Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  Kejadian Maha Guru Dalam Sekejap Bertapa
Oleh : Maha Achariya Liansheng Huofo


KETIKA itu malam hari. Tanpa di duga-duga, ibu saya Lu Yi Ni yang sudah almarhumah datang mengunjungi saya. Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah empat tahun ibu meningal dunia. Ibu berkata pada saya,"umur berapa kamu meninggalkan Taiwan untuk pergi ke Amerika ?"

" ketika itu tanggal 16 bulan Juli, aku berusia 38 tahun" jawab saya dengan jelas dan tepat. "Jadi berapa usiamu sekarang ?". "58 tahun" jawabku sambil mengeluh. Lantas ibu bertanya lagi, "bagaimana kau lewati hari-hari ketika berdiam di Seatttle ?". "Semua itu hanyalah kejadian-kejadian dalam sekejab." Jawabku setelah tertegun sejenak. "Masih ada berapa banyakkah kejadian-kejadian sekejapmu ?" ibuku terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi.

Saya berhitung-hitung dalam hati, andaikan sebuah kejadian sekejap terjadi dalam waktu duapuluh tahun, berarti aku telah mengalami tiga kali kejadian dalam sekejap. Dan bila di tambah lagi dengan satu kali kejadian sekejap, berarti umurku akan mencapai 80 tahun. Hampir 80 tahun ! saya benar-benar menjadi terkejut.

Kembali ibuku bertanya lagi, "sanggupkah kau bertahan hidup hingga usia 80 tahun ? mengalami satu kali lagi kejadian sekejap ?" saya menjadi diam dalam seribu bahasa. Tak seorang pun sanggup memprediksi berapa lama ia akan hidup. Dan juga bila hal itu dapat dan mungkin dilakukan, lantas untuk apa ?.

Ibu melanjutkan, "kakekmu Lu Chang hidup hingga 74 tahun, dan aku 73 tahun. Coba renungkan, masih ada berapa kali lagi kejadian sekejap yang akan kau alami?" saya menjawab, "Apa benar tak akan kualami lagi?".

Ibuku (Mama Bodhisattva) memberitahu padaku, "tak sedikit orang yang tahu dan sadar bahwa waktu baginya sangatlah pendek dan singkat. Hidup manusia tidaklah lama. Hari-hari berlalu dengan cepat, sekejap saja sudah berlalu. Namun demikian, bila kita nasehati agar mau meluangkan waktu untuk mempelajari dan melaksanakan Buddha Dharma, ia berubah menjadi sangat malas, bahkan tak jarang menjadi patah semangat. Alasannya adalah bahwa waktu seharusnya dimanfaatkan untuk berkarya dan memupuk kekayaan, atau waktu seharusnya digunakan untuk menghidupi keluarga. Bila ini alasannya masih dapat diterima, tetapi tak jarang orang yang memberi lasan bahwa waktu seharusnya dimanfaatkan untuk bersenang-senang, berfoya-foya, ini sunguh celaka!. Waktu yang begitu berharga telah disia-siakan, pada akhirnya hanyalah penyesalan yang tertinggal !".

Ibu juga bertanya pada saya,"Apa yang kau lakukan bila sedang menghadapi hari panas " Jawab saya, "kalau disini biasanya saya pergi renang". "Lantas, bagaimana bila sedang dingin?". " Saya tambah satu lapis pakaian di tubuh."kalau sedang lapar, saya pergi makan, kalau sedang sakit, minum obat.

Ibuku melanjutkan, "bila sedang menghadapi hal-hal seperti yang baru aku sebutkan tadi, biasanya orang-orang hidup didunia ini tidak pernah membuang-buang waktu, danjuga tidak pernah mencari macam-macam alasan untuk tidak berbuat sesuatu yang seharusnya diperbuat. Mereka selalu segera mengambil tindakan yang tepat. Itulah kenyataan dn dampak dari situ, bahwa mereka amat praktis dalam hal menyelesaikan persoalan-persoalan mereka. Akan tetapi, satu hal yang telah mereka lupakan, mereka lupa untuk memperdalam serta melaksanakan Dharma. Dalam persoalan yang satu ini, biasanya orang menjadi panai mencari alasan untuk mengulur-ulur waktu. Mereka mengira masih banyak waktu dan tidak perlu terlalu tergesa-gesa. Sampai waktunya pasti akan ada jalan keluar. Bila demikian cara berpikir mereka, maka dengan sendirinya hasil latihan serta pelaksanaan Dharma mereka akan mengalami kemunduran. Dan pada saatnya tiba, dalam sekejap saja maut sudah di depan mata, tentu mereka tidak akan berkesempatan terlahir di alam Sukhavati, tetapi sebaliknya mereka terjerumus ke dalam neraka. Dan orang-orang semacam ini semakin hari menjadi semakin bertambah banyak.

Saya mengerti keinginan hati ibu (mama Bodhisattva)ini. Kemudian, ibuku melanjutkan nasehatnya. "peliharalah dan jagalah baik-baik saat sekejap yang kau miliki. Rawat dan jagalah sebagaimana layaknya kamu memelihara dan menjaga harta kekayaanmu yang paling berharga".

Kemudian ibuku juga berkomentar, "bagus sekali kau bisa mendapat kesempaan menjalani hidup bertapa. Tak ada yang lebih baik dan bagus daripada hidup bertapa. Tugas kerohanian hendaknya dilaksanakan secara rutin setiap hari. Sehingga kemajuan pun dapat dicapai dari hari ke hari. Sebaliknya niat-niat dan pikiran buruk harus selalu diberihkan setiap hari. Murnikah kembali energi yang telah merusak diri kita baik rohani maupun jasmani, jalani hidup ini dalam suasana batin yang tenang dan damai. Jangan pernah lupa bekal rohani untuk persiapan hari nanti, agar tidak terjadi penyesalan pada saat menjelang ajal. Karena penyesalan pada saat itu adalah penyesalan yang tak berfaedah."

Ibu melanjutkan, "usia muda, kesehatan bukanlah sesuatu yang dapat bertahan langgeng. Sebentar lagi usia tua dan rongrongan berbagai penyakit akan segera menyergap diri kita. Itu akan terjadi dalam sekejap saja". Dalam benak saya yang terpikir adalah kejadian sekejap itu. Dan memang benar, dalam sekejap saja setelah itu, ibu telah hilang lenyap dari pandangan meninggalkan gubuk kecil tempat aku bertapa". Mt/tt

Sumber :
MAJALAH CENFO



 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.