Ini Secara Maksimal Tiada Yang Tidak Terlingkupi,
Secara Minimal Tiada Tidak Tertembusi
Saudara jangan mengira bahwa Petunjuk Inisiasi yang ditransmisikan
Dewi Mahaguru Suci tersebut tidak berwujud. la secara maksimal tiada yang tidak terlingkupi, dan secara minimal tiada yang tidak tertembusi. Kekosongan dalam diriku, kekosongan
segala makhluk dan benda, kekosongan segala bentuk dan wujud, kekosongan tiga puluh tiga alam, hingga kekosongan yang tiada batas, semuanya tiada wujud dan bentik, namun kekosongan ini adalah satu kesatuan dengan langit, bumi, segala makhluk dan benda yang berwujud. Memahami hal ini, kita akan menghayati kemuliaan perilaku cangkir
teh. Dengan menghayati kemuliaannya secara sungguh-sungguh, secara otomatis kita akan merealisasikannya.
Cangkir Teh Memang Memiliki Aku dan Wujud
Namun Perilakunya Tiada Aku dan Tiada Keinginan
Langit, Bumi, segala makhluk dan benda dalam alam semesta ini tiada satu pun yang bukan bagian diriku. Siapa itu
cangkir teh? Aku. Siapa babi? Siapa pula sapi? Siapa itu anjing? Aku. Kedengarannya tidak
enak! Kita sebut saja yang lebih bagus. Siapa itu para Buddha, Bodhisatva dan Nabi? Aku. Langit itu siapa dan bumi siapa pula? Aku. Karena itu, tiada sesuatu di alam semesta
yang bukan jasmaniku. Semuanya adalah aku. Kemudian, dimanakah nilai luhurnya? Di dalam diriku. Lihatlah pada Petunjuk Inisiasi dalam diriku ini, kesunyataan sejati adalah keberadaan mukjizat, keberadaan mukjizat itulah
kesunyataan sejati. Emanasi Roh Suci Tuhan yang sejati bersatu padu dengan jasmaniku yang palsu. Yang sejati adalah yang palsu, yang palsu itulah yang sejati. Esa adanya. Namun cangkir teh tidak mempunyai roh, dan tak bisa bergerak lagi, ia palsu atau sejati? Sejati padahal ia palsu, mengapa kita mengatakan ia sejati. la telah bersatu antara sejati dan palsu. Meski ia mempunyai aku dan berwujud, namun perilakunya tiada keakuan. Inilah keagungan Petunjuk Inisiasi yang ditransmisikan
Dewi Mahaguru Suci!
Tiada Keinginan dan Keakuan dari Cangkir Teh
Itulah Penguasa Sejati Laksa Roh dan Kehidupan
Saudara se-Ketuhanan, dalam membina dan melaksanakan Ketuhanan, apakah Kuasa Firman Tuhan itu
luhur? Apakah kita semua menaati Firman? Satupun tidak. Sungguh malu! Bahkan kita tak sebanding dengan sebuah cangkir. Cangkir teh senantiasa bertanggung jawab dan memelihara kepercayaan pada tugasnya. la mendahulukan sikap 'tak bisa' daripada sikap 'bisa'. Mendahulukan tiada keinginan dan keakuan daripada berkeinginan dan keakuan. Memberi tanpa
bahasa. Langit tidak berbahasa, bumi tak pernah berucap kata dalam cangkir teh pun diam tak bersuara. Walaupun cangkir tiada bahasa dan tak berkemampuan, namun ia berkemampuan...
Sumber : Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia