SIO juga dibangun kembali bahkan lebih bagus lagi. Dulu hanya rumah alang-alang, sekarang sudah terbuat dari beton. Tahun 1995 diresmikan oleh Maha Sesepuh Ong dan dihadiri oleh para sesepuh dn pandita dari 7 negara, juga kepala departemen agama Yang Guang, kepala bikkhu juga datang dalam pembukaan dan pengguntingan pita, sekarang segalanya telah lengkap, walaupun ujian sangat berat, musibah juga besar, namun semua ini karena keluhuran Firman Tuhan. Tuhan menurunkan ujian, itu berarti Tuhan membimbing, para Buddha-Bodhisatva berwelas asih. Vihara-vihara sekarang jauh lebih kokoh dibanding dengan vihara-vihara dulu, rumah-rumah umat juga dibangun jauh lebih baik dari yang dulu.
Kelak ujian akan semakin hebat, yaitu bencana angin yang dapat menyapu habis segalanya. Asalkan di sebuah negara diledakkan sebutir nuklir saja, maka seluruh dunia akan hancur lebur. Dulu waktu perang orang yang terkena ledakan bom maka akan mati, namun sekarang sudah lebih hebat lagi, asalkan hidung mencium bau gas beracun maka tubuh akan keracunandan mati. Jadi hanya orang yang memiliki pondasi yang kuat, jasa kebajikan leluhur dan jodoh kebuddhaan baru bisa memperoleh Ketuhanan dan membina Ketuhanan. Namun yang telah mendapatkan Ketuhanan haruslah bervegetarian, baru bisa terhindar dari mala petaka, karena semua bom, nuklir adalah hawa yang kotor dan beracun. Jika berbuat kejahatan, membunuh dan mencelakai orang lain, maka hawa kotor dalam diri sangat berat, maka para Buddha-Bodhisatva tak kuasa untuk melindungi, sedankan yang melakukan kebajikan, berbuat kebaikan, maka hawa positifnya akan menyelimuti sehingga para Buddha-Bodhisatva dapat dengan mudah mendekati dan membantu kita terhindar dari malapetaka.
Suatu hari saya mendampingi sesepuh pergi ke kampung halaman di daratan Cina sana, untuk mengadakan penataran, ada tiga-empat ratus umat yang hadir. Dulu, setiap kali mengadakan kelas pertobatan, para Buddha akan hadir dengan cara masuk dan meminjam tubuh seseorang untuk menyampaikan amanatnya. Dan dikatakan penataran kali ini juga akan ada Buddha yng hadir, sehingga umat-umatpun merasa bahagia. Penataran diadakan selama lima hari, namun sudah hari ketiga tetapi belum ada Buddha yang hadir. Ada umat yang marah dan berkata: "Sesepuh pembohong, mana ada Buddha yang hadir, kok tidak kelihatan?" Malam itu juga, saya dan sesepuh YANG bersujud 10.000 sujud, memohon welas asih Tuhan memberikan kemujizatanNya, kalau tidak maka umat-umat tak akan percaya lagi. Akhirnya dihari kedua, Jivaka Buddha Jikung hadir dengan membawa kipasnya dan berkata: "Saya sebagai guru bukannya tidak mau hadir, namun sudah 4-5 kali saya datang, saya tidak bisa masuk, karena seluruh ruangan dipenuhi hawa negatif, hawa busuk, bau arak dan daging, sehingga saya tak tahan dan akhirnya keluar lagi. Dikarenakan semalam Kedua sesepuh kalian bersujud 10.000 sujudan , maka sebagai guru saya tak bisa tak hadir. Kalian semua sungguh sangat kasihan, kelak bencana tiba, tak akan ada yang bisa lolos. Selagi masih ada waktu mengapa tidak mau segera bervegetarian dan baik-baik membina keTuhanan, kalau tidak begitu jodoh dan kesempatan berlalu maka sungguh sangat disayangkan." Akhirnya setelah penataran berakhir, yang berikrar vegetaris ada 300 orang lebih. Berita ini pun tersebar dari mulut ke mulut, sampai akhirnya yang berikrar mencapai 10000-an. Saya juga berharap bagi mereka yang belum bervegetarian segeralah bervegetaris. Jika hanya memohon Ketuhanan diibaratkan baru sampai di depan pintu saja, dan kita harus maju selangkah lagi agar bisa masuk kedalam.
Saya bervegetaris dan membina keTuhanan sudah 52 tahun , sekarang saya berusia 80 tahun, tenaga saya masih kuat, dan tak pernah sakit. Kalian jangan takut bervegetaris tak bertenaga.
Saudara-saudara sekalian, kita haruslah memahami kesejatian Ketuhanan, kesejatian kebenaran, kesejatian Firman Tuhan. Saya percaya 100% akan hal ini. 8 tahun yang lalu ketika saya akan mengikuti diklat buddha siswa di Taiwan, sempat tinggal di MANG GU Vihara Thien En Mi Lek Fo Yuan beberapa hari. Dibelakang Vihara tinggal seorang bos bermarga Lie, yang sudah tiga hari tiga malam ribut masalah hantu di rumahnya, sehingga membuat 60 karyawannya tak mau bekerja lagi, dia sendiri malam hari tak berani pulang, dan sepanjang hari tidak berani masuk ke dalam rumah. Suatu hari Bos Lie ini berjalan mondar-mandir di depan Vihara Thien En, saya lalu bertanya ada apa, ia berkata ingin memohon Dewa Tanah (Thu Ti Kung) untuk membantu menangkap hantu, saya lalu berkata: "Dewa Tanah mana bisa membantu-mu menangkap hantu, coba saya lihat." Ia berkata: "kamu bisa menangkap hantu?" Saya lalu berkata: "Walaupun saya tak bisa menangkap hantu, tapi begitu saya masuk maka hantupun tak berani mengganggu." Dia berkata : "Baiklah! Silahkan dicoba."
Saya berkata : "Rumahmu di mana? Saya tak tahu rumahmu, kamu harus menunjukkan jalannya." Dia Berkata : "Saya tak berani pulang." Saya lalu berkata : "Kamu jangan takut, kamu ikut di belakang saya." Saya lalu membawa 20 orang yang akan mengikuti diklat Buddhasiswa di Taiwan bersama-sama pergi untuk melihat. Sesampainya di rumah Bos Lie, saya bertanya kepadanya : "Hantunya di mana?"
Dia menjawab : "Biasanya keluar dari sudut sana." Saya lalu bertanya lagi : "Sekarang berada di mana?" Bos Lie menjawab : "Sekarang dia tak ada." Saya lalu mendatangi sudut itu dan berkata : "Baik kamu adalah siluman, hantu, atau apa saja, mulai sekarang, tidak dibenarkan untuk keluar mengganggu. Kami membina dan melaksanakan Ketuhanan memiliki Firman Tuhan yang sejati, yaitu membantu Buddha Maitreya melaksanakan tugas, kalau kamu berani keluar, maka saya akan memohon para Buddha Bodhisatva untuk menangkapmu." Sejak hari itu hantu tersebut tidak berani keluar lagi. Akhirnya roh jahat ini pun meminjam tubuh seorang pekerja wanita, begitu hantu itu keluar maka pekerja wanita itupun mulai berbicara, berhari-hari ia tidak makan nasi, dan hanya mau makan daging yaitu gumpalan-gumpalan daging segar.
Malam itu ketika Bos Lie mengajak pekerja wanita itu memohon Ketuhanan, pekerja wanita ini berjalanpun tidak bisa, setelah memohon Ketuhanan, ia bisa berjalan kembali dan pulang ke rumah. Bos Lie berkata bahwa Ketuhanan sangat luhur, dan keesokan harinya ia mengajak 5-60 orang pekerjanya, semuanya untuk memohon Ketuhanan. Sejak saya pergi kesana, hantu itupun tak berani muncul lagi. Oleh karena itu dikatakan bahwa Ketuhanan sejati, Kebenaran sejati, terlebih lagi Firman sejati. Masalah hantu sering saya temui, setelah saya pergi tak pernah ada lagi masalah tersebut. Disinilah Keluhuran dari Kuasa Firman Tuhan. Saya pribadi kemana saja pergi tak pernah merasa takut.
Dulu ada sebuah rumah di kota Bang Nai Birma, disana ada seorang yang mati terbunuh. Dia mati dengan tidak rela, oleh karena itu sering mengganggu orang yang tidur disana dengan menarik selimut, kaki dan mencekik leher mereka. Berita ini begitu tersebar, tidak ada orang yang berani lagi tinggal disana, hingga 4-5 tahun. Sampai akhirnya kami pergi kesana dan membersihkannya, kemudian menjadikannya sebagai Vihara. Ada orang yang bertanya malam hari ada hantu yang mengganggu tidak?, lalu saya pun tertawa sambil berkata tidak ada! Sudah 40 tahun tak pernah terjadi apa-apa, ini adalah Berkah tiada tara dari Buddha Maitreya, Keluhuran dari Firman Bapak dan Ibu Guru Suci, bantuan dari Para Buddha Bodhisatva. Kita semua adalah mewakili Buddha Maitreya melaksanakan tugas, sehingga sampai dimanapun kita pergi pasti dibantu oleh para Buddha Bodhisatva.
Kita membina Ketuhanan, melaksanakan Ketuhanan, ikrar yang kita panjatkan juga sejati, sehingga baru bisa mencapai kesejatian. Ketika kita memohon Ketuhanan, kita semua ada menegakkan 10 maha ikrar, yaitu setelah mendapatkan Jalan Ketuhanan berjanji akan setulus hati menjaganya, bertobat dengan sepenuh hati, tidak akan berpura-pura, mundur dari Ketuhanan, meremehkan Guru, memandang rendah para senior, tidak mentaati Etika Kebuddhaan, membocorkan rahasia Tuhan, tidak mengembangkan Ketuhanan, tidak berusaha sekuat tenaga, dan jika ada melanggar Ikrar maka bersedia menerima hukuman Tuhan.
Ikrar yang dipanjatkan juga sejati, hanya dengan membina dan melaksanakan Ketuhanan, melunasi Ikrar yang kita panjatkan baru dapat mencapai kesejatian.
Ditulis langsung oleh Liu Bing Hong Chien Ren Sumber : Mi Lek Yek Khan edisi 5
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|