|
MENJELANG malam Waisak pada hari Kamis 16 Mei 2003, suasana perbukitan menoreh tampak mendung, disertai awan pekat tebal menggumpal, bergerak secara bergelombang menuju atap Candi Borobudur. Ketika itu Candi Agung pun berubah menjadi gelap gulita. Udara merambat dingin bersama awan mendung memayungi suasana umat Buddha yang sedang melaksanakan prosesi di pelataran Candi Borobudur merayakan Waisak 2547/2003. Dan sinar itu langsung memancarkan cahaya selama sepuluh menit pada petang hari menjelang sore.
Para Bhiksu/Bhikkhu, Umat Buddha merasakan fenomena sebuah pesona keagungan dan kemuliaan Waisak ke 50 tahun yang dirayakan di Candi Agung tiba-tiba dari kegelapan awan, sebersit sinar muncul menerobos menerangi Borobudur, sehingga memantapkan keyakinan umat terhadap Hyang Buddha. Alam senantiasa menyambut tulus mewartakan perayaan memperingati kesempurnaan Buddha. Peristiwa istimewa ini kemudian redup dan muncul sinar cahaya digantikan dengan rembulan malam.
Waisak 2547/2003 di Candi Agung Borobudur ini memang memiliki keistimewaan tersendiri. Selain pertanda alam bahwa Waisak 2547 telah memasuki tahun emas ke 50, juga memberi isyarat awal memulai kebangkitan kembali aliran Tantrayana di bumi nusantara ini.
Ritual upacara Waisak yang dilaksanakan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) di Zone 2 Borobudur bersama Sangha Theravada, Sangha Mahayana dan Sangha Tantrayana selama empat hari di mulai tanggal 13 hingga 17 Mei 2003. Dengan perjalanan prosesi sejauh lima kilometer mengundang ribuan penduduk setempat yang sempat tenggelam dalam upacara tradisi tahunan kegiatan umat Buddha di hari Waisak.
Dinamika kebangkitan kembali umat Buddha Tantrayana di bumi nusantara ditandai hadirnya Serling Tulku Yongdzin Rinpoche dalam penyampaian khotbah Waisak dan terbentuknya Majelis Agama Buddha Tantrayana Indonesia setelah usai Waisak.
Khotbah Waisaknya mengingatkan kita akan jasa besar bumi nusantara menghadirkan bukit Sambhara Budara yang lebih dikenal dengan sebutan Borobudur dan sekolah agama Buddha di masa kerajaan Sriwijaya, yang mempunyai andil besar terhadap perkembangan Tantra di Tibet. Contohnya Acharya Attisa Dipangkara guru besar bangsa Tibet pernah belajar dan berguru kepada Dharmakirti di Sriwijaya.
Seremonial Waisak di hadiri Menteri Agama Prof.Dr.H.Said Agil Husin Al Munawar dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwawea serta pejabat tinggi lainnya.
By : TOTO
|