|
Wahai pengabdi, dikala engkau
menderita,
bukan hanya engkau yang menderita, melainkan LAOMU juga ikut menderita bersama. Ketika engkau bersedih, LAOMU juga bersedih. Ketika orang-orang menghinamu, menyakitimu, orang-orang juga sedang menghina dan menyakiti LAOMU. Adakah engkau menyadari kenyataan agung
ini, betapa LAOMU bersamamu dari saat ke saat...
Yang Suci Kao San
Inilah kemuliaan seorang pengabdi, betapa LAOMU menyertainya, dari saat ke saat. Ketika seorang anak memutuskan untuk menjadi seorang pengabdi, pada saat itu berarti penyerahan total hidupnya kepada LAOMU.
LAOMU-lah yang mengatur hidupnya. Berarti LAOMU menyertainya dari saat ke saat...
Adalah sebuah kenyataan bahwa perjalanan hidup kita sebagal seorang pengabdi bukanlah jalan yang mulus dan lancar. Ada saja yang datang menghadang dan merintangi. Ada kalanya kita diberondong oleh berbagai macam isu dan fitnahan atau orang meremehkan kehadiran kita sebagai pengabdi. Ketika kita
berceramah, banyak yang tak mau mendengar karena usia kita yang masih terlalu
muda atau karena keterbatasan diri kita. Ada kalanya keberadaan kita tak dianggap atau kerja dan ide kita tak dihargai sehingga membuat kita sulit untuk menegakkan kepala. Apa yang harus kita lakukan dalam keadaan seperti ini?
Ketika kita harus sendiri menjalani tugas
dari sebuah vihara. Tak ada yang memperhatikan. Segala sesuatunya dikerjakan sendiri. Tak ada teman untuk berbagi; tak tak ada teman untuk bercanda dan bergurau. Tak ada teman untuk saling memotivasi. Yang ada adalah kesendirian dan kesepian. Saat menghadapi situasi seperti ini, apa yang harus kita lakukan?
Belum lagi desakan keluarga yang tidak menyetujui jalan pengabdian yang kita pilih. Tak ada satupun
anggota keluarga yang mendukung, bahkan terus mendesak kita untuk pulang dan keluar dari jalan pengabdian. Ada juga yang berusaha mencarikan jodoh bagi kita. Ada juga yang mendesak kita untuk bekerja di luar, karena dianggap kehidupan mengabdi tak menjamin kebahagiaan dan kesejahteraan di hari tua. Apa yang harus kita lakukan dalam keadaan seperti ini?
Ditambah lagi pandangan masyarakat yang menganggap
kita bodoh karena telah memilih jalan hidup mengabdi. Hidup seakan tak ada masa depan. Kehidupan suci yang kita lalui dianggap sebuah pelarian dari masalah
kehidupan. Bahkan kita dianggap sebagai orang yang memilih jalan hidup mengabdi karena putus cinta, karena malas, karena tak punya masa depan di duniawi. Semuanya membuat telinga menjadi merah mendengarnya. Saat menghadapi semua ini, apa yang kita lakukan?
Begitulah kenyataan yang harus dihadapi sebagai pengabdi. Lalu
bagaimana reaksi kita menghadapi semua ini'? Apa yang harus kita lakukan? Apakah semua ini
membuat kita menjadi sedih dan putus asa? Apakah semua ini membuat kita menjadi patah semangat dan akhirnya mundur dari jalan pengabdian?
Yang Suci Hao Che Ta Ti pernah bersabda, "Baringkanlah kepalamu kepada LAOMU, bagikanlah kesedihanmu kepada
LAOMU dan biarkan LAOMU mengobati luka hatimu dan menguatkan dirimu karena LAOMU
mencintaimu" Jangan berpikir bahwa saya tak memiliki masa depan, saya adalah orang yang tak berguna, atau saya tak akan dipercayai lagi atau saya tak akan diberi tugas atau tanggungjawab lagi oleh atasan. Tak seorangpun yang berhak menentukan perjalanan hidup kita kecuali LAOMU dan diri kita sendiri. Berkatalah di dalam hati, "LAOMU, aku
pasrahkan hidupku kepada-Mu. Kutahu ENGKAU tidak akan memutuskan jalanku, ENGKAU tidak akan menghancurkan masa depanku." Maha
Sesepuh Cou berkata, "Kita masih bisa bernafas berarti
LAOMU masih mencintai kita. Cinta LAOMU kepada kita sudah lebih dari cukup."
Biarlah jika atasan atau siapapun tidak menyayangi dan mengasihiku. Semua itu tak penting. Yang penting LAOMU menyayangiku.
Memang sebagian besar usia kita masih muda. Sehingga
masih sering berbuat kesalahan karena tak punya
pengalaman. Maha Sesepuh Wang berkata, "Bangkitlah,
.
tidak usah bersedih. Kesalahan yang terjadi itu hanya kamu belum berpengalaman." Siu tao
harus belajar dari pengalaman-pengalaman, jangan belum apa-apa kita sudah merobek buku
kehidupan kita sendiri, Kita lari dari kenyataan dan mundur dengan sebuah pikiran
bahwa orang-orang yang menyakiti kita dan memfitnah kita bisa
menyesali perbuatannya, ini adalah pikiran. yang salah. Apapun alasannya, kalau kita sudah keluar dari vihara, maka itu adalah kekalahan. Bangkitkan
diri, jangan sampai kalah dan mundur. Keterbangkitan pangkalnya datang dari hati
yang kuat dan dasarnya adalah LAOMU, Khou Sou-lah.
Ketika Ibunda Suci Parinibbana,
tinggallah Yang Arya sendiri. Tak banyak yang mendukung beliau. Bahkan banyak sesepuh yang
senior dan para pimpinan mencemoohnya, memfitnahnya,
bahkan menuduhnya sebagai pencuri dan serigala. Tetapi sedikitpun Beliau tak membalas. Banyak pimpinan yang menolak kehadirannya. TinggaIIah
Yang Arya dalam kesendiriannya. Tapi Beliau tak putus asa. Yang Arya tahu, LAOMU
bersamanya, Buddha Maitreya menyertainya, dan She Cun She Mu mendukungnya. Walaupun
beliau merasa
sangat sedih, namun kesedihan itu bukanlah kesedihan akan jalan sulit yang harus ditempuh
Beliau. Kesedihan itu hadir karena memikirkan diri sendiri yang belum bisa melaksanakan
tanggung jawab yang diamanatkan Ibunda Suci dengan baik. Dalam kesendirian dan kesedihannya, Beliau berdoa dan khou sou, "LAOMU, aku tahu aku tak sendiri menjalani semua kesulitan ini karena Engkau senantiasa menyertaiku dari saat ke saat." Inilah yang membuat Yang Arya semakin kuat,
tak putus asa dan terus menerus berusaha walaupun beribu kesulitan menghadang. Sampai tubuh lemah, letih, dan
sakit bahkan ketika harus merangkak, Yang Arya tak melupakan khou sou.
Begitu juga seharusnya kita sebagai seorang
pengabdi. Meneladani Y.S. Hao Che Ta Ti dalam membina. Kalau kita ingin rnempunyai kekuatan
spiritual seperti Beliau dan memberi kekuatan pada umat, atau membuat orang mendapatkan sesu,
menghadirkan LAOMU dalam diri. Bukalah hati kita
. .
sepenuhnya untuk kehadiran LAOMU dengan khou sou. Khou sou adalah saat kita
berkomunikasi dengan LAOMU. Dengan khou sou-lah kita menjalin hubungan erat dengan LAOMU. Begitu eratnya sehingga tak mungkin untuk dipisahkan. Sehingga LAOMU ada dalam hatiku dan aku
ada dalam hati LAOMU. Inilah hidup yang penuh dengan kekuatan dan kedasyatan.
Saat kita dalam kesepian dan kesendirian,
Khou Sou cian berdoalah, "LAOMU, kutahu aku sendiri di sini. Aku
. . tak kesepian di sini. Karena kurasakan ENGKAU hadir di sini bersamaku...". Pengabdi yang menghadapi kesepian yang
hebat pasti mengalami kepekaan yang lebih dalam terhadap LAOMU. Karena di saat sepi dan hening itulah, kita-rasakan kedekatan kita dengan LAOMU. Kita rasakan
kerinduan kita kepada LAOMU.
Suka duka, rintangan, kesakitan harus kita hadapi. Dengan khou sou, pasti kita bisa menghadapi semua kesulitan. Karena dalam kesulitan, kita melihat LAOMU sedang membimbing kita untuk tumbuh dan berkembang. Dalam kesulitan, LAOMU sedang membimbing kita menjadi pengabdi yang sabar dan rendah hati. Dalam rintangan, LAOMU
selalu membimbing kita untuk menjadi pengabdi yang tegar dan kuat. Karena jangan mudah menyerah karena LAOMU sedang membimbingmu
Jangan hanya sibuk dengan badan jasmani, sesibuk apapun,
harus ada komunikasi dengan LAOMU dari hati ke hati. Kesepian, cobaan, sakit dan lain sebagainya dalam
hidup mengabdi semua akan terasa ringan kalau di dalam diri kita ada pembinaan spiritual,
ada komunikasi dengan
LAOMU. Lakukan itu dengan kepasrahan dan kerendahan hati. Memang kita akan merasa sakit dan tidak-adil tapi kita
harus percaya LAOMU mengatur segalanya. Kita hanyalah makhluk yang kecil, sedangkan
keseluruhan alam semesta dikendalikan oleh LAOMU.
Seorang pengabdi walaupun diterpa oleh badai apapun tapi hati
harus tetap kuat. Tambatkan hati kita pada LAOMU. Saat kita memasrahkan diri kita pada LAOMU itulah saat yang sangat luar
biasa. Kalau kita selalu sendiri, tak akan ada kekuatan dari LAOMU. Tapi kalau kita rajin berkomunikasi dengan LAOMU, merasa LAOMU ada dalam dirimu maka kekuatan itu sangat besar dan para
umat pun akan merasakan hal itu.
Tambatkan hati kita pada LAOMU. Saat kita memasrahkan diri kita pada LAOMU itulah saat yang sangat luar biasa
Kalau berpegang pada kekuatan sendiri dalam menghadapi tantangan-tantangan maka kita tidak akan kuat, tapi kalau berpegang pada tangan LAOMU, kita akan menjadi kuat.
Karena itu wahai pengabdi, Janganlah engkau sedih karena tugas berat dan sulit, jangan takut pada segala
cobaan dan ujian, jangan putus asa karena rintangan yang bertubi
- tubi. Yang terpenting, kalian tidak lupa khou sou kepada LAOMU Mama.
Bersujudlah kepada-Nya dengan segala kelemahan dan kesedihanmu. LAOMU pasti mengasihimu. Sebab
LAOMU-lah yang paling menyayangimu. LAOMU
lah yang senantiasa bersamamu dari saat ke saat. (Hening)
Sumber Inspirasi : Ceramah Pdt. Halim Zen Bodhi dalam Kelas Pengabdi
Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia
|