Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 KEHADIRAN ARYA METTEYA (II)


Bila kita mempelajari sejarah dan kebudayaan India kuno, dapat diketahui bahwa konsep waktu dalam kehidupan orang India kuno tidaklah begitu esensial. Jadinya, orang-orang India hampir tidak ada visi historis. Setelah abad ke-17, ada sejumlah cendekiawan Inggris dan lainnya mulai merangkum data-data yang kemudian dijadikan sejarah India. Lain pula halnya dengan sejarah China, yang visi historisnya sudah lima ribu tahun. Ketiadaan konsep waktu memungkinkan terjadinya distorsi dalam kitab yang berbeda bahasa dan sistem konversi yang dipergunakan. Tidak heran, ada berbagai versi tentang waktu kedatangan Arya Metteya. Ada yang mencatat 5,67 milyar tahun, 800 juta tahun, 8,8 juta tahun, 5,76 juta tahun dll. Buddhisme diperkenalkan di China sekitar tahun 67 M, sekitar 500 tahun setelah wafatnya Buddha Sakyamuni. Tentu kita harus memahami kitab secara kontekstual sesuai dengan kehidupan sosio-kultural yang terus berkembang. Tidak bisa telan mentah apa yang tertulis.

Ada sebagian orang berpendapat bahwa kalau ingin mendalami Buddhologi harus mempelajari bahasa Sanskrit terlebih dahulu. Hal ini sangat tidak tepat! Perlu kita sadari bahwa bahasa Sanskrit modern mulai terbentuk dan disempurnakan setelah abad ke-17. Sedangkan naskah asli yang berbahasa Sanskrit sebelum itu tidak ada jejaknya. Ditambah lagi kerumitan bahasa Sanskrit yang berkembang secara geografis, ada utara, selatan, timur, barat dan tengah India yang masing-masing memiliki sistem bahasa tersendiri. Bahasa Sanskrit yang berkembang sewaktu para ahli kitab China pertama kali mengalih-bahasakan naskah Buddhis jauh berbeda dengan yang sekarang, ditambah lagi dengan faktor fonetis yang selalu berkembang sesuai dengan budaya zaman. Hal ini sangat mempengaruhi hasil terjemahan kitab.

Selain konsep waktu dan histori, konsep numerik dalam kehidupan orang India kuno pun tidak jelas. Hal ini terbukti dalam berbagai kitab buddhis yang banyak menggunakan "delapan puluh empat ribu", yang sesungguhnya ingin menyampaikan makna "banyak sekali". Demikian pula kata "kalpa", kira-kira setara dengan angka astronomis sekarang. Tiada seorang pun yang dapat mengkonversikannya secara eksak.

Sains modern memberitahukan kepada kita bahwa "waktu" bersifat relatif. Dalam Buddhologi pun dikatakan "waktu" hanyalah ilusi pikiran, bukan mutlak. Di saat duka, satu menit satu detik pun terasa seribu tahun lamanya; di saat suka, satu bulan satu tahun terasa sekejap saja. "Suatu saat atau dikala itu" juga merupakan kalimat yang banyak dipergunakan dalam kitab untuk menerangkan waktu.

Sejak gerakan Renaisance abad ke-15 di Itali hingga penerapan teknologi Artificial Intelligence pada abad ke-20 hanya berlangsung dalam beberapa ratus tahun saja, telah mendatangkan kemudahan hidup di satu sisi dan ancaman kehancuran di sisi lain. Apa akan terjadi setelah milyaran tahun. Terlalu... terlalu...fantastis untuk diproyeksikan. Lagipula, adakah maknanya bila Ariya Metteya setelah 5,67 milyar tahun baru hadir di dunia yang gelap tanpa sinar matahari bahkan mungkin tiada kehidupan. Karena usia matahari diperkirakan hanya sisa 5 milyar tahun.

Kasih menjadi misi utama Ariya Metteya. Ia telah mengilhami banyak orang menjadi sadar akan makna kehidupan ini. Kasih menjadi pondasi nilai hidup bagi setiap insan. Kehadiran Ariya Metteya untuk kepentingan dan kebaikan umat manusia seluruhnya, perbedaan apapun yang ada bukanlah halangan. Ia sedang menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan dalam hati setiap insan. Ia sedang mengajarkan umat manusia agar mengaplikasikan nilai-nilai agama (kasih) dalam bentuk kehidupan konkrit melalui serangkaian aksi yang nyata. Hal inilah yang paling substansial untuk perdamaian dunia, untuk kesejahteraan semua orang, tidak lagi terbelenggu oleh slogan dan simbol formal agama yang kurang berarti; yang tidak menyentuh lapisan nurani.

Sumber :
PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA




 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.