Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 RIWAYAT SINGKAT MAHA SESEPUH ZHOU (HUCI DIJUN)


Maha Sesepuh Zhou Yi Sen lahir pada tanggal 10 april 1916 (tanggal 8 bulan 3 imlek). Ayahnya bernama Zhou Houtu dan ibunya bernama Zhang Jin. Saat kelahirannya, Sang ayah kaget begitu melihat ada mutiara putih (tanda perkabungan) menggelilinginya tiga putaran. Dengan hati pasrah, ia berkata, "saya bagaimana bisa mendapatkan seorang bayi biksu"! bayi ini tidak mempunyai kesempatan hidup yang lama, barangkali hanya beberapa bulan saja.

Setelah 4 bulan berlalu, orang tua merasa aneh, karena tiada pertanda buruk apa-apa. Lalu diundanglah seorang peramal dan hasil ramalannya menunjukan bahwa "nasibnya bagai bunga teratai yang terapung", yang berarti tujuan hidupnya tidak menentu. Beliau memang sudah ditakdirkan untuk membina Ketuhanan dan akan berkelana keseluruh dunia. Namun kemana-mana, Beliau tetap memiliki sandaran hidup atau orang yang baik yang akan senantiasa membantunya, serta tidak perlu khawatir soal pangan.

Saat menginjak usia dewasa, Beliau memohon Ketuhanan, dan disuruh ayahnya untuk membina ketuhanan saja, karena sang ayah memang sudah mengetahui anak ini ditakdirkan untuk membiara, sehingga Maha Sesepuh Zhou tidak perlu memperdulikan hal lain lagi; tidak perlu belajar pengobatan, karena bila sekali salah tulis resep, maka akan mencelakakan orang lain dan hanya menimbulkan dosa. Sang ayah juga melarangnya berbisnis, malah mendukungnya untuk membina dan melaksanakan Ketuhanan. Karena membina Ketuhanan tidak perlu meninggalkan keluarga maupun bisnis, tapi sebaliknya, seisi keluarga boleh ikut membina.

Semasa hidupnya, Beliau sering berkata bahwa Beliau memilih keluarganya, waktu dan keadaan yang paling tepat untuk datang bereinkarnasi kedunia. Seperti yang tertulis dalam kitab Suranggama tentang "perubahan lahir mati", yang merupakan jenis reinkarnasi tahap II.

Keistimewaan Maha Sesepuh Zhou :

  1. Lahir dalam keluarga bermarga Zhou, yang merupakan keluarga terkemuka dan keturunan pejabat; keluarga yang menguasai daerah, silat dan ahli dalam pengobatan tradisional.
  2. Maha Sesepuh Zhou lahir pada pukul 12 tepat, dimana pada saat lonceng berdentang dan meriam penghormatan ditembakkan dalam penyelenggaraan upacara peresmian gedung kediaman GUBJEN ( Istana Presiden yang sekarang) yang dihadiri oleh duta-duta istimewa dari negara-negara di seluruh dunia.

Maha Sesepuh Zhou menjelaskan bahwa oleh karena sebab jodoh inilah Beliau baru bisa berkeliling keseluruh negara didunia untuk merintis dan melaksanakan Ketuhanan. Pada kehidupan lampau, Beliau adalah seorang pembina yang mungkin membina didaerah persinggahan Guangdong Selatan, karena sebagian besar umatnya adalah orang Hakka, baik dari dalam maupun luar daerah. Berbagai tanda sebab jodoh membuktikan bahwa Maha Sesepuh Zhou memang datang kedunia untuk membina dan melaksanakan Ketuhanan. Kami sebagai umat-umatnya sangat berterima kasih atas bimbingan Beliau yang menuntun kami menuju kearah kecemerlangan Hati Nurani; Beliau sering menasehati dan menyemangati kami bahwa membina Ketuhanan adalah membersihkan dan menyucikan hati kita, harus paham bersyukur, menghargai dan berbahagia, harus setia pada negara, berbakti pada orang tua, harus berkarya demi bangsa dan negara. Dengan demikian, membina dan melaksanakan Ketuhanan baru bisa mencapai kesempurnaan Buddha Bodhisatva. Beliau memiliki pengetahuan, pandangan, niat dan pelaksanaan yang sejati dalam membina dan melaksanakan Ketuhanan, Beliau sangat menjunjung Firman dan Wadah Ketuhanan. Terhadap segala sesuatu, Beliau menjadikan Firman Tuhan sebagai landasan dan pilar kehidupan. Terhadap Ajaran Ketuhanan, Beliau sangat menyakininya, pasti, teguh dan hormat. Ketaatan Beliau terhadap Firman dalam bertugas tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Seumur hidup berteguh dalam Firman Tuhan yang luhur dan agung. Beliau menjadikan membina dan melaksanakan Ketuhanan sebagai konsep dan tujuan hidup yang utama, melaksanakan tugas ilahi sesuai dengan titah, mendatangkan keuntungan bagi umat manusia, dan senantiasa merasakan kepuasan dan kebahagiaan. Beliau sungguh merupakan contoh bagi umat manusia yang patut diteladani.

Sejak kecil, Maha Sesepuh Zhou sudah cerdas, bijaksana dan berpandangan jauh , menanjak usia 8 tahun, Beliau telah membenci daging dan menyukai makanan non-kolesterol. Beliau hanya memperoleh pendidikan jepang. Semasa remaja, Beliau pernah menjabat suatu pekerjaan dalam masyarakat, kemudian berganti menjadi DIRUT dalam suatu organisasi Taiwan; penerjemahnya adalah Zhu Jienan, yang datang dari daratan Tiongkok ke Taiwan untuk melaksanakan Ketuhanan. Tak lama setelah memohon Ketuhanan, Maha Sesepuh Zhou meletakkan jabatannya dan dengan segenap hati melaksanakan Ketuhanan, merintis dan membuka Vihara, serta mengajak orang memohon Ketuhanan.

Pada bulan Agustus 1947, Beliau pergi ke Shanghai untuk menjadi pengawal disisi peti Jenazah Shizundaren, pada saat itu Beliau merupakan salah seorang Tanzhu dari Taiwan yang beruntung memiliki kesempatan untuk mengawali peti jenazah Shizundaren; dan diantara banyak sesepuh dan pandita, dari daratan Tiongkok, Maha Sesepuh Zhou tercabut sebagai pertama kali untuk menjaga malam pertama bersama dengan anggota keluarga Shizundaren.

Sekembalinya ke Taiwan, pada tahun 1948, Beliau menerima titah sebagai pandita. Semasa hidupnya, Beliau sering berkata bahwa ia tidak pernah mengecap pendidikan Tiongkok dan buta aksara, melainkan hanya mendapat sedikit pendidikan Jepang. Tapi kami tahu bahwa Beliau sungguh-sungguh mendalami kitab suci dengan teliti dan sempurna sekali, Beliau juga telah menggunakan uraian kitab suci dalam menjelaskan keluhuran Ajaran Ketuhanan, dan banyak kitab suci yang telah diuraikannya, seperti " Taode Jing" dan "Jinkang Jing" lebih dari 50 kali, "Maha Ratna Kuta" 5 kali, "Herdaya sutta" dan "Surranggama" 2 kali, "Vimalakirti" 3 kali, "Kisah perjuangan patriat ke-6" 10 kali, "Numerilogi" 7 kali, "Da Mo Bao Zuan" dan "Prinsip-prinsip penting dalam pembabaran Tao" dan banyak kitab suci lainnya juga telah pernah diuraikannya.

Dalam membina dan mengamalkan Ketuhanan, Beliau pernah menerima banyak kesalahpahaman, tekanan, kegagalan, serta cobaan. Tapi semuanya itu tidak menggoyahkan keyakinannya terhadap Ketuhanan, katanya "roh spirit Tuhan ada dalam diriku". Selama diri ini masih bernafas, berarti Laomu masih memerlukanku untuk melakukan suatu hal, dengan menjadikan Hati Nurani sebagai tuan rumah. Lalu, mengapa saya harus takut dan cemas? Beliau semakin banyak menghadapi kegagalan, malah semakin berani dan tegar, ucapnya, "kegagalan semakin besar, tekanan semakin kuat, maka keyakinan akan semakin teguh. Ini merupakan suatu gemblengan yang akan membuat kita unggul diantara yang lainnya" oleh karena itu, Maha Sesepuh sangat tegar dalam menerobos berbagai ujian dan cobaan. Ketegaran baru bisa menguji ketulusan hati kita terhadap Ajaran Ketuhanan!

Dalam pandangan umat-umatnya, Beliau adalah seorang pemimpin yang gemar belajar tanpa ada rasa letih, dan memiliki kemampuan untuk menjawab segala pertanyaan dan keraguan mereka. Beliau adalah sang pengasih yang penuh dengan kasih sayang, ramah tamah dan pandai bergaul, baik dengan kaum tua maupun muda, dan sedikitpun tak merasa sombong walau telah mendalami banyak kitab suci agama. Beliau bertemu dengan siapa pun akan membimbing dan menasehatinya, serta berharap ia akan berhasil kelak. Terhadap Wadah Ketuhanan manapun juga, Beliau tetap mendoakan kejayaannya, karena memiliki roh spirit Laomu yang persis, sama-sama merupakan anak Laomu, murid dari Dwi Maha Guru, sehingga tiada diskriminasi.

Maha Sesepuh menceritakan bahwa di kehidupan lampau Beliau adalah seorang biksu dan pernah mempelajari kitab suci dalam BA SHI TIAN sehingga pada kehidupan sekarang, walau tidak sekolah, tapi bisa mengerti isi kitab suci yang lain. Beliau berwatak jujur, polos, teguh, dan tiada diskriminasi, sehingga saat bertemu dengan orang lain, Beliau akan menguraikan sedikit dharma. Selain hidup dalam membina dan mengamalkan Ketuhanan, Beliau sangat menjunjung titah dalam bertugas dan hormat kepada atasan.

Sejak awal pembinaannya, Beliau telah membantu Maha Sesepuh Zhao merintis Wadah Ketuhanan diseluruh propinsi, mulai dari daerah Taibei, Taoyuan, Xinzhu, Taizhong, Jiayi, Gaoxiong, Pingdong, dll, mulai dari kota sampai kedesa-desa dan daerah pegunungan, mengembangluaskan ajaran Ketuhanan dan juga membuka kelas penataran Dharma guna membimbing umat-umat, vihara yang dibangun lebih dari 200.

Pada tahun 1975, Maha Sesepuh Zhao parinibbana dan menyerahkan tugas dan tanggung jawabnya kepada Maha Sesepuh Zhou untuk meneruskan misi suci pengembangjayaan Wadah Ketuhanan. Dan dibawah petunjuk Yang Arya Haoci Dadi, Maha Sesepuh Zhou tetap patuh pada titah dalam bertugas, senantiasa bersemangat dan tidak lamban, cerdas tapi rendah hati dan mengalah, tiada keluhan maupun rasa penyesalan, selalu berjuang dengan setulus hati dan sekuat tenaga, serta tetap konsisten.

Pada tahun 1978, atas petunjuk wakil Shimudaren, Yang Arya Haoci Dadi, Maha Sesepuh Zhou segera merintis vihara-vihara di mancanegara yang hingga sekarang telah mencapai 48 negara, meliputi kawasan Asia, Australia, Afrika, Amerika, dan Eropa. Dalam negeri, ada lebih dari 1000 vihara, sampai kini Hua Lian bagian Timur dan Tai Dong juga telah dirintis; sedangkan di luar negeri ada lebih dari 300 vihara. Demi misi penyelamatan umat manusia, Beliau tidak peduli baik siang maupun malam, tetap merintis dan membimbing manusia. Beliau adalah pelita hidup bagi makhluk Triloka.

Demi kejayaan Wadah Ketuhanan, Beliau sering membuka kelas penataran dan bimbingan dharma baik di dalam maupun luar negeri. Keberhasilan dari misi suci akhir-akhir ini adalah dengan menyertai pemimpin Wadah Ketuhanan pusat, Yang Arya Haoci Dadi, membuka kelas penataran dharma di mana-mana, melakukan peletakan batu pertama, serta meresmikan pendirian vihara-vihara. Maha Sesepuh Zhou memiliki jiwa yang lapang, pandangan yang luas, serta kebijaksanaan yang tinggi. Melalui pelaksanaan nyata, Beliau membimbing dan menyemangati para umat, "Ajaran Ketuhanan yang kita yakini merupakan ajaran dari Lao Mu, Buddha Maitreya, dan Dwi Maha Guru, serta merupakan ajaran Hati Nurani oleh karena itu, setiap tugas suci yang kita emban harus sesuai dengan Hati Nurani. Bila ada yang mengalami kesulitan, kita berkewajiban untuk membantunya konsep kita harus benar dan jelas yaitu membantu keberhasilan misi unifikasi Buddha Maitreya, Wadah Ketuhanan berjaya, kita ikut merasakan kebahagiaan, karena memiliki roh spirit Tuhan yang sama, maka harus menghargai dan tiada perbedaan, lanjutnya bila timbul hati diskriminasi, berarti telah membangkang dan menentang Tuhan, telah membuat dosa, hati dan pikiran yang tidak sejati akan menjerumuskan kita ke dalam perputaran dosa karma, ini sungguh menakutkan! Dalam membina dan mengamalkan Ketuhanan, hanya ada tugas dan tanggung jawab yang lainnya tiada masalah pribadi! Tidak bersaing demi nama dan kedudukan, melainkan dengan pengorbanan, perjuangan, dan dedikasi akan memperoleh kebahagiaan tiada tara! Beliau berkata, Berhasil tidaknya suatu Wadah Ketuhanan merupakan tanggung jawab kita pribadi, tapi Wadah Ketuhanan bukan milikku, melainkan milik Lao Mu, Buddha Maitreya, dan Dwi Maha Guru. Saya hanya sebagai perkakas untuk melayani dan ini merupakan pelaksanaan nyata dari Beliau. Setiap umat seharusnya menginsafi ucapan Beliau, selanjutnya merealisasikannya, dan baru bisa sesuai dengan petunjuk Maha Sesepuh dan juga maksud Tuhan.

Maha Sesepuh Zhou menceritakan bahwa pada suatu ketika, Yang Arya Haoci Dadi berkata kepadanya, "Yang ditransmisikan oleh guru Triloka adalah ucapan suci bebas aksara. Anda sendiri juga sering berkata bahwa setitik inisiasi sejati melampaui laksa kitab dan sutra, melampaui Buddha Bodhisatva, tapi mengapa Anda sendiri masih tetap menguraikan kitab suci? Ucapan Yang Arya menyadarkannya seketika. Dalam hati berpikir, memang benar! Saya sendiri sering berkata bahwa Lao Mu ada dalam diriku (Tao ada dalam diriku, di luar diri tiada Tao), ternyata laksa kitab dan sutra tidak diperlukan. "Maha Sesepuh Zhou yang telah sadar dan menginsafinya, segera bertanya kepada Yang Arya Haoci Dadi, jadi yang telah saya uraikan selama ini, tenyata sia-sia ! Yang Arya Haoci Dadi berwelas asih, tak apa-apa! Membaca kitab suci manapun, asalkan bisa memutarbalikannya, akan lebih luhur lagi! Yang terpenting adalah tidak menyimpang dari firman Dwi Maha Guru! Mulai saat itu, Beliau mengikuti firman Dwi Maha Guru dan rela menanggung resiko yang timbul! Melepaskan segala kitab suci dan berganti ke penguraian dharma hati kebenaran nuraniah.

Kepatuhan Beliau terhadap Firman Tuhan dan kesetiaanya terhadap Wadah Ketuhanan tiada bandingannya . Di usianya yang sudah 80 lebih, Beliau setiap harinya masih membaca buku, berceramah dan terus mengajak orang memohon Ketuhanan. Beliau berkata, "Membina dan melaksanakan Ketuhanan haruslah tuntas sampai nafas terakhir, tidak boleh putus di tengah jalan!" Beliau semasa hidupnya terus berkorban dan berdedikasi demi Wadah Ketuhanan, mengorbankan jiwa raga dan pikiran serta membantu kesuksesan orang lain dan tidak mengharapkan imbalan. Beliau sering berkata, "Budi Tuhan Kebajikan Guru sungguh besar, dengan segenap jiwa ragaku pun sulit untuk membalasnya"! Dengan membina dan melaksanakan Ketuhanan masih bisa untuk melunasi dosa karma! Sebenarnya Lao Mu sungguh berwelas asih kepada kita, apa yang kita harapkan lagi! Sedangkan budi jasa Yang Arya Haoci Dadi sudah sulit membalasnya! Maha Sesepuh Zhou ingin kita memahami bahwa dalam membina dan mengamalkan Ketuhanan harus tahu untuk membalas Budi Tuhan Kebajikan Guru serta melunasi ikrar, barulah tidak sia-sia! Dengan penuh syukur, Beliau sering berkata bahwa berkat welas asih Yang Arya Haoci Dadi menariknya dari lumpur dan menyerahkannya untuk dipergunakan oleh Wadah Ketuhanan. Budi bajik ini selamanya sulit dibalas! Bila tiada Beliau, maka Maha Sesepuh. Zhou tidak ada jodoh Ketuhanan yang seperti sekarang ini, yaitu bisa mengabdi demi Wadah Ketuhanan! Jelaslah bahwa Beliau adalah seorang pembina yang paling memahami, menyukuri dan membalas budi.

Maha Sesepuh Zhou Senantiasa mendukung umat-umatnya haruslah giat beramal pahala menunaikan ikrar dan mengajak orang memohon Ketuhanan. Sekarang ini adalah masa-masa di akhir zaman, jangan bermalas-malasan lagi, jangan menyia-yiakan kesempatan ini, bisa melunasi dosa karma 6 laksaan tahun merupakan kesempatan yang sulit di dapat, haruslah benar-benar mempergunakannya dan berjuang dalam setiap detik. "Ada ikrar tegakkanlah di hadapan Tuhan ada tugas laksanakanlah dalam masa stadium III ini."

Maha Sesepuh Zhou sering membimbing kita, asalkan ada titah dari Yang Arya Haoci Dadi, maka tidak perlu pertimbangan lagi. Tugas apapun tetap dilaksanakan dan tidak menolak serta bisa mempertanggungjawabkan kesalahan yang timbul. Ini semua merupakan pelaksanaan nyata dari Beliau. Beliau berkata, "Membina Ketuhanan harus berpegah teguh pada Firman Tuhan dan titah dari Wadah Ketuhanan pusat." Karena Yang Arya Haoci Dadi merupakan wakil dari Shimudaren. Mengikuti petunjuk Yang Arya Haoci Dadi berarti telah menuruti titah Shimudaren.

Beliau berwelasasih, membina dan melaksanakan Ketuhanan harus menghormati atasan dan mengasihi bawahan, harus menjaga dan memperhatikan umat-umat sedharma, karena mereka juga memiliki roh spirit Tuhan yang sama, dan sama-sama merupakan murid dari Dwi Maha Guru! Terhadap para umat-umat, Maha Sesepuh Zhou seperti menyayangi anak-anak dan saudara-saudaranya, sehingga kami merasakan kasihnya yang besar.

Maha Sesepuh Zhou parinibbana di Vihara Tianhao, Zhudong, yaitu disaat kelas penataran Cahaya Buddha. Langit dipagi hari sangat cerah dan terbit matahari yang lebih besar dari biasanya; tapi tengah harinya setelah pukul 12:30 lewat, tiba-tiba langit diatas Vihara Tianhao tertutup rapat oleh awan gelap, lalu turun hujan lebat selama 5 menit. Tiba pukul 1 siang, asisten pengajar mengisi sesi pelajaran III, yang kemudian dilanjutkan dengan giliran Maha Sesepuh Zhou untuk menyempurnakan semuanya, hanya dengan meminjam waktu 20 menit ini, adik akan menyempurnakan uraian dharma pada hari ini, kemudian, hanya mengucapkan 2 kata "alam semesta", Beliau langsung pingsan! Ini terjadi dalam sekejap, dan siapapun tidak menyangka apa yang bakal terjadi! Sedangkan si penerjemah pun tidak sempat menerjemahkannya, Maha Sesepuh Zhou telah jatuh pingsan! Dan pergi dengan leluasa! Saat itu juga, ada seorang umat melihat 3 gumpalan awan putih secara perlahan-lahan membumbung tinggi ke angkasa. Sebenarnya sungguh mendadak dan gaib sekali. Maka, Maha Sesepuh segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapat pertolongan darurat, baru 10 menit perjalanan, begitu tiba di Rumah Sakit terdekat sudah terlambat! Menurut diagnosa dokter bahwa Maha Sesepuh terserang tekanan darah tinggi dan pendarahannya di otak. Beliau memenuhi panggilan Lao Mu diusianya yang ke 84. Tiada kesedihan yang lebih memilukan daripada kesedihan di dunia! Dimana, anak cucu menangis pilu dan semua umat pun turut berdukacita.

Kini, walau suara dan wajah Beliau telah sirna, namun pribadinya yang luhur dan bajik, serta kecemerlangan nuraninya menyinari Triloka dan menjadi teladan bagi umat-umatnya. Beliau telah mencapai kesempurnaan di Nirvana, dan meninggalkan nama harum didunia.

Semua orang tidak menyangka kalau Maha Sesepuh akan pergi dengan begitu wajar dan bebas leluasa, serta tiada keterikatan! Kepergiannya benar-benar membuktikan kebenaran dari bimbingan dharmanya semasa hidup, yatiu membina dan melaksanakan Ketuhanan dengan menjunjung Firman Tuhan, senantiasa berkorban dan berdedikasi demi Ketuhanan, membaktikan segenap jiwa dan raga sampai nafas terakhir. Dengan demikian, maka pembinaan kita pasti akan berhasil! Mengingat disaat-saat terakhirnya, Beliau masih berdiri di mimbar Nurani untuk berceramah. Ini membuktikan bahwa Beliau adalah seorang pembina sejati yang berhati Nurani cemerlang dan segala ucapan sesuai dengan pelaksanaan nyatanya. Bila sekarang jasa pahala telah sempurna, maka kelak akan mencapai kedudukan sempurna di Nirwana dan meninggalkan nama harum di dunia, serta menjadi contoh teladan bagi umat manusia.

Dan tanda istimewa yang lain adalah pada pagi hari itu di Tian En, Yang Arya Haoci Dadi mengisi sesi I dengan topik "kesucian sempurna di Nirwana, nama harum didunia". Siang harinya dimulai dari pukul 13:30-14:00, sesi I diisi dengan menyanyikan tembang suci Sakyamuni , Lao Zhi Tao te ge dan Da Cheng Zhi Sheng ge. Begitu usai, langsung mendapat berita dukacita atas kepergian Maha Sesepuh Zhou. Ini juga membuktikan rasa hormat dan sebab jodoh Maha Sesepuh Zhou terhadap Nabi-Nabi dan Kitab Suci tiga agama ( Konghucuisme, Taoisme, Buddhisme). Semasa hidup, Beliau sering menasehati umat-umatnya untuk mendalami dan menginsafi kitab suci 3 agama. Dengan memadukan kebenaran dari dharma 3 agama akan memudahkan kita untuk menginsafi kebenaran dan keluhuran dari ajaran ketuhanan. Ucapan ini seolah-olah mendukung Beliau dalam perjalanan hidupnya yang terakhir mencapai kesempurnaan Bodhisatva.

Lembaran- lembaran yang berisi riwayat hidup Maha Sesepuh Zhou yang singkat ini, sebenarnya tidak cukup untuk mengisahkan seluruh perjalanan hidupnya!

Berkat kewelasasihan Beliau, hingga membimbing kami menapaki jalan menuju kecemerlangan Hati Nurani. Budi jasa ini tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata, melainkan hanya bisa penuh dengan rasa syukur! Semoga Maha Sesepuh Zhou senantiasa tenang dan tersenyum dialam sana! Murid- muridmu akan meneladanimu dan membalas budi jasamu! Kebaikan dan kebajikanmu akan senantiasa terukir dalam hati kami!

Bimbingan dan budi jasamu akan selamanya kami ingat dan merealisasikan.

Tuhan tidak menyia-yiakan pengorbanan dan dedikasi beliau selama puluhan tahun dalam mengembangjayakan Wadah Ketuhanan, Tuhan menganugerahkan kedudukan suci sebagai Huci Dijun.

Sumber :
PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA




 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.