Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 MENGENAL TANTRAYANA DALAM AGAMA BUDDHA (IV)


Elemen-elemen Ajaran Tantrayana

Kedatangan Agama Buddha di Indonesia
Berdasarkan penelitian yang dilakukan beberapa pakar sejarah di tanah air, hingga saat ini masih terdapat berbagai pendapat yang berbeda tentang kapan masiknya agama Buddha di Indonesia. Namun satu hal yang dapat dicatat dalam sejarah, berdasarkan pada catatan perjalanan Fa Hien, seorang misionaris Buddha asal China, sekitar tahun 414 masehi, telah ada penganut agama Buddha di pulau Jawa, walaupun masih dalam jumlah yang tidak banyak.

Kemudian, berdasarkan catatan sejarah, atas usaha Bhikshu Gunawarman, pada tahun 423 Masehi, agama Buddha mulai berekembang di pulau Jawa. Sedangkan perkembangan agama Buddha di Sumatera tercatat pada catatan perjalanan I-Tsing, seorang bhikshu dari China yang dalam perjalanan pulang nya ke China singgah dan menetap beberapa waktu ke Sriwijaya di Palembang yang terletak di pulau Sumatera Selatan (685-695M).

Perkembangan Mazhab Tantrayana di Indonesia
Mazhab Tantrayana berkembang dengan pesatnya dibumi persada Indonesia, terutama pada masa-masa kerajaan Mataram kuno, Singasari dan Majapahit. Perkembangan yang demikian pesatnya seiring dan sejalan dengan mazhab-mazhab lkainnya, bahkan dengan agama Hindu yang juga banyak dianutnya pada masa-masa tersebut.

Bukti-bukti pesatnya perkembangan mazhab Tantrayana pada masa-masa tersebut, antara lain :

  1. Pada masa Kerajaan Kuno :
    Candi-candi Buddha :
    1. Candi Kalasan, dekat Jogjakarta, didirikan tahun 778 M.
    2. Candi Sari, dekat Candi Kalasan.
    3. Candi Borobudur, dekat Magelang, didirikan tahun 826 M.
    4. Candi Mendut, di sebelah Timur Candi Borobudur, didirikan tahun 809 M.
    5. Candi Pawon, merupakan gerbang Candi Borobudur, didirikan tahun 826 M.
    6. Gugusan Candi Ngawen, dekat Muntilan.
    7. Gugusan Candi Sewu, dekat Prambanan.
    8. Gugusan Candi Plaosan, disebelah Timur Candi Sewu.

    Literatur-literatur : Kitab Sanghyang Kamahayanikan.
  2. Pada Masa Kerajaan Singosari :
    Candi-candi :
    1. Candi Singosari, dekat Malang, tempat pemujaan Raja Kertagama yang merupakan perpaduan antara Tantrayana dan Siwa.
    2. Candi Jawi, dekat Prigen, perpaduan Tantrayana dan Siwa.
    3. Candi Jabung, dekat Krasaan.

    Adanya gelar Dharmadhyaksa Ring Kasogatan (kepala agama Buddha).
  3. Pada masa Kerajaan Majapahit :
    Literatur-literatur : Kitab Sutasoma dan Kitab Kunjarakarna
  4. Di pulau Sumatra terdapat juga peninggalan Candi, yakni :
    1. Candi Muara Takus, dekat Bangkinang, Propinsi Riau.
    2. Candi Portibi-Gunung Tua, dekat Padang sidempuan, propinsi Sumatra Utara.

    Masa-masa keemasan mazhab Tantrayana terjadi terutama pada masa berkuasanya raja-raja dari wangsa Syailendra di kerajaan Mataram Purba. Hal itu terbukti dengan bangunan candi Borobudur dan candi-candi lainnya yang bernuansakan Buddha Dharma Tantrayana. Namun sangat disayangkan bahwa perkembangan Tantrayana mengalami masa surut setelah masa Raja Hayam Wuruk. Hal itu terjadi karena terputusnya garis silsilah dan tidak terdapat lagi acharya maupun guru yang mampu membimbing umat dengan baik. Seiring dengan itu, masuknya gama baruke tanah air, yakni agama Islam, juga turut mempengaruhi kemunduran Tantrayana. Sehingga menjelang akhir abad XV, daerah pesisir Utara di pulau Jawa semuanya telah memeluk agama Islam.

Literatur-literatur Buddha Dharma di Indonesia
Berdasarkan pada peninggalan-peninggalandari zaman keemasan agama Buddha pada masa kerajaan-kerajaan, baik di pulau Jawa maupun di pulau Sumatra, dapat kita simpulkan bahwa pada masa-masa tersebut, perkembangan agama Buddha terutama dari mazhab Tantrayana adalah pesat sekali. Apalagi bila kita adakan penelitan terhadap candi Borobudur, yang kita akui sebagai salah satu keajaiban dunia yang masih dapat dinikmati di muka bumi ini.

Pada masa-masa tersebut, literatur-literatur Buddha Dharma telah berkembang sangat pesat. Banyak literatur yang merupakan hasil karya para cendikiawan Buddha Dharma di zamannya. Diantara literature tersebut, antara lain : Sanghyang Kamahayanikan, Sutasoma dan Kunjarakarna.

Kitab Sutasoma
Menurut dr. WK.Dharma, Kitab Sutasoma merupakan karya Mpu Tantular. Adapun ringkasan dari kitab Sutasoma ini adalah sebagai berikut :

Dikisahkan Sanghyang Buddha yang menitis pada putra Prabu Mahaketu, raja Hastina, yang bernama Raden Sotasoma. Setelah dewasa dia sangat rajin beribadah cinta akan agama Buddha (Mahayana). Dia tidak mau dikawinkan dan dinobatkan menjadi raja. Pada suatu malam dia meloloskan diri dari kerajaan, pintu-pintu yang sedang tertutup dengan sendirinya menjadi terbuka untuk memberi jalan keluar pada prabu Sutasoma. Di dalam perjalanannya, Sutasoma tiba pada sebuah candi yang terletak di dalam hutan. Dia berhenti di candi tersebutdan mengadakan samadhi. Kemudian meneruskan perjalanan dan mendaki pegunungan Himalaya dengan diantar oleh beberapa orang pendeta. Mereka tiba si sebuah pertapaan. Diceritakan bahwa para pertapa yang melaksanakan samadhi di pertapaan itu sering mendapat gangguan dari seorang raja raksasa, yang gemar menyantap daging manusia dan bernama Purusada, akhirnya menjadi raksasa penghuni hutan. Tenyata Purusada menderita luka di kakinya dan tak kunjung sembuh.

Para pendeta meminta agar Sutasoma bersedia membunuh Purusada, akan tetapi permintaan tersebut ditolaknya. Dalam melanjutkan perjalanannya, ia mendapart serangan dari raksasa berkepala gajah dan seekor naga. Namun keduanya dapat dia dikalahkan. Ketika sampai disebuah tebing, ia melihat seekor macan betina yang sedang bersiap menyantap anaknya sendiri. Melihat kejadian tersebut, Sutasoma menawarkan diri sebagai pengganti. Maka dihisaplah darahnya oleh macan, dan meninggallah Sutasoma. Namun setelah melihat mayat Sutasoma. Kemudian datanglah Batara Indra untuk menghidupkan kembali Sutasoma. Setelah kejadian tersebut, Sutasoma bersamadhi di dalamsebuah goa. Para dewa mencoba keteguhan tekad sang pertapa tersebut dengan pelbagai godaan. Namun dapat diatasi oleh Sutasoma. Bahkan dalam melaksanakan samadhi, ia dapat menjelma menjadi Buddha Vairocana. Setelah pulih, kembali menjadi Sutasoma dan dirinya berniat untuk pulang ke negerinya. Di dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan bala tentara Purusada yang sedang dikejar olehPrabu Dasabahu. Ternyata ratu ini masih saudara sepupunya sendiri dan ia pun diminta untuk pulang kembali ke negerinya. Setelah kepulangannya, Sutasoma dinikahkan dengan adik Prabu Dasabahu. Setelah selesai perhelatan, ia pun menlanjutkan perjalanan ke Hastina, ia kemudian dinobatkan sebagai raja dan bergelar Prabu Sutasoma.

Pada waktu itu, raksasa Purusada yang bernazar akan mempersembahkan seratus manusia untuk menjadi santapan Batara Kala, bilamana luka di kakinya dapat disembuhkan. Ketika itu, Purusada dapat menawan sembilan puluh sembilan orang raja yang akan dipersembahkan pada Batara Kala. Untukmemperoleh raja ke seratus, Purusada lalu menyamar sebagai seorang pendeta tua yang kemudia berhasil menawan Raja Widarba. Kemudian jumlah ke seratus tawanan tersebut dipersembahkan pada Batara Kala. Namun persembahan tersebut ditolak oleh Batara Kala. Karena menginginkan daging Prabu Sutasoma. Setelah mengetahui duduk persoalan, Prabu Sutasoma bersedia menjadi santapan Batara Kala, asalkan keseratus tawanan lainnya dibebaskan. Kerelaan ini sangat berkenan di hati Batara Kala, bahkan Purusada menjadi terharu. Purusada kemudian bertobat dan berjanji tidak akan makin daging lagi.

Kitab Kunjarakarna
Menurut dr. WK.Dharma, Kitab Kunjarakarna terdiri dari dua redaksi, yakni dalam bentuk Kakawin dan dalam bentuk Prosa. Kitab Kunjarakarna hingga saat ini belum diketahui siapa pengarangnya. Kitab ini isinya antara lain menggambar kan hukuman-hukuman yang diberikan di dalam neraka, dan berisi pujian pada Buddha Vairocana dengan menganggapnya sebagai lambang kebijaksanaan yang tertinggi serta sebagai Guru yang termulia.

Ringkasan narasi dalam Kitab Kunjarakarna sebagaimana telah dikutip, adalah sebagai berikut :
Dalam keadaan hati yang bimbang, Kunjarakarna pergi menemui Buddha Vairocana untuk menerima pelajaran Dharma dari beliau. Maka pergilah Kunjara karna menuju Bodhicitta, tempat tinggal Vairocana. Namun sesudah menerima Kunjarakarna,Vairocana menolak permintaannya. Dan pada Kunjarakarna, Vairocana menyatakan agar pergi menghadap Yama, Dewa neraka, supaya dapat mengetahui tentang keadaan neraka, setelah mengetahui keadaan di neraka, barulah Vairocana akan memberikan pelajaran tentang Dharma. Kunjarakarna mengikuti nasehat Vairocana, dan pergi menghadap Yama. Sesudahnya bertemu, kemudian menguraikan maksud kedatangannya, Yama kemudian memberikan ilmu-ilmu yang diperlukan.

Setelah mendengar uraian-uraian Yama, Kunjarakarna melihat sebuah ketel besar yang sedang dipersiapkan untuk menghukum orang. Lalu ia menanyakan pada Yama, untuk siapa ketel tersebut dipersiapkan Jawaban Yama sangat mengejutkan, karena ketel tersebut dipersiapkan untuk Purnawijaya,seorang Widyadhara, yang tak lain adalah temannya sendiri. Sesudah mendapatkan perintah dari Yama, lalu segera kembali menjumpai Buddha Vairocana, setelah itu Kunjarakarna pun meninggalkan dunia neraka.

Kunjarakarna tidak segera menghadap Vairocana, dan malah pergi menemui temannya, Purnawijaya dengan maksud memberitahukan pada Purnawijaya tentang kejadian apa yang telah dilihatnya di dunia neraka. Setelah memperoleh berita dari Kunjarakarna, Purnawijaya sangat terkejut dan meminta nasehatnya. Lalu Kunjarakarna menjawab, bahwa ia tidak dapat menolong Purnawijaya, karena diri Purnawijayabelum dibersihkan dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Ia kemudian mengajak Purnawijaya untuk bersama-sama menemui Vairocana di Bodhicitta.

Sesampai di Bodhicitta, Kunjarakarna menyuruh Purnawijaya untuk bersembunyi terlebih dahulu. Sedangkan dirinya menghadap Vairocana lebih dahulu. Setelah memohon pada Vairocana, agar diberikan pelajaran tentang ilmu kesempurnaan hidup untuk dapat mencapai kebahagiaan, sambil menyinggung nyinggung tentang keadaan Purnawijaya. Setelah menerima pelajaran dari Vairocana, ia pun mohon diri dan kembali ke tempat Purnawijaya menyembunyikan diri.

Kemudian tibalah giliran Purnawijaya untuk menghadap Vairocana untuk mengajukan permohonan. Oleh Vairocana, Purnawijaya kemudian diberikan pelajaran dan menerima pelajaran tersebut, segeralah lenyap semua nafsu yang melekat pada dirinya yang menyebabkan ia berbuat dosa. Walupun demikian, Purnawijaya belum dapat tertolong dari maut. Oleh karena dosa-dosa yang pernah diperbuatnya, akhirnya Purnawijaya masuk neraka, tetapi tak akan lama di dunia neraka, hanya sepuluh hari saja. Hal itu perlu untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang pernah diperbuatnya. Setelah menerima pelajaran dari Vairocana, terhiburlah hati Purnawijaya. Kemudian dengan semangatnya Purnawijaya berlatih keras dalam samadhi dan dhyana, sesuai dengan pelajaran yang telah diterima dari Vairocana. Didampingi istrinya, Gandhawati, Purnawijaya lalu berpesan, apabila ajalnya tiba, istrinya yang harus mengurus dan menjaga mayatnya selama sepuluh hari, karena setelah sepuluh hari ia akan bangun kembali.

Saat yang dinanti-nantikan pun tiba. Jiwa meninggalkan tubuh, diikuti oleh sebuah bayangan yang merupakan akibat dosa yang telah diperbuatnya, pergi ke dunia neraka dan menghadap pada Yama. Sesamp[ainya dineraka, oleh para pengawal neraka, Purnawijaya segera dilemparkan dalam ketel panas itu. Namun sekonyong-konyong ketel tersebut pecah dan hancur lebur. Dan ditempat tersebut muncul sebatang pohon surga, dikelilingi kolam dan bunga teratai yang amat indah. Para pengawal neraka sangat terkejut dan melaporkan kejadian tersebut pada Yama.

Kemudian bertanyalah Yama pada Purnawjaya tentang kejadian tersebut, setelah mendapatkan penjelasan dari Purnawijaya, yama lalu mengijinkan Purnawijaya untuk kembali ke asal(tubuh)nya. Setelah bangun kembali, Purnawijaya lalu memangggil semua Widyadhara dan Widyadhari untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Kemudian ia mengajak mereka semua untuk menghadap Vairocana dan meyampaikan puja dan puji untukNya.

Pada saat hampir bersamaan,semua dewa, seperti Indra, Waruna dan lain-lainnya mendatangi Yama untuk menanyakan apa yang telah terjadi. Setelah mendapatkan penjelasan dari Yama, para dewa kemudian menghadap Vairocana untuk memohon penjelasan. Dengan suka hati Vairocana lalu menceritakan kisah Kunjarakarna dan Purnawijaya, mengingatkan para dewa pada ilmu kenyataan itu. Setelah mendapatkan penjelasan dari Vairocana, mereka pun kembali ke alam sorga. Setelah mengalami benyak peristiwa dan pelajaran, Kunjarakarna dan Purnawijaya akhirnya bersama-sama melanjutkan samadhi di kaki gunung Mahameru. Setelah bersamadhi selama dua belas tahun, mereka kemudian naik ke sorga Siddha.

Kitab Sanghyang Kamahayanikan
Sanghyang Kamahayanikan adalah merupakan sebuah literature agama Buddha yang sangat erat hubungannya dengan agama Buddha mazhab Tantrayana di Indonesia. Kitab Sanghyang Kamahayanikan ini seluruhnya berisi 129 ayat. Bagi sebagian besar umat Buddha. Isi dari kitab tersebut masih merupakan suatu kendala untuk dimengerti dan berada di luar kemampuan pikiran mereka.

Menurut penelitian yang pernah dilakukan, kitab Sanghyang Kamahayanikan tersusun antara tahun 929-947 Masehi oleh Mpu Shri Sambhara Surya Warama dari Jawa Timur, sebagai penerus dari kerajaan Mataram yang bergeser ke Jawa Timur. Naskah tertua dari kitab Sanghyang Kamahayanikan ini diketemukan di pulau Lombok pada tahun 1900 Masehi. Naskah ini oleh prof.Yunboll kemudian dibahas pada tahun 1908.dan diterjemahkan kedalam bahasa Belanda oleh, J.deKatt pada tahun 1940. setelah itu,naskah tersebut diteliti lagi oleh Prof.Wuff. Selanjutnya, naskah tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh I Gusti Bagus Sugriwa.

Kemudian oleh Tim Penerjemah Kitab Suci Agama Buddha Ditura Buddha ~Ditjen Bimas Hindu dan Buddha, Departemen Agama RI. Kitab Sanghyang Kamahayanikan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan hasil yang lebih baik dari terjemahan-terjemahan sebelumnya.

Menurut dr.DK.Widya, isi kitab Sanghyang Kamahayanikan ini mengajarkan bagaimana seseorang mencapai Kebuddhaan, di mana seorang siswa pertama -tama melaksanakan Paramita-paramita, kemudian dijelaskan Paramaguhya dan Mahaguhya. Selain itu dijelaskan juga falsafah Adwaya yang mengatasi dualisme"ada" dan "tidak ada".

Disamping itu, dapat diperoleh tambahan informasi berupa hasil wawancara dengan dua orang tokoh Tantrayana, yakni YA. Rinpoche Zurmang Garwang dari Sikkim, India dan YA.Rinpoche Losang Ngudup dari Mysore,India. YA.Rinpoche Zurmang Garwang adalah seorang pemimpin dari Dharma Chakra Centre yang terletak di Rumtek. East Sikkim, India. Menurut keterangan, beliau diyakini telah tumimbal lahir sebanyak tiga belas kali dan penganut Tantra, baik di Sikkim dan di Tibet mengkonsumsi jenis makanan nabati (vegetarian) dan hewani. Vinaya yang berpantang makan dari bahan makanan hewani atau yang dikenal dengan 'vegetarian' hanya pada kelompok Sangha aliran Mahayana di daratan China saja.

Menurut YA. Rinpoche Zurmang garwanglebih lanjut, setiap rohaniwan Tantra (sering disebut sebagai 'Lhama'), mereka harus mendalami dahulu dasar-dasar Buddha Dharma yang ada pada mazhab Theravada dan Mahayana, sebelum mereka mendalami Tantrayana. Karena semua pada Buddha Dharma baik pada Theravada, Mahayana dan Tantrayana adalah sama. Mereka hanya berbeda pada cara pengalamannya saja.

YA. Rinpoche Losang Ngudup berasal dari kelompok Ge-lugpa (Yellow Hat Sect /sekte jubah kuning) adalah Ex Abbot (mantan Rektor) pada sera Mahayana Sermey Monastic University, yang terletak di Mysore, Distrik Karnanata-Southern India. Sera Mahayana Sermey Monastic University adalah lembaga pendidikan tinggi yang dikhususkan bagi para rohaniwan Tantrayana sebelum mereka di wisuda (inisiasi) sebagai "Lhama".

Menurut YA. Rinpoche Losang Ngudup, setiap calon "Rinpoche" harus terlebih dahulu menjadi anggota Sangha, yang dalam Tantrayana disebut sebagai Lhama dan harus mendalami terlebih dahulu Dharma yang ada pada mazhab Tantrayana. Ini adalah informasi yang sama dengan YA. Rinpoche Zurmang Garwang. Menurut beliau lebih lanjut, kunjungan beliau dan rombongan ke Indonesia adalah dalam rangka mencari 'benang merah' dengan Tantrayana di Indonesia. Mereka berkeyakinan bahwa Tantrayana pada masa kerajaan-kerajaan dahulu adalah memiliki 'garis silsilah'(lineage) yang sama dengan mereka, yakni melalui YA. Atissa Srinyana Dipankara. YA. Atissa adalah seorang Rinpoche yang pernah menetap di Sriwijaya (P.Sumatera) dan berguru pada YA. Dharmakirti atau Dharmaphala. YA.Atissa tiba di Sriwijaya pada usia 31 tahun dan beliau menetap di sana sekitar duabelas tahun lamanya. Menurut YA. Rinpoche Losang Ngudup, YA. Rinpoche Atissa telah menanamkan semangat bagi kekuatan spiritual Tantrayana di Tibet

Oleh : Toto

Selesai

  1. Chau Ming, beberapa Aspek tentang Agama Buddha Mahayana, Jakarta 1987, Sasana 1994, Filsafat Buddhis Mahayana 1985
  2. Mulyadi Wahono SH, Pokok-pokok Dasar Agama Buddha, Ditjen Bimas Hindu Buddha Depag RI Jakarta1992.
  3. dr.DK.Widya,Sejarah Perkembangan Agama Buddha, ditjen Bimas Hindu & Buddha Depag RI-UT Jakarta 1993,
  4. Dr.Pdt.HS.Rusli MSA PhD. Teori dan Praktek Tantra-Vajrayana,IBC Medan 1982.
  5. Ven. Narada mahathera,Sang Buddha & Ajaran-ajarannya, Yayasan Dhammadipa Arama 1996.
  6. S.Widyadharma,Dhamma Sari Jakarta 1990.
  7. Kiprah Kasogatan Jakarta 1994
  8. Drs.D.Dharmakusumah, Alam Kematian sementara (Bardo Thodol), Jakarta 1992.
  9. Drs.R.Soekmono, Pengantar Sejarah kebudayaan Indonesia, Jakarta 1973.
  10. Sanghyang Kamahayanikan, Ditjen Bimas Hindu & Buddha Depag RI, Jakarta 1979.



Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.