Rangkuman Ceramah Surat Perihal Penganiayaan Penganiayaan Yang Menimpa Arif Bijaksana Oleh Suhadi Sendjaja Megamendung, 28 Sept 2002
Sebelumnya terima kasih kepada bapak-bapak dan ibu-ibu serta adik-adik sekalian, yang sudah berusaha mendengar ceramah dari Dharmaduta, dimana hal tersebut memang bagian dari pertapaan agama buddha. Sebagaimana kita tahu bahwa yang bertemu dengan agama Buddha dulu umumnya punya kesulitannya sendiri-sendiri, entah kesulitan dalam hal kesehatan, keluarga mungkin juga pekerjaan sehingga akhirnya bertemu dengan agama Buddha Niciren Syosyu ini. buddha mengatakan, segala sesuatu dalam hidup manusia selalu ada unsure jodoh maka bertemu agama Buddha Niciren Syosyu, bertemu Gohonzon ada di NSI, itu semua karena adanya jodoh karena hal itulah saya tidak terlalu khawatir tentang masalah yang akhir-akhir ini terjadi yaitu adanya umat yang pindah ke sana ke sini.
Niciren Daisyonin mengatakan bahwa manusia atau segala sesuatu yang lahir di dunia pasti punya tujuan. Baik Buddha Sakyamuni, Buddha Niciren Daisyonin, Mahaguru Dengyo, Mahaguru Tien-tai punya tujuan yaitu ingin menyampaikan ajaran agar manusia bisa keluar dari kesulitan. Oleh karena itu ajaran yang disampaikan oleh Sang Buddha adalah ajaran yang sudah dialami oleh dirinya sendiri. Kesadaran-kesadaran yang dialami oleh perasaan jiwanya sendiri. Oleh karena itu Niciren Daisyonin memenuhi tujuan kelahirannya setelah mengalami 27 tahun penderitaan. Niciren Daisyonin dalam gosyo ini mengatakan 27 tahun penderitaan itu merupakan sarana pendamping untuk mewujudkan tujuan kelahiran beliau. Itu keyakinan Niciren Daisyonin.
Kalau kita hanya menganggap penderitaan adalah penderitaan kebahagiaan adalah kebahagiaan. Agama Buddha mengajarkan tidak seperti itu tapi penderitaan atau kebahagiaan adalah sarana pendamping untuk menunjang untuk mendampingi tujuan kelahiran kita. Buddha mengatakan manusia lahir di dunia dengan macam-macam bentuk wajahnya jenis kelaminnya dan kondisi sosial, tapi tujuannya sama yaitu pada kehidupan kali ini bisa mencapai kesadaran. Sejak 3000 tahun yang lalu Buddha mengatakan bahwa menuntun manusia untuk mencapai kebahagiaan yang paling tinggi itu sulit. Karena manusia terikat dengan pandangan-pandangan dan keuntungan-keuntungan di depan mata, padahal semua itu adalah sementara. Itulah sebabnya Buddha tidak ingin membimbing umatnya hanya jadi orang kaya, Buddha ingin mengajak kita mencapai tingkatan yang lebih dari orang kaya, lebih dari konglomerat. Kalau dikatakan hanya bahagia atau sadar saja belum tentu mau padahal orang yang bahagia adalah orang yang sadar. Orang yang sadar pasti bahagia, tapi kalau orang yang kaya belum tentu bahagia. Setiap orang tentu ingin bahagia, bukankah ketika sakit umumnya kita ke dokter agar cepat sembuh, apapun bisa dijual supaya bisa sembuh dari sakitnya.
Buddha membimbing kita supaya bisa mencapai kebahagiaan yang terbesar yaitu mencapai kesadaran. Artinya hidup kita selalu di dasari oleh dunia Buddha. Dijelaskan oleh Buddha bahwa manusia punya sepuluh macam perasaan dari perasaan neraka, kelaparan, kebinatangan, kemarahan, kemanusiaan, surga, sravaka (pengetahuan), pratyekabuddha (penyerapan), bodhisattva (ingin menolong orang lain, ingin melihat orang lain bahagia). Dan yang terakhir kesadaran Buddha. Yang diinginkan oleh Buddha dalam membimbing kita adalah supaya hidup kita tidak selalu didasari oleh kemarahan, keserakahan atau kebinatangan (kebodohan)karena ketiga hal itu merupakan tiga jalan buruk. Tiga jalan buruk ini akan membawa manusia kepada penderitaan. Karena serakah berapapun uang yang didapat tidak pernah merasa cukup? Dapat satu ingin dua, tidak punya duit mati-matian cari duit sampai tidak bisa tidur, begitu sudah banyak duit tetap tidak bisa tidur karena memikirkan kekayaannya terus, takut hilang, takut ditipu, lama-lama makan tidak enak, tidur tidak enak, bisa-bisa penyakitan.
Buddha mengatakan, kalau kita hidup berdasarkan tiga dunia yang buruk (neraka, kelaparan dan kebinatangan) tetap saja menderita. Karena buddha adalah manusia yang welas asih maka ingin mengajak tidak hidup di tiga dunia buruk tersebut melainkan hidup di dunia Buddha yang ada di dalam jiwa kita. Memang sejak Buddha belum lahir, manusia sudah sulit diberitahu bahwa dunia Buddha ada di dalam diri sendiri. maka dulu ada contoh kalau ingin senang, nanti tempatnya ada di dunia barat. Tapi bodohnya kita sudah Nammyohorengekyo masih percaya dengan contoh-contoh tersebut masih menganggap bahwa kesenangan ada setelah mati. Sehingga kalau ada umat yang meninggal pada ribut, kalau yang meninggal miskin yang ikut Gongyo sedikit, tapi kalau yang meninggal kaya yang ikut Gongyo banyak. Jadi sudah keluarganya meninggal, masih iri hati. Padahal menurut agama Buddha tergantung waktu dia masih hidup, jadi bukan masalah sedikit banyaknya yang ikut Gongyo, tetapi yang penting adalah saat hidupnya, apakah dia sudah menjalankan hidupnya dengan penuh keberisian. Kita yang sudah belajar Gosyo bertahun-tahun saja kadang-kadang masih ada pikiran kok hidupnya masih begini-begini saja, jangan-jangan ada setannya.
Heboh soal setan di rumah di Pondok Indah, kemarin sore saya kesana bersama dengan 2 umat NSI, ada kabar katanya rumah itu akan dijual murah 50 juta, kalau benar akan dijual dengan harga itu akan dibeli untuk NSI, kalau rumah setan NSI paling senang. Di rumah itu ada dua spanduk, ada yang bertulis " rumah ini sedang dalam proses pengadilan", ada juga yang bertulis " jangan terpancing dengan isu-isu tentang setan ", rencananya kita ke sana itu ingin tahu alamat pemilik dan nomor teleponnya, kalau 50 juta kita mau langsung transaksi saja, tidak perlu pikir-pikir, cash langsung 100 juta juga masih merem. Pak Awi usul tanya rumah sebelahnya, begitu mau ketok pintu, dipintu rumahnya sudah ada tulisan "kami tidak tahu alamat pemilik rumah disebelah" rupanya dia juga pusing. Akhirnya saya masuk kedalam rumah kosong tersebut, namanya juga rumah sudah lama tidak ditinggalin, gentengnya sudah tidak ada. Memang di dalam rumah itu baunya tidak enak, bau lembab, jadi kalau pikirannya sudah sesaat, seperti jangan-jangan bau setan kalau sudah ada pikiran seperti itu pasti kita punya otak akan bereaksi, perasaan kita terpengaruh, paling tidak jantung deg-degan. Rumahnya besar, dua lantai, saya piker kalau rumah ini dapat kita beli untuk pertemuan umat NSI, bisa megah. Kawasannya dekat jalan besar, pasaran rumah disitu 7 sampai 8 milyar, tanahnya 800 meter ada kolam renangnya.
Sebenarnya dalam rumah itu tidak ada apa-apanya, bisa heboh seperti itu karena filsafat-filsafat yang tidak benar, maka dalam gosyo ini Niciren Daisyonin mengatakan, apabila kita ingin mencapai kebahagiaan dalam hidup ini, maka segala kesulitan-kesulitan yang kita hadapi harus kita anggap sebagai sarana pendamping hidup kita untuk mencapai kesadaran. Kalau kita sudah mencapai kesadaran kita harus jalankan tugas hidup kita yaitu menyebarluaskan ajaran yang benar. Manusia tidur saja sesungguhnya juga membuat karma, jangan kita piker kita tidak mau kemana-mana agar tidak membuat karma, padahal duduk saja kita membuat karma.
Tentang karma agama Buddha mengajarkan bahwa karma adalah perasaan pikiran, perasaan, ucapan dan perasaan perbuatan. Jangan dipikir kalau kita tidak memukul orang dianggap tidak buat karma jelek, benci sama orang saja, walaupun hanya dalam hati berarti sudah membuat karma buruk. Kita lahir sekarang ini, pasti akan mati, dan suatu saat pasti akan lahir kembali. Semua yang duduk di sini adalah termasuk manusia yang paling berejeki karena kita sudah punya ajaran dan punya jalan yang sudah ditunjukkan untuk menjadi manusia yang paling bahagia di dalam kehidupan ini. Cuma kadang-kadang kita bodoh hingga mudur dari hati kepercayaan dimana hal ini oleh Niciren Daisyonin dikatakan sebagai pengecut itu artinyakehilangan keberanian untuk meneruskan prinsip hati kepercayaan.
Tadi dikatakan karma baik atau karma buruk itu bukan pemberian dari Gohonzon atau pemberian dari langit. Menurut agama Buddha mendapat kebajikan atau malapetaka bukan karena pihak lain, tapi karena perbuatan diri sendiri, hal ini adalah prinsip, oleh karena itu kita tidak perlu menyalahkan pihak lain. Sekarang soal kehidupan rumah tangga sedang ramai. Oleh karena itu nanti moment Hut ke 38 NSI, 28 Oktober 2002, kita ingin mengajak semua umat NSI untuk mendasari kehidupan keluarganya dengan syinjin, demi tercapainya kehidupan keluarga yang sejahtera dan bahagia. Dalam hal berkeluarga ada umat yang lagi pusing sama istrinya, soalnya di rumah sudah seperti bos, saya tidak bisa menguasainya, lama-lama saya merasa seperti orang yang tidak berguna. Saya katakana padanya jangan bodoh, kenapa Cuma gara-gara istri terus merasa jadi orang yang tidak berguna. Sebagai istri juga begitu, jangan merasa tidak berguna karena suami tidak peduli lagi. Kenapa mesti merasa berguna atau tidak berguna atau tidak berguna karena hal-hal seperti itu, kita lahir di dunia pasti ada gunanya jangan berpikir berguna itu kalau dihargai sama orang lain. Tapi yang jadi masalah karena kita punya pikiran yang salah, kita merasa berguna kalau kita dipedulikan oleh orang lain. Mestinya dipedulikan atau tidak itu nomor dua. Kedua, kita tidak perlu harus menguasai orang lain. Soal kuasa menguasai ini sekarang sedang marak terjadi, di parlemen masing-masing ingin saling menguasai, di masyarakat, kelompok masyarakat yang satu ingin menguasai kelompok masyarakat yang lain, di susunan mungkin juga demikian. Padahal ini tidak sesuai dengan ajaran Buddha dalam hal berkeluarga suami mestinya ingin memikirkan dan memberikan manfaat untuk istri, sebaliknya istri juga berpikiran sama, yaitu ingin memberi manfaat untuk suami dan anak tanpa harus minta dipedulikan, kalau seperti itu kita akan merasa diri kita berguna. Walau sudah menjadi suami istri, dalam hal karma tetap tanggung jawab masing-masing. Oleh karena itu yang penting bisa saling memberi manfaat, mau dibalas atau tidak jangan kita pikirkan, kalau bisa seperti itu semua aman, dunia aman, keluarga aman. Karena saling menuntut sehingga ketidakamanan menjadi timbul. Padahal bisa menjadi suami-istri tentu punya jodoh yang kuat sejak masa lampau, jodoh untuk saling memberi manfaat.
Yang dapat membuat mundur dari hati kepercayaan selanjutnya adalah berpikiran picik. Artinya tidak mempelajari hokum dalam diri sendir, selalu menganggap setiap masalah adalah sebagai masalah orang lain. Hokum sebab akibat dianggapnya hanya berlaku untuk orang lain, sedangkan untuk diri sendiri tidak berlaku, sehingga sering menyalahkan pihak luar. Padahal hokum sebab akibat tidak terjadi diluar tetapi berlangsung di dalam perasaan jiwa kita sendiri, oleh karena itu pahami diri sendiri. Kemudian kalau ada sesuatu terjadi selalu menganggapnya itu urusan orang lain, tidak punya kepedulian. Padahal Niciren Daisyonin katakan segala sesuatu yang terjadi pada orang lain suatu waktu bisa terjadi pada diri kita. Maka itu hal-hal yang terjadi diluar diri kita mestinya dijadikan pelajaran buat diri kita, hingga hal tersebut tidak akan kita alami ini yang harus kita pahami. Tamak juga dapat menyebabkan kita mundur dari hati kepercayaan. Artinya sifat serakah, selalu menghitung untung rugi di depan mata yang pada akhirnya akan membuat kebingungan sendiri. Jadi orang kaya jangan dikira tidak bingung, karena banyak duitnya dihitung-hitung terus, jangan dianggap orang kaya itu tidak pelit. Orang yang serakah selalu terikat dengan keuntungan depan mata. Syinjin jangan seperti itu, karena untung rugi itu perasaan yang muncul dari dunia kelaparan kalau hitungnya untuk rugi kita akan bikin sebab jelek terus karena munculnya dari dunia kelaparan.
Penyebab lain mundurnya dari hati kepercayaan adalah ragu-ragu. Artinya tidak berusaha mengerti maksud bimbingan Niciren Daisyonin yang sebenarnya dari. Itulah sebabnya kita datang kensyu harus sungguh-sungguh biar hanya paham sedikit ajaran, pahamilah dengan benar. Bulan lalu ada salah satu pengurus dari Surabaya yang mengatakan suasana kensyunya seperti pasar. Juga ada suara kalau NSI tidak meningkatkan kedisiplinan gimana ke depannya nanti? Waktu jaman pak Seno kok bisa! Saya katakan jangan membandingkan dengan jaman pak Seno, waktu zaman pak Seno segala sesuatunya lebih diarahkan kepada satu hal. Sekarang yang lebih diarahkan bahwa kesadaran itu punya kebaikan, kalau tidak punya kesadaran diri sendiri akan timbul kesulitan. Maka itu mau sadar atau tidak itu urusan diri sendiri? Dalam agama Buddha diajarkan, kesadaran menimbulkan kebajikan, ketidaksadaran akan mengundang malapetaka. Maka saya katakan bahwa NSI tidak akan bubar karena adanya saingan atau karena tidak punya uang. Yang lebih penting dari itu, walaupun mereka duduk dengan seenaknya kalau bisa memahami dan melaksanakan ajaran NSI tidak akan bubar, bahkan akan maju terus.
Dalam kehidupan kita kali ini tidak usah berkecil hati, yang penting kita harus berusaha jangan mundur dari hati kepercayaan. Resepnya adalah keberanian, pengertian yang mendalam terhadap ajaran Niciren Daisyonin dan mengukirnya dalam jiwa. Jadi keberanian untuk percaya, keberanian untuk melepaskan filsafat yang dulu-dulu, seperti soal setan atau soal khuamnya (ramalan). Jangan karena kehidupan kurang lancar dianggap karena salah menempatkan Butsudan (altar) atau karena Butsudan kurang bagus. Memang yang paling baik menempatkan Butsudan Gohonzon adalah duduk di Utara menghadap ke Selatan, jadi kalau Gongyo pagi serong ke kanan sedikit menghadap matahari. Kalau memang situasi rumah tidak memungkinkan posisi Butsudan seperti itu, tidak ada masalah, jadi akibat kebajikan atau tidak tergantung pelaksanaan kita, maka harus sungguh-sungguh dalam memahmi ajaran kalau tidak mengerti tanya. Sudah berbulan-bulan kalau forum tanya jawab di setiap ada Kensyu. Minggu siang, baik di Megamendung atau Kensyu wilayah Jawa Tengah sama, kalau malamnya (sabtu) yang hadir 178 orang lumayan banyak, hari minggunya tinggal 2/3 yang lainnya pulang. Di sini juga sama, besok mungkin 1/3 tidak ada, giliran tanya jawab tidak ada yang ingin bertanya ! paling ada yang cerita pengalaman. Oleh karena itu, belajar merupakan salah satu persyaratan untuk kita semakin meningkatkan hati kepercayaan kita.
Bulan ini kita akan banyak acara disamping HUT ke 38 NSI. Tanggal 12 Oktober adalah peringatan diwujudkannya Dai Gohonzon, tapi sepertinya umat masih belum terlalu jelas. Dalam majalah samantabadra juga sudah dimuat apa maknanya tanggal 12 Oktober. Ini bukan soal cerita NSI takut kesaing sama Taisekiji atau yang lain, makanya bikin-bikin acara seperti itu, namanya lembaga agama tentunya hari-hari keagamaan kita harapkan untuk diisi, walau belum dengan sempurna. Tapi tentu tidak terlalu dititk beratkan kepada ritualnya, umpamanya harus pakai kue moci, harus pakai ini pakai itu niciren Daisyonin doyan lobak makanya harus pakai lobak dan lobaknya harus lobak jepang yang besar-besar, bukan seperti itu, tapi makna diwujudkannya Dai Gohonzon untuk Icien Boday Soyo (untuk seluruh umat manusia). Sudahkan kita merasakan manfaat Gohonzon jangan Cuma setahun sekali merasakan manfaat Gohonzon, melainkan setiap saat bagaimana kita betul-betul menggunakan Gohonzon untuk memunculkan kesadaran kita inilah makna 12 Oktober.
Kemudian kemarin saya diingatkan kalau 12 oktober diperingat kenapa tanggal 13 oktober tidak, tanggal 13 oktober adalah hari meninggalnya Niciren Daisyonin. Oleh karena itu, jangan dipikir kalau memperingati jadi tambah rejeki bukan seperti itu. Tapi kita ingin mengambil maknanya, maka itu saya pikir dijadikan satu. Dalam hal ini ada juga pertanyaan, apakah dalam memperingati tanggal 13 Oktober kita juga harus pasang Sotoba? Bukan seperti itu Niciren Daisyonin lahir di dunia untuk mewujudkan Dai Gohonzon kan ada kaitannya. Sekarang Buddha sudah meninggal. Dalam Gosyo ini dikatakan Niciren Daisyonin bagaikan singa dan kita-kita di sini adalah anak-anak singa karena gurunya juga singa. Maka itu kita harus punya sikap seperti singa harus berani dalam syinjin. Makanya kalau ada kesulitan dengan keberanian Syinjin semua akan kabur. Karena keberanian Syinjin kita. Sifat iblis yang ada pada diri kita semua akan menyingkir. Maka jadilah murid-murid Niciren Daisyonin yang gagah berani. Sekian dari saya dan terima kasih.[Minto]
Sumber : Buletin SAMANTABADRA, OKT '02
|