Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  TILAKKHANA (Tiga Corak Umum)


Tilakkhana atau tiga corak umum itu adalah tiga keadaan yang mencengkeram segala sesuatu dalam semesta-alam ini. Tidak ada suatu bentuk apapun yang bebas dari ketiga corak tersebut. Maka dari itu Tilakkhana adalah merupakan corak yang universil dari segala sesuatu yang ada ini.

Tilakkhana atau tiga corak umum, yaitu :

  1. Anicca-Iakkhana : Corak berubah-ubah
  2. Dukkha-Iakkhana : Corak penderitaan
  3. Anatta-Lakkhana : Corak tanpa aku.

  1. ANICCA-LAKKHANA

    Anicca-Lakkhana atau corak yang selalu berubah-ubah adalah corak yang khas dari keadaan Viparinama dan Annathabhava.

    • Viparinama berarti metafisika, yaitu suatu perubahan yang radikal di alam semesta, yang merupakan perubahan yang disebut : dari bentuk yang ada ke keadaan yang tiada.
    • Annathabhava berarti perubahan yang mengikuti suatu keadaan sedikit demi sedikit.

    Kalau keadaan Viparinama dan Annathabhava telah dapat dilihat dengan nyata, maka akan teranglah bahwa bentuk-bentuk materi dan bentuk-bentuk bathin yang berada di dalam keadaan tersebut (Viparinama dan Annathabhava) adalah sebenarnya juga dalam keadaan berubah-ubah atau tidak kekal. Maka dari itu Aniccalakkhana (corak berubah-ubah) terdiri dua macam proses, yaitu Viparinama (perubahan yang radikal) dan Annathabhava (perubahan secara sedikit demi sedikit). Bila kita menyelidiki dan membahas dengan teliti nyala sebuah lampu yang berlangsung sepanjang malam, maka kita akan menemui lima macam gejala yang berlangsung mengikuti nyala itu, yaitu : lahir, tumbuh, berlangsung, lapuk dan mati. Kita juga menyadari bahwa nyala api itu timbul hanya sementara saja. Ini adalah merupakan lahimya bentuk-bentuk materi, dan ia adalah tidak kekal. Kita juga menyadari bahwa setelah nyala itu timbul, ia selalu berkembang terus.

    Ini adalah pertumbuhan dari bentuk-bentuk materi, dan ia adalah bukan api yang kekal. Kita juga menyadari bahwa nyala itu dengan tidak ad a selingannya berlangsung terus dengan keadaan yang normal. Ini adalah berlangsung bentuk-bentuk materi, dan ia adalah bukan api. Kita juga menyadari bahwa nyala kemudian padam. Ini adalah kematian dari bentuk-bentuk materi, dan ia adalah bukan api. Berkenaan dengan panasnya itu adalah merupakan corak un sur api. Nyala itu bergerak hanya karena adanya lima macam gejala yang khas tadi. Kadang-kadang iabergetar bila lampu itu dipindahkan, dan dalam hal ini lalu dikatakan bahwa nyala itu bergetar karena dihembus angin. Kelima gejala yang khas itu adalah merupakan Annathabhava dari nyala itu, yang termasuk corak Anicca. Dengan menyelidiki dan menyadari kelima gejala ini, maka dapatlah dimengerti, bahwa nyala itu adalah suatu benda yang berubah-ubah atau tidak kekal. Dengan jalan yang sarna kita juga dapat mengerti bahwa semua benda yang bergerak adalah tidak kekal bentuk dan keadaannya.

    Dalam badan dari makhluk atau manusia, kelima gejala itu juga dapat disadari tiap-tiap bagian dari padanya, seperti : rambut, bulu badan, kuku, jari, gigi, kulit dalam, kulit luar, daging, urat syaraf, pembuluh darah, tulang besar, tulang kecil, sumsum, ginjal, jantung, hati, jaringan, pam-pam, usus, isi perut, makanan yang belum dicerna, makanan yang sudah dicerna dan otak.

    Bila kita melihat padanya dengan pertolongan mikroskop, maka akan terlihatlah organisme-organisme yang bergerak-gerak seperti makhluk-makhluk kecil adanya. Ini adalah reproduksi atau perpecahan dari materi-materi yang disebebkan oleh karma, makanan, dan perubahan-perubahan fisiko Kadang-kadang ada juga kemungkinan bercampur dengan corak yang khas dari perubahan-perubahan atau ketidak kekalan itu di dalam semua materi dari seluruh badan kita ini. Demikianlah keterangan tentang Anicca dalam materi itu.

    Sekarang mengenai bentuk-bentuk bathin, yaitu pikiran dan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu, corak Anicca ini dengan kedua prosesnya, yaitu Viparinama (perubahan yang radikal) dan Annathabhava (perubahan sedikit demi sedikit) juga dengan terang dapat dilihat.

    Di dunia ini kita semua juga tahu, bahwa banyak sekali terdapat istilah-istilah dan kata-kata yang berbeda-beda yang dipakai untuk menunjukkan cara dan gerak-gerik pikiran dan jasmani yang selalu timbul dan lenyap dengan tidak putus-putusnya.

    Umpamanya terdapat dua pertanyaan seperti "melihat" dan "tidak melihat" yang dipakai untuk menggambarkan pekerjaan mata. "melihat" adalah istilah kepada unsur kesadaran melihat. Atau kalau kita berkata : "Orang melihat", ini adalah istilah yang menunjukkan suatu gambaran tentang timbulnya kesadaran melihat karena terjadinya perpaduan empat macam sebab, yaitu landasan mata, bentuk yang dilihat, cahaya dan perhatian. Dan kalau kita berkata : "Orang tidak melihat" ini adalah suatu pernyataan yang menggambarkan tidak adanya kesadaran melihat.

    Bila pada malam hari di tempat yang gelap, tidak ada sumber cahaya, kesadaran melihat tidak akan timbul pada landasan mata, ia akan tertunda untuk semen tara waktu. Tetapi ia akan timbul, bila adanya cahaya. Dan bila cahaya hilang,. maka kesadaran melihat itupun lenyap lagi. Dalam hal ini, kelima gejala yang terdapat di dalam nyala lampu, jika ada cahaya timbul, maka penglihatan mulai timbul pula, dan pemandangan mulai kelihatan pula. Jika cahaya berkembang maka penglihatanpun akan berkembang pula. Jika cahaya hanya pudar, maka penglihatan menjadi pudar pula. Jika cahaya itu lenyap maka penglihatanpun akan lenyap pula.

    Di waktu siang hari, kedua istilah yang kembar ini "melihat" dan "tidak melihat" dapat berlaku pula. Jika tidak ada rintangan, maka orang dapat melihat, dan jika ada rintangan orang tidak dapat melihat.

     

  2. DUKKHA-LAKKHANA

    Dengan singkat dapat pula dikatakan bahwa Anicca (corak berubah-ubah) dalam proses Viparinama dan Annathabhava dapat juga disebut corak Dukkha (corak penderitaan), karena itu ditakuti oleh orang-orang yang bijaksana di dalam Samsara (lingkaran kelahiran dan kematian).

    Kenapa ia ditakuti oleh para bijaksana ?

    Karena di dunia ini bahaya dari kelapukan dan kematian adalah bahaya yang paling ditakuti.

    Viparinama sebenarnya tidak lain daripada proses kelapukan dan kematian, ia adalah jalan menuju kematian dan kedalam Vinipatana (pecahnya kehidupan ke dalam bermacam-macam keadaan). Ada kalanya makhlukmakhluk itu dapat tinggal tetap dalam suatu bentuk kehidupan tanpa berubah ke dalam kehidupan lain, bilamana mereka dibantu oleh bermacam-macam kekuatan dan cara pengawetan atau perlindungan.

    Tetapi dalam hal ini juga mempunyaijangka waktu tertentu saja. Viparinama juga ditakuti atas perhitungan dari kerugian yang dapat menimpa diri manusia.

    Lahir, tumbuh, berkembang, lapuk dan mati adalah merupakan proses dari Annathabhava, juga dapat menimbulkan banyak kekhawatiran, karena ia dapat mengakibatkan bermacam-macam penyakit dan kesakitan pada badan jasmani. Ia juga dapat menimbulkan bermacammacam kekotoran bathin (kilesa) di dalam kelanjutan bentuk-bentuk bathin, bermacam-macam khayalan, dan bermacam-macam kerugian lainnya.

    Tiap bentuk materi mempunyai kedua proses (Viparinama dan Annathabhava) dari Anicca itu, dan juga tiap bentuk bathin termasuk yang berada di Kamaloka, Rupa-loka dan Arupa-loka, mempunyai juga kedua macam proses dari Anicca itu. Karena itu kehidupan yang meliputi bentukbentuk materi dan bentuk-bentuk bathin dari Manusia, para Dewa dan Brahma, semuanya dicengkeram oleh Dukkha (penderitaan).

     

  3. ANATTA-LAKKHANA

    Corak yang menimbulkan pengertian bahwa bentuk-bentuk materi dan bathin itu sebagai sesuatu "tanpa aku yang kekal" adalah disebut : Anatta Lakkhana. Kalau kit a meninjau perkataan Anatta, maka perlu kiranya dimengerti terlebih dahulu arti perkataan Atta.

    "Atta" dalam artinya yang umum (biasa) adalah : inti atau dasar, atau sari, atau pati, susunan atau lapisan. Yang dimaksud dengan dasar atau lapisan adalah :

    • "Sesuatu" seperti yang telah diterangkan di muka, yang berkenaan dengan Kebenaran Terakhir, dalam perumpamaan dari tanah yang merupakan dasar atau inti atau lapisan dari sebuah periuk.

    Perkataan "periuk" hanyalah merupakan nama, yang menunjukkan sebuah gambaran pikiran atau anganangan (santhana-pannatti), ia bukanlah nama dari tanah. Dan sebuah gambaran pikiran atau angan-angan itu tidaklah mempunyai inti atau lapisan atau dasar, seperti halnya unsur-unsur benda atau materi, disini tanah sendiri adalah tidak mempunyai inti atau lapisan.

    Andaikata ada pertanyaan: "Apakah ada sebuah periuk di dunia ini ?"

    Maka orang yang tidak dapat membedakan an tara dua macam Kebenaran, yaitu Kebenaran Tertinggi (Paramattha Sacca) dan Kebenaran Biasa (Samutti Sacca), akan menjawab, bahwa periuk itu ada.

    Dalam hal ini lalu hams dinyatakan dengan menunjukkan sebuah periuk. Jadi ia menunjuk kepada sebuah periuk tanah dan berkata : "Apakah ini bukan periuk ?"

    Tetapi sebenarnya hal ini tidaklah tepat, bahwasanya ia mengatakan tanah adalah periuk, itu adalah pemyataan yang palsu dan keliru.

    Apa sebab peryataan itu palsu ?

    Karena, sebenamya menurut kesunyataan tanah itu adalah unsur materi yang tidak mempunyai inti sari atau lapisan, sedangkan periuk itu hanyalah merupakan suatu konsepsi atau bentuk pikiran yang tidak mempunyai inti atau lapis an, yang kosong adanya.

    Dalam menyatakan bahwa tanah itu adalah peri uk, pada hakekatnya mencoba untuk membuat lapisan tanah itu menjadi inti sari dari periuk, yang sebenarnya dalam kenyataan periuk itu adalah gambaran dari pikiran yang sarna sekali tidak mempunyai sari dari unsur materi.

    Disini nyatalah bahwa periuk yang tidak kelihatan, atau tidak ada, menjadi periuk yang ada atan kelihatan, dan tanah tersebut menjadi "atta" dari periuk, sehingga tanah dan periuk menjadi suatu bend a yang sarna, dan kesamaan dari sesuatu itu adalah kacau atau membingungkan dengan kesamaan dari benda-benda lainnya. Dengan alasan ini, maka kita menyebutkan bahwa pernyataan itu palsu. Dalam uraian ini "tanah" adalah merupakan sesuatu yang dipersamakan dengan "Lima Kelompok Kehidupan" (Paiicakkhandha), yaitu jasmani, perasaan, pencerapan, bentuk pikiran dan kesadaran, sedangkan periuk adalah merupakan sesuatu yang berkenaan dengan "makhluk" atau "aku" atau "pribadi". Persis seperti halnya tanah menjadi inti sari periuk di dalam pernyataan bahwa tanah itu periuk, demikian juga halnya bahwa Lima Kelompok Kehidupan itu menjadi "atta" atau inti sari dari makhluk atau pribadi, lalu dikatakan bahwa Lima Kelompok Kehidupan adalah makhluk atau pribadi. Ini artinya Atta.

PANJIKA





Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.