|
Bimbingan Ketua Biro Urusan Luar Negeri Sangha Kuil Pusat Nichiren Syosyu Yang Arya Bhiksu Kotoku Obayashi
Makna Hari Ulang Tahun Nichiren Daisyonin
Bulan dua adalah bulan hari ulang tahun Nichiren Daisyonin. Pada kesempatan ini akan disampaikan makna dari kehadiran Nichiren Daisyonin di dunia, di negeri Jepang pada Masa Akhir Dharma.
Pada tanggal 16 bulan dua tahun Jo-o pertama (1222), Nichiren Daisyonin lahir di sebuah desa nelayan di Kominato, propinsi Awa. Nama kecil beliau adalah Sennici Maro. Mengenai kelahiran-Nya, dalam Surat Tanya Jawab Honzon (Honzon Mondo Syo), Nichiren Daisyonin mengatakan, “Di propinsi Awa, daerah Nagasa no Go-ori, desa Tojo, di tepi laut sebagai anak nelayan ,”(Heisei Syinben Gosyo halaman 1279). Dalam Surat Peringatan Sado (Sado Gokanki Syo) dikatakan, “Sebagai anak candala di tepi laut ,” (Heisei Syinben Gosyo halaman 482). Dalam Surat Balasan Kepada Bhiksuni Myoho dikatakan, “Di negeri Jepang , Nichiren lahir di propinsi yang disebut propinsi Awa , keluar dari keluarga rakyat biasa, menggundulkan kepala dan memakai pakaian Kasaya,”(Heisei Syinben Gosyo halaman 1257). Kemudian, di dalam Surat Kabar Kepada Nakaoki Nyudo dikatakan, “Nichiren bukan orang ibukota negeri, bukan anak jenderal negeri, melainkan anak rakyat biasa di negeri yang jauh,” (Heisei Syinben Gosyo halaman 1431).
Di India, Buddha Sakyamuni lahir di istana sebagai putra mahkota dari Raja Suddhodana. Sebaliknya, Buddha Pokok Masa Akhir Dharma Nichiren Daisyonin yang lahir sebagai anak nelayan, anak dari rakyat rendah, anak dari rakyat biasa ini mempunyai makna yang mendalam sekali dari atas Hukum Buddha.
Pertama, sebagai pelaksana Saddharmapundarika-sutra yang utama di Jambudwipa, Nichiren Daisyonin menahan bermacam-macam kesulitan yang dibabarkan Bab Nasihat Untuk Mempertahankan dari Saddharmapundarika-sutra. Tepatnya menahan, “Kata-kata buruk, ejekan, hukuman pedang dan tongkat (hukuman mati), sering diusir dari tempat, dihukum buang ke pulau”. Bukti sesungguhnya kekuatan fungsi sebagai pelaksana Saddharmapundarika-sutra ini tidak akan terwujud apabila dilahirkan dalam keluarga raja, atau pangeran atau keluarga jenderal. Jika dilahirkan di tingkat yang tinggi, sebaliknya akan menjadi hambatan.
Makna yang kedua adalah, demi memberikan karunia manfaat ikatan jodoh penanam bibit kepada umat manusia Masa Akhir Dharma yang tidak ada akar kebaikan, yang sudah tidak ada lagi ikatan jodoh dengan Buddha Sakyamuni, berdasarkan mahamaitri karuna Nichiren Daisyonin sebagai Buddha Pokok Penanaman Bibit Sebab Pokok hadir ke dunia ini sebagai manusia biasa. Dengan demikian, antara Nichiren Daisyonin dan kita sekalian ada ikatan jodoh hubungan tiga kebajikan: majikan, guru dan orang tua dari segi Hukum Buddha.
Makna yang ketiga adalah, di dalam Surat Empat Percaya Lima Bab dikatakan, “Semakin benar ajarannya, semakin rendah tingkatannya (maksudnya: semakin benar ajarannya, semakin dapat diterima sekalipun oleh orang yang tingkatannya rendah )” (Heisei Syinben Gosyo halaman 1112). Dan dalam Surat Balasan Kepada Nanjo Dono dikatakan, “Karena hukumnya gaib, maka manusianya unggul. Karena manusianya unggul, tempatnya pun agung,” ( Heisei Syinben Gosyo halaman 1569). Sesuai bimbingan ajaran ini,Nichiren Daisyonin yang lahir kembali sebagai Buddha, manusia biasa adalah hakikat Kuon Ganjo, yang dilahirkan sebagai anak nelayan yang kedudukannya paling rendah, menyelamatkan seluruh umat manusia dari Masa Akhir Dharma, masa buruk yang dikotori tiga racun: keserakahan, kemarahan, dan kebodohan yang berakar bakat rendah. Dan untuk mewujudnyatakan secara aktif “badan manusia biasa adalah badan Buddha”, hawa nafsu adalah kesadaran” yang merupakan kegaiban karunia kebajikan dari Hukum Agung Myohorengekyo, Beliau lahir di dunia sebagai anak dari rakyat biasa.
Di dalam Sutra Mahasanghata, Buddha Sakyamuni sendiri mengatakan bahwa sesudah kemoksyaan Buddha Sakyamuni, setelah 1000 tahun Masa Saddharma dan 1000 tahun Masa Pratirupadharma berlalu, “500 tahun selanjutnya, dalam Hukum Saya, sering terjadi perselisihan dan perkelahian dan Hukum Putih Agung menjadi tenggelam”. Dengan demikian membabarkan bahwa setelah 2000 tahun Masa Saddharma dan Masa Pratirupadharma, Hukum Buddha dari Buddha Sakyamuni menjadi musnah dan kehilangan fungsi kekuatan sehingga tidak dapat menyelamatkan umat manusia dengan sesungguhnya. Pada waktu itu, “seorang arif ”, “seorang bhiksu kecil” (Heisei Syinben Gosyo halaman 837) hadir di dunia sebagai pelaksana Saddharmapundarika-sutra, menyebut Hukum Buddha Agung Nammyohorengekyo yang merupakan intisari Saddharmapundarika-sutra. Mengenai akan dilaksanakannya kosenrufu, telah diramalkan di dalam Bab Kekuatan Gaib Sang Tathagata dan Bab Bhaisyajaraja Saddharmapundarika-sutra.
Kalimat Bab Kekuatan Gaib Sang Tathagata Saddharmapundarika-sutra berbunyi , “Sesudah kemoksyaan Sang Tathagata, mengetahui sebab jodoh pegangan sutra yang dibabarkan Buddha dan urutannya, sesuai maknanya babarkanlah seperti yang sesungguhnya”. Berarti, ramalan tersebut dibuktikan oleh Nichiren Daisyonin di Masa Akhir Dharma setelah kemoksyaan Buddha Sakyamuni. Nichiren Daisyonin mengetahui dan menyadari seluruh ajaran dan sutra yang dibabarkan Buddha Sakyamuni dalam satu kehidupan, bahkan mengetahui akar bakat umat manusia dan sebab jodoh satu hal sangat penting dari kehadiran Buddha di dunia serta depan dan belakang penyebarluasan dari tanah negeri dan penyebarluasan hukum ajaran. Tepatnya, setelah tenggelamnya Hukum Buddha dari 42 tahun sebelum Saddharmapundarika-sutra, Beliau menegakkan secara nyata Hukum Agung Myohorengekyo penanaman bibit, membabarkan, menerangkan dan membimbing.
Dan selanjutnya, dalam bab yang sama dikatakan, “Sungguh seperti sinar terang matahari dan bulan yang melenyapkan segala kegelapan. Orang ini melaksanakan di dalam masyarakat, dan sungguh memusnahkan kegelapan umat manusia. Akan membuat bodhisattva yang tak terhitung tinggal di Ekayana”. “Orang ini” yang dibabarkan di atas berarti ramalan yang dibuktikan oleh perilaku dan bimbingan dari Nichiren Daisyonin sebagai kelahiran kembali Bodhisattva Visishtacaritra, kelahiran kembali Buddha Pokok Kuon Ganjo yang hadir nyata di Masa Akhir Dharma, yang berdasarkan Hukum Buddha Agung bagaikan sinar matahari, melenyapkan kegelapan seluruh umat manusia, membimbing seluruh badan dunia hukum ke tanah Buddha.
Pembuktian dari ramalan Buddha Sakyamuni di dalam Saddharmapundarika-sutra yang seperti demikian ini diterima oleh Nichiren Daisyonin yang hadir nyata di Masa Akhir Dharma, dan bimbingan dari Beliau sendiri merupakan bukti terang sebenarnya dari Saddharmapundarika-sutra. Oleh karena itu, di dalam Surat Balasan Kepada Syijo Kingo, Nichiren Daisyonin mengatakan, “Nichiren, badannya rendah, akan tetapi menerima amanat dari majikan ajaran Buddha Sakyamuni, maka datang di negeri ini, ”(Heisei Syinben Gosyo halaman 620). Dan, di dalam Surat Pakaian Kasaya, Nichiren Daisyonin mengatakan, “Jika Nichiren tidak hadir di negeri Jepang, petuah Sang Buddha akan menjadi bualan. Bukti terang dari Prabhutaratna juga menjadi tidak berguna. Dan jika bukan Nichiren, kata-kata Sang Buddha sudah menjadi musnah ,”( Heisei Syinben Gosyo halaman 904).
“Nichi”dari “Nichiren” berarti matahari dari “sinar terang matahari dan bulan” yang dibabarkan Bab Kekuatan Gaib Sang Tathagata. “Ren” berarti tidak ternodai oleh hukum masyarakat, bagaikan pundarika di air”. Ini berarti Hukum Agung dan Buddha dari Myohorengekyo yang suci tidak ternodai oleh kotoran, hawa nafsu, dan berbagai keburukan. Dengan demikian, di dalam Surat Kepada Istri Syijo Kingo, Nichiren Daisyonin mengatakan , “Perihal terang, tidak ada yang melebihi dari matahari dan bulan. Perihal suci, tidak ada yang melebihi Pundarika. Saddharmapundarika-sutra adalah matahari, bulan dan pundarika. Oleh karena itu,dinamakan Myohorengeky. Nichiren juga sama dengan matahari,bulan dan Pundarika,”(Heisei Syinben Gosyo halaman 464).
Nama yang disebut “Nichiren”merupakan pernyataan dari Daisyonin. Nama yang bagaikan sinar terang agung dari matahari dan bulan yang menerangi kegelapan puluhan ribu tahun Masa Akhir Dharma, yang menyadari diri sendiri sebagai Buddha Pokok dari penanam bibit yang membimbing Kosenrufu dari Hukum Agung Myohorengekyo. Maka, kelahiran Nichiren Daisyonin adalah sungguh sebagai Buddha Pokok dari ‘masa lampau yang amat jauh adalah Masa Akhir Dharma’ , Jijuyusyin Kuon Ganjo yang hadir nyata di Masa Akhir Dharma. Hari kelahiran Beliau sungguh merupakan hari yang baik untuk menyambut timbul nyatanya bimbingan dan ajaran Nichiren Daisyonin hingga terwujudnya Gohonzon yang sebelumnya tidak pernah ada di seluruh dunia. Gohonzon ini tidat dapat diwujudkan oleh siapapun juga, baik oleh Buddha Sakyamuni, Mahaguru Tien-tai, Mahaguru Dengyo maupun para Buddha dan bodhisattva ketiga masa. Maka, upacara ulang tahun Nichiren Daisyonin merupakan upacara hukum untuk menperingati kehadiran Buddha Pokok Kuon Ganjo di Masa Akhir Dharma dan terwujudnyatanya Stupa Pusaka Agung Gohonzon dari Myohorengekyo. Diharapkan kita sekalian dapat melaksanakan upacara ini dengan kesungguhan hati untuk membalas budi. Dan, dengan kesatuan hati antara bhiksu dan penganut Nichiren Syosyu, berjanji untuk bersungguh hati menjalankan pertapaan yang lebih maju di dalam penyebarluasan Saddharma serta menimbulkan tekad yang baru. Inilah makna upacara hukum kelahiran Nichiren Daisyonin.
Di Kuil Pusat Taiseki-ji, setiap tanggal 16 bulan dua, Yang Arya Bhiksu Tertinggi sendiri membaca sutra di O-Miedo untuk membalas budi. Dan setelah itu , Yang Arya Bhiksu Tertinggi berkunjung ke Stupa Lima Susun, dan di dalam stupa tersebut Beliau membaca sutra dan menyebut Daimoku, kemudian membabarkan hukum kepada para bhiksu dan penganut yang mengikuti.
Stupa Lima Susun di Kuil Pusat Taiseki-ji dibangun dengan menghadap ke arah barat. Ini bermakna bahwa berkebalikan dari Hukum Buddha Sakyamuni yang datang dari negeri India ke Jepang, sekarang, bagaikan matahari yang keluar dari timur menyinari jurusan barat, Hukum Buddha Nichiren Daisyonin akan kembali ke negeri Tiongkok dan negeri India serta tersebarluas di seluruh dunia. Dan sinar terang tersebut akan sampai pada seluruh dunia hukum alam semesta. Sekian
Tertanda
Kotoku Obayashi Ketua Biro Urusan Luar Negeri Nichiren Syosyu
Sumber : Buletin SAMANTABADRA
|