|
MANUSIA Indonesia Baru tidak boleh lepas dari nilai-nilai dasar Indonesia. Dan nilai-nilai luhur tersebut bisa di gali dari latar belakang sejarah bangsa Indonesia sendiri. Seperti kita sama tahu, bangsa Indonesia memiliki keluhuran budi, seperti yang antara lain disimbolkan dalam cerita pewayangan. Nilai nilai luhur tersebut bukan hanya universal, tetapi juga bersifat lintas jaman. Nilai-nilai luhur yang sudah diajarkan dan menjadi pedoman hidup bangsa kita dari jaman dahulu adalah sikap saling menghormati, etika dalam pergaulan sesama, kesadaran atas nilai-nilai kemanusiaan (humanity) dan kesadaran atas nilai-nilai ketuhanan.
Berangkat dari pandangan itu maka kemajuan teknologi, kemajuan pembangunan di bidang sosial, politik, ekonomi dan budaya, harus diukur dan berpijak pada nilai-nilai dasar bangsa yang luhur tersebut.
Bahwa dalam penerapannya nilai-nilai luhur tersebut dari waktu ke waktu mengalami perobahan dan berkembang sesuai dengan perkembangan jaman, hendaknya tidak membuat nilai-nilai dasar tersebut, yang menjiwai segala bentuk pembangunan bangsa dan negara, lepas pegangan.
Di dalam pemahaman saya, salah satu pilar terpenting yang harus digunakan untuk membangun Indonesia Baru adalah "Boddhicitta" yang merupakan intisari ajaran agama. Boddhicitta artinya kembali kepada hati nurani, kemurnian jiwa yang terang dan cinta kasih.
Saya memang jauh-jauh hari berharap pemerintah baru hasil Pemilu 1999 bisa kembali membangun kemurnian hati nurani. Pemerintah yang baru harus betul-betul bisa mengontrol kualitas moral aparat-aparatnya, dari pusat hingga ke daerah.
Dalam hal ini, kemajuan teknologi dan kemajuan ketrampilan manusia, bila di kaitkan dengan segala potensi yang dimiliki bangsa kita seperti sumberdaya alam dan lain-lainnya, sebenarnya tidak terlepas dari latar belakang sejarah bangsa Indonesia. sebab sesungguhnya kita memiliki keluhuran tersendiri yang mungkin belum sepenuhnya kita gali. Apalagi nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan kisah-kisah pewayangan, yang memang memiliki nilai-nilai luhur yang cukup universal bahkan bisa lintas jaman. Memang bangsa kita sangat majemuk bukan saja karena letak geografisnya sebagai negara kepulauan, tapi juga karena berbagai perbedaan yang sifatnya alami. Karena kemajemukan itulah maka kita harus hidup secara alami dan lepas dari berbagai rekayasa, seperti pada masa pemerintahan orde baru.
Dengan melakukan banyak rekayasa terhadap kehidupan rakyatnya, pemerintahan rezim orde baru telah meninggalkan basic dari prinsip "comunnity" dan sekaligus menyimpan bom waktu. Akibatnya orde baru pun ambruk. Sebab pemerintah pada prinsipnya haruslah mengabdi kepada rakyat dan bukan sebaliknya. Bukan malah rakyat yang dijadikan alat untuk mendukung suatu kekuasaan. Kekuasaan hanyalah sekedar untuk mengatur lalulintas kehidupan masyarakat sehari-hari, terutama bagi mendukung tercapainya kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan lahir dan batin bagi seluruh warga bangsa. Dan itulah yang harus menjadi acuan idealisme kita.
Manusia Indonesia yang baru adalah manusia Indonesia yang tidak boleh lepas dari dasar-dasar nilai ke Indonesia-an itu sendiri. Walaupun mengalami kemajuan teknologi, kemajuan kehidupan sebagai masyarakat modern, kita harus tetap sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur untuk saling menghormati. Artinya semaju-majunya suatu bangsa, tidak dapat dibenarkan warganya melakukan tindakan anarki atau saling memusuhi. Dasar dari nilai-nilai luhur itu akan dilihat dari bagaimana penghormatan kita kepada masyarakat dan etika kita dalam pergaulan sesama. Termasuk sejauh mana kesadaran kemanusiaan kita.
Perkembangan di bidang sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain, harus ke,mbali pada dasar kehidupan bangsa kita. Indonesia Baru harus kembali kepada rel nya. Sebab pada masa lalu kita memang telah mengalami beberapa penyimpangan. Kita juga berharap agar reformasi yang sedang berjalan sekarang ini, tidak malah kebablasan.
Jadi, saya pikir kita semua apapun agama, ras, keturunan dan golongan kita, harus kembali pada kesadaran akan nilai-nilai luhur itu. Kita harus menyadari bahwa kita semua adalah sama-sama manusia. Artinya kita semua harus " open mind" . Sebab sejak lama pikiran kita dikotak-kotak, dibloking, digiring untuk begini atau begitu.
Pada dasarnya kita ini adalah bangsa yang beragama, bangsa yang berpegang teguh kepada nilai-nilai ketuhanan yang Maha Esa. Dan agama adalah sesuatu yang universal dan lintas jaman. Sampai kapan pun, bahkan sampai kiamat pun saya pikir, ajaran agama akan tetap berlaku. Tentu saja kita tidak bisa fanatik dengan berpendapat bahwa apa yang terjadi beberapa ribu tahun lalu, harus tetap sama dengan hari ini. Itu tidak bisa. Tapi yang dimaksud dengan universitas dan lintas jaman itu adalah intisari dan prinsip-prinsip agama itu harus tetap membawa kita kepada kemurnian, kepada jiwa yang terang sampai kapan pun.
HARUS BERDASARKAN KEMANUSIAAN
Sebagai manusia, kita bisa menilai yang benar atau yang salah. Tetapi kalau pikiran kita sudah di blok harus begini atau harus begitu, penilaian itu menjadi sulit. Misalnya sekarang era reformasi dan seluruh yang ada di masa orde baru harus hilang. Padahal yang bari ini belum jelas benar bagaimana wujudnya. Saya tidak membela pemerintahan orde baru. Tetapi sebaliknya saya berharap bahwa dasar dari terbangunnya Indonesia Baru itu adalah kemanusiaan. Dimana tidak adalagi larangan terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip ajaran agama.
Sebab, selama ini kita yang memiliki landasan idiil yang terformalkan dalam UUD 1945 yang berupa ketuhanan, kemanusiaan, persatuan dan keadilan telah mengalami fenomena-fenomena yang bertolak belakang. Ambil contoh, kita negara kesatuan, tetapi ancaman disintegrasinya kuat sekali. Sebaliknya Amerika yang merupakan negara berbentuk federasi, tetapi integrasinya demikian kuat. Bagi saya, persoalan apakahnegara kesatun atau negara federasi, sebenarnya bukan hal pokok. Bentuk negara itu hanyalah variasi, alat. Intinya Indonesia Baru haruslah melahirkan manusia baru yang di dalam ajaran agama Buddha, harus mengacu pada Boddhicitta. Yakni kembali pada hati nurani, kemurnian jiwa.
Indonesia Baru harus kembali kepada Boddhicitta itu. Kita tidak boleh membiarkan perkembangan yang menyimpang seperti merebaknya rekayasa, KKN dan hal-hal yang bertentangan dengan boddhicitta. Sebab, jika hal itu tetap terjadi, maka akan membuat kita bubar lagi. Karenanya, ketika pada masa-masa lalu kita sering menggembar-gemborkan apa yangh disebut Imtak ( iman dan taqwa, red ), sya melihatnya hanya terbatas pada jargon. Adalah mudah mencari pengertian Imtak itu. Tetapi untuk menyadari akan pentingnya hal itu, tidaklah mudah. Bahkan banyak orang belum menyadari, memahami dan melakukannya dalam perilaku hidupnya sehari-hari.
Jadi Imtak itu baru sekedar pengetahuan dan belum mampu menyentuh boddhicitta, jiwa nuani. Baru sekedar dalam rasio dan sekadar menjadi slogan. Yang berbicara baru otak, rasio. Kesadaran mendalam itu belum terwujudkan. Bahkan beberapa pemuka agama yang sangat rasional pun, masih mudah terjebak dalam emosi dan menanamkan kebencian sehingga sering membelokkan jalan umatnya untuk berbuat anarkis. Ironis, memang.
Dengan demikian, Indonesia Baru itu harus kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan. Kita harus sadar, pemerintah diadakan untuk apa? Politik untuk apa ? politik adalah urusan kekuasaan dan tujuan sebuah pemerintahan adalah untuk melayani rakyat. Supaya bangsa dan masyarakat ini maju. Pemerintah adalah pelayan rakyat dan bukan sebaliknya. Disamping politik harus kembali di abdikan kepada rakyat dan negara.
Demikian juga dengan pembangunan perekonomian. Pembangunan ekonomi harus ditujukan untuk menciptakan kesempatan hidup sejumlah besar rakyat dan untuk kemakmuran. Karenanya, segala potensi yang ada, seperti sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, harus diposisikan dalam suatu konfigurasi mekanisme yang sedemikian rupa, sehingga bisa menghasilkan barang dan jasa secara berkelanjutan. Dengan demikian dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat secara berkesinambungan.
Semua upaya itu seharusnya memang untuk kemakmuran dan kesejahteraan kehidupan manusia. Kita tidak bisa bilang bahwa Indonesia Baru itu harus model komunis, model Amerika, model Jepang, misalnya kita mempunyai latar belakang sejarah dan kebudayaan kita sendiri. Inilah yang harusnya kita pikirkan. Kebanyakan orang-orang sekarang misalnya memakan nasi, hanya tinggalmemakan saja. Tidak banyak dari kita yang pernah dan mau memikirkan nasi itu dari mana asal mulanya. Kebanyakan kita menyadari dan tidak menghayati lagi bahwa untuk menanam padi banyak sekali pengorbanan yang diberikan oleh para petani.
Sebagai bangsa yang berbudaya, kita sepatutnya menghargai orang-orang yang terlibat dalam usaha memproduksi nasi tersebut. Seperti anak-anak yang harus menghargai orangtuanya, mensyukuri apa yang dimilikinya. Sehingga dengan jiwa yang demikian itu membuatnya menjadi kuat dan maju. Membuat dia menjadi tau bahwa anak dia itu ada dimana dan harus berbuat apa. Seperti tidak emosi, tidak terlalu di setir oleh keinginan- keinginan yang sebetulnya tidak tepat bagi dirinya. Misalnya dia nonton film Barat, kemudian menjadi orang Barat, berpakaian ala Barat. Dan bila ia lihat Superman, kemudian dia naik ke bubungan rumah.
Pola pikir kebarat-baratan ini sudah sedemikian merasuk dan massif. Dan jika kita tidak kembali kepada basic, pada nurani kita, pada nilai-nilai luhur kita sendiri, maka kita akan menjadi gila. Akhirnya kita bisa saling bunuh-membunuh dan tidak lagi merasa berdosa kalau melakukan pembunuhan. Hal itu bisa terjadi, karena hidup kita sudah tidak peka lagi. Kita terjerumus pada perbuatan-perbuatan yang bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merugikan lingkungan dan masyarakat luas. Indonesia Baru tidak boleh kita biarkan terpelosok pada keadaan seperti itu.
Sebagai negara agraris, negara kepulauan, kita banyak memiliki banyak sumberdaya alam manusia. Kita pun memiliki dasar-dasar teknologi, intelektualitas dan sistem kemasyarakatan. Jika semua itu diimplementasikan secara jujur dan apa adanya dalam dunia pertanian misalnya, imana rakyat di didik untuk bisa menghargai kehidupan ini, untuk bisa menikmati kemajuan, maka masyarakat akan bisa kembali pada kemurnian jiwa. Sehingga "humanity" dan kejiwaannya tidak lagi terjebak dalam kegelapan. Artinya, kita tidak lagi terjebak dalam pergulatan pandangan yang menyesatkan.
Wahana yang bisa dipakai untuk menuju Indonesia Baru yang intinya"back to basic" itu bisa agama, bisa pula pendidikan. Tetapi tidak melalui partai politik. Pendidikan adalah proses transformasi ilmu pengetahuan yang kaitannya dengan konteks duniawi. Sedang agama lebih kearah tujuan. Hal ini sebenarnya sudah disadari sejak lama. Tetapi manifestasi dan implementasinya yang menjadi masalah. Misalnya konsep pembangunan nasional, tri kerukunan, trilogi pembangunan, stabilitas, pertumbuhan, pemerataan, Pancasila, GBHN sistemnya kan tetap begitu sejak dulu. Dan itu bagus semua. Tri kerukunan antar umat beragama, kerukunan intern umat beragama, antara umat beragama dengan pemerintah, itu semua baik-baik saja. Cuma sekarang orang sudah alergi dengan semua itu. Karena implementasinya sering tidak sesuai dengan nilai filosofis yang dikandungnya.
BUKAN SOAL UTAMA
Terminologi dalam konteks membangun Indonesia Baru bukanlah soal utama. Yang terpenting bagaimana kenyataannya. Kenyataannya, sejak puluhan tahun lalu semua kekayaan difokuskan kepada keluarga pribadi pimpinan negara. Dan karena atasannya begitu, menterinya juga begitu bahkan Dirjennya, Direkturnya sampai Satpamnya juga begitu. Ini akibat dia lupa untuk kembali ke basic, ke hati nuraninya. Perbuatannya sudah jauh berlawanan dengan hati nuraninya. Akibatnya, sekarang ini jasa dari rezim orde baru seperti tidak ada sama sekali, lenyap. Padahal di dunia ini tidak ada sesuatu yang jelek semua atau baik semua.
Dalam menuju Indonesia Baru, kita seharusnya melihat realitas Indonesia masa lampau secara apa adanya. Artinya jika dibilang rezim orde baru jelek dan sama sekali tidak berjasa, itu jelas tidak benar. Juga dikatakan bagus tidak bisa, jadi harus seimbang. Sebab di satu pihak memang ada kemajuan, namun dilain pihak keburukannya juga menonjol. Bayangkan saja, siapa sih yang dulu tidak terlibat KKN ? karena itu kita tidak boleh menyombongkan diri. Sebab kita semua adalah manusia beragama.
Jadi kembali patokannya adalah boddhicitta dan cinta kasih. Dan kesanalah kita semua seharusnya berjuang. Sebab saat ini bangsa kita seperti orang yang jatuh di air. Ngambang, tidak di dasar, tetapi juga tidak di permukaan. Sekarang kita baru mau menyentuh dasarnya. Memang tidak mudah. Ada daya balik. Ini akibat dalam tubuh kita ada tiga akar setan, yakni lobha atau keserakahan, kebodohan dan kebencian. Inilah yang membuat kita tidak bisa menyentuh Bodhicitta. Bahkan bangsa Indonesia yang telah diberi kelimpahan sumberdaya alam, manusia yang bagus, budaya yang tinggi, agama yang mantap, karena pengaruh dari tiga akar setan yang tidak berhasil di kendalikan itu, akhirnya terpelosok pada krisis seperti sekarang. Karena itulah kita harus berjuang meraih boddhicitta tersebut. Dan hasil perjuangan itu akan terlihat dari perbuatan kita di dalam kehidupan sehari-hari, di dalam pergaulannya di tengah-tengah masyarakat maupun di dalam huibungan kita dengan keluarga dan anak-anak.
Jadi, sama seperti kehidupan kita sebagai manusia, maka upaya menuju Indonesia Baru harus membawa kita back to basic. Bukan berarti kita kembali menjadi primordial lagi. Bukan berarti kita harus kembali jalan kaki dan tidak boleh naik mobil. Bukan begitu. Tetapi lebih pada pembangunan sikap mental. Basicnya adalah membangun sikap mental. Sebab membangun teknologi itu gampang. Kita bisa belajar. Bahkan di jaman globalisasi ini, teknologi itu bisa kita beli. Sekarang ini bikin apa saja bisa. Namun, bila kita tidak memiliki basic mental yang kuat, maka bangsa kita tetap akan menjadi manusia yang rapuh.
Kita pun harus menyadari bahwa berbagai sarana perekonomian saat ini banyak yang hancur. Kecuali pertanian dan beberapa komoditas yang berdasarkan sumber alam, sektor-sektor perekonomian yang riil seperti industri, pabrik, perusahaan barang dan jasa nyaris lumpuh. Kerusakan di sektor ekonomi riil ini bahkan cukup parah. Efeknya ke perbankan. Dan pengaruhnya ke bidang moneter yang sejak dulu sudah goncang, semakin kuat.
Dampak dari kerusakan di sektor perekonomian itu jelas pada kesejahteraan sosial masyarakat. Dan akhirnya bermuara pada kondisi keamanan. Tindakan kriminalitas menjadi tinggi dan kekerasan yang sifatnya lebih brutal seperti perampokan dan bahkan pembunuhan, semakin meluas. Situasi inilah yang membuat bangsa kita kelihatannya hancur lebur. Padahal asumsi seperti itu tidak sepenuhnya benar. Kalau saat ini kita datang ke daerah, kita melihat semua tampak lebih hijau daripada sebelumnya. Sebab itu mengatasi krisis, mereka lebih rajin menanam padi, palawija dan lain-lain. Banyak di antara orang-orang di daerah yang sekarang bertahan hidup dari bercocok tanam di kebun dan ladang-ladang. Krisis ekonomi ternyata merangsang mereka untuk lebih giat bercocok tanam. Kita lihat hampir setiap tanah kosong, bahkan di Jakarta, sekarang ini ditanami sayur-sayuran dan palawija.
Pemerintah Indonesia yang baru ini, saya berharap bisa benar-benar back to basic. Dapat kembali ke sikap dan nilai-nilai luhur kita sebagai bangsa. Dengan demikian bisa mengontrol kualitas moral dan kejiwaan dari aparat-aparat pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Dengan demikian praktek-praktek KKN bisa dicegah. Jika kontrol moral ini bisa berjalan, jika harapan untuk mengembalikan Indonesia pada nila-nilai luhur yang dimilikinya itu bisa terwujud, saya yakin di masa mendatang Indonesia dapat kembali normal. Kuncinya adalah pemerintahan yang jujur sesuai dengan cita-cita rakyat.
Saya optimis, seandainya harapan untuk back to basic ini dapat secara bertahap kita wujudkan, maka kita akan mempunyai Indonesia Baru yang bersih dari pengaruh buruk masa lalu. Dan cita-cita kita untuk menjadi bangsa yang adil dan makmur akan segera tercapai.
|