Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 MENGENAL TANTRAYANA DALAM AGAMA BUDDHA (II)


Garis-garis besar filsafat Tantrayana

Mazhab Tantrayana dikenal luas oleh dunia Barat sebagi aliran esoterik (ajaran rahasia, tersembunyi, mistik). Sedangkan mazhab-mazhab lainnya dalam agama Buddha disebut eksoterik (sesuatu yang kelihatan).

Menurut umat Buddha mazhab Tantrayana ini, sesungguhnya Sang/Hyang Buddha membabarkan Dharma selama-lamanya. Akan tetapi bagi umat awan tidak dapat mendengar dan mengerti dengan baik. Sehingga tanpa Adhisthana (perantara dan bimbingan), sukarlah bagi umat awan untuk mengerti badan, perkataan dan pikiran Hyang/Sang Buddha. Perantara tersebut bukanlah berasal dari si pelaku itu sendiri, akan tetapi berasal dari bimbingan dan Kekuatan Buddha.

Terdapat tiga jenis upacara dalam mazhab Tantrayana, yakni :

  1. Mudra : Gerakan tangan dan atau badan yang memiliki makna filosofis tertentu
  2. Dharani : Pembacaan mantra-mantra yang juga memiliki arti-arti tertentu
  3. Yoga : Pemusatan pikiran

Dengan demikian, terjalinlah komunikasi yang erat antara si pelaku dan Sang Buddha. Kemudian terbentuklah pengertian yang dikatakan " Buddha berada pada saya dan saya berada pada Buddha ".

Empat Jenis Tantra

Di dalam mengawali pelatihan diri dalam mazhab Tantrayana, ada empat hal yang harus perhatikan yang dikenal dengan empat jenis Tantra :

  1. Kriya Tantra
  2. Carya Tantra
  3. Yoga Tantra
  4. Maha Yoga Tantra

Kriya Tantra berarti perbuatan. Perbuatan ini secara simbolik ada hubungannya dengan ritrual upacara agama yang sangat penting dan perlu pula dalam hubungan dan pergaulan manusia. Contoh: hubungan kekluargaan antara orangtua dengan anak. Apabila situasi yang relatif ini dirubah menjadi hubungan ritual, maka timbullah suatu konsepsi bahwa wujud manusia haruslah dipengaruhi keadaan yang berdasarkan kerohanian. Tradisi dalam tantra ini selalu mengutamakan upacara ritual yang meliputi berbagai bentuk pembersihan mental spiritual, walaupun sesungguhnya hal-hal tersebut hanyalah merupakan ritual simbolik saja.

  1. Carya Tantra adalah jalan pendekatan yang berhubungan dengan keadaan situasi yang relatif, namun dengan pengertian dan kesimpulan yang selengkapnya. Pada fase ini di dalam pikiran si siswa timbul pertanyaan-pertanyaan seperti : " Mengapa kita mengerjakan hal ini? atau mengapa kita berbuat demikian ?". hal ini si siswa tentu tidak mengenyampingkan perbuatan yang sedang dilakukannya. Sungguhpun demikian,si siswa tetap berusaha memperoleh pengertian tentang ilmu pengetahuan yang luhur dan murni dalam bentuk meditasi, akhirnya memperoleh keseimbangan pemikiran dan perbuatan serta menjadi semakin nyata, antara sesama siswa sehingga timbul keadaan : "Tegak sama tinggi,duduk sama rendah".
  2. Yoga Tantra, yoga berarti melengkapi, menggunakan, mengendalikan segaqla-gala yang ada pada pribadiseseorang,agar dapat diperoleh Pandangan Benar.
  3. Maha Yoga Tantra, pada fase keempat atau Maha Yoga Tantra ini, tidak lagi terdapat perbedaan apapun. Keadaan manusia yang sesungguhnya dapat difahami, timbul terus menerus dalam hati dan bebas. Dalam keadaan ini, tercapailah kesatuan yang utuh.

Empat Jenis Mandala

Salah satu dari cirri-ciri khas Tantrayana adalah Mandala (gambar indah yang memiliki makna filosofis). Mandala ini terdapat empat jenis yang masing-masing terdiri dari :

  1. Maha Mandala : Gambar dari tempat kediaman para Buddha dan para makhluk agung lainnya.
  2. Samaya Mandala : Gambar dari tempat kediaman para Buddha dan para makhluk agung lainnya dengan ditambahkan benda benda duniawi.
  3. Dharma Mandala : Gambar dalam bentuk bijak aksara (huruf/kata-kata) Yang melambangkan Buddha, Bodhisattva, Deva serta makhluk arya lainnya.
  4. Karma Mandala : Gambar dari figure-figur buatan misalnya arca atau rupang/patung.

Empat Dasar Tantrayana

Di dalam kehidupan spiritual Tantrayana di Tibet, terdapat jenis disiplin spiritual atau sistim pendidikan yang meliputi level (tingkat) permulaan, menengah dan akhir. Empat dasar Tantrayana adalah merupakan level permulaan atau pendahuluan (prelude) daripada latihan Tantrayana. Keempat dasar Tantrayana (Four Ordinary Foundations) adalah :

  1. Kelahiran sebagai manusia di dunia ini sangat mulia.
  2. Doktrin ke tidak kekalan (impermanence); segala sesuatu yang terbentuk dan saling bergantungan adalah Anitya (tidak kekal).
  3. Pengertian aksi-sebab dan akibat; Cetana (kehendak untuk berbuat) itulah dinamakan Karma.
  4. Dukkha sebagai lingkaran Samsara.

Reinkarnasi dan Tulku

Pada mazhab Tantrayana terdapat satu keyakinan yang merupakan pengembangan dari falsafah Punarbhava atau kelahiran kembali, yang sering diterjemahkan oleh orang Barat sebagai reincarnation atau reinkarnasi. Dalam falsafah ini diyakini bahwa semua makhluk di alam semesta ini diyakini bahwa semua makhluk di alam semesta ini adalah mengalami lebih dari satu kali kelahiran.

Dalam tradisi Tantra Barat, terutama di Tibet, memberi sumbangan khusus dalam pencarian seorang Tulku, seorang anak yang diindentifikasikan sebagai reinkarnasi/penjelmaan khusus dari seorang Rinpoche atau Dalai Lama. Dalam pencarian tersebut, sering sekali dilakukan dengan cara meneliti baik secara langsung maupun tidak langsung, terutama pada anak-anak yang berusia antara 2-5 tahun dengan ciri-ciri kelahiran yang khusus.

Tulku diketemukan dengan berbagai bentuk ujian yang sangat ketat dengan hati-hati oleh lembaga agama pada masyarakat Tibet. Salah satu bentuk ujian yang standar adalah kemampuan seorang Tulku untuk memilih objek yang diberikan dihadapannya, terutama benda-benda milik pendahulunya,yang biasa digunakan dan kelak akan digunakan olehnya. Tulku sering sekali membuat orang Barat menjadi terheran heran(yang pola pemikiran filosofisnya sangat bergantung pada logika Barat). Hal ini dikarenakan oleh sikap dewasa yang luar biasa,. Serta jiwa dan martabat yang sudah diperlihatkan pada usianya yang masih begitu muda.

Acharya dan Abhiseka

Istilah Acharya sebenarnya merupakan istilah yang telah umum dalam agama Buddha, baik Theravada, Mahayana dan Tantrayana. Acharya adalah seorang Guru yang mentahbiskan seoreang siswa yang berusaha untuk melatih diri dan menghayati ajaran Buddha Dharma. Pada umumnya seorang Acharya tersebut adalah anggota Sangha atau Pandita yang berfungsi sebagai guru spiritual di bidang moralitas atau pengenalan Dharma.

Hubungan antara seorang siswa dengan Acharya sering diibaratkan seperti hubungan seorang anak dengan ayahnya. Seorang Acharya harus dapat memberikan contoh dan suri tauladan yang positif kepada siswanya, disamping juga harus dapat membimbing sang siswa untuk menuju pengertian benar dan mengkoreksi hal-hal yang negatif.

Setelah belajar sekian lamanya, baru dapat dilaksanakan suatu upacara pentahbisan yang disebut Abhiseka. Abhiseka dan dapat dilaksanakan setelah mendapatkan latihan-latihan yang cukup matang.

Pada upacara Abhiseka hendaknya diutamakan mutunya daripada jumlahnya, sehingga tidak terjadi hal-hal yang simpang siur. Seseorang siswa yang di abhiseka kan seorang Acharya harus memiliki syarat-syarat bhakti, sila dan penyerahan diri.

Oleh : Toto

bersambung .....

  1. Chau Ming, beberapa Aspek tentang Agama Buddha Mahayana, Jakarta 1987, Sasana 1994, Filsafat Buddhis Mahayana 1985
  2. Mulyadi Wahono SH, Pokok-pokok Dasar Agama Buddha, Ditjen Bimas Hindu Buddha Depag RI Jakarta1992.
  3. dr.DK.Widya,Sejarah Perkembangan Agama Buddha, ditjen Bimas Hindu & Buddha Depag RI-UT Jakarta 1993,
  4. Dr.Pdt.HS.Rusli MSA PhD. Teori dan Praktek Tantra-Vajrayana,IBC Medan 1982.
  5. Ven. Narada mahathera,Sang Buddha & Ajaran-ajarannya, Yayasan Dhammadipa Arama 1996.
  6. S.Widyadharma,Dhamma Sari Jakarta 1990.
  7. Kiprah Kasogatan Jakarta 1994
  8. Drs.D.Dharmakusumah, Alam Kematian sementara (Bardo Thodol), Jakarta 1992.
  9. Drs.R.Soekmono, Pengantar Sejarah kebudayaan Indonesia, Jakarta 1973.
  10. Sanghyang Kamahayanikan, Ditjen Bimas Hindu & Buddha Depag RI, Jakarta 1979.



Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.