|
YANG PERLU DIKETAHUI OLEH ORANG YANG AKAN MENINGGAL
Keberadaan sesuatu di alam semesta ini adalah hasil dari sutu sebab, dan boleh dibilang kehadirannya hanya khayalan belaka, karena segala sesuatu yang tercipta sifatnya tidak kekal. Itulah sebabnya dikatakan, bila ada karma yang bersesuaian (hetupratyaya) yang berkumpul, akan terbentuk keberadaan yang khayal dan bila karma yang bersesuaian terpencar, keberadaan yang kh ayal pun lenyap. Oleh karena itu, sejak dahulu hinga sekarang, segala sesuatu hanyalah bayangan bunga dalam cermin, bayangan bulan dalam air, amupun uap yang melintas didepan mata.
Badan bagaikan gelembung air, bayangan yang rapuh, tua, lapuk, sakit, mati. Dukha, sunyata dan anitya. Ini adalah proses perubahan kelahiran dan kematian yang wajar.setiap saat perubahan berlangsung terus. Oleh sebab itu perjalanan hidup manusia, pasti akan sampai pada titik akhir, siapapun tidak dapat menghindarinya. Dunia hanyalah bagaikan losmen dan kita bagaikan tamu yang menginap sementara di dalam perjalanan.
Kehidupan manusia hanya beberapa puluh tahun saja, bukan saja timbul dan tenggelam dalam nafsu kebendaan, nama dan keuntungan, suka duka dalam bertemu dan berpisah, bertemu dengan yang dibenci, berpisah dengan yang dicinta, mangalami bencana alam, kerusuhan manusia, kehidupan yang tertekan, kegelisahan dan ke khawatiran, bergelut dalam penderitaan, namun juga masih harus mengalami pertukaran badan dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, perputaran sebab akibat, terlunta lunta sepanjang masa, timbul dan tenggelam dalam caturyoni (empat macam kelahiran), berputar-putar dalam lima jalur kehidupan, kelahiran dan kematian yang bagaikan mimpi. Kita telah mengalami berbagai penderitaan yang demikian dalam, tetapi masih juga belum sadar !.
Hendaknya kita selalu ingat, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah tidak kekal, sesuatu yang muncul akan musnah, maka dikatakan hanyalah mimpi maupun khayalan belaka. Dan perlu diingat pula, bahwa penderitaan tiga keidupan yang rendah mudah dimasuki, tetapi sangat sulit untuk keluar dari situ. Alam manusia penuh kejahatan dan kekeruhan, kebahagiaan surga cepat berakhir, namun sangatlah untuk menghindari karena daya tarik karma. Jika harus tenggelam kembali dalam triloka, sia-sialah kita menerima kelahiran dan kematian, sehingga akan terus mengalami tumimbal lahir yang tiada habisnya.
Sadarlah segera, tinggalkanlah semua persoalan dan hal di luar diri kita. Jangan biarkan keinginan dan keterikatan muncul dalam pikiran, tetapi dalam sepenuh hati mengulang nama Buddha Amitabha dan bertekad lahir di sukhavati di sebelah Barat. Saat menjelang kematian pasti dapat mengundang Buddha Amitabha dan para suciwan datang untuk menjemput kita, sehingga segera terlahir di alam Buddha Amitbha yang suci bersih. Sejak itulah kita akan meninggalkan alam awan dan memasuki alam kesucian, memiliki rddhivasita (kesaktian) yang suci bersih. Usianya tanpa batas, terbebas dari kesucian dan kematian di triloka, menjadi orang yang maha bijaksana. Jika usianya belum berakhir, berkat jasa pengulangan nama Buddha, maka ia psti akan dapat tertbebas dari mara bahaya dan usianya bertambah panjang.
Jika mengetahui penyakit diri sendiri sudah berat, pesanlah kepada keluarga, agar orang yang datang menjenguk membantu kita dalam pengulangan nama Buddha dan jangan berisik membicarakan hal lain.
Kebajikan mengulang nama Buddha sungguh tidak terbayangkan. Di dalam sutra dikatakan, " Mengucapkan satu kata Buddha Amitabha, dapat menghapus karma berat dari kelahiran dan kematian dalam banyak kalpa. Sekali melafalkan Budha Amitabha, ke atas dapat menembus sampai setinggi langit, ke bawah hingga ke batas vayu-mandala (lapisan angin). Bagaikan debu yang tidak terbatas, sebanyak makhluk hidup yang akan memperoleh manfaat dari ucapan tersebut. " Oleh karena itu pengulangan nama Buddha dapat menolong makhluk halus, dewa, alaya vijnana dan antara bhava (proses kesadaran dari saat setelah kematian hingga pada sat kelahiran berikutnya.
Jika seseorang dalam keadaan sakit berat, melihat ada makhluk-makhluk halus yang datang untuk mengganggu atau menggoda maupun memperdaya dengan sesuatu yang muluk, asalkan ingatdengan teguh dan setulus hatimengulang nama Buddha Amitabha, maka setelah mendengar pembacaan penderitaan dan pergi dengan perasaan gembira. Tali permusuhan akan putus segera dan karmavarana dapat dilenyapkan, sehingga kita dapat dengan laca menuju Sukhavati.
Dengan mengandalkan kekuatan teka yang maha welas asih dari Buddha Amitabha, orang yang suka mengulang nama Buddha akan dapat terlahir di sebelah Barat. Kalau seseorang mengulang nama Buddha Amitabha dengan sujud, maka di kolam Saptaratna (tujuh macam permata). Di sebelah Barat akan tumbuh setangkai bunga teratai yang bertuliskan nama orang tersebut, sehingga di kemudian hari dia akan lahir dari bunga teratai itu.
Sukhavati di sebelah Barat merupakan alam yang suci, bersih, anggun, megah, indah tak terlukiskan bangunan bertingkatnya serta tangga-tangganya terbuat dari saptaratna. Terdapat beraneka warna benda berharga, bersih berkemilau, harum semerbak, kolam permata dengan air kebajikan nya yang dapat mengikis noda batin. Musik surgawi yang merdu berkumandang terus tanpa ditabuh. Hawa udara yang nyaman, tidak dingin dan tidak panas. Dalam sesaat makanan dan pakaian akan tersedia segera hanya dengan berpikir dalam hati. Berbagai unggas jelmaan berkat kegaiban Buddha, dengan suara merdu membabarkan Dharma yang indah, mengungkapkan dukha, sunyata, anitya dan anatman. Angin sepoi-sepoi dengan lembut menggerakkan pohon pusaka dan lapisan jala, semuanya mengeluarkan suara Dharma yang merdu dan indah. Sad-ayatanani (enam landasan indera, yaitu: mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran) suci dan bersih tanpa adanya pikiran yang keruh. Kekotoran duniawi tidak timbul lagi. Kebijaksanaan terus bertambah dalam hingga memperoleh Dharma yang sejati dan kesaktian. Batinnya tidak tergoyahkan dan usianya tanpa batas. Tiada lagi penderitaan, yang ada hanyalah kebahagiaan.
Sebaiknya belilah sebuah kaset yang berisi pengulangan nama Buddha. Dengarkanlah selalu sambil turut membaca maupun mengulangnya dalam hati sewaktu sedang sakit. Jika sering mendengarkannya, di samping menghemat tenaga, juga dapat membersihkan jiwa raga kita, menumbuhkan bunga teratai di sebelah Barat, pada ladang kesadaran kedelapan (alaya vijnana) akan tertanam benih Dharma, dan sewaktu akan meninggal nanti kita akan lebih mudah untuk mengulang nama Buddha. Dengan demikian akan membantu menghadapi masalah kehidupan kita yang maha penting, untuk dapat terlahir di Sukhavati. Sebaiknya orang sakit selalu mendengar kaset tersebut sambil turut membaca atau mengulang dalam hati, bagaikan kawan setia yang selalu menemani.
PERLU DI KETAHUI BAGI KELUARGA BERDUKA
Jika seseorang sudah sakit parah dan sulit di obati lagi, sebaiknya kawan atau kerabatnya memberikan pengarahan kepadanya. Ceriterakanlah padanya , bahwa hidup ini adalah dukha, sunyata dan anitya, hanya skhavati di sebelah Barat yang merupakan alam yang suci, bersih dan agung harta kekayaan di alam manusia ini tidak kekal, sedangkan kebahagiaan di Sukhavati tidak terbatas : supaya orang sakit tersebut mau dan rela pergi ke sana, sehingga jiwanya ada tempat untuk berlindung. Dan berilah nasehat padanya agar rela melepaskan segala macam beban dan memusatkan perhatiannya khusus untuk mendengarkan kaset pengulangan nama Budha Amitbaha.
Anjurkan agar si sakit ikut dalam pengulangan nama Buddha atau menyimak dengan tenang sambil mengucapkan Nya dalam hati, bagaikan anak yang sedang mengenang ibunya, seluruh jiwanya diserahkan kepada Buddha Amitabha, sebagai bekal persiapan menuju ke Sukhavati di sebelah Barat. Keluarga dan kawan dekat si sakit harus dengan tulus membantunya dalam pengulangan nama Buddha, memohon supaya Buddha Amitabha melimpahkan cinta kasihNya kepada si sakit. Jika belum waktunya untuk meninggal, batinnya akan tetap tenang dan terhindar dari mara bahaya serta usianya akan bertambah panjang. Jika telah sampai waktunya, maka ia akan dituntun oleh Buddha Amitabha ke Sukhavati di sebelah Barat.
Anggota keluarga jangan menatap terus muka si sakit, supaya si sakit tidak timbul rasa rindu kepadanya. Jangan pula mengulang nama Buddha dengan nada yang sendu (seperti menangis), agar si sakit tidak timbul rasa sedih, yang dapat membuatnya lupa untuk membangkitkan pikiran yang benar. Janganlah menangis ketika perasaan cinta kita timbul, supaya tidak menambah penderitaannya. Dan yang terutama janganlah menyebabkan si sakit timbul perasaan marah dan dendam, karena perasaan marah dan dendam dapat menjerumuskan ke alam yang menderita, yang berarti telah melewatkan kesempatan baiknya?.
Saat sebelum maupun sesudah seseorang meninggal, sebaiknya orang yang berbau minuman keras atau daging jangan mendekatinya, karena dapat mengakibatkan timbul pikiran yang tidak benar, sehingga terjerumus ke alam tridusgati (tiga alam sengsara: alam neraka, alam setan kelaparan dan alam binatang).
Jika seseorang sudah meghembuskan nafasnya yang terakhir, namun karena alaya vijnana belum meninggalkan tubuhnya, bahkan masih memiliki perasaan dalam keadaan bingung, maka dalam sepuluh sampai duabelas jam, suasana di sekitarnya harus berada dalam keadaan yang tenang dan hening, tubuhnya pun jangan diusik, hal ini telah dijelaskan di muka. Mengenai sikap atau posisi tidurnya, biarkanlah sebagaimana adanya. Bila ingin menukarkan pakaian, dapat kita lakukan kemudian dengan handuk hangat melap bagian persendian supaya lemas.
Di sekitar ruangan orang yang "meninggal" ,harus tetap tenang, hening dan jangan ada suara berisik. Jika sebelum jantungnya berhenti berdetak tidak sempat megundang kawan terdekat untuk memberikan pengarahan, maka pada saat itulah pengarahan yang disampaikan ke telinganya, agar batinnya tenang, sangat diperlukan. Anggota keluarga dan kawan dekat harus bergantian terus mengulang nama Buddha. Terlebih dulu bacalah nama Buddha dengan enam kata " Na Mo A Mi Thuo Fo" beberapa puluh menit, kemudian di lanjut kan pengulangan empat kata " A Mi Thuo Fo " terus menerus. Kata-kata itu harus di ucapkan satu persatu dengan suara jelas. Sebaiknya ikutilah kaset pengulangan nama Buddha yang dibacakan oleh seorang Bhiksu, sambil dalam hati memohon welas asih Buddha Amitabha untuk menjemputnya. Pengulangan nama Buddha Amitabha janganlah terhenti, usahakan agar alaya vijnananya dapat mendengar setiap ucapan dengan jelas, dengan demikian baru dapat memperoleh daya tekad Buddha Amitabha, sehingga dapat mengikuti Buddha Amitabha ke Sukhavati di sebelah Barat.
Pikiran seseorang pada saat meninggal, sangat menentukan kelahirannya, apakah naik ke Sukhavati atau terjerumus ke alam sengsara. Jadi maksud anggota keluarga membantu pengulangan nama Buddha adalah upaya pada saat meninggal, batinnya tetap tenang dan tidak lupa mengulang nama Buddha, sehingga dapat ikut Buddha Amitabha ke Sukhavati. Maka sangatlah besar faedahnya, bila pada saat itu kita membantunya mengulang nama Buddha.
Setelah sepuluh sampai duabelas jam, walaupun yang meninggal sudah atau belum terlahir di Sukhavati, kita tetap harus membantu mengulang nama Buddha dengan sepenuh hati. Karena meskipun telah lahir disebelah Barat, berkat kebajikan pengulangan nama Buddha, maka bunga teratainya bertambah besar dan tinggi, sehinga ia akan lebih mudah mencapai kesucian. Jika sekiranya ia sampai tidak dapat membangkitkan pikiran yang benar, sehingga tidak terlahir di sebelah Barat, maka ia akan lebih membutuhkan bantuan pengulangan nama Buddha dari kita dalam waktu 7 hari hingga 7 X 7 hari.
Antara bhava dari orang yang meninggal bergentayangan tidak menentu, menderita kesepian dan tiada tempat untuk berlindung. Dalam waktu 7x7 hari, antara bhava tersebut sangat mengharapkan anggota keluarga melakukan kebajikan dan melaksanakan puja bakti untuk menolongnya dari penderitaan. Oleh sebab itu kita haris membantunya dalam pengulangan nama Buddha. Disamping agar alaya vijnananya dapat ikut mengulang nama Buddha. Supaya terlepas dari penderitaan, alaya vijnananya juga akan memperoleh manfat yang besar, bagaikan orang yang sangat kehausan memperoleh air kebajikan. Selain itu hendaknya mengundang Bhiksu mengadakan kegiatan ritual Buddhis, guna membantu alaya vijnananya dan menghancurkan karma buruknya, sehingga dapaat terlahir di tanah suci.
Kebahagiaan dan penderitaan alaya vijnana terangkat maupun terjerumus menjadi tanggung jawab keluarganya. Maka sebaiknya hindari segala macam pemborosan yang tiada gunanya, alihkan penggunaan dana pada hal-hal yang bermanfaat bagi semua makhluk. Oleh karena itu, tidak perlu memakai peti yang mahal, cara penguburan dan pernyataan duka cita dengan biaya yang besar. Janganlah hanya mementingkan agar dari luar kelihatannya sangat mentereng. Yang paling utama adalah bagaimana agar alaya vijnana dari yang meninggal dapat manfaat yang nyata. Dalam waktu 7x7 = 49 hari, paling baik keluarganya menjalankan vegetarian (berpantang memakan makanan berjiwa) dan melafalkan nama Buddha serta menghindari pembunuhan dan penganiayaan makhluk hidup. Janganlah memakai barang berjiwa untuk mengadakan persembahan puja bakti. Berusaha banyak melakukan kebajikan, supaya karma buruk yang meninggal dapat dihancurkan dan ia terhindar dari penderitaan, segera terlahir di alam Buddha yang suci. Dengan berbuat demikian, keluarganya bukan saja akan memperoleh manfaat yang besar, bahkan juga akan mendapat simpati serta perlindungan dari para dewa yang berbudi.
Untuk menolong yang meninggal, lakukanlah pengulangan nama Buddha sebagai tujuan utama. Semua kawan dan kerabatnya juga boleh turut serta dalam pengulangan nama Buddha. Pengulangan nama Buddha untuk menolong. Dan bagi yang menolong orang meninggal sangat besar jasanya, angat praktis, ekonomis dan nyata faedahnya. Namun perlu diingat, bahwa yang ikut dalam pengulangan nama Buddha, hendaknya tidak memakan makanan berjiwa dan minum minuman keras.
Kalau ingin melakukan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi orang yang meninggal, caranya hanyalah dengan banyak melakukan kebajikan dan melafalkan nama Buddha secara terus-menerus guna mengikis karmavarananya, memohon Buddha menjemputnya ke tanah suci. Janganlah membakar kertas uang-uangan, rumah-rumahan dan sejenisnya. Ketidaktahuan anda hingga melakukan perbuatan ini, berarti anda mengharapkan alaya vijnana dari orang yang meninggal masuk ke alam setan atau neraka. Kebiasaan yang demikian memang sudah seharusnya dibuang. Mhy/tt
|