Amal luar bukan dilihat dari kaya miskin,
besar kecil, ataupun baik buruk.
Tuhan melihat ketulusan hati kita
Amal luar bukanlah tujuan sebenarnya dari pembinaan diri, ini hanya perjalanan untuk mencapai nurani sadar cemerlang, untuk mencapai kecemerlangan nurani haruslah melaksanakan amal luar, melakukan dedikasi untuk Triloka, kesempatan emas ini jangan
dilewatkan. Baik-baiklah kita mempergunakan kesempatan emas ini untuk berdedikasi demi
Triloka, demi masa depan umat manusia, jangan hanya sibuk dalam urusan keluarga, berkorban demi keluarga, ini adalah ruang lingkup yang kecil, kita tahu bahwa sekarang ini, Wadah Ketuhanan sedang melakukan proyek pembangunan rumah Guru Suci, yaitu pembangunan Patung Buddha Maitreya raksasa setinggi 72 meter, inilah kesempatan emas berdedikasi demi Triloka dan umat manusia, mari kita
sama-sama mendukung misi besar ini dengan sepenuh hati.
Amal luar adalah sesuatu yang luar biasa, kita lihat Vihara Thien Hao di Taiwan telah melahirkan seorang Bodhisatva Che Miao, beliau adalah seorang yang tidak mengenal tulisan, seumur hidup hanya tahu melaksanakan amal luar dengan sepenuh hati, beliau tidak mengenal teoritis
Dharma, tetapi kenapa bisa mencapai kesempurnaan Bodhisatva? lni karena beliau selama ini sangat melindungi
Dharma, hal ini ditunjukkan dengan selalu mengikuti pembukaan kelas Dharma, beliau pergi bukan dengan naik kendaraan, tetapi
harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sampai hitungan jam, ini semua demi ke vihara mendengarkan
Dharma, beliau selalu mendukung dengan sepenuh hati, ini berlangsung terus selama puluhan tahun. Dan dalam puluhan tahun beliau tetap teguh mempertahankan niatnya yang tulus dalam Wadah Ketuhanan, inilah amal pahala yang sejati.
Amal luar adalah merupakan sarana pendukung
untuk mencapai nurani sadar cemerlang,
melakukan dedikasi untuk Triloka dan umat manusia,
mendukung Misi penyempurnaan Buddha Maitreya
Dari contoh di atas, kita bisa melihat bahwa apapun pekerjaan yang kita lakukan di vihara, mulai dari membersihkan toilet, membantu di dapur ataupun membersihkan vihara, melakukan hal yang tidak ingin dilakukan orang lain, inilah dinamakan amal pahala. Dahulu Che Cen Ta Ti pernah menceritakan pada adik bahwa beliau pernah disuruh pergi ke Nan Cing tempat kediaman Chi Tao Cang (Che Ci Thien Cun), berangkat dari Thien Cing. Sampai di Nan Cing untuk melaporkan berita, dalam 3 hari beliau sampai di Thien Cing, maka Che Cen Ta Ti cepat-cepat berangkat dari San Tong ke Thien Cing, sampai di Thien Cing langsung disuruh berangkat ke Nan Cing menemui Chi Tao Cang, beliau pun berangkat ke Nan Cing dengan menempuh perjalanan laut, sampai di Nan Cing, Chi Tao Cang berkata, "Di Taiwan kekurangan seorang pandita, kamu cepat berangkat ke Taiwan untuk menyebarkan misi Ketuhanan di sana." Che Cen Ta Ti menerima titah tersebut dan kemudian berangkat ke Taiwan, sebelum berangkat ke Taiwan, pekerjaan yang dilakukannya selama tinggal di kediaman Chi Tao Cang adalah membersihkan vihara dan juga membersihkan toilet, pekerjaan yang tidak ingin
dilakukan oleh orang lain, beliau lakukan tanpa mengeluh, inilah amal pahala sejati, maka tidak mengherankan bila akhimya beliau bisa mencapai kesempurnaan Bodhisatva.
Hal serupa bisa kita temui pada pribadi Bodhisattva Che Miao, beliau hanyalah seorang nenek berusia 70 tahun lebih, orangnya kecil, berpenyakit dan sehari-hari hanya membersihkan toilet dan membuang sampah, satu bulan baru bisa mengumpulkan beberapa dolar, uang yang dikumpulkan dari hasil mencuci toilet di sekolah disimpan dan kemudian semuanya didanakan untuk vihara di saat ada pengumpulan dana untuk pembangunan vihara, satu sen pun tak tersisa, uang yang selama ini dikumpulkan dengan keringat, darah dan pengorbanan seorang nenek tua, semuanya diserahkan
pada vihara. Mari kita pikirkan, seharusnya beliau dengan umur yang begitu lanjut lebih pantas menikmati masa tua di rumah, tetapi
sebaliknya malah bersusah payah bekerja di toilet sekolah yang kotor dan busuk, pengorbanan yang demikian akhirnya menggugah langit dan Tuhan menganugerahkan kedudukan sebagai Bodhisatya Che Miao.
Di usianya yang lanjut, beliau terkena penyakit kanker, setiap hari harus membawa kantong infus karena kekurangan nutrisi, dengan kondisi
demikian beliau tetap pergi ke vihara mendengarkan Dharma, berjuang melindungi
Dharma, keteguhan hatinya membuat orang-orang hormat dan salut.
Menelusuri semua fakta di atas, kita bisa melihat bahwa yang namanya melaksanakan amal luar bukan berarti harus memiliki uang yang banyak, punya banyak skill, ini semua hanyalah kulit luar saja, yang terpenting ialah ketulusan kita, Tuhan paling
jelas melihat hati kita dan Tuhan ingin kita mempertahankan ketulusan kita. Bila kita selalu memilih mana
pekerjaan yang lebih berpahala dan menghindari pekerjaan yang di anggap tidak berpahala, maka ini telah menghina hukum kebenaran, berpaling dari kebenaran nurani, amal luar yang disertai penilaian dan sifat
membedakan seperti ini adalah satu kesalahan besar.
Ini tidak sesuai dengan nurani, tidak sesuai dengan hukum
alam, mari kita pahami kebenaran ini dan kemudian menuntun orang lain untuk memahami kebenaran ini agar mereka tidak salah langkah. Semua pencapaian Buddha dan Bodhisatva dalam Wadah Ketuhanan bukanlah orang yang berpengetahuan
tinggi, orang besar ataupun punya kemampuan lebih, mereka hanya orang biasa dengan hati yang tulus, inilah kunci utama keberhasilan pembinaan mereka.
Sekali lagi kita harus mengingat bahwa ketulusan adalah yang terpenting, di Wadah Ketuhanan, hal apa saja bisa kita lakukan asalkan itu bermanfaat bagi Wadah Ketuhanan, kita jangan menganggap remeh pekerjaan menyapu dan membersihkan toilet, ini juga berhubungan dengan misi besar penyelamatan Triloka, kita membersihkan pelita suci, menata buah sajian dengan baik, melap meja kursi dengan bersih, semua daftar pekerjaan di atas berhubungan dengan Misi Akbar
Penyempurnaan Triloka.
Kita adalah orang yang beruntung karena diberi kesempatan membantu Buddha Maitreya melakukan misi penyempurnaan, dan untuk melaksanakan misi ini haruslah
melakukan hal-hal yang nyata dan wajar. Contohnya jika ada orang datang ke vihara dan melihat keadaan vihara.
Untuk melakukan amal luar yang terpenting ialah ketulusan kita. Tuhan paling jelas melihat hati kita dan Tuhan ingin kita mempertahankan ketulusan kita yang serba tidak beres, maka ketika kita berkoar-koar tentang Bumi Sukawati, orang lain mana mau percaya, sebaliknya bila vihara kita bersihkan dengan rapi dan bersih, orang lain begitu melihat semuanya serba bersih sampai dapur juga begitu bersih, niscaya mereka akan merasa nyaman, inilah realisasi awal dari sebuah Bumi Suci. Di sisi lain bila seseorang masuk ke bakti sala dan melihat meja persembahan, pelita suci yang kotor dan berdebu, apakah orang akan percaya akan Bumi Suci yang indah dan tenang, jelas tidak akan, karena itu sekali lagi kita bisa melihat sudut istimewa di dalam pelaksanaan hal-hal kecil seperti memasak dan membersihkan vihara, ini semua adalah langkah awal dari misi penyempurnaan triloka.
Ini juga disebut unsur sebab; bila kamu tidak menanam unsur sebab, akankah unsur akibat akan berbuah, bila kamu tidak melakukan hal-hal kecil terlebih dahulu, akankah hal besar seperti pembentukan bumi suci akan terwujud, semua harus dirintis dari langkah per langkah baru bisa berhasil, bukankah bermimpi bumi suci di nirwana bisa berpindah ke dunia dengan sendirinya.
Setiap tugas berkaitan dengan kepentingan umum
dan kepentingan Wadah Ketuhanan,
ini disebut pelaksanaan amal pahala sejati
Pada waktu adik berumur dua puluh tahun, adik tinggal di vihara Che Cen Ta ti, vihara tersebut sangat rapi dan bersih, setiap hari selalu ada pembersihan, peralatan yang ada pun sangat sederhana, Wadah Ketuhanan di sana terbina dengan sangat disiplin. Che Cen Ta Ti adalah pribadi yang tegar dan disiplin, beliau sangat mengutamakan kebersihan vihara, bila vihara bersih maka hati kita juga bersih, ini disebut kebenaran "aku dan benda adalah satu raga" Karena itu, di dalam setiap pelaksanaan tugas
haruslah mementingkan kepentingan Wadah Ketuhanan, ini disebut amal luar. Kita tidak perlu terus kagum
dan iri atas kemampuan orang lain yang bisa berceramah, lalu mengganggap diri sendiri tidak mampu dan bersikap pesimis, ini adalah pandangan yang salah, banyak contoh Buddha dan Bodhisatva yang semasa hidup tidak pintar berceramah, lalu dari mana datangnya pencapaian tersebut? Mereka hanya berusaha
melakukan apa yang menjadi kewajiban nuraninya. Kenyataannya bila kita pintar berceramah tetapi tidak melakukan kewajiban sesuai hati nurani, maka pencapaian
Maha Dewa pun akan sulit.
Kita jangan rnerasa bila melakukan hal-hal kecil, orang lain tidak akan mengenal dan memperhatikan kita sehingga kita akan merasa apa yang kita lakukan tidak ada artinya, ingatlah bahwa Tuhan melihat dengan jelas segala yang kita lakukan, apabila kita sedang memasak di dapur, sendirian menjaga vihara, sendirian membersihkan vihara, di sudut manapun kita bekerja dan berusaha, Tuhan akan melihat dan mengenal kita, ini barulah mulia. Bila kita dikenal banyak orang, itu tidak membantu kita mencapai kecemerlangan nurani, tetapi bila dikenal Tuhan maka Tuhan akan selalu membimbing kita mencapai kecemerlangan nurani.
Suatu hari ada telepon dari Vihara Thien Hao memberitakan bahwa ada seorang pelaksana mencapai kesempumaan Bodhisatva. Saat itu adik berpikir, seorang pelaksana bisa mencapai kesempurnaan Bodhisatva, padahal seorang pandita saja sulit untuk mencapai kesempurnaan seperti
itu, dari sini kita bisa mengetahui bahwa apa yang ada di luar bukanlah sebuah jaminan kesuksesan dalam pembinaan.
Bila kita bersikap egois, suka memilih pekerjaan, menganggap tugas vihara sudah
dikerjakan orang lain dan tidak ada lagi yang perlu dikerjakan, ini berarti tidak mengerti pelaksanaan amal luar sehingga bisa timbul pandangan salah seperti di atas. Kenyataannya vihara ada banyak tugas yang bisa dikerjakan, dan tidaklah perlu dipanggil oleh senior atau pandita baru dikerjakan.
Dalam membina niat yang paling utama,
setiap tugas yang kita lakukan adalah demi penyempurnaan Triloka
Niat dalam melakukan sesuatu adalah yang terpenting dan niat kita haruslah diarahkan demi penyempumaan Triloka, kita lihat Sesepuh Li (Hui En Ku Fo) di Korea, beliau adalah orang yang berpuak pada kebenaran dan melakukan tugas dengan sepenuh hati. Viharanya sangat
sederhana, tapi pelita sucinya sangat bersih dan mengkilap hingga menyilaukan mata, ini mencerminkan hatinya yang bersih dan suci, maka tidak mengherankan bila beliau mencapai kesempumaan Bodhisatya. Sebaliknya bila pelita suci kita kotor dan berminyak berarti hati
kita juga demikian. Yang Arya Hao Che Ta Ti sering berpesan, "Hal hal kecil haruslah dilakukan dengan baik dan sepenuh hati agar kelak bisa melakukan
hal-hal besar". Orang yang melakukan hal-hal kecil dengan baik berarti sedang melatih nuraninya untuk lebih bersinar cemerlang.
Penerjemah : Heni Surianti.Bd.S.
Sumber : Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia