Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  KHOTBAH KUSALA PRABHA BUDDHA
Oleh : Maha Acharya Liang Sheng Huofo


DI ANTARA sekian banyak karya-karya tulis saya ada dua buku yang sangat istimewa, kedua buku tersebut masing-masing berjudul "Hati Sejuk Seketika" dan "Pelita Kebijakan untuk masa kini". Tema utama kedua buku ini adalah tentang perbuatan jahat dan perbuatan serong, serta mengajarkan pada manusia bagaimana caranya menghindari diri dari perbuatan-perbuatan yang sesat tersebut, serta bagaimana caranya menemukan jalan menuju kebahagiaan.

Inspirasi yang mengilhami saya menulis kedua buku ini berasal dari Kusala Prabha Buddha. Akan tetapi, siapakah itu Kusala Prabha Buddha?.

Mungkin tak ada seorang pun yang menduga bahwa ternyata beliau adalah Kaisar Wenchang . Kaisar Wenchang adalah seorang Dewa, akan tetapi karena beliau sudah berada dialam Buddha, gelar ke-Buddha-an beliau adalah "Kusala Prabha Buddha".

Dahulu kala, Kaisar Wenchang pernah memberikan khotbah sebagai berikut: Kaisar Wenchang bersabda, "Selama 17 kali kelahiran aku menjadi seorang pejabat pemerintahan negara, dan selama itu pula tak sesekalipun aku pernah menelantarkan rakyat saya. Saya selalu membantu rakyat yang kesusahan dan menolong rakyat yang berkekurangan serta selalu memaafkan kesalahan rakyat dan memaklumi kesalahan rakyat. Karena amal saya yang selalu berjalan di atas Dharma, maka kini aku dapat mencapai tingkat kesucian. Oleh karena itu, kini aku menganjurkan kepada seluruh umat manusia agar dapat menyapakan "Karangan tentang yang Maha Kuasa" minimal satu kali setiap hari, serta taat melaksanakan ajaran-ajaran yang terkandung dalam karangan tersebut. Selain itu, juga hendaknya menulis kembali karangan itu dalam sehelai kertas dan digantungkan di dinding untuk diperhatikan serta dilaksanakan setiap hari. Bila dapat dilakukan berturut-turut selama 2 tahun, pahalanya adalah terhapus segala macam karma buruk, dan bila dilakukan berturut-turut 4 tahun, pahalanya adalah berkah dalam berbagai macam kebahagiaan, dan bila dilaksanakan selama 7 tahun, akan memberikan berkah pada anak cucu yang pandai-pandai dan patuh pada orang tua. Demikian seterusnya, bila berturut dilaksanakan selama 10 tahun akan menghasilkan berkah berupa usia yang panjang, 15 tahun menghasilkan berkah berupa kelancaran segala usaha, 20 tahun menghasilkan anak cucu dan keturunan yang menjadi pejabat negara setingkat menteri, 50 tahun disegani para mahkluk Dewa. Sebaliknya, bila meremehkan anjuran ini, tidak melaksanakan, atau walaupun melaksanakan namun terputus-putus atau tidak konsentrasi ketika menyapakannya, maka itu akan berakibat pada dosa besar yang tidak termaafkan.

Kalimat-kalimat di atas adalah anjuran dari Kaisar Wenchang (atau Kusala Prabha Buddha) yang ditujukan kepada para umat manusia agar mau melaksanakan semua perintah yang ada dalam "Karangan tentang yang Maha Kuasa".

Bhiksu Yinguang adalah seorang bhiksu senior, dalam kumpulan kutipan kata-kata mutiaranya, juga pernah disinggung "Karangan Maha Kuasa" ini dan semua itu adalah pedoman-pedoman bagi umat manusia untuk mengubah diri dari yang buruk menjadi yang baik, menghindari kecelakaan dan menyambut keberuntungan, dan akhirnya membebaskan diri dari lingkaran tumimbal lahir di 6 alam kehidupan dan masuk ke alam para Buddha.

Dalam tulisan ini, saya memang telah menyebut-nyebut Kaisar Wenchang, Bhiksu Yinguang dan juga "Karangan Yang Maha Kuasa", namun maksud sesungguhnya dari tulisan ini bukanlah memperkenalkan "Karangan tentang yang Maha Kuasa", tetapi justru khotbah-khotbah yang pernah disampaikan oleh Kaisar Wenchang atau "Kusala Prabha Buddha" yang mengatakan, "Mengamalkan ajaran ini selama 2 tahun, maka kita akan terbebas dari segala macam dosa dan karma buruk. Sedangkan bila dilaksanakan dan diamalkan sampai 50 tahun, maka kita akan memasuki jajaran para Arya serta mendapat penghormatan dari para dewa di langit dan di bumi.

Saya merenungi dan menanyai diri sendiri, apa yang telah saya perbuat selama hidup 57 tahun ini? Dan hasilnya sungguh mengerikan!!! tentu saja, sejak menapaki jalan Dharma untuk menuju kesempurnaan saya sudah sadar dan mengerti benar makna ujar-ujar berikut: "Sabba papassa akaranam. Kusalassa Upasampadam. Sacittapariyodapanam etam Buddhana sasanam" (Hentikan kejahatan, Tambahlah kebaikan, Sucikan hati dan pikiran, itulah ajaran semua Buddha).

"Nasib ditentukan oleh diri sendiri, keberuntungan dan kemalangan dikarenakan perbuatan sendiri". "Yakin dan percaya benar pada hukum karma, laksanakan amal ke bajikan dan hindarkan diri dari perbuatan jahat".

"Keberuntungan tak pernah datang sendiri, demikian pula kemalangan tak pernah hinggap tanpa sebab. Semua itu adalah akibat dari perbuatan kita sendiri".

Saya bertanya lagi pada diri sendiri. Apakah selama ini saya telah benar-benar secara konsekuen dan kontinyu melaksanakan ajaran-ajaran Dharma? Saya tak sanggup menjawabnya, namun seketika itu juga, tiba-tiba keringat dingin membasahi sekujur tubuhku !.

Jujur saja, hanya ada 2 macam kegiatan yang saya tekuni sejak mulai berusia 26 tahun hingga kini mencapai 57 tahun. Dan kedua macam kegiatan tersebut adalah menekuni ajaran-ajaran Dharma dan rajin menulis karangan.

Kegiatan menekuni dan mengamalkan ajaran-ajaran Dharma memang saya lakukan dari hari ke hari. Saya memulainya dari "Catur Prayoga, Yukta Dharma Acharya, Satyadevata Dharma, Badra Kumbha, membangkitkan kekuatan panas dalam tubuh, nadi tengah, membuka Panca Cakra, Panca Vajra, Anuttara Tantra dan terakhir Mahashanti Dharma. Semua itu saya tekuni dan laksanakan satu persatu dari tingkat yang paling dasar sampai tingkat tertinggi, sehingga akhirnya tercapai lah saya pada tingkat Annuttara Samyaksambodhi. Sejak mulai dari tingkat kebijakan awal hingga tingkat Padma Prabha Isvara Buddha, tak pernah sekalipun lalai atau alpha.

Demikian pula halnya dengan kegiatan tulis menulis, saya juga tekun setiap hari tak pernah ada hari tanpa tulisan. Setiap hari saya harus menghasilkan sebuah karangan, kecuali bila ada halangan, ketika sedang bepergian dengan kendaraan atau perahu, semangat menulis saya tak pernah kendur walau seharipun. Saya menghasilkan berbagai macam bentuk tulisan, entah itu syair, prosa, cerita pendek, esai atau pun renungan-renungan. Pokoknya saya bertahan agar dapat menghasilkan sebuah karangan setiap hari, memang tak terlalu banyak, namun juga tak pernah ada satu hari tak pernah saya lewatkan tanpa karangan.

Sampai hari ini, saya sudah menhasilkan 152 jilid buku, dan itu belum termasuk kumpulan-kumpulan kotbah dan ceramah yang saya berikan. Setiap hari selalu saya lalui dengan melaksanakan satu kali latihan Dharma dan menghasilkan satu buah karangan. Tak pernah seharipun saya lewati tanpa dua macam kegiatan tersebut.

Pernah ada yang bertanya-tanya pada saya "sampai kapankah anda akan bertahan dengan latihan-latihan Dharma ini? dan sampai kapankah anda akan terus menulis?. Jawaban saya adalah, "sampai mati !", karena saya yakin dan percaya bahwa melatih dan melaksanakan ajaran Dharma adalah seperti rerumputan di halaman taman. Tak pernah nampak ada pertumbuhan darinya, akan tetapi setiap hari pasti akan bertambah banyak". Demikian pula halnya dengan kegiatan tulis menulis, bagaikan menempa besi yang dilakukan setiap hari, lama kelamaan akan menghasilkan bentuk besi baja".

Demikianlah diriku ini dan di dunia ini mungkin tiada orang lain yang lebih kukuh dalam iman dan keyakinannya daripada diriku Lian Sheng Huofo Lu Sheng Yen.

Sumber : CENFO Indonesia





 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.