Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 MENGENAL TANTRAYANA DALAM AGAMA BUDDHA (I)


Tantrayana adalah satu mazhab dalam agama Buddha yang sangat istimewa karena memiliki cirri-ciri khas yang unik. Mazhab ini berkembang pesat diantaranya negara India, China, Tibet, Jepang, Korea dan Asia Tenggara serta benua Eropa, Australia hingga benua Amerika. Mazhab ini merupakan perpaduan puja bhakti dengan praktek meditasi yogacara serta metafisika Madhyamika. Maka dari itu mazhab Tantrayana bukan hanya membicarakan teori, akan tetapi praktek dalam pelaksanaannya. Di dalam perkembangannya, mazhab ini kadangkala dinamakan Tantra-Vajrayana atau Tantra-Mahayana.

Menurut Dr. Pdt. HS. Rusli MA., PhD., pengertian istilah tantra ini pada mulanya berhubungan dengan kata dalam bahasa sanskerta Prabandha yang berarti "hubungan kelestarian yang tiada putus-putusnya". Pada mulanya tanggapan orang memandang tantra banyak menimbulkan pikiran yang salah. Sebenarnya perkataan tantra diperkenalkan pada publik di dunia Barat pada tahun 1799, yakni pada saat literatur-literatur mengenai mazhab Tantrayana ini diketemukan oleh misionaris Eropa di India.

Menurut dr. W. Kumara D. yang dikutip dari literature literature mazhab Tantrayana, kata tantra itu sendiri dapat juga berarti Sadhana (sarana mengerjakan). Mazhab Tantrayana memiliki akar-akar pandanga yang sama dengan Mahayana khususnya Yogacara. Namun demikian, Tantrayana memiliki perbedaan dengan Mahayana dalam hal tujuan,wujud manusia yang telah mencapai tujuan tantrayana dan cara pengajarannya.

Para misionaris Barat sangat kagum setelah mempelajari mazhab tantrayana, karena terdapat konsepsi maupun ide-ide religi serta filsafat yang sangat kenal, berlainan dengan konsepsi maupun ide yang mereka kenal sebelumnya.

Tantra Timur adalah tantra yang berkembang di daratan China dikenal sejak abad IV Masehi,setelah Srimitra yang berasal dari Kucha (sekarang Xinqiang-China) berhasil menerjemahkan sebuah kitab Tantrayana yang berisi mantra-mantra, pengobatan, doa pemberkahan dan ilmu gaib lainnya. Hal tersebut sesungguhnya belum mencerminkan nilai-nilai agung dari aliran Tantrayana itu sendiri, kata Mr. Chauming. Tantra Timur bercorak perfeksionis dimana semua rupang Buddha maupun Bodhisattva serta vajrasatva baik yang bersifat maskulin dan feminim, lebih menunjukkan kesempurnaan, keagungan yang sesuai dengan sopan santun yang ada pada masyarakat China.

Tantra Timur berkembang di China pada abad VII, ketika dikunjungi oleh tiga orang Maha Acharya Tantrayana dari India, yakni:

  1. Subhakarsinha (637-735M), beliau tiba di Ch'an An setelah belajar di Nalanda (India) pada tahun 716 M. Kemudian bersama-sama dengan I Ching menerjemahkan Sutra Tantra yang terkenal, yakni Maha Vairocana Sutra pada tahun 725 M.
  2. Vajra Bodhi (663-725M), beliau juga pernah belajar di Nalanda (India) dan kemudian menerjemahkan Vajrasakhara pada tahun 720 M.
  3. Amoghavajra (705-784 M), beliau adalah siswa dari Vajrabodhi yang tiba di Ch'an pada tahun 756 M.

Selanjutnya,perkembangan mazhab Tantrayana di China sangat pesat selama lebih kurang tiga abad, antara abad V hingga abad VIII Masehi. Selama tiga abad tersebut, berkembang delapan aliran besar di China, yakni:

  1. Lu-Tsung (Vinayavada), didirikan oleh Tao-hsuan (595-667 Masehi).
  2. San Lun Tsung (Madhyamika), didirikan oleh Chi-Tsang (549-623 M).
  3. Wei Shih Tsung (Yogacara) didirikan oleh Huan Tsang (596-664 M).
  4. Mi-Tsung (Tantrayana), didirikan oleh Amoghavajra (705-784 M).
  5. Hua Ten Tsung (Avatamsaka), didirikan oleh Tu Hsun (557-640 M).
  6. Tien Tai Tsung, didirikan oleh Chih K'ai (538-597 Masehi).
  7. Chin Thu Tsung (Amida/Pure Land). Didirikan oleh Shan Tao (613-681 Masehi).
  8. Ch'an (Zen), didirikan oleh Bodhidharma sekitar tahun 500.

Kalau Tantra Barat adalah tantra yang berkembang di Tibet dan sekitar pegunungan Himalaya batas antara China dan India, yang sebenarnya hanya dalam letak geografis saja. Daerah ini memiliki tradisi dan sejenis kepercayaan yang disebut Bon-Pa. Dan orang-orang Tibet umumnya memiliki kemampuan untuk menguasai roh-roh halus. Di samping symbol dari jenis rupang Buddha sedikit ada perbedaan. Bila dilihat Tantra Barat lebih bercorak naturalis terlihat jelas pada anggota tubuhnya, yakni bersifat feminisme (dalam bentuk wanita). Terdapat pula rupang angkara murka, seperti Angry Vajra (Vajravarahi dalam wajah murka).

Pandangan Dr. Pdt. Rusli PhD, para misionaris Buddhis pada awal kedatangannya di Tibet, banyak menghadapi kendala dan kurang mendapat sambutan dari penduduk Tibet. Bahkan kehadiran misionaris di Tibet merupakan ancaman bagi dukun-dukkun Bon Pa, oleh karena itu para misionaris Buddhis mengalami kendala dan tak jarang banyak korban kena ilmu magis` terjadi pada misionaris.

Pada tahun 747 masehi, Maha Guru Padma Sambhava menjalankan misi ke Tibet. Beliau pada masa mudanya adalah seorang pangeran dan sangat menyenangi hal-hal yang bersifat magis. Beliau memiliki kemampuan supranatural yang dipadukan dengan ajaran-ajaran Hyang Buddha. Berkat kemampuan beliaulah, dukun-dukun Tibet dapat ditundukkan dan memperoleh simpati dari bangsa Tibet.

Tantrayana di Tibet berkembang hingga menjadi tiga periode. Yakni periode pertengahan dan pembaharuan serta periode permulaan gelar Dalai Lama (dari abad XVII hingga sekarang ini).

Mazhab Tantrayana,baik Tantra Barat maupun Tantra Timur disebut esoterik (rahasia/tersembunyi), karena dalam penyebarannya tidaklah bersifat terbuka. Tantra diajarkan oleh seorang guru pada siswanya setelah melalui upacara-upacara ritual dan berbagai bentuk ujian.

Kitab Suci Mazhab Tantrayana di Tibet

Mazhab Tantrayana di Tibet memiliki naskah terjemahan kitab suci yang kebanyakan berasal dari India dan terdiri lebih dari 4.566 naskah. Kumpulan naskah dalam bahasa Tibet tersebut digolongkan dalamdua bagian, masing-masing :

Bkahgyur(dibaca Kanjur) yang sebahagian besar adalah terjemahan dari bahasa Sanskerta dan sebahagian kecil terjemahan dari bahasa mandarin, terdiri dari 3.458 naskah serta dihimpun dalam tiga bagian, yakni :

  1. Dulva (Vinaya), terdiri dari 13 bagian, merupakan peraturan-peraturan,disiplin, tata tertib untuk anggota Sangha.
  2. Do (Sutra), terdiri dari 66 bagian yang mencatat ajaran Hyang Buddha, seperti halnya dalamsutra-sutra canon pali dan sutta-sutta kanon sanskerta dan selalu diawali dengan "Demikianlah yang saya dengar".
  3. Chon non pa (Abhidhamma), terdiri dari 21 bagian yang merupakan pelajaran filsafat dan pembahasan dari ajaran Hyang/Sang Buddha.

Bstanghyur (dibaca Tanjur), merupakan pembahasan atau komentar (tafsir) yang dihimpun dalam dua kitab :

  1. Tantra (Rgyud), terdiri dari 22 bagian yang berisi doa-doa,dharani-dharani, mudra, mandala dan lain-lainnya.
  2. Sutra, merupakan pembahasan atau komentar (tafsir) dari Do (sutra).

Oleh : Toto

bersambung .....

  1. Chau Ming, beberapa Aspek tentang Agama Buddha Mahayana, Jakarta 1987, Sasana 1994, Filsafat Buddhis Mahayana 1985
  2. Mulyadi Wahono SH, Pokok-pokok Dasar Agama Buddha, Ditjen Bimas Hindu Buddha Depag RI Jakarta1992.
  3. dr.DK.Widya,Sejarah Perkembangan Agama Buddha, ditjen Bimas Hindu & Buddha Depag RI-UT Jakarta 1993,
  4. Dr.Pdt.HS.Rusli MSA PhD. Teori dan Praktek Tantra-Vajrayana,IBC Medan 1982.
  5. Ven. Narada mahathera,Sang Buddha & Ajaran-ajarannya, Yayasan Dhammadipa Arama 1996.
  6. S.Widyadharma,Dhamma Sari Jakarta 1990.
  7. Kiprah Kasogatan Jakarta 1994
  8. Drs.D.Dharmakusumah, Alam Kematian sementara (Bardo Thodol), Jakarta 1992.
  9. Drs.R.Soekmono, Pengantar Sejarah kebudayaan Indonesia, Jakarta 1973.
  10. Sanghyang Kamahayanikan, Ditjen Bimas Hindu & Buddha Depag RI, Jakarta 1979.



Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.