|
Perkembangan awal pada Mazhab Tantrayana di Tibet
Dalam tahap awal perkembangannya di Tibet, Tantrayana berkembang menjadi tiga aliran, yakni : 1. Mantrayana 2. Vajrayana 3. Sahajayana
Mantrayana
Pokok-pokok ajaran Mantrayana dapat ditemui pada karya karya padma-dkarpo dari Tibet. Menurut beliau, tujuan dari Mantrayana adalah sama seperti apa yang dituju oleh aliran-aliran lainnya dalam agama Buddha, yakni kemanunggalan manusia dengan penerangan sempurna atau kesempurnaan secara spiritual.
Langkah pertama untuk mencapai tujuan tersebut menurut konsepsi Mantrayana adalah mengambil perlindungan serta mempersiapkan diri dengan berpedoman pada Bodhicitta, yang berarti fondasi dari segala macam kebaikan, sumber dari segala usaha kebahagiaan dan sumber dari kesucian. Bodhicitta biasanya terbagi menjadi dua bagian, yakni :
- Bodhi pranidhi citta : Tingkat persiapan untuk pencapaian kebuddhaan.
- Bodhi prasthana citta :Tingkat pelaksanaan sesungguhnya dalam usaha menuju cita-cita.
Bodhicitta adalah sebagai suatu sarana bagi setiap umat Buddha untuk mencapai tujuannya. Perlindungan tersebut meliputi perlindungan pada Sang Triratna. Dalam hal ini, Mantrayana memandang Sang Triratna bukanlah hanya sekedar pengertian harfiah, melainkan sebagai kekuatan spiritual yang disimbolkan oleh Triratna tersebut.
Sikap perlindungan yang demikian itu mempunyai kaitan yang sangat erat dengan keteguhan hati. Keteguhan hati ini berfungsi untuk menguak tabir rahasia untuk mencapai penerangan sempurna. Dan selanjutnya akan menumbuhkan perubahan sikap, membawa si siswa untuk mulai melihat keadaan sesungguhnya tentang'diri' dan alam sekitarnya.
Tahapan selanjutnya yang harus dilaksanakan adalah memperkuat dan memajukan sikap baru yang diperoleh dari meditasi dengan membaca mantra berulang-ulang. Mantra adalah kata dalam bahasa sanskerta yang berarti pesona. Mantra adalah satu suku kata yang berfungsi sebagai 'suatu pelindung pikiran' yang mengandung kekuatan magis dan melambangkan Triratna (Buddha -Dharma-Sangha) ataupun makhluk-makhluk agung lainnya. Mantra juga merupakan formula untuk memelihara agar pikiran tetap terkonsentrasi, tidak melayang-layang tak menentu.
Langkah berikutnya adalah mempersembahkan suatu Mandala (gambar-gambar indah yang mengandung arti filosofis) sebagai sarana untuk menyempurnakan pengetahuan pengetahuan yang telah dicapainya. Setiap langkah dalam mempersiapkan Mandala ini haruslah selalu berhubungan dengan Sad Paramita (enam perbuatan yang luhur) maupun Catur Paramita (Brahma Vihara=empat keadaan batin yang luhur). Sad Paramita terdiri dari :
- Dana Paramita : Perbuatan luhur tentang amal secara materi maupun spiritual.
- Sila Paramita : Perbuatan luhur tentang kehidupan bersusila.
- Kshanti Paramita : Perbuatan luhur yang dapat menahan segala macam penderitaan.
- Virya Paramita : Perbuatan luhur mengenai keuletan dan ketabahan.
- Dhyana Paramita : Perbuatan luhur mengenai pemusatan pikiran (samadhi/meditasi).
- Prajna Paramita : Perbuatan luhur mengenai kebijaksanaan.
Catur Paramita atau Brahma Vihara (empat keadaan batin yang luhur) terdiri dari :
- Metta : Cinta kasih universal
- Karuna : Welas asih, kasih sayang, belas kasihan universal.
- Mudita : Rasa simpati universal, rasa bahagia atas kebahagiaan makhluk lain.
- Upekha : Keseimbangan batin yang tak tergoyahkan.
Hal ini berarti bahwa dalam setiap usaha untuk membentuk suatu Mandala haruslah memiliki suatu nilai praktis yang mempengaruhi prilaku perseorangan (carya). Mantrayana ini juga memiliki sikap yang tegar menentang segala bentuk khayalan dan menumbuhkan bodhi sebagai lawan dari nirodha. Kesemua hal ini, dilaksanakan untuk mencapai langkah terakhir yakni guru yoga sebagai sarana kekuatan untuk mengatasi diri seseorang.
Dalam pengertian yang dalam dapat dikatakan, bahwa guru yoga adalah kenyataan itu sendiri yang dapat kita saksikan dan berada dimana-mana. Namun tanpa bimbingan seorang guru (manusia) yang telah mempraktekkan yoga dan mampu membimbing siswanya dalam menempuh halangan-halangan yang sulit.
Vajrayana
Mazhab Tantrayana yang berkembang di Tibet sekarang ini pada umumnya adalah Vajrayana, mengenai Vajrayana di Tibet, Guru Rinpoche Padma Sambhava memberikan instruksi yang mencakup enam cara untuk mencapai pembebasan melalui proses pemakaian yang melibatkan Panca Skandha. Ke enam cara tersebut : Pembebasan melalui proses pemakaian Pembebasan melalui proses pendengaran Pembebasan melalui proses ingatan Pembebasan melalui proses penglihatan Pembebasan melalui proses Pengecapan Pembebasan melalui proses sentuhan.
Panca Skandha adalah suatu konsep dalam agama Buddha yang menyatakan bahwa manusia adalah merupakan kombinasi dari kekuatan atau energi fisik dan mental yang selalu dalam keadaan bergerak dan berubah, yang disebut lima kelompok kegemaran, terdiri atas :
- Rupaskandha/Rupakkhanda (kegemaran kepada bentuk)
- Vedanaskandha/Vedanakkandha (kegemaran kepada perasaan)
- Samjnaskhandha/Sannakkhandha (kegemaran kepada pencerapan)
- Samskaraskhandha/Sankharakkhandha(kegemaran kepada bentuk-2 pikiran)
- Vijnanaskhandha/Vinnanakkhandha (kegemaran kepada kesadaran).
Vajrayana memandang alam kosmos (alam semesta) dalam kaitan ajaran untuk mencapai pembebasan. Apabila di Mahayana terdapat konsepsi Trikaya (tiga tubuh Buddha), maka didalam Vajrayana, Buddha bermanifestasi dan berada dimana-mana. Oleh karenanya, Buddha adalah wadah atau badan kosmik yang memiliki enam elemen, yakni : tanah, air, api, angin, angkasa dan kesadaran. Dalam rangkaian yang tersusun sebagai sistim, Vajrayana selain memiliki pandangan filosofis di atas, juga memiliki puja bakti ritual maupun sistim meditasi khusus yang disebut Sadhana yaitu meditasi dengan cara memvisualisasikan dengan mata batin, menyatukan mudra, dharani (mantra) dan mandala.
Sahajayana
Sahajayana merupakan aliran yang erat hubungannya dengan Vajrayana. "Sahaja" secara harfiah berarti "dilahirkan bersama-sama". Menurut Sahajayana, Dharmakaya dan Samboghakaya (bagian dari Trikaya) lahir bersama-sama. Dalam pengertian yang lebih luas, Sahajayana menyampaikan bahwa kenyataan dan bentuk kenyataan adalah tidak terpisah satu dengan lainnya, bukan dengan suatu jembatan melainkan keduanya identik satu dan yang lainnya. Identitas ini berarti kenyataan. Kenyataan adalah satu dan tak bisa dipisah-pisahkan.
Trikaya adalah pandangan kaum Mahayana mengenai tiga tubuh Buddha, yakni :
- Dharmakaya tubuh halus Buddha dan sari dari segala alam fenomena dan kehidupan tidak berbentuk.
- Sambhogakaya Tubuh berkah atau sinar (aura) dari Buddha yang memancarkan sinar berkah.
- Nirmanakaya Tubuh perwujudan dari Buddha yang dapat dilihat oleh manusia ,seperti yang dapat dijumpai pada Buddha Sakyamuni saat membabarkan Dharma pada umat manusia.
Sesungguhnya apa yang diajarkan oleh Sahajayana bukanlah sistim yang bersifat intelektual, tetapi lebih bersifat suatu disiplin yang keras dan harus dilaksanakan serta hal ini menjadikannya sulit untuk dimengerti dan dibuat batasan-batasannya. Baik Mantrayana maupun Sahajayana lebih cenderung pada aspek pelaksanaan dari ajaran Buddha yang berpuncak pada empat hal, yaitu :
- Drsti, yaitu pandangan yang didasarkan pada pengalaman;
- Bhavana, yaitu kemajuan batin yang diperoleh berdasarkan Mantrayana dan Sahajayana
- Carya, yaitu hidup dan berbuat sebagaimana mestinya
- Phala,yaitu pemanunggalan dari kepribadian
Identitas Tantrayana di Tibet
Identitas mazhab Tantrayana di Tibet dapat diuraikan sebagai berikut :
- Faktor pertama adalah gejala luar biasa atau fenomena pelbagai matra atau ukuran yang dikenal sebagai silsilah turun-temurun (lineage). Silsilah turunan utama tersebut meliputi para Guru yang diawali dengan Sang Buddha, para acharya yang berasal dari India sampai dengan guru dari Tibet pada masa-masa sekarang ini, yang telah memberikan / menurunkan ajaran Tantrayana baik secara metode lisan maupun tulisan menurut tradisi turun-temurun.
- Faktor yang lain adalah kelompok ajaran secara lisan dan tulisan yang dihasilkan oleh para anggota daripada silsilah turun temurun (lineage) tersebut, termasuk uraian, karangan, komentar, tafsiran, ulasan, tekstual yang mengandung unsur ritual dan sebagainya.
- Sekte sekte dikenal pula dengan cara latihan masing-masing yang khas dan unik. Misalnya sekte Kar-gyu-pa menitik beratkan meditasi, yang umumnya disebut tradisi meditasi atau samadhi. Sedangkan sekte Kah-dam-pa ataupun sekte Ge-lup-pa dikenal memiliki tradisi disiplin intelektual.
- Faktor lain yang menonjol dan menarik perhatian adalah gabungan biara/ monastery tempat para Lama/Bhiksu yang berfungsi sebagai tempat belajar serta tempat latihan religi. Biasanya suatu biara merupakan markas besar yang resmi bagi satu sekte sambil dijadikan sebagai suatu contoh atau model bagi yang lainnya. Setiap sekte besar memiliki banyak biara. Sedang sekte yang kecil hanya memiliki satu atau dua biara saja.
- Setiap sekte juga dikenali dengan memimpin spiritual yang berkedudukan tinggi, biasanya disebut "Tulku".
Sekte-sekte Tantrayana yang utama di Tibet
Sekte-sekte Tantrayana yang utama di Tibet adalah :
- Sekte nim-ma-pa (sekte jubah merah/ancient red sect):
Anggota sekte ini selalu memakai jubah dan topi merah. Mereka merupakan keturunan dari garis silsilah (lineage) dari maha guru Padma sambhava. Mereka menjalankan ajaran esoteric (ajaran rahasia). Ajaran dan interpretasi sekte ini merupakan penggabungan dari Buddha Dharma dan Bon-pa dan di dalam prakteknya mereka tidak hanya merupakan jalan pikiran yang rasional, namun juga memerlukan inspirasi guna menguasai : - Dasar permulaan ajaran di transfer langsung dari para acarya India. - Mempertahankan tradisi teks-teks kuno yang disimpan / dipendam dalam bumi (tanah) seperti Kitab Bardo Thodol.
- Sekte Kah-dam-pa
Sekte ini dipelopori oleh Atissa Srinyana Dipankara pada tahun 1042 masehi. Atissa pada tahun 1012 pernah mengunjungi Sriwijaya dan berguru pada Maha Acarya Dharmapala selama duabelas tahun, Atissa kembali ke Tibet pada tahun 1042. Beliau wafat tigabelas tahun, kemudian perkembangannya dikemudian hari sekte ini bergabung denga Ge-lug-pa.
- Sekte Ge-lug-pa (Sekte jubah kuning)
Anggota sekte ini mengenakan jubah berwarna kuning. Sekte ini merupakan pembaharuan dari sekte Kah-dam-pa dan dipelopori oleh Tzong-ka-pa pada abad XV.
- Sekte Kar-gyu-pa
Sekte ini didirikan oleh Lama Marpa pada abad XI. Garis silsilah (lineage) sekte ini diawali dengan Buddha Vajradhara (symbol Penerangan Agung). Para siswa sekte ini dalam pelaksanaan latihan religi dan upacara ritualnya wajib memandang gurunya sebagai Vajradhara, supaya dapat lebih mendekatkan diri pada Sang Buddha, sambil menjamin keberhasilan hubungan erat antara guru dan murid. Salah seorang siswa Marpa yang terkenal adalah Milarepa, yang juga dikenal sebagai filsuf dan penyair terkenal dari Tibet.
Appendix
Kitab Bardo Thodol
Kitab Bardo Thodol merupakan sejilid kitab tentang alam sementara setelah kematian tiba. Bardo berarti peralihan/sementara;Todol berarti alam peleburan. Kitab tersebut diberi nama oleh Lama Kazi Dawa Samdup, seorang suku bangsa Sikkhim yang menjadi guru serta penterjemah bahasa suku bangsa Tibet yang juga fasih berbahasa Inggris. Bentuk aslinya ditulis di kulit kayu dalam bahasa dan huruf Tibet kuno dan diperkirakan ditulis pada abad VIII Masehi.
Pada tahun 1919 masehi, atas prakarsa Lama Kazi Dawa samdup dan DR.Evans Wentz, seorang professor berkebangsaan Inggris, mereka menerjemahkan kitab tersebut ke dalam bahasa Inggris. Kitab aslinya diperoleh mereka berdua dari seorang Lama muda dari Kar-gyu-pa (sekte jubah merah) di Vihara Bhutia Basti di Darkeeling, Tibet.
Kitab Bardo Thodol berisi pesan-pesan Guru Rinpoche Padma Sambhava kepada istri beliau, putri Yeshe Tsogyal, melalui alam meditasi. Pesan-pesan tersebut berupa petunjuk pada istri beliau yang masih hidup, tentang proses yang dihadapi seseorang pada saat meninggal dunia, sampai menjelang akan bertumimbal lahir dialam kehidupan selanjutnya. Guru Rinpoche Padma Sambhava menyampaikan pesan-pesan tersebut setelah beliau meninggal dunia, saat beliau berada di alam gaib, alam sesudah kematian. Menurut pesan beliau, setelah ajal tiba, seseorang akan berada di alam kematian sementara selama empat puluh sembilan hari, dan setelah itu akan tumimbal lahir di salah satu alam kehidupan.
Selama saat menjelang ajal dan saat berada di alam kematian sementara tersebut seseorang akan mengalami tiga tahap, yakni : - Tahap Chikhai Bardo (tahap jelang kematian) - Tahap Chonyid Bardo (tahap evaluasi karma/tahap penilaian Karma Vipaka) - Tahap Sidpa Bardo (tahap jelang tumimbal lahir).
Oleh : Toto
bersambung .....
- Chau Ming, beberapa Aspek tentang Agama Buddha Mahayana, Jakarta 1987, Sasana 1994, Filsafat Buddhis Mahayana 1985
- Mulyadi Wahono SH, Pokok-pokok Dasar Agama Buddha, Ditjen Bimas Hindu Buddha Depag RI Jakarta1992.
- dr.DK.Widya,Sejarah Perkembangan Agama Buddha, ditjen Bimas Hindu & Buddha Depag RI-UT Jakarta 1993,
- Dr.Pdt.HS.Rusli MSA PhD. Teori dan Praktek Tantra-Vajrayana,IBC Medan 1982.
- Ven. Narada mahathera,Sang Buddha & Ajaran-ajarannya, Yayasan Dhammadipa Arama 1996.
- S.Widyadharma,Dhamma Sari Jakarta 1990.
- Kiprah Kasogatan Jakarta 1994
- Drs.D.Dharmakusumah, Alam Kematian sementara (Bardo Thodol), Jakarta 1992.
- Drs.R.Soekmono, Pengantar Sejarah kebudayaan Indonesia, Jakarta 1973.
- Sanghyang Kamahayanikan, Ditjen Bimas Hindu & Buddha Depag RI, Jakarta 1979.
|