Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  Membuka Mata Dan Telinga Untuk Kebenaran
Pdt. Halim Zen Bodhi


HARI demi hari yang kita lewati sebagai seorang pembina Ketuhanan tidaklah sia-sia. Seorang yang membina Ketuhanan adalah seperti orang yang sedang menabung. Memang menabung itu tidak bisa seketika, sedikit demi sedikit dari hari ke hari, bulan ke bulan, bahkan sampai bertahun-tahun. Walaupun di dalam perjalanan membina dan mengamalkan Ketuhanan kita akan mengalami sejumlah rintangan, hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan atau keinginan, semua itu bukanlah masalah yang serius. Demikian juga dengan hidup di dunia ini, barangkali usaha kita kurang lancar, keluarga tidak begitu harmonis, itu juga tidak akan menjadi masalah besar bagi orang yang membina Ketuhanan. Ada keheningan di dalam mata, begitulah kita membuka mata melihat kebenaran.

Namun bagi orang yang tidak membina Ketuhanan maka lain sekali keadaannya. Dalam kehidupan sehari-hari di vihara, kita mudah melihat atau menemukan teladan-teladan yang baik. Saat kita melihat seorang yang lanjut usia datang ke vihara sendirian maka kita akan tergugah. Mereka adalah teladan-teladan yang baik. Barangkali di rumah hidup mereka pun tidak bahagia dan tidak cukup secara ekonomi tetapi ketulusan hati mereka ke vihara selalu luar biasa. Ini adalah sebuah teladan, dan ini adalah sebuah kebenaran di depan mata kita. Ada lagi orang tua yang berusaha untuk hidup sehemat mungkin agar bisa beramal. Mereka sampai menyimpan uang selama bertahun-tahun untuk diamalkan membangun vihara dan ini sungguh merupakan satu hal yang harus kita lihat. Artinya kita harus melihat contoh-contoh yang baik seperti ini.

Kita juga melihat banyak keluarga, suami-istri, yang sibuk tetapi masih dapat meluangkan waktu untuk Tuhan. Tiap minggu mereka selalu hadir dan ikut kegiatan vihara. Kita harus bisa melihat ketulusan dan pengorbanan mereka pada saat baju basah kuyup karena hujan, pergi ke vihara naik angkot, tak pernah absen dalam berbakti puja. Bukalah mata kita untuk melihat hukum-hukum yang baik: Bukalah mata kita untuk melihat teladan-teladan hati nurani. Tak usah jauh-jauh kita melihat, waktu kita akan sembahyang, orang di samping kita berdiri dengan rapi, mereka berani berkorban waktu. Tidak mencari kesenangan-kesenangan duniawi seperti orang pada umumnya dan itu adalah teladan-teladan yang sangat baik.

Kita juga melihat adik-adik yang masih ABG pun sudah menunjukkan ketulusan untuk mau bekerja pada Tuhan. Jadi kita harus bisa melihat teladan-teladan yang luhur ini. Kita dapat melihat perjuangan Yang Arya Maha Sesepuh Ong kita. Sungguh tidak mudah meluangkan waktu untuk datang ke Wadah Ketuhanan di Indonesia. Datang ke sini dengan satu harapan untuk menarik kita semua naik ke pantai bahagia. Untuk mendorong kita supaya bisa lebih maju dalam membina. Kita harus bisa melihat sungguh itu adalah jerih-payah para pimpinan. Bagaimana mereka berkorban, bahkan saat sakit pun masih tetap datang. Jadi kita harus bisa memaharni sesepuh-sesepuh dan pimpinan kita. Inilah yang disebut membuka mata melihat kebenaran Tuhan.

Demikian juga dengan vihara-vihara kita, banyak yang tidak terurus dengan baik, sudah tua dan ini harus kita lihat dengan hati. Kala hati meihat perkembangan vihara sedemikian menyedihkan maka nurani akan terpanggil untuk membantu. Betapa banyak tantangan-tantangan yang harus kita hadapi, mengingat masyarakat yang terus berkembang dengan sangat cepat. Sementara vihara kita, kader-kader, viharawan-viharawati tak banyak, pandita kita tidak cukup. Melihat ini semua, seharusnya kita mulai berpikir apa yang dapat saya perbuat terhadap kekurangan ini. Itu namanya membuka mata melihat kebenaran. Hukan sebaliknya membuat kita berpaling kepada agama lain atau takut ke vihara. Itu namanya menutup mata dari kebenaran.

Melihat sebuah kenyataan haruslah bijaksana. Banyak vihara-vihara yang tidak ada penceramah, semestinya hal ini mendatangkan semangat dan panggilan yang kuat bagi kita. Kita harus menjadi lebih yakin dan tegar untuk senantiasa membantu perkembangan vihara.

Ketika ada masalah yang menimpa rekan sepembina, kemudian dia tak lagi datang ke vihara, kita harus berusaha menghimpunnya dan ini adalah sebuah tantangan. Kita harus menunjukkan bahwa membina adalah sebuah proses yang serius, bukan main-main serta pura-pura. Demikian prinsip kita sebagai seorang pembina.

Saat melihat ada viharawan-viharawati yang tidak dihormati atau dianggap remeh, apa yang terbersit dalam hati saya? Apakah saya lantas menjadi minder, tidak percaya diri dan lemah? Kalau kita memandang lalu hati kita menjadi begitu, itu namanya tidak melihat kebenaran. Mestinya kita justru menjadi semakin bertanggung jawab dan berkata pada diri bahwa kita harus menjadi semakin tegar. Kenapa sampai viharawan-viharawati tidak dihormati? Itu adalah perjuangan kita untuk menjawab semua pertanyaan ini.

Ketika melihat viharawan-vihawarati lain yang tidak dikasihi, lalu apa yang ada dalam hati saya. Apakah saya lalu menjadi sedih, menangis, dan tidak percaya diri. Tidak! Malah saya akan berkata kepada diri sendiri saya akan belajar untuk tidak dikasihani baik oleh bawahan dan atasan. Cobalah untuk memahami atasan kita bagaimana banyaknya tugas, beban, tanggung jawab mereka. Justru sebaliknya marilah kita belajar memberikan kasih kepada atasan dan umat. Sungguh membahagiakan ketika mata dapat memandang sesuatu dengan hati dan kebenaran.

Seandainya di dalam kantormu ada seratus karyawan, dari atas sampai bawah, hanya kamu yang memohon Ketuhanan. Mestinya kamu menjadi semakin bersyukur dan beriman, bukan berkata Ketuhanan tak luhur. Jika kita telaah kehidupan para Nabi, di hina, dipermalukan, dicaci maki, itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Tetapi mengapa mereka tidak pernah berkecil hati? Di situlah kita melihat cara memandang dan menemukan kebenaran, bukan cara memandang dan menemukan kejahatan dan dosa. Hal ini bisa dilihat di dalam ruang lingkup vihara. Lihatlah umat-umat yang meluangkan waktu datang ke vihara, memasak di dapur, membersihkan WC, melayani sesama. Begitu kita datang, mereka melayani dengan ramah. Ketika kita tidak mengerti, mereka dengan sabar melayani.

Banyak umat-umat yang kesulitan transportasi, tapi mereka tetap berjuang untuk datang ke vihara. Malah ada umat yang suaminya selalu memarahi kalau dia datang ke vihara, tapi dia tidak pemah berkecil hati. Nah itu semua adalah kebenaran-kebenaran yang Tuhan sampaikan melalui saudara-saudara kita.

Setiap kali melihat hal itu, kita menjadi begitu bahagia karena merasa hati kita dibesarkan. Mestinya begitu mata dibuka untuk melihat kebenaran, dimanapun kita melirik, di situlah hati nurani kebenaran, kebaikan berpancar.

Membuka mata melihat kebenaran,
memahami segala pengorbanan para pimpinan
serta meneladani pribadi luhur dan teladan nurani

Hidup di dunia fana ini, dimana-mana pasti ada kekurangan. Tapi janganlah membuka mata lalu melihat kekurangan, kecurangan, kebohongan di sana-sini. Masih banyak teladan mulia yang tidak kita lihat atau tak melihat sarna sekali. Ataupun sebaliknya, melihat tapi hati tidak berkesan. Nah ini sayang sekali bukan? Bagaimana bisa maju kalau setiap mata dibuka yang masuk adalah kotoran-kotoran yang mengacaukan hati? Bagaimana hati kita bisa tumbuh?

Maka bukalah mata dengan bijaksana, melihatlah dengan arif bijaksana, temukan kebaikan, (Tuhan, lihatlah kebenaran yang Tuhan sampaikan melalui saudara-saudara kita. Kalau kita melihat ke dalam masyarakat luas, lihatlah betapa banyak hukum-hukum yang mau menyadarkan kita. Betapa banyak orang yang semasa hidupnya tak tempat bersembahyang, bahkan tidak sempat mendengarkan kebenaran Tuhan.

Hidupnya begitu susah, banting tulang sepanjang hari, apa arti semua itu? Tidakkah kita menyadari karma begitu mengikat. Cobalah renung ke dalam diri, kita juga mempunyai karma, cuma mungkin karma itu belum membalas, belum matang. Saat karma telah matang, bagaimana kita menghadapinya? Banyak orang-orang yang cacat buta, menjadi pengemis, banyak keluarga-keluarga bermasalah, sungguh dunia adalah cerita berseri yang tak pernah habis sampai kiamat, sampai bencana datang.

Kita harus senantiasa melihat inilah kebenaran. Betapa banyak orang menjerit dalam penderitaan. Sepintas mereka hidup kaya-raya tetapi sebetulnya hati mereka kosong. Apa arti kekayaan? Tujuan kita mencari uang demi apa? Tak lain demi kebabagiaan bukan? Tapi setelah mendapatkan apakah bahagia?

Banyak orang yang tidak mendapatkan banyak uang tetapi dia mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Hidup seperti inilah yang harus kita utamakan dan itulah hidup yang kita sebut membina.

Banyak orang yang hanya tersenyum di muka tetapi hatinya penuh dengan kedukaan. Banyak yang merasa kesepian meskipun dia memiliki istri, anak dan keluarga yang ramai. Mata kita penting dibuka untuk menemukan kebenaran Tuhan. Begitulah para Nabi dan Buddha, bahkan mereka bisa melihat kebenaran Tuhan dimana-mana bahkan sampai ke dalam hal yang sekecil-kecilnya.

Ada seorang bhiksu Zen, ketika dia melewati sebuah jembatan, di bawah jembatan itu ada kali yang airnya mengalir dengan deras. Dahulu jembatan Tiongkok itu selalu melengkung, disebut sebagai Thien Chiao, yaitu jembatan langit. Guru Zen ini berhenti di tengah jembatan lalu dia melihat air yang bergerak cepat, turun terus sampai ke ujung-ujung kali, sudah tak bisa diukur gelombang yang pertama entah sudah sampai kemana. Sudah sekian ratus tahun usia kali ini, barangkaii gelombang pertama sudah tak mungkin bisa diketahui dan berapa banyak lagi di atas yang akan turun juga tak diketahui. Ketika dia berada di jembatan ini, dia melihat arus sungai yang bergerak dengan cepat, lalu dia berkata, "Aduh sungguh aneh sekali, ketika aku berada di jembatan ini, air semua berhenti tak bergerak. Lalu aku danjembatan yang bergerak teru.s." Itu adalah pikiran yang sang at hebat. Itu orang yang betul-betul mengerti masalah dunia ada di dalam hati. Jadi kalau air itu jalan ataupun tidak jalan itu bukan masalah. Yang menjadi masalah bila hati yang berjalan. Memang benar air itu yang mengalir, tetapi dia justru mau berkata yang mengalir _tak henti-henti itu hatiku. Sehingga dia berkata aneh sekali ternyata aku yang tak henti-hentinya mengalir. Air itu tak berjalan, gunung tidak berubah, rumput tidak berubah, matahari tidak bergeser, waktu tidak berjalan, aku yang mati sendirian.

Bamjak hal tldak men}adl masalah dl dunla Ini kalau hatl t!dak bergerak. Tetapl jIka hati sudah bergerak. walaupun dl dunla Inl t!dak ad a masalah. han!!a mellhat rumput bergerak sa}a hat! klta sudah kacau. karena hatl kita bergerak dulu

Banyak hal tidak. menjadi masalah di dunia ini kalau hati tidak bergerak. Tetapi jika hati sudah bergerak, walaupun di dunia ini tidak ada masalah, hanya melihat rumput ber gerak saja hati kita sudah kacau, karena hati kita bergerak dulu. Bagaimana mata kita melihat itu sangat penting, tapi hati yang tak bergerak itu jauh lebih penting

Di dunia ini, dimana-mana ada kasus, masalahnya adalah bagaimana anda melihat kasus tersebut. Sebagai seorang pembina, hati kita hams semakin beriman. Tidak peduli apapun yang terjadi kita tetap harus bersyukur. Banyak perubahan di dunia ini, tapi kita bisa membina diri, kita masih bisa datang ke vihara, duduk mendengarkan ceramah, i tu adalah kebahagiaan. Sayangilah saat-saat seperti ini. Hidup kita tidaklah panjang artinya kesempatan kita bisa membina Ketuhanan tidaklah banyak.

Kita hams merawat dan menjaga hati agar semakin tumbuh dewasa. Dari tahun ke ta hun, semakin mantap, semakin mantap. Kalau hati adalah pohon, akarnya semakin menceng keram mendalam, semakin kuat, ranting-rantingnya semakin besar dan kekar. Kalau hati kita adalah laut maka hams semakin mendalam, bukan makin dangkal. Semakin kita jelas ten tang hukum-hukum dan kebenaran Tuhan, semakin tak ada lagi keraguraguan dan kebimbangan. Kita menjadi semakin dewasa, semakin dapat berkontak dengan Tuhan. Jangan lupa kita adalah orang yang menerima Inisiasi Sejati. Roh dan jiwa kita telah dihubungkan dengan Tuhan. Pada hakekatnya Tuhan sudah ada dalam diri dan kita berada dalam rangkulan-Nya Telingo, 10 odoloh sebuoh pintu

Apakah pintu ini dibuka untuk mengundang tamu yang baik masuk ke dalam rumah atau pintu dibuka supaya maling gampang masuk mencuri barang? Ini tergantung bagaimana lubang telinga anda dibuka. Marilah kita mer:nbuka telinga untuk mendengarkan kebenaran Tuhan, untuk mendengarkan dharma, menerima bimbingan dan nasehat. Bagaimana seseorang bisa membina diri dengan baik kalau dalam satu bulan tidak pemah masuk sepatah kata pun dharma/khotbah ke dalam telinganya? Bagaimana dia bisa membina hatinya dengan baik? Bagaimana dia bisa semakin maju? Bagaimana dia bisa memiliki kekuatan menghadapi ujian dan cobaan?

Tanamkan sejak dini untuk selalu menggunakan indera kita demi kebenaran

Orang sud senantiasa mendengarkan ceramah dan dharma dari alam. Maha Sesespuh Wang berkata alam adalah pengkhotbah yang paling agung dan luar biasa. Burungburung berkicau pun adalah khotbah yang menunjukkan kasih sayang Tuhan pada man usia. Angin berhembus, adalah kelembutan hati Tuhan. Air mengalir menunjukkan betapa sabarnya Tuhan. Bumi yang diam tidak bergerak pun menunjukkan betapa besar, lebar, berat dan wibawanya hati Tuhan. Awan yang bergerak ringan menunjukkan betapa bebasleluasanya-Tuhan. Langit yang tinggi menunjukkan betapa tak terhingganya LAOMU. Sekuntum bunga menunjukkan apa itu arti tiada pamrih, tiada nafsu. Demikian dengan sebutir pasir, membentuk bangunan. Tanpa butirbutir pasir, tak ada gedung di dunia bisa dibangun. Tak mungkin satu gedung dibanguh dengan stainless steel atau baja semua. Ada butir-butir pasir, sampai dia tidak kelihatan. Setelah ditutup dengan keramik atau dicat, lalu orang tidak lagi melihat butir-butir pasir. Tapi sebetulnya seluruh gedung ini adalah butirbutir pasir. Begitulah sebutir pasir pun berkorban untuk umat man usia. Demikian dengan hand uk, cangkir dan lain-lain.

Tanpa ~uara, dengan ketenangan, keheningan adalah khotbah, dan kita tahu Tuhan terus-menerus me 'I. manggil kita, menghimbau pad a kita. Tuhan berbicara I dari alam, dari hati kita sendiri, nurani kita, dan Tuhan juga berbicara dari saudarasaudara kita. Kalau saudara saudara kita ditimpa musibah tidak membina dengan baik sehingga akhirnya mundur. Maka telinga kita harus dibuka dengan bijaksana untuk mendengar kebenaran-kebenaran Tuhan. Sayangnya umat kita memang ban yak tetapi satu kebiasaan untuk mendengarkan ceramah belum terpupuk dengan baik sehingga tidak mau mendengarkan ceramah.

Memang kita lihat dia mungkin sekarang tidak bermasalah dan dia sekarang bisa menjadi tel ad an yang baik. Tapi paling tidak mestinya dia juga belajar banyak bagaimana menjelaskan kepada umat yang bertanya. Bagaimana dia bisa mengajak orang memohon Ketuhanan. Bagaimana dia bisa memberikan bimbingan kepada istrinya dan anaknya di rumah. Bagaimana dia bisa berbagi pandangan pada saudara-saudara di kantor dan satu perusahaan. Kita tidak mesti mengajak orang memohon Ketuhanan kalau buka mulut

Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak saat-saat yang menimbul kan kesan indah pada ternan sejawat, . orang sekantor. Kalau kita mengerti dharma, mengerti kebenaran Tuhan, kita bisa berbagi pengalaman. Mung . kin saudara-saudara dari agama lain ingin mengetahui sebetulnya kebe, naran kita apa, iman kita dimana.

Hidup sosial adalah hidup dengan membagi kesan dan pengalaman yang indah~ Kita tidak mestLharus berkhotbah besar-besaran, mengajak dia memohon Ketuhanan atau pindah agama. Tapi kita dapat meneeritakan bagaimana ketika saya datang ke vihara, ketika, bersujud kepada Tuhan di vihara, saya menemukan kekuatan dan ketenangan. Kenapa kita hanya diam saja? Kenapa kita tidak berbagi kesan dan pengalaman? Dia tidak harns percaya, tidak harns menerima, tetapi tak ada saatsaat yang terlewat secara sia-sia bukan? Kalau anda membicarakan ini padanya, mungkin hanya membutuhkan waktu sepuluh menit tapi penuh makna. Dalam pandangan LAOMU, anda sudah membabarkan kebenaran. Banyak kegiatan-kegiatan ceramah yang sekarang mulai mastik ke masyarakat, baik itu dari KVMI ataupun di dalam kegiatan mencari dana.

Mengapa kita mau mengadakan pertemuan-pertemuan atau bimbingan dharma ke luar masyarakat? Apakah kita berharap mereka bisa memohon Jalan Ketuhanan? Bukan. Tetapi kita ingin menanamkan kesan terlebih dahulu agar mereka mengetahui. Dengan mengetahui saja sudah merupakan satu keberhasilan. Mereka mendengar nama Maitreya saja sudah menjalin jodoh bajik dengan Buddha Maitreya. Sekarang di dunia dibangun Proyek Maitreya yang tingginya 140 meter lebih, apa kata Dalai Lama, Lama Thubten Yeshe, Lama dan Rinpoche lainnya? Karena itu adalah eara termudah menanam benih

Kebuddhaan pad a semua orang yang sempat melihat patung tersebut. Dalai Lama berkata, "Melirik patung Maitreya saja, itu sudah menjalin jodoh."

Kita harus belajar mengembangkan pemahaman, bukalah telinga untuk mendengarkan penderitaan-penderitaan dan kesedihan-kesedihan. Mendengarkan kesulitan-kesulitan, susah hatinya sesepuh, pandita, biarawan dan umat kita

Kita bekerja dari akar yaitu hati. Kita mau memulai dari dasar hati, bembah dari dasar hati. Mengikatjanji dan jodoh dengan Sang Pembawa damai dan bahagia untuk dunia ini. Secara tidak langsung bibit kedamaian ditanam dalam hati. Demikian kalau kita tidak mendengarkan dharma, hanya datang sembahyang, datang beramal, datang bekerja; itu tidak cukup. Kalau anda mau menjadi umat yang baik, tentu anda juga hams mengajak orang memohon Ketuhanan. Suatu hari andajuga mengemban tugas untuk melayani umat. Tanpa perlu mengajak Pandita atau viharawan-viharawati, anda sudah siap pergi menjenguk dan mendoakan umat yang sakit. LAOMU menumnkan Tao, bukan hanya menye~ lamatkan diri kita maka kita semua hams menjadi penyampai Kebenaran Tuhan.

Jika tak pemah mendengarkan ceramah atau dharma maka sulit untuk membimbing orang lain. Saat mereka dilanda masalah, bagajmana bisa kita memecahkan pertanyaan dan keraguan di dalam hatinya? Dalam kehidupan sehari-hari di mmah pun, kita hams membimbing keluarga agar mereka lebih mengerti tentang apa makna hidup ini, menghibur, menguatkan jiwa, memberikan kepenuhan rohani

Ingatiah, anak adalah kain putih yang paling mudah ditulis. Kalau dari keeil dia sudah ditulis dengan kebenaran-kebenaran Tuhan maka imannya akan tumbuh-kuat. Mulailah memberikan pandangan yang positif serta pengenalan tentang para Buddha.

Di dalam sebuah rumah tangga, menjadi bapak atau ibu punya peran tersendiri. Jadilah matahari seperti Bapak Guru Agung dan rembulan seperti Ibunda Sud. Di rumah, menjadi tanggung jawab orang tua untuk membimbing anakanaknya. Jika sebagai orang tua, telinga tidak dibuka untuk kebenaran, bagai~ana kelak dengan anaknya? Orang sud mengatakan, "Universitas pertama di dunia dim ana kita menerima ilmu dan bimbingan bukan di sekolah tetapi di rumah." Di situ kita mulai belajar menerima pelajaran pertama - yaitu bagaimana kita memanggil mama

Jangan pemah berkata bahwa menyampaikan hukum kebenaran Tuhan itu hanya tugas pandita.Tidak! Kita semua mempunyai wewenang yang diberikan Tuhan untuk kesaksian akan kebenaran luhumya Kuasa Firman Tuhan. Oleh sebab itu kita hams belajar mengembangkan pemahaman, lalu bukalah telinga untuk mendengarkan penderitaan-penderitaan dan kesedihan-kesedihan. Mendengarkan kesulitan-kesulitan, susah hatinya sesepuh, pandita, biarawan dan umat kita

Kita telah mendengar kisah tentang Sesepuh Xi Ci Cou di Hongkong. Dulunya beliau juga adalah wakil Ibunda Suci sebelum Hao Che Ta Ti. Beliau adalah sesepuh yang sangat agung dan luar biasa. Setelah menerima mandat dari Ibunda Suci, beliau meninggalkan keluarga, istri dan anak. Bersama sejumlah umat beliau be rangkat ke Hongkong untuk mengembangkan Wadah Ketuhanan disana. Di Hongkong, beliau hidup dalam kesusahan, mmah sewaan untuk dijadikan vihara begitu keci!. Hongkong adalah temp at pertemuan berbagai lapisan masyarakat. Ketika komunis jatuh, mafia melari.kan diri ke Hongkong se . hingga banyak orang jahat di sana. Segala macam bentuk pikiran ada di dalam masyarakat sana karena pengaruh dari Inggris yang menjajah dan pengaruh Cina dengan Ajaran Khong Hu Cu-nya

Maha Sesepuh Xi tidak pemah membicarakan apa yang terjadi di da- . lam hidupnya sampai beliau meninggal dunia. Saat membersihkan meja Sese- ' puh, ada seorang muridnya yang melihat satu tumpukan surat, surat-surat yang masih belum dibuka sarna sekali. Surat tersebut berasal dari Tiongkok ditujukan kepada Sesepuh Xi di Hongkong. Ada beberapa lembar yang sudah terbuka, lalu mereka membacanya. Temyata surat tersebut dari istri dan anak sesepuh. Mereka menulis bagaimana mereka hidup menderita dan kelaparan bahkan kini telah hidup sebagai penge'mis di Tiongkok dan minta dikirimi uang. Sesepuh XLmembaca surat itu, air matanya tidak menitik. Dia tidak menangis bukan karena tidak mempunyai rasa cinta kasih kepada keluarganya. Menitikkan air mata keluar adalah pekerjaan yang gampang tapi untuk menumpahkan ke dalam itu barn luar biasa. Setelah membaca surat itu, murid-muridnya baru menyadari kenapa setiap ada kiriman surat, lalu Sesepuh membawanya ke kamar dan keluar dari kamar kelihatannya sedih, seperti ada beban berat tetapi jika ditanya kenapa, beliau selalu berkata tidak apa-apa.

Kenapa beliau tidak mengirim uang buat anak dan istrinya? Padahal kalau beliau sampaikan hal ini kepada umat, pasti umat-umat akan membantu. Tetapi buddha adalah buddha. Dia tidak mau satu sen pun uang vihara di- . kirim pulang untuk rumah, untuk anak istrinya. Beliau bisa saja mencari pekerjaan, namun karena rasa tanggung jawabnya terhadap Wadah Ketuhanan dan umat-umat, beliau tidak melakukan hal tersebut. Beliau sendiri hidup dalam kemiskinan, makan kulit roti yang dibuang toko roti. Kulit roti yang hitam-hitam dipotong dan dibuang ke kantong-kantong itulah yang sesepuh pungut bawa pulang untuk dimakan

Surat yang isinya sarna terus berdatangan sampai akhimya sesepuh tidak mau membukanya, beliau tidak mau membaca lagi. Beliau menerima kenyataan itu, air matanya mengalir ke dalam dan terus disimpan sampai meninggal dunia. Kita harus mendengarkan penderitaan dan pengorbanan para sesepuh demi umat manusia, apalagi kita sekarang membina tidak perlu . sampai menderita begitu.

Begitu juga kisah perjuangan Che Cen Ta Ti, Sesepuh Cou. Beliau ketika mendapat mandat, perintah d¥i sesepuhnya untuk pergi ke Taiwan untuk merintis Wadah Ketuhanan di sana. Taiwan pada masa itu belum dikenal, belum ada pembangunan, hanya ada markas Jepang di sana. Sesepuhnya memerintahkan beliau ke Taiwan dan segera membuka vihara. Tidak ada dana, tidak ada studi kelayakan, tidak ada kontak mau menghubungi siapa. Menerima perintah itu, beliau langsung menjawab ya, pulang rumah untuk pamit kepada istrinya. Lalu beliau membungkus bajunya dan saat istrinya bertanya, "Selanjutnya keluarga kita bagaimana? Karena tak ada lagi sisa uang". Lalu Sesepuh Cou menjawab, "Apa tidak bisa menjadi pengemis, kan masih bisa hidup".

Kita telah banyak mendengar kisah kebenaran yang sangat bermanfaat ini, bagaimana kita boleh menutup telinga dari kenyataan-kenyataan, contoh-contoh teladan hati nurani? Begitulah telinga dibuka untuk kebenaran dan mendengarkan susah hatinya umatumat man usia. Jadilah orang yang - mempunyai prinsip dan mempunyai kekuatan jiwa di dalam membina Ketuhanan. Selalu mau membimbing dan memberikan semangat. Itu namanya membuka telinga untuk kebenaran, membuka telinga untuk memancarkan kasih sayang. Inilah cara kita merawat ketenangan dan kesucian hati nurani. (xsy, ch)

Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia



 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.