Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  N I B B A N A
Kebahagiaan Tertinggi


TUJUAN akhir umat Buddha adalah Nibbana. Banyak buku yang menyajikan uraian tentang Nibbana telah dituliskan sejak zaman dahulu hingga kini. Nibbana bukanlah sesuatu yang harus dituliskan atau dijelaskan, tetapi harus dialami.

Penjelasan tentang rasa gula tidak mungkin dapat memberi pengertian tentang rasa gula terhadap orang yang belum pernah merasakan gula. Hanya dengan merasakan gula, maka orang dapat mengetahui dan menilainya sendiri.

Nibbana adalah suatu "keadaan", seperti diajarkan oleh Sang Buddha, Nibbana adalah keadaan yang pasti setelah keinginan lenyap. Api menjadi padam karena kehabisan bahan bakar. Nibbana adalah padamnya keinginan, ikatan-ikatan, napsu-napsu, kekotoran-kekotoran bathin.

Dengan demikian, Nibbana adalah Kesunyataan Abadi, tidak dilahirkan (na uppado-pannayati), tidak termusnah (na vayopannayati), ada dan tidak berubah (nathitassannahattan pannayati). Nibbana disebut Asankhata-Dhamma (keadaan tanpa syarat, tidak berkondisi, yaitu Nibbana).

Keadaan ini sulit untuk dibabarkan sebagaimana keadaan gelap yang hanya dapat dikenal jika keadaan terang diketahui. Nibbana dapat dialami jika dukkha telah disadari. Menyadari dukkha berarti menyadari asal mula dukkha, lenyapnya dukkha dan jalan untuk melenyapkan dukkha. Lenyapnya dukkha berarti pula lenyapnya sedih dan gembira.

Sedih dan gembira adalah nilai subyektif yang timbul dari pikiran orang yang merupakan refleksi keinginan pribadi, karena refleksi-refleksi tidak mempunyai nilai sejati, maka sedih dan gembira hanya merupakan refleksi "aku" yang khayal. Lenyapnya khayalan itu disebut Nibbana. Jika khayalan "aku" telah terbasmi, maka tiada lagi perubahan-perubahan sedih dan gembira. ltulah yang dimaksud dengan "Nibbanam paramam sukkham" (Nibbana Kebahagiaan Tertinggi), bukan kebahagiaan duniawi atau Kebahagiaan emosional, melainkan pembebasan mutlak dari segala bentuk ikatan indera dan keinginan rendah (tanha). Pengertian Nibbana yang paling singkat dan menyeluruh adalah berakhirnya proses "menjadi" (dumadi)

Dalam Milinda Panha (Kitab yang berisi percakapan antara Bhikkhu Nagasena dan Raja Yunani) dikatakan :

"Nibbana penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan, 0 Raja. Barang siapa yang mengatur kehidupannya secara sempurna; dengan memahami sifat kehidupan, sesuai dengan ajaran para Buddha, menyadari kehidupan melalui kebijaksanaan (panna), sebagaimana seorang siswa, yang mengikuti petunjuk-petunjuk Sang Guru, menjadikan dirinya seorang nakhoda bagi kapalnya sendiri".

"Jika Anda bertanya, bagaimana Nibbana dapat diketahui, hal itu dapat diketahui melalui pembebasan dari ketegangan dan bahaya, melalui kedamaian, ketenangan, kebahagiaan dan kesucian".

"Sebagaimana seseorang, 0 Raja, yang jatuh ke dalam tungku perapian yang penuh dengan ikatan kayu kering, melalui usahanya yang keras, ia dapat menyelamatkan dirinya dari mencapai sebuah tempat yang sejuk, maka ia akan merasakan kebahagiaan yang luhur, begitu pula halnya dengan orang yang hidup dengan benar. Orang demikian, melalui refleksi sungguh-sungguh menyelami kebahagiaan tertinggi yaitu Nibbana setelah panas yang membakar dari tiga api (api keserakahan, api kebencian, dan api kebodohan bathin) dipadamkan seluruhnya. Tungku perapian menggambarkan tiga api di atas, orang yang sedang terbakar di dalamnya dan telah melepaskan diri menggambarkan dirinya yang menempuh kehidupan dengan benar, sedangkan tempat yang sejuk menggambarkan arti Nibbana".

"Apakah Nibbana itu suatu tempat?" tanya Raja Milinda. "Nibbana bukanlah suatu tempat, 0 Raja, tetapi Nibbana itu ada, sebagaimana nyala api itu ada meskipun api itu tidak disimpan di suatu tempat tertentu"

"Apakah tiada tempat berpijak bagi seseorang untuk mencapai Nibbana ?"

"Ya, 0 Raja, ada tempat seperti itu, tempat itu adalah kebajikan."

Mereka yang mencapai Nibbana tidak lagi menaruh perhatian terhadap kelangsungan dirinya. Kematian dapat tiba menurut kehendaknya atau setelah umurnya usai. Mereka tidak lagi menimbun kamma baru, melainkan sekedar menghabiskan akibat kamma lampaunya.

Sang Buddha pernah ditanya apakah seorang Buddha, sesudah mencapai Parinibbana, ada atau tidak ada. Sang Buddha diam dan tidak menjawab. Alasannya ialah bahwa hal itu tidak bermanfaat bagi pembebasan manusia dari dukkha. Pertanyaan timbul karena orang mempunyai kesalahpahaman tentang dualitas antara ada dan tidak ada. Selama paham "aku" masih melekat, mustahil Nibbana dapat tercapai.

Dalam Abhidhammatthasangaha, berbunyi sebagai berikut :
"VANA SANKHATAYA TANHAYA NIKKHANTATTA NIBBANAM"
Artinya : Keadaan yang terbebas dari tanha (keinginan rendah), disebut Nibbana.

Dalam Paramatthadipanitika, berbunyi sebagai berikut:
"NATTHI VANAM ETTHANI NIBBANAM"
Artinya : Keadaan ketenangan yang timbul dengan terbebasnya dari Tanha (keinginan rendah), disebut Nibbana.

"TAYIDAM SANTI LAKKHANAM"
Artinya : Nibbana adalah kebahagiaan yang terbebas dari kilesa (kekotoran bathin).

"NIBBANAM PARAMAM SUKHAM"
Artinya : Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi.

NIBBANA 2 (dua) :

  1. Sa-upadisesa-Nibbana adalah padamnya kilesa (kekotoran bathin) secara total, tetapi pancakkhandha (lima kelompok kehidupan) masih ada.
  2. An-upadisesa-Nibbana adalah padamnya kilesa (kekotoran bathin) secara total dan padamnya juga pancakkhandha (lima kelompok kehidupan).

Bagi umat Buddha, Nibbana adalah cita-cita yang kelak akan dicapai, entah dalam kehidupan sekarang atau pun yang akan datang. Yang jelas, diperlukan tekad kuat (adhitthana) untuk mengikuti Jalan yang ditunjukan oleh Guru kita YMS Buddha Gotama.

PANJIKA



 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.