|
Mengapa sebagian besar umat kita dalam pertengahan jalan pembinaannya bisa mandek dan bahkan menghilang? Salah satu sebabnya adalah karena diganggu oleh karma buruknya. Sebenarnyajikakita rajin berbakti puja dan mendengarkan dharma, karma buruk tidak akan mudah mengganggu kita. Sesepuh sudah menyampaikan saat di pusara Sesepuh Maitreyawira bahwa sebagai manusia, kepergian kita harns meninggalkan kenangan yang dapat dikenang oleh manusia barnlah bernilai. Kalau hidup kita hanya berkonsentrasi hanya pada
urusan sandang, pangan, papan dan . transportasi maka pola hidup kita tidak .
lebih bernilai dari saudara kita yang dari alam hewan. Salah satu perbedaan yang sangat jelas antara manusia dengan makhluk lain adalah adanya potensi kesadaran yang lebih tinggi. Hanya manusia yang dapat mencapai tingkatan kes'adaran yang tertinggi, bebas leluasa dan tidak lagi dikurung oleh karma buruk. Sedangkan makhluk lain, mereka hidup selalu dimangsa oleh makhluk lain dan selalu berada dalam tumimballahir..
Sebagai insan Maitreya yang telah mendapatkan Inisiasi Sejati, kunci potensi kesadaran ini telah
dibuka untuk selanjutnya ditindak-'
lanjuti dengan pengamalan dan tindak nyata. Pengamalan nyata yang akhirnya akan membawa kita kepada kecemerlangan nurani. Salah satu
perwujudan nyata hati nurani adalah tenggang rasa, tidak ~ ingin dilukai ~leh 'orang lain dan
. kita juga tidak mau mencelakai orang.
lain. Sisi lain adalah kita juga harus bertanggung jawab penuh atas kewajiban kita. Sebagai seorang perumah tangga harns bertanggung jawab pada keharmonisan keluarganya dan sebagai urn at Maitreya kitajuga memiliki tanggungjawab atas pembangunan vihara dan perkembangan Wadah Ketuhanan kita.
Kehidupan manusia sebagian besar juga sering terbentur pada kesulitan. Perlu disadari setiap manusia lahir membawa muatan karma. Muatan karma inilah yang merupakan akar musabab dari semua yang kita terima
. dalam hidup ini. Karena kita belum bebas dari muatan karma mau tidak mau kita masih harus bergelut dengan berbagai kepahiian, kekecewaan dan ketidakpuasan. Kenyataan inilah yang harus diinsafi untuk menetralisir dan menghadap'i semua tagihan karma yang ada di de pan mata. Apapun yang menimpa diri kita terimalah dengan hati yang lapang tidak perlu berkeluh
kesah. Bila menemukan kondisi yang kurang lancar tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Lu Tzuo pernah bersabda bahwa, "Nasibku pad a hakekatnya adalah penuh lelusasa, sesungguhnya ada di tangan aku, tidak di tangan langit". Dari kalimat ini hikmah yang tersirat menunjukkan bahwa karma sedang bekerja. Artinya setiap perbuatan memiliki konsekuensinya sendiri-sendiri dan apa yang telah dikerjakan akan selalu mengandung akibat yang harus diterima. Bukim LAOMU yang mengatur, kita sendirilah yang menentukannya. Misalnya terigu hendak diolah menjadi adonan apa sepenuhnya terserah pad a kemauan 'kita. Begitu juga dengan nasib kita, kita mau berusaha hidup layak atau tidak tergantung kita semua karena perbuatan kita sendiri. Fenomen a kaya atau miskin hanyalah sementara dan yang abadi hanyalah roh suci kita. Kalau dilihat secara lebih mendalam lagi kondisi jalinan hubungan manusiajuga semu. Karena itu.
Mustika Dharma Maitreya yang telah diperoleh jangan disia-siakan. Jika pembinaan tidak serius juga percuma. Membina diri adalah membina pribadi, mana yang kurang beres segera dibenahi dan disempurnakan. Manusia tidak ada yang sempurna semuanya memiliki titik lemah, tidak ada manusia yang tanpa mendalami dharma dapat mencapai kesadaran. Oleh karena itu kita perlu melalui tahap-tahap pembinaan diantaranya adalah membuka wawasan dengan mendengarkan dharma. Dengan demikian da"'pat membuka mata kearifan dalam memilih akan menjalani pola pembinaan yang tepat. Kembali berada dalam kehidupan ini adalah cermin dari kehidupan sebelumnya yang tidak membina sampai tun13s. Kita telah menderita selama 60.000 tahun, jika tidak memulai dari sekarang untuk sungguh-sungguh menuntaskan semua piutang karma maka penderitaan akan tems berlanjut. Sudah mendapatkan ajaran. Ketuhanan bukan berarti semua urusan telah selesai, lalu hanya dengan berleha-Ieha dapat mencemerlangkan hati nurani. Oleh karena itu kita hams bekerja keras merobek kulit muka sendiri, memangkas gengsi, pembinaan yang anginanginan. Memaksa diri untuk lebih serius dalam membina.
Apapun yang menimpa diri kita terimalah dengan hati yang lapang tidak perin berkelnh kesah. Bila menemnkan kondisi yang knrang lancar tidak pernah menyalahkan siapa-siapa
Orang yang membma akan tercermin dari perilakunya. Pribadi mereka yang telah tergembleng nuraninya akan terus tergerak untuk mengisi hidupnya
dengan amal bajik
Nabi Ceng Cu pemah menulis aksara 'Membina dan menjabarkan makna yang terkandiing di dalamnya.' Dalam sehari kita hams mengintrospeksi dan mawas diri se
ban yak 3 kali dan ada hal penting yang hams kita cermati. Pertama, apakah saya setia melakukan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab saya, misalnya kita bekerja sebagai karyawan atau bekerj~ dalam suatu organisasi. Kalau kita tinjau dalam lingkungan vihara, sebagai umat yang diberi tugas oleh sesepuh atau pandita apakah telah dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab atau tidak. Jika hanya dikerjakan demgan asal-asalan dan bermuka-muka berarti tidak bertanggung jawab dengan baik. Mampu bertanggung jawab adalah wujud kesadaran riurani dan kesetiaan. Jika pekerjaan tidak dap'at diselesaikan dengan baik berarti hati nurani masih suram. Kemudian yang kedua, apakah dalam pergaulan ki13 dapat menjaga kredibilitas dan dapat dipercaya atau tidak. Ini lingkupnya luas, ucap kata kita apakah sering membual, tidak jujur dan dalam hal keuangan apakah jujur atau tidak. Kalau tidak beres ini menandakan nurani kita masih suram
Poin ketiga menyangkut pengamalc kebenaran dalam kehidupan ki sehari-hari. Adakah semua nia pikiran, tindak-13nduk dan perila~ kita sehari-hari sema13-ma13 dilal daskan oleh kasih? Realisasi kas dalam kehidupan kita adalah ujur tombak dharma Maitreya. Bakti puj bertobat dan bersujud adalah pijakan dasar dalam merealisasika kasih y,ang tulus dalam kehidupa kita. Jika kita enggan berbakti puj enggan bertobat dan enggan bersuju bagai-mana ketulusan dapat lah dalam diri kita. Bagaimana kearifa kita dapat terbuka? Kita dapat melih: pembinaan para bhikku yang senar tiasa menjaga hati yang tulus denga membaca paritta. Demikian jug halnya dengan kita, ketulusan ha dapat kita tempa danjaga dalam sujU( Bersujud adalah salah satu jalur untuk berkontak dengan LAOMU. Karen itu berbakti puja, bertobat dan bersuju adalah pondasi yang terpenting dalar pembinaan kita.
Ini adalah beberapa PR sehari hari dari Nabi Ceng Cu. Mengapa Beliau melakukan ini? Jika baju kita kotor dapat kita cuci dengan deterjer lalu bagaimana dengan nurani? Tiada deterjen yang seampuh pertobatan Hanya dengan bertobatlah bam dapa menguraikan dan mencuci kekotoral batin. Seperti yang diteladankan aiel junjungan kita Maitreya, setiap har bertobat. Buddha Maitreya dengaJ dharma mukjizat-Nya memungkinkal semuanya dapat diatasi. Namun jik: tidak bertobat maka kekuatan dharm: gaib-Nya tidak bekerja sebaliknyc kekuatan karmalah yang menguasai Makna dari doa bertobat hams di dalami dan dicermati sehingga dapa sungguh-sungguh membawa per baikan pribadi, menjadi pribadi yang! bemurani secara utuh. Sekali lagi, poh pembinaan yang ditawarkan Buddha, Maitreya sangatlah praktis, ringkas dan mudah. Melulu berkaitan dengan bagaimana mewujudkan kesad~ran nurani. Ketiga poin tadi merujuk ke
satu hal yaitu kesadaran nurani.
Ini semua merupakan panduan ke nirwana. Membinalah secara berkelanjutan. Membina adalah di dahtln dan pengamalannya akan terlihat dari . luar. Orang yang membina akan tercermin dari perilakunya. PribacJi ihereka yang telah t~rgembleng nuraninya akan terus tergerak untuk mengisi hidupnya dengan amal bajik. Mampti. berbuat apa untuk membantu vihara langsung dilaksanakan. Dalam bertugas tidak pemah lepasdari mawa~ diri sehingga berbakti puja, bertobat 'dan bersujud selalu menjadi bagian dalam kehidupannya sehari-hari. Membina dirijangan pernah mengandalkan intelek tetapi selalu kembalilah ke Hati Nurani. Gengsi, harga diri yang dipatok terlalu tinggi akan ,menyulitkan diri mengakui kelemahan dan kekurangan dalam setiap tabiat dan perilaku yang melekat dalam diri kita. Batu sandungan inilah yang banyak menjatuhkan kita dalam pembinaan.
Sehingga tidak sedikit yang memilih tidak mau ambil peduli lagi dengan segal a sesuatu yang berhubungan dengan vihara. Tidak lain karena merasa harga diri terusik, merasa kurang mendapat penghargaan. Jika demikian ujung cerita jalan pembinaan kita tentunya sangatlah disayangkan. Oleh karena tiada henti-hentinya Sesepuh menghimbau kira mencambuk diri sendiri untuk menyelesaikan utang karma sampai tuntas. Bangkitkan kesadaran diri dan di saat yang sarna juga bangkitkan ,kesadaran orang lain.
Nabi Khong Hu Cu .pernah bersabda, "Jika kesadaran diri telah mencapai tingkat kesadaran tertentu, upayakanlah untuk membimbing orang lain ke tingkat kesadaran yang sarna". Inilah nafas hid up bodhisatva. Misi yang san,gat sederhana, menolong diri sendiri berarti menolong orang lain. LAOMU tidak akan berbicara langsung membimbing urn at manusia namun menggunakan mulut kita untuk membabarkan.cintaNya yang maha kasih. Kalau dapat membabarkan .kasih LAOMU, dengan sendirinya berkah akan mengalir dalam setiap jejak pembinaan kita.
Bekerja dalam dunia perusahaan juga menuntut dedikasi,
jika ulet, sepenuh hati dan mampu bekerja keras demi kemajuan perusaha:an akan mendapat bonus yang besar dan jalan karir yang muius. Dari prestasi ini, maka promosi kenaikan
pangkat bukanlah sesuatu yang sulit. Sebaliknya .jika bekerja asal-asalan maka upahnya pun sekedarnya. Ini adalah fakta, demikian juga halnya dengan pembinaan kita berkah LAOMU yang tak berkesudahan men anti kita jika memang mampu bersungguh-sungguh dalam membina. Kemudian sebagai orang yang sadar cemerlang, apa yang telah dicapai akan berusaha orang lain juga mencapai tingkat yang sarna. Diri se!:ldiri telah menegakkan ikrar, maka tiada putusputusnya berusaha membimbing orang lain agar tergerak untuk menegakkan ikrar.
Jika diri sendiri masih makan serampangan, mau menggugah orang, lain untuk bervegetarian hanya akan ditertawakan oleh orang lain. Satu hal yang sangat penting, kalau kita ingin mendalami pembinaan kita hams mulai bervegetarian. Sebagian orang masih belum tergerak hatinya tidak lain adalah karena belum mengerti. Aksi nyata yakni membabarkan hukum kebenaran kepada orang lain. Dan kita berbuat amal juga merupakan perwujudan upaya untuk mengimpasi dosa karma. Ada tiga hal yang sangat hakiki, yaitu berbuat amal sesuai kemampuan, membabarkan dharma kepada orang lain dan mengajak orang untuk mendapatkan dharma Maitreya. Kalaupun telah berkarya jangan membuat diri lupa diri, merasa diri telah banyak menanam kebajikan dan lupa akan besar utang dosa karma buruk yang telah ditanam selama ini. (ct)
Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia
|