|
Saudara se-Ketuhanan, para Buddha Siswa, salam damai sejahtera! Hari ini tema yang kita bahas adalah "Rahmat Tuhan danKebajikan Guru - Panggilanku untuk Mengemban Tugas Suci". Nilai luhur Tao kita adalah Rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru. Dewasa ini, bencana besar terjadi di mana-mana, sehingga seluruh dunia dirundung ancaman bencana dan musibah. Karena itu, Tuhan Maha Pengasih, menganugerahkan karunia, agung dengan turunnya Jalan Ketuhanan. ke dunia. Digelarlah Misi Penyelamatan'Triloka untuk menyelamatkan umat manusia di dunia, arwah neraka dan dewata di surga kembali ke Nirwana. Inilah keagungan rahmat Tuhan dan kebajikan Guru. Kesempatan emas ini hanya hadir sekali selama enam.puluh ribu tahun. Bahkan kenyataannya, hanya sekali terjadi selama seratus dua puluh sembilan nbu enam ratus tahun. Apa artinya? Kelak, Jalan Ketuhanan takkan diturunkan lagi, begitu pula enam puluh ribu tahun berikut. Karena itulah, jika kita menyadari betapa agungnya rahmat Tuhan dan kebajikan Guru, serta-me(ta dalam membina Ketuhanan kita akan menunaikan tugas Tuhan. Ini tugas suci, bukan urusan duniawi. Sekarang menjalankan tugas Tuhan, niscaya kelak akan ~endapatkan'kedudukan suci dari Tuhan pula.
Itulah sebabnya, apabila kita menyadari nilai mulia rahmat Tuhan dan kebajikan Guru, secara otomatis dan tanpa perintah dari siapapun: kita pasti akan menjalankan tugas suci, dan pasti membina Ketuhanan dengan sendirinya. Membina Ketuhanan harus memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Jangan melew~ti denga~ sia-sia kesempatan dan,
masa emas ini! Sebelumnya ada pembahasan tema tentang 'Berjuang Setiap Detik di Masa Emas nan Langka'. Pada kesempatan ini u,mat Triloka dapat kembali ke Nirwana. Adalah kewajiban kita Saudara se-Ketuhanan untuk menyelamatkan mereka. Adakah kita saudara Ketuhanan menjalankan tugas Tuhan dengan semangat berjuang setiap detik? Bila menginsafi gentingnya zaman ini dan luhurnya Jalan Ketuhanan, kita takkan menyianyiakan satu detik pun. Pekerjaan pertama untuk membina dan melaksanakan Ketuhanan adalah banyak merenimgi. Jika kita sungguh-sungguh menghayati dan menginsafi bahwa kecemerlangan dalam diri kita melampaui sinar tera~g para Buddha dan terangnya cahaya surya rembulan, serta-merta sinar Buddha dalam diri kita, yaitu sinar kecemerlangan hati nurani, akan dapat menyelamatkan Triloka, dan bisa menyelamatkan hati nurani umat manusia. Untuk merenungi dharma, kita harus setiap menit dan setiap detik terus melakukannya 0. Bisakah kita merenunginya saat makan? Bisa: Saat berjalan pun bisa. Kapan saja dan di mana saja kita bisa merenungi dharma. Semangat berjuang setiap detik ini dapat diaplikasij
Tugas dan kewajiban suci seorang Pandita sangatlah berat! Selain berat, juga sangatmulia nan agung. Karena tugas Pandita yang begitu suci dan mulia, tentunya harus berusaha dengan seluruh tenaga dan jiwa untuk melunakannya. Baik mengorbankan
jiw,! dan raga, baik siang atau malam dan tanpa bosan-bosannya, kita harus menyelamatkan umat manusia dan hingga Triloka seluruhnya kembali ke' Nirwana, barusemua kewajibari Pandita bisa ditunaikan. Pada taraf ini, barulah layakdisebut sebagai Pandita yang sempurna dan baru dapat 'bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa, Buddha Maitreya dan Dwi Mahaguru Suci. Tugas suci Pandita memang sangat mulia dan luhur, sangat berat dan penting. Mengapa penting? Hanya dengan satu Petunjuk Inisiasi dari Pandita, Pintu Buddhata seorang umat baru seketika tersingkap dan segera menembus ke segala alam Jika Saudara se-Ketuhanan telah mempunyai amal kebajikan, kita boleh melintaskan leluhur kita sendiri': Saat upacara pelintasan arwah dilaksanakan, Pandita memberikan Petunjuk Inisiasi, arwah di neraka langsung terselamatkan ke dunia. Muliakah dan pentingkah tugas suci Pandita? Sangat mulia dan penting! Makanya, apakah para Pandita sudah menunaikan tugas sucinya? Apakah sudah menjalankan seluruh tugas dan kewajibannya? "Kelak saya akan melaksanakannya".
Bagaimanaoengan dulu? Apakah setengah dari kewajiban sudah dilaksanakan? Kalau tidak, harus bagaimana sekarang? Tak bisa bertanggung jawab kepada Tuhan; Buddha Maitreya dan'Dwi Mahaguru Suci. Jika demikian, siapakah kita? Pendosa! Apabila kita menghayati kemuliaan Kuasa Firman Tuhan, tetunya kita bisa menjiwai semangat berjuang setiap detik ini. Berjuang setiap detik berarti tak melewatkan setiap detik dan setiap menit dengan sia-sia.
Para Pandita harusperhatikan! Apabila Kuasa Firman Tuhan' begitu luhur, kita harus benisaha sepenuh jiwa dan semangat untuk menunaikan tugas dan kewajibah s\lci ini.Saya~' h~rus ~enantiasa menjalankan tuga,s kita. Tanpa keragu-raguan da~ ~ekurangan. Siap mengo,rbankan jiwa dan raga. Berjuang siang I?aupun" , malam untuk' menyelamatkan u~at
manusiiL Dalam membina dan melaksanakan Ketuhanan, apa kah Saudara se-Ketuhanan bersemangat berjuang siang dan malalJl tanpa istirahat? Kalau siang hari kita sudah 'bekerja sekuat tenagll untuk melaksanakan , Ketuhanan, tetapi malam hari semua orang sudah hendak istirahat. J adi
bagaimana melaksanakan Ketuhanan di mal am hari? Banyak merenungi dharma. Saat.tidur pun harus banyak merenu~gi dharma. Ketika berbaring di tempat tidur, kita berpikir dalam hati, "Besok haru's melaksariakan -Ketuhanan di tempat A, lu~a di tempat B, minggu depan di tempat lain lagi. Saat penataran dharma nanti, saya haru~ plenguraikan bahan ini, apakah tema ini bisa mengetuk hati manusia," dan sebagainya. Saudara se-Ketuhanan, apakah kita berbuat demikian? Setelah makan, apa yang kita lakukan? Menonton televisi? Malu untuk mengakuinya. Apabila Pandita menonto'n televisi, sangatlah malu! Kita menyaksikan satu program televisi yang sangat , bermakna. Saat berbaring tetapi tidak bisa tidur nyenyak: mengapa? Karena
hati kita terus teringat acara tersebu!. Sampaihari kedua, masih terpikir bahwa program kemarin cukup bermakna, Demikia?, bisakah kita membina -diri? Bagaimana membuka hati nurani kita? perhatikan hal-hal pe~ting ini! Semangat berjuang baik siang dan malam tanpa istirahat artinya senantiasa tidak terpisah dari jjwa Ketuhanan. Kini, kita menyelamatkan :rriloka, apakah penuh derita? Lelah atau tidak? Meski lelah, harus merasa tidak lelah. Inilah cara membina yang tepat. Muliakah pei-juangan yang penuh kecapekan dan keletihan? Jika .\letih dan lelah hingga mengorbankan nyawa demi membina Ketuhanan, sebetulnya kita sang at beruntung. Mengapa beruntung? Selesailah tugas besar menyelamatkan Triloka kembali ke Nirwana.'Keberuntungan ini membawakan berkah untuk Triloka, Berarti manusia, arwah dan dewata pada bisa kembali ke Nirwana. Karena itu, saya berjuang'siang dan malam, tak hentihentinya menyelamatkan manusia hingga mengorbankan jiwa dan raga, baru tugas suci Pandita bisa ditunaikan
Sampai tahap ini, baru patut disebut Pandita yang sebenar-benarnya. Dengan demikian, kita baru dapat bertanggung jawab kepada Tuhan, Buddha Maitreya dan Dwi Mahaguru Suci.
Keluhuran Jalan Ketuhanan yang diturunkan ke dunia ini te~"!~tak pada Kuasa Firman luhan. Sarna seka:Ii bukan segala kitab suci dan bukanjuga seg~la dharma dan filosofi. Bukan juga kelihaiim saya dalam berceramah. Bukan mengandalkan kepintaran: dan kemampuan. Lebih lebih bukan karena wawasan dan . pengetahuan saya. Kita semua hams perhatikan pernyataan-pernyataan diatas. Semuanya bukan kekuatanku. Jika kita mengira semuanya karena kemampuan dan kelihaian saya, menjadi apa Ketuhanan ini? Ketuhanan saya. Apabila ada Aku, hasil aim yang diperoleh? Ada aku, berarti ada keegoisan, berarti terpisah dengan LAOMU. Berarti juga terpisahlah antara Nirwana dan Neraka.
Akhirnya juga terjerumus ke neraka. Namun, kini berkat rahmat Tuhan dan kebajikan Guru, kita telah mel).dapatkan Ketuhanan, takkan terjerumus ke neraka lagi. Tetapi apa akhirnya? Ruang Pertobatan. Karena kita .masih tertidur nyenyak. Setiap hanya sibuk! tak habis-habisnya demi tugas I duniawi. Akhirnya Tuhan memberikan, kita satu gubuk kecil.- Memang lebih baik sedikit dibandingkan dengan neraka. Jika kita .menjalankan tugas Tuhan, serta berjuang sepenuhjiwa, dari siang sampai malam, _hingga mengorbankan jiwa dan raga demi menyelamatkan umat manusia, apa hasilnya? Sepuluh li satl,l vihara , besar dan lima [j satu cetiya kecil. Seluruh dunia berbakti
puja kepada Saudara. Sudah jelas? Mau membina? Mau melaksanakan'
Ketuhanan? Bagus kalau mau membina dan melaksanakan Ketuhanan. Dalam membina dan melaksanakan Ketuhanan, jasmani bukan milikku, bukan kemampuanku, bukan kelihai
anku, tetapi adalah keagungan Kuasa. Firman Tuhan. Kuasa Firman Tuhan,
seratus persen tidak akan salah lagi!
Pad a masa ini, di akhir zaman dengan kondisi mas a yang demikian, bencana besar sedang merundung dunia. Meski di m!lna-mana malapetaka mengancam di depan mata, namun kita mendapatkan kemujuran yang besar di an tara ketidakberuntungan. Ketuhanan
. diturunkan karena adanya bene ana;
Taosejati hanya ditransmisikan ke
. pada orang yang tepat dan pada masa yang tepat pula. Jika bukan pad a saat dunia dipenuhi bencana besar,. Jalan Ketuhanan tidak akan diturunkan ke dunia dan tidak bisa ditransmisikan. Sampai masa ini, Jalan Ketuhanan diturunkan ke dunia dan diwariskan melalui Transmisi Sejati. Apa kemuliaan Transmisi Sejati 0 tersebut?
Tak perlu melafalkan sutra, penguraian kitab suci, dan meditasi. Hanya satu
petunjuk 0 ini langsung bisa kembali ke Nirwana. Ketika Naskah Suci dibakar, serta merta nama kita tercantum di Nirwana dan dihapus dari neraka. Bersaksilah atas kemuliaannya! Sungguh disayangkan jika tidak membina sekarang. Karena adanya bencana besai, Tao diturunkan untuk menyelamatkan umat manusia yang bajik. Siapa yang menyebabkan terjadi
,bencana tersebut? Manusia sendiri yang menimbulkannya sendiri. Bagaimana menimbulkannya? Karena tidak
ada hati nurani. Tujuan utama diturunkannya Jalan Ketuhanan adalah menyelamatkan hati nurani umat manusia 0. Dan bencana timbul untuk memusnahkan manusia jahat. Karena itu, Ketuhanan dan beneana datang berbarengan untuk memisahkan an tara yang bajik dan yang batil.
lni adalah kenyataan. Tetapi, walau ini kenyataan, apakah para Pandita yang
memiliki tugas dan kewajiban ihihi nan suci sudah menjalankan seluruh tugasnya? Apakah mumi dalam keilahian tanpa keduniawian? Bisa merela.kan? Tidak ada! Sekarang tak bisa, kelak harus berusaha sampai bisa! S~udara se-Ketuhanan, keluhuran Ketuhanan
kita semuanya berkat rahmat
I Tuhan dan kebajikan Guru. Makna sesungguhnya dari
. keluhuran Ketuhanan adalah berpaling kembali ke dalam diri untuk mengenali hati nuraniku 0. Setelah menginsafi hati nurani, kita baru bisa menyelamatkan hati nurani umat man usia. lnilah kunci dan
pondasi utama dari keluhuran
rahmat Tuhan dan kebajikan .
Guru. Dengan menyelamatkan hati nurani umat manusia agar setiap orang menginsafi kebenaran, niscaya dunia yang damai sentosa akan terwujud. Dan tentunya bencana akan lenyap dengan sendirinya.
Kini, Tuhan Yang Maha Pengasih menurunkan Jalan Ketuhanan ke dunia untuk menyelamatkan manusia bajik. Dan bagaimana bencana bisa timbul? Bencana ini bukan diturunkan oleh Tuhan, tetapi adalah akibat perbuatan manusia sendiri. Hal ini harus diperjelas. LAOMU, TuI{an Maha Pengasih nan Penyayang sangat mengharapkan bencana besar ini bisa dilenyapkan. Namun, utang dosa manusia selama enam puluh ribu tahun harus ditebus. Karena itu, bencana besar tersebut adalah ulah manusia sendiri. Saudara secKetuhanan, baik sebagai Pandita, Pandita Madya/Muda, dan Pelaksana, kita semuanya mempunyai tanggungjawab yang besar. Mengapa? Kita harus menyelamatkan hati nurani umat manusia di dunia. Dengan demikian, bencana akan lenyap dari permukaan bumi. Mungkinkah kita melakukan tugas ini? Mungkin! Karena hal ini tugas Tuhan, takkan ada masalah! Jika kita mengira semuanya adalah kekuatan, kemampuan, kepintaran dan kecerdasan saya, maka semuanya tak mungkin terlaksana. Kita harus sadar bahwa sungguh agung rahmat Tuhan dan kebajikan Guru. LAOMU menurunkan Tao untuk menyelamatkan hati nurani umat manusia, sehingga semuanya menjadi bisa dilakukan. Dan bagaimana melenyapkan peperangan dan bencana di dunia? Langkah pertama, kita harus menyelamatkan hati nurani kita sendiri. Diriku harus damai sentosa dulu, baru kita dapat menyelamatkan hati nurani umat manusia. Walau kit~ meminta manusia sekarang untuk datang memohon Ketuhanan, mereka juga tidak bersedia. Namun manusia suka berfoya-foya demi kesenangan, perjudlan, harta, nama, kuasa dan kedudukan. Bukan saja tidak dapat memulihkan hati nuraninya, mereka bahkan membunuh sesama, merampok, dan melakukan kejahatan lainnya. Bagaimana menyelamatkan mereka? Hukum kebenaran akan menyelesaikannya. Mengapa ada Hukum Kebenaran Hati Nurani yang menyelesaikannya? Utang nyawa dibayar nyawa. Merarnpas milik orang lain harus dikembalikan pula. Hukum Kebenaran yang akan menyelesaikan semua ini. Yaitu senjata nuklir dan atom yang berutang dosa banyak. Orang berakar kebajikan mendapat dan melaksanakan Ketuhanan serta memulihkan kembali kesadaran hati nurani. Inilah yang dimaksud Ketuhanan dan bencana berbarengan, yaitu pemisahan antara bajik dan batH. Saudara seKetuhanan hams menyadari bahwa Ketuhanan bertujuan menyadarkan kembali hati nurani manusia. Bencana bertujuan memusnahkan rnanusia laknat. Makanya, disebut Ketuhanan dan bencana berbarengan dan pernisahan antara bajik dan batil. Pemisahan ini bukan pemisahan yang ditulis, yang
Ketuhanan dan bencana datang bersamaan
untuk memisahkan antara bajik dan batil.
Ketuhanan bertujuan menyadarkan
kembali hati nurani manusia
dan bencana bertujuan memusnahkan manusia jahat dan laknat
memiliki mata ilahi, mata Buddhata, mata kearifan. Karena itu, born nuklir berhati nurani. Tugasnya adalah memberantas manusia jahat dan laknat, yang mereka yang melakukan pembunuhan, perampokan dan kriminal lainnya. Jika manusia jahat dan laknat sudah ti~ak ada lagi, berarti hati nurani telah dipulihkan. Setiap manusia telah menyadari kernbali hati nuraninya. Akhimya setiap individu bisa menginsafi hukurn kebenaran, dan dunia serta merta menjadi damai sentosa.
Setiap manusia menginsafi hukum kehenaran, dunia menjadi damai sentosa. Inilah hukum yang absolut. Karena itu, apakah Pandita, Pandita Madya/Muda dan Pelaksana Vihara yang memiliki jabatan. dan tugas suci telah menyelesaikan tanggung jawabnya? Apak.ah telah menjalankan tugas murrli ilahi tanpa duniawi? Apakah segenap jiwa membina dan melaksanakan Ketuhanan? Apakah berjuang sepenuh hati tanpa niat kedua untuk demi keselamatan umat manusia? Bila kita telah menjalankan seluruh tugas Tuhan kita secara sungguh-sungguh, segala urusan dan ikatan duniawi akan kita relakan. Kemudian, bagi yang sudah hidup membiara dan murni ilahi, apakah kita sudah benar-benar membina dan melaksanakan Ketuhanan? Mempunyai keakuan? Ada iri hati? Semua ini harus diperhatikan! Jika kita hidup membiara dan murni demi tugas ilahi, kita lebih harus mengenyahkan keegoisan dan harus menjiwai rahmat Tuhan dan kebajikan Guru. lnilah.
membina dan melaksanakan Ketuhanan sejati. Apabila kita hanya sibuk memikirkan misi penyelamatan umat dunia, arwah di neraka dan dewata di surga, tidak hanya mengabaikan diri pribadi dalam urusan duniawi, bahkan juga melupakan diri sendiri dalam tugas-tugas vihara. Kita yang telah hidup membiara, demi tugas-tugas vihara, apakah ada hati egois? Vmat A tidak menuruti keinginan saya, dan umat B tak sesuai kehendak saya. Pandita ini tak pernah menerima pendapat saya, umat ini tidak mendengar perintah saya. Kemudian, beberapa umat ini saya yang mendhiksa, berarti umat saya, dan umat-umat itu tidak termasuk umat saya. Selain itu, ada sikap diskriminatif? Jika membedakan aku dan kamu dalam vihara kita, sarna halnya telah berpisah dengan
LAOMU, Buddha Maitreya dan Dwi Mahaguru Agung. Apa maksudnya? : Misalnya kita beranggapan semua umat adalah milikku dan hams turuti pendapat saya, ini berarti berpisah dari rahmat Tuhan dan kebajikan Guru. Inilah pendosa! Syarat pertama membina dan melaksanakan Ketuhanan adalah tidak diskriminasi an tara sesama. Harus senantiasa memikirkan kepentingan setiap orang, asalkan mereka bisa membina dengan baik. Bahkan umat yang tidak kenaI, saat bertemu harus memberikan bimbingan sebagaimana mestinya.-Jika orang lain menentang pendapat kita, menfitnah dan menghina. kita, kita lebih-Iebih harus memikirkan kepentingannya. Kita sepatutnya berkewajiban memberikan bimbingan, kasih dan perhatian kapada orang tersebut. Harus diperhatikan hal ini! Evaluasilah diri, sadarkanlah diri! Bila sungguhsungguh menginsafi, kita akan sadar bahwa saya adalah pendosa! Sadarlah dan maw as diri! Jika kita sungguh-sungguh menginsafi rahmat Tuhan dan kebajikan Guru,sepatutnya kita berusaha sepenuh hati dan sekuat
tenaga untuk membalasnya. lnilah pribadi seorang nabi nan suci. Kita tidak'mampu membalas rahmat
Tuhan walau kita berusaha dengan cara apapun, kalimat ini harus dihayati dengan jelas. Selain itu, tak ada urusan saya. Saya hanya berteguh dalam jiwa untuk membalas rahmatNya, karena saya sadar saya tidak mampu membalasnya dengan usaha apapun. Apakah' sayamasih mempunyai amal kebajikan? Apakah saya memiliki umat bawahan? Adakah vihara yang menjadi milikku? Semuanya bukan milikku. Hanya ada satu niat untuk membalas rahmat Tuhan dan kebajikan Guru.
Dengan saw Inisiasi Firmani terbebaslah dari samsara,
dalam kehidupan ini membina Ketuhanan
maka dalam kehidupan ini juga dapat mencapai keterbebasan
dengan saw Inisiasi Firmani tertanamlah bibit suci Kebuddhaan
Satu anak mencapai kesempurnaan,
leluhur pun ikut mencapai keterbebasan
Bumi suci dunia damai sentosa terwujud di dunia
Penerjemah : P.Md. Ependi. Bd.S.) Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia
|