|
Amanat suci Shande Dijun: Hawa bajik pertanda baik, watak buddhata berpadu dengan Bunda Cahya bajik menyinari, segala sesuatu menjadi lebih semangat Budi Tuhan Kebajikan Guru, menyelamatkan Triloka kembali ke nirwana Sang arif lindungi Maha Tao, menjunjung Firman memperoleh kebahagiaan
Shande Dijun lahir di daerah bukit Jilong, kota Jiadong, Malaysia, pada tanggal 16 September 1916 (11 September penanggalan Imlek). Beliau merupakan anak ketiga, sehingga sering dipanggil sebagai ¡§Tuan muda ketiga¡¨. Ayahnya bernama Lü Qichun dan ibunya bernama Tang Qingqing.
Ayahnya berasal dari daratan Tiongkok, lalu menetap dan mencari nafkah di Asia Tenggara, yaitu Malaysia. Beliau bergerak dalam bidang usaha penambangan timah, tapi pada saat itu terus menerus tidak memperoleh timah. Sejak kelahiran Shande Dijun tanda-tanda tentang adanya lokasi penambangan terus bermunculan. Kelahirannya memang mendatangkan kemakmuran bagi keluarga Lü, sehingga sang ayah pun menjadi seorang jutawan dan hari-hari dilewati dengan penuh kemewahan.
Setelah dewasa, Shande Dijun menjadi direktur perusahaan penambangan timah. Pada tahun1946, beliau diutus ayahnya untuk meninjau kawasan daratan Tiongkok. Disanalah beliau mengenal Maha Sesepuh Li Haoran (Yizheng Dijun). Pada tahun berikutnya yaitu pada tanggal 6 Januari 1947 penanggalan Imlek, beliau memohon Ketuhanan di Vihara Runde, dan didhiksa oleh Maha Sesepuh Li Haoren. Setelah memohon Ketuhanan, beliau dituntun untuk membina Ketuhanan dan bervegetarian oleh Bodhisatva Penguji.
Walau beliau termasuk umat baru, tapi Maha Sesepuh Li haoren dengan sangat disiplin membimbing dan mendidiknya. Setiap hari satu dan lima-belas Imlek, serta hari kelahiran Buddha Bodhisatva, Vihara tetap harus ada pendhiksaan. Suatu kali terjadi keajaiban suatu malam di sebuah desa Shantou, seluruh penduduknya yang berjumlah lebih dari 700 orang bermimpi tentang hal yang sama yaitu : Ada seorang anak kecil sambil memukul gong perunggu yang ada di tangannya ia berteriak, ¡§Ajaran Ketuhanan telah turun ke dunia, kalian harus segera pergi memohon Ketuhanan! Besok tanggal 15 Maret (Imlek) adalah hari pengagungan Tuhan Maha Esa, merupakan hari terbaik.¡¨ Ia juga memberitahukan alamat vihara dan menyuruh mereka untuk mencari orang Asia Tenggara yang bernama Lü Wende. Di sanalah tempat memohon Ketuhanan dan kelak akan membawa kita kembali ke Nirwana.
Sebenarnya anak kecil itu adalah emanasi dari Bodhisatva Penguji. Dikarenakan mimpi yang sama dan rasa keingintahuan, membuat mereka segera menumpang kendaraan maupun kapal menuju kota Shantou untuk mencari Vihara. Sehingga pada hari itu, Vihara mulai dari lantai 1 sampai lantai 4 penuh, dan di luar Vihara maupun sepanjang jalan pun sesak, karena penduduk yang datang untuk memohon Ketuhanan tiada habis-habisnya.
Saat Maha Guru Shimudaren datang ke Malaysia, Shande Dijun yang memohon Ketuhanan hanya 3 tahun lebih dengan penuh kesetiaaan dan ketelitian dalam menjaga beliau. Suatu hari, Shande Dijun melihat Maha Shimudaren yang tidak pernah keluar rumah, kelihatannya sangat sedih. Sehingga Shande Dijun pun merasa khawatir dan berniat untuk mengantar beliau melihat-lihat distrik kota. Maha Guru Shimudaren dengan ramah menjawabnya,¡¨ Betapapun indahnya pemandangan di luar sana, tetap tidak seindah pemandangan alam Nirwana!¡¨ lanjutnya, ¡§Muridku yang baik! Baik-baiklah membina, kelak segala sesuatu akan tersedia.¡¨ Shande Dijun sering memuji beliau sebagai seorang Buddha Hidup. Walau Maha Guru Shimudaren buta aksara, tapi sering meminjam buku dharma maupun amanat suci untuk dibaca oleh Shande Dijun, dan juga memberikan bimbingan kepadanya.
Maha Guru Shimudaren menetap di Malaysia lebih dari 1 tahun, dan pernah membimbing dan menyelamatkan 29 Maha Dewa. Demi tugas ini dan kebutuhan wadah Ketuhanan, Shande Dijun menjual semua harta dan tokonya. Dan setelah kepulangan Maha Guru Shimudaren ke Hongkong, Shende Dijun mulai menghadapi berbagai cobaan, karena demi menjaga Maha Guru Shimudaren, melakukan tugas Ketuhanan, mendirikan Vihara, menyelamatkan umat manusia dan lain-lain, Maha Sesepuh telah mengorbankan semua harta kekayaannya yang mengakibatkan keadaan ekonomi keluarga merosot dan kehabisan pangan, apalagi tiada bantuan dari orang lain. Sehingga keluarga pun tidak mengerti, sanak saudara dan teman-teman pun memfitnah dan menertawakannya. Shande Dijun benar-benar menemui jalan buntu.
Ada peribahasa yang berbunyi ¡§Dalam negara yang kacau akan tampak pejabat yang setia, dalam keluarga yang miskin akan terpupuk anak yang berbakti¡¨. Di saat beliau menghadapi ujian ini, ada beberapa murid yang setia terus menyertai dan menyokong beliau, seperti Cijue Pusa (Pdt. Xie Huihua) dan Kongxuan Zhenjun (Pdt. Pan Shunchun). Kedua Pandita ini setiap hari dari pagi sampai malam bekerja dengan orang lain, sehari hanya makan 2 kali, dan hemat dalam segala sesuatu, demi mempertahankan biaya pengeluaran dan pemasukan Vihara.
Shande Dijun berwatak jujur, tugas dilaksanakan dengan sempurna dan tak lamban dan sembrono. Bila dikatakan akan ke suatu Vihara untuk membimbing umat, maka beliau akan segera ke sana , Shande Dijun benar-benar beejuang daalam setiap detik, dan selalu tepat waktu, Beliau akan tiba ½ jam lebih awal dari waktu yang ditentukan, tidak pernah membuat orang lain menunggu lama, karena takut membuang waktu orang lain. Baik dalam hal makan maupun bekerja, beliau selalu lebih cepat dari umat-umatnya, sehingga mereka pun menjadi sangat berhati-hati, tidak berani lamban dan sembrono.
Shande Dijun sangat suka belajar dan menuntut kemajuan, sehingga setiap harinya selalu membaca dan mencatat berbagai Kitab Suci dan Amanat Suci Buddha Bodhisatva. Sejak mengikuti Yang Arya Haoci Dadi dan melalui bimbingannya, Shande Dijun seketika itu mulai menginsafi bahwa ¡§laksa kitab dan sutra tidak dapat membandingi setitik inisiasi guru berfirman¡¨. Sejak itu, beliau setiap harinya mulai mencatat Dharma Hati kebenaran Nurani dan telah berjumlah lebih dari 100 buah buku, dan Amanat Suci yang telah dicatatnya juga telah berjumlah ratusan. Hingga diusia tuanya, beliau masih terus mencatat. Pada pembukaan kelas, beliau selalu menguraikan Dharma Hati kebenaran Nurani dan keluhuran dari transmisi suci Dwi Maha Guru. Dikarenakan beliau lapang dada, bersemangat, serta ucapannya sesuai dengan tindakan nyata membuat umat-umat suka mendengarkan dharma yang disampaikannya, dan kadang-kadang sampai tak ada tempat duduk yang kosong.
Demi xiutao bantao, beliau telah meninggalkan segala harta kekayaan, sehingga dirinya sama sekali tiada sesenpun. Oleh sebab itu, setiap kali diadakan kelas penataran dharma Vihara lain, beliau akan naik bis ataupun kereta api yang uang tiketnya juga merupakan bantuan dari pandita dan umat-umat. Tetapi ada sebagian Vihara yang harus menempuh perjalanan yang jauh sehingga harus pindah kereta atau bis beberapa kali baru bisa tiba, seringkali uangnya hanya cukup untuk biaya pergi sedangkan untuk biaya pulang disiapkan oleh umat-umat Vihara tujuan. Bila bantao diluar daerah, beliau masih harus menahan rasa lapar, karena pagi hanya sarapan bubur, siangnya pergi membimbing umat, hingga malam pulang keVihara baru makan malam.
Setelah Maha Guru Shimudaren meninggalkan Malaysia, Shande Dijun menjadi jalang hubungan dengan Maha Guru Shimudaren. Tapi pada tahun 1976, Yang Arya Haoci Dadi datang ke Malaysia setelah parinibbananya Maha Guru Shimudaren, sehingga Shande Dijun kembali mengikuti wakil Maha Guru Shimudaren, Yang Arya Haoci Dadi. Beliau sangat memperhatikan Wadah Ketuhanan Malaysia. Sejak itu, beliau, tidak putus-putusnya datang ke Malaysia untuk membimbing umat-umat. Dalam ayoman Wadah Ketuhanan pusat Taiwan, Wadah Ketuhanan Malaysia pun berkembang secara perlahan-lahan. Melihat transportasi yang tidak praktis, maka pada tahun berikutnya, Yang Arya Haoci Dadi membelikan sebuah kendaraan untuk digunakan oleh Vihara. Dan untuk Vihara yang kecil dan sudah usang itu, dibeli sebidang tanah yang sekarang ini merupakan Vihara Yuan Guang yang bisa kita lihat.
Dibawah ayoman Shande Dijun yang menjunjung titah dalam bertugas, tak kenal menyerah dan terus berjuang serta berkorban, sehingga Wadah Ketuhanan akhirnya berkembang jaya, bertambah kokoh dan stabil. ¡§Disaat wadah Ketuhanan berjaya, akan datang banyak ujian¡¨. Shande Dijun memiliki niat Ketuhanan yang teguh, setulus hati dalam mempertahankan Ketuhanan, serta pantang mundur. Dibawah keuletan dan usaha keras beliau, baru bisa ada Wadah Ketuhanan Malaysia yang berkembang jaya sekarang ini.
Beliau sering menasehati umatnya : Xiutao Bantao harus berhati teguh, walau menghadapi ujian mara atas kegagalan apapun juga, harus berani dan kokoh untuk menghadapinya. Xiutao Bantao harus dipertahankan hingga tuntas, senantiasa mengikuti dan menjunjung Tian Ming Tao Pan, kelak baru bisa mencapai kesempurnaan Buddha Bodhisatva, Tuhan tidak pernah mengecewakan kita, jangan menghiraukan Fitnahan atau hasutan orang lain,¡¨ Xiutao ibarat perahu yang berlayar melawan arus, dan akan terhanyut bila tidak berusaha maju¡¨, artinya dalam Xiutao Bantao tidak boleh mengharapkan segalanya lancar. Hanya dalam keadaan yang susah baru akan menemukan Aku Sejati , bisa merubah dan menerobos diri sendiri, semakin banyak kegagalan dan tekanan yang dihadapi, harus semakin berani. Hangan sekali-sekali merasa sombong, karena orang yang sombong pasti akan gagal. Xiudao seperti membangun sebuah pagoda, semakin tinggi haruslah semakin berhati-hati, bila tidak, pasti akan jatuh. Dalam pergaulan. Haruslah semakin rendah hati dan mengalah. Maha Sesepuh Lü juga sering mengingatkan umatnya untuk harus bisa melepaskan dan merelakan segala keduniawian, agar tidak menyesal sesudah terlambat . Beliau sering juga berpesan: Xiutao Bantao harus menaati peraturan dan menjaga kelakuan, tiada niat serakah dan khayal, harus senantiasa mengontrol niat pikiran dan terutama harus menjunjung Tian Ming Tao Pan.
Segenap hidupnya Xiutao Bantao, Shande Dijun sangat menjunjung Tian Ming Tao Pan, berjuang, berkorban dan berdedikasi demi Ketuhanan, serta tiada kata-kata keluhan atau penyesalan. Beliau sangat setia berbakti dan berintegritas terhadap Laomu, Buddha Maitreya , dan Dwi Maha Guru. Pada tanggal 8 Maret 1990 penanggalan imlek, beliau telah mencapai parinibbana dan Laomu menganugerahinya kedudukan suci sebagai Shande Dijun.
Kami umat-umatnya akan mengikuti langkah beliau, yaitu setia dalam mempertahankan Wadah Ketuhanan Dwi Maha Guru, mematuhi petunjuk dari pemimpin Wadah Ketuhanan, Maha Sesepuh Yan dan Maha Sesepuh Wang dengan tulus, serta konsisten. Kami akan meneladani semangat beliau dalam melindungi dan mengembangjayakan Wadah Ketuhanan Malaysia, dan menyebarluaskan Ajaran Ketuhanan keseluruh dunia, membantu misi unifikasi Buddha Maitreya dalam menyelamatkan mahkluk triloka. Kami akan meneruskan cita-cita luhur beliau demi membalas budi jasanya.
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|