|
Amanat Suci Ren Cao Ta Ti (Bodhisatva Ren Cao)
Ren = Kemurahan Hati; Dengan Kemurahan Hati dan Kebajikan Menyebarkan Maha Tao Cao = Menerangi Cahaya Terang Menembusi Seluruh Penjuru, Melaksanakan Tugas Dengan Sepenuh Daya untuk Membangun Karir Suci Ta = Besar, Kokoh Dengan Tekad Yang Kokoh, Mengarungi Samudra Ti = Bodhisatva, Suci Penuh Ketulusan dalam memikul Tanggung Jawab Suci
Sekarang, Wadah Ketuhanan Jepang dipimpin oleh Maha Sesepuh Ta Cio Bao Cao Ce, beliau merupakan Sesepuh Generasi III dari Wadah Ketuhanan Jepang.
Sesepuh Generasi I adalah Ren Cao Ta Ti ¡V Maha Sesepuh Wang Cian Tong. Beliau lahir pada tanggal 1 bulan 6 tahun 1918 (penanggalan imlek) di provisi Hebei, China, kemudian tinggal di kota Tianjin. Saat muda, beliau membuka usaha namun tidak berhasil. Setelah memohon Ketuhanan, jiwa terpanggil untuk membina dan mengamalkan Ketuhanan. Pada tahun 1944, beliau mendapat mandat dari Ibunda Suci untuk merintis Ketuhanan di Jepang.
Pada masa itu, perang dunia II masih belum berakhir, dalam suasana masyarakat yang kocar-kacir penuh kekacauan beliau memulai karir suci penyelamatan saudara-saudari di Jepang.
Merintis Ketuhanan di negara lain dengan tradisi, budaya serta bahasa yang berbeda sungguh bukan pekerjaan yang mudah, Beliau harus menanggung laksa penderitaan.
Seusai peperangan, negara Jepang dilanda kekacauan hebat, ditambah alat transportasi yang terbatas, bahasa serta trandisi yang berbeda, untuk menyelamatkan warga Jepang yang keras kepala sungguh sulit dilaksanakan, Maha Sesepuh harus menelan berbagai kepahitan dan penderitaan yang sulit dilukiskan. Meskipun demikian, Beliau memiliki hati yang lapang sanggup menahan berbagai penghinaan, kepahitan dan penderitaan yang bertubi-tubi, hati Ketuhanannya tidak berubah, konsisten sepanjang masa dalam mengikuti Rahmat Kasih Tuhan - Budi Kebajikan Guru. Walau dalam kondisi sesulit apapun, Beliau tidak terjatuh dan mengikuti keduniawian. Semangat demikian sungguh dikagumi dan dihargai semua orang.
Pada awal penyebaran Ketuhanan, kondisi ekonomi sangatlah sulit, kadang satu hari tidak dapat makan merupakan hal yang biasa. Bahkan ada kalanya Beliau terpaksa harus memasak rumput liar yang tumbuh di belakang Vihara demi mengangal perut yang keroncongan.
Ada seorang umat senior mengingat kembali kejadian waktu itu, beliau mengatakan bahwa : "pernah sekali pada musim dingin, Maha Sesepuh pulang dari sehabis ceramah dirumah umat, disebabkan karena tidak ada uang transport, Sesepuh harus berjalan kaki pulang ke Vihara. Sepanjang jalan, saat melewati sebuah toko roti, tercium bau wangi roti bakar dan Beliau serta merta berkata : "Wah enak sekali". Sesepuh adalah orang Hebei, Tiongkok, suka makan roti dan sejenisnya, saat itu pendamping Sesepuh yaitu seorang Pandita wanita ingin sekali membeli roti untuk Sesepuh, namun kantong beliau pun kosong tidak punya uang sama sekali. Sesepuh juga mengetahuinya dan akhirnya mereka pun melewatinya. Hati Pandita wanita sungguh sedih dan pedih, lalu beliau mengatakan lain kali tidak usah lewat jalan ini lagi."
Sesepuh melayani umat dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, senantiasa menampilkan wajah kasih, tetapi dikala mendidik para pengabdi Vihara sangatlah ketat dan disiplin. Kedisiplinan beliau telah sukses mencetak banyak pengabdi yang handal bagi Wadah Ketuhanan Jepang. Sejak itu, terpancanglah pondasi kokoh bagi perkembangan Misi Ketuhanan Jepang sampai sekarang.
Sekitar tahun 1955 dibangun sebuah Vihara pertama di kota Nagoya, Jepang. Pada tahun 1969, dikota yang sama diresmikan lagi sebuah Vihara yang kemudian menjadi Vihara Pusat Wadah Ketuhanan Jepang (Wadah Ming Cong). Dengan demikian, "benih/tunas" Misi Ketuhanan di Jepang mulai tumbuh dan berkembang.
Pada tahun 1972 bulan 4 tanggal 14 (penangalan imlek), Maha Sesepuh telah menyelesaikan tugas suci yang Beliau emban, dan kembali ke sisi Tuhan pada usia yang ke-53 tahun. Setelah itu, Beliau pun diundang untuk memberikan amanat suci, Tuhan menganugerahi Beliau kedudukan suci "Maha Dewa Phu Hua".
Setelah Maha Sesepuh wafat, Wadah ketuhanan dan misi penyelamatan umat manusia dilanjutkan oleh Maha Sesepuh Ta Tao Sian Tze (Bodhisatva Jing Hua) untuk terus memimpin Wadah Ming Cong Jepang. Dengan demikian, tugas dan tanggung jawab dalam membimbing dan mendidik kader serta generasi penerus Ketuhanan dipikul oleh Maha Sesepuh Ta Tao Sian Tze. Sejak itu, Beliau senantiasa mencetak kader dan membangun Vihara disegenap penjuru, berupaya keras untuk mengembang-jayakan Wadah Ketuhanan di Jepang.
Wadah Ketuhanan dibawah pimpinan Maha Sesepuh Ta Tao Sian Tze terus berkembang, terutama setelah mendapat curahan kasih dari YS. Maha Sesepuh Ong (Hao Che Ta Ti ¡V Bodhisatva Hao Che), sehingga Wadah Ketuhanan Jepang dapat menyambung kembali kedalam Wadah Ketuhanan Ibunda Suci dibawah pimpinan YS. Maha Sesepuh Ong waktu itu, sejak itu misi Ketuhanan Jepang lebih berkembang jaya.
Pada tahun 1993, Wadah Ming Cong Jepang menyelenggarakan Kelas Buddhasiswa tingkat pratama angkatan I. Ditengah pelaksanan kelas tersebut, atas rahmat kasih Tuhan dan budi kebajikan Guru serta cinta kasih wakil Ibunda Suci - YS Maha Sesepuh Ong, diundang lagi Maha Dewa Phu Hua alm. Maha Sesepuh Wang Cian Tong untuk memberikan amanat suci, Lao Mu" Tuhan Yang Maha Kuasa menganugerahi Beliau kedudukan suci sebagai "Ren Cao Ta Ti" Bodhisatva Ren Cao.
Semasa hidup Ren Cao Ta Ti, beliau senantiasa mengatakan bahwa : "Keluhuran Ketuhanan kita terletak pada pelaksanaan nyata, dan kalau tidak direalisasikan secara nyata tidak mungkin dapat memahami kebenaran sejati". Dari segenap hidup Beliau kita dapat memahami bahwa Beliau betul-betul telah merealisasikan secara nyata apa yang Beliau katakan.
Dan sekarang, di kota xxxxxxx Jepang terpampang pelat giok Ren Cao Ta Ti. Setiap tahun diadakan peringatan hari parinibbhana Ren Cao Ta Ti, umat dari seluruh Vihara di Jepang datang dan berkumpul untuk memperingatinya. Mereka datang untuk mengenang budi dan cinta kasih Maha Sesepuhnya yang telah menggorbankan dirinya untuk meninggalkan daratan Tiongkok menuju negara Jepang, harus menelan segala kepahitan dan menanggung semua penderitaan demi menyelamatkan penduduk Jepang menuju Nirwana.
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|