|
SANG BUDDHA dalam melakukan pembinaan terhadap umatnya, khususnya umat perumah tangga (umat biasa) juga tidak mengabaikan untuk mengajarkan tentang masalah kesejahteraan yang menjadi dambaan umat awam tersebut. Umat awam merupakan pendukung Sangha dan setia kepada ajaran Sang Buddha, karena itu apa-apa yang menjadi kepentingan awam iu juga diperhatikan oleh Sang Buddha.
Umat awam atau umat biasa yang bukan viharawan, umumnya ingin mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan duniawi, misalnya memperoleh kekayaan. Dalam upaya mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan duniawi tersebut, mereka berusaha meraihnya dengan melaksankaan dan hidup sesuai dengan ajaran Sang Buddha. Adakah dan bagaimanakah Sang Buddha mengajarkan tentang pencapaian kebahagiaan duniawi tesebut?
Memperoleh Kekayaan
Di dalam kitab suci Anguttara Nikaya II.66, Sang Budha mengatakan bahwa orang biasa adalah wajar memiliki keinginan-keinginan sesuai dengan kebutuhan dan cara hidupnya yang bukan viharawan tersebut. Keinginan wajar yang dimiliki oleh umat awam tersebut adalah :
- Semoga saya menjadi kaya dan kekayaan itu terkumpul dengan cara yang benar dan pantas.
- Semoga saya beserta sanak keluarga dan kawan-kawan dapat mencpai kedudukan sosial yang tinggi.
- Semoga saya selalu berhati-hati dalam kehidupan ini sehingga berusia panjang.
- Apabila kehidupan di dunia ini berakhir, semoga saya dapat terlahir kembali di alam bahagia.
Untuk dapat mencapai keempat keinginan tersebut: kekayaan, status sosial, usia panjang dan terlahir kembali di alam bahagia, Sang Buddha menjelaskan bahwa kebahagiaan duniawi tersebut, dap[at dimilik dengan cara: mengembangkan keyakinan kepada Buddha, memiliki sila , memiliki kemurahan hati, dan memiliki kebijaksanaan.
Selain itu, ia juga harus dapat mengembangkan dan meningkatkan beberapa hal, seperti : berusaha sungguh-sunguh, waspada, bersahabat dengan orang baik, berkehidupan seimbang (Anguttara Nikaya IV,281 dst).
Hendaknya juga mencamkan bahwa untuk memenuhi cita-cita keduniawian itu, seperti dalam memperoleh kekayaan bukanlah harus tergantung modal yang besar. Dalam Jataka 1.122 dikatakan bahwa : "Sekali pun dengan modal kecil,apabila orang cukup cerdas dan terampil. Ia akan dapat mengangkat dirinya kepada kedudukan yang lebih tinggi, bagaikan orang memperoleh api yang besar dengan meniup api yang kecil."
Memanfaatkan Kekayaan
Kemudian bila ia telah berhasil dengan usahanya dan akhirnya memiliki kekayaan, maka kekayaannya itu harus digunakan dengan sebaik-baiknya, bagi dirinya, keluarganya serta untuk membahagiakan orang lain sebagaimana di anjurkan Sang Buddha di dalam Anuttara Nikaya III.45 dst. Yang berbunyi: "Harta kekayaan yang dikumpulkan nya dengan bersemangat, dengan cara-cara yang sah tanpa kekerasan, seseorang dapat membuat dirinya bahagia, juga orang tuanya, istri dan anaknya, pelayan dan bawahan, sahabat, kenalan dan orang-orang lain, agar dapat mempertahankan kekayaannya, dengan memberikan hadiah atau pemberian kepada sanak saudara, para tamu, perbuatan baik atas nama keluarga yang telah meninggal, membayar pajak kepada pemerintah, melakukan persembahan kepada orang-orang suci untuk melakukan karma baik".
Menyangkut soal memanfatkan harta kekayaan, Sang Buddha dalam Sigalovda Sutta memberikan pertimbangannya, khususnya yang berkenaan dengan pengaturan penggunan harta kekayaan tersebut.
"Barang siapa hidup saleh dan cerdas, bersinar bagaikan api yang berkobar, bagi dia yang mengumpulkan kekayaan, bagaikan kumbang. Mengembara mengumpulkan madu tanpa menyakiti siapapun. Kekayaannya bertimbun bagaikan sarang semut yang meningi. Bila perumah tangga yang baik mengumpulkan harta. Ia dapat membantu handai taulannya. Dalam empat bagian hendak dibaginya harta itu, maka melekat padanya kemudahan-kemudahan hidup. Satu bagian dibelanjakan dan dinikmati buahnya. Dua bagian untuk meneruskan usahanya. Bagian keempatdisimpnnya baik-baik untuk persediaan pada nasa-maa susah dan sulit."
Memiliki kekayaan merupakan suatu kemudahan hidup. Karena dengan dengan harta yang dimiliki bermacam-macam kebahagiaan dapat dialaminya, seperti kebahagiaan : karena memiliki kekayaan, namun digunakan kekayaannya dan tidak mempunyai utang, demikian tidak melakukan perbuatan tercela (Anguttara Nikaya II.69).
Habisnya Kekayaan
Tetapi kebahagiaan materi yang mungkin telah diraih seseorang dapat segera berubah, karena sulit untuk dipertahankan. Hal itu bisa terjadi karena disebabkan oleh empat hal, yaitu: tidak mencari dan menambah barang-barang yang telah hilang, tidak memperbaiki barang -barang yang telah rusak, tidak bersikap sederhana di dalam menggunakan kekayaan, dan memilih orang yang mempunyai moral buruk untuk membantu mengurus rumah tangga. (Anguttara Nikaya II240)
Begitu pula kekayaan yang telah didapat atau dikimpulkan dengan susah payah, harus dijaga dan dipertahankan. Dalam Sigalovada Sutta dikatakan mengenai cara menghindari diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk seperti: minum-minuman keras, keluyuran, pergi jalan ke tempat keramaian, judi, bergaul dengan orang yang jahat dan bermalas-malasan.
Mt/tt.
|