Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  PATISANDHI / PUNABVHAVA (Tumimbal Lahir)

 

       Buddha adalah Guru Utama

 

     

Nama

:

Ven. Prof DR. Master Chin Kung

Nama Kecil

:

Yae Hong Hsu

Lahir

:

Lu Jiang 1927-Anhui

Agama Buddha

:

Aliran Amitabha

Utusan Agama

:

Anggota PBB (Perdamaian Dunia)

Kunjungan Tokoh

:

WALUBI, MUI, NU, KWI, PGI & PHD

   

UMAT Buddha harus meneladani dan melaksanakan ajaran Buddha, bagaimana kita menerapkan kehidupan Dharma Hyang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Dan umat Buddha harus menganggap Buddha sebagai Bhagawan atau sebagai Tathagata, bahwa Buddha adalah sebagai Guru utama, maka kita harus mengikuti ajaran yang disampaikan oleh Buddha untuk menggunakannya dalam sehari-hari, agar mencapai kebuddhaan.

 Dalam tingkah laku kita sehari-hari, baik terhadap masalah pada setiap orang, terhadap keadaan, terhadap cetana kita, harus kita perhatikan semua. Apakah ini sesuai dengan ajaran Buddha. Dan jangan bertanya Buddha berada dimana, namun kita hanya bisa menemukan Buddha yang ada sekarang dalam bentuk arca/patung.

Hal terpenting tingkah laku atau ucapan kita, harus disesuaikan dengan ajaran Buddha. Bila ada yang bertanya, dimanakah  ajaran Buddha itu berada, ajaran Buddha itu terdapat di Tripitaka/Tipitaka seperti yang telah diketahui dan terbagi tiga bagian antara lain Sutra pitaka, Vinaya pitaka dan Abhidharma pitaka. Kalau Sutra pitaka mencakup teori- teori dharma, dimana tingkah laku manusia sesuai diajarkan oleh Buddha, Vinaya pitaka mengajarkan bagaimana prilaku tingkah laku kita, sesuai dengan ajaran Budhha.

Dengan demikian kita diminta untuk menghayati Dharma di dalam pelaksanaan kehidupan kita sehari-hari. Sewaktu kita masih kanak-kanak saya punya perasaan keliru terhadap agama Buddha, sepertinya agama Buddha adalah agama yang penuh dengan ketakyulan, tetapi sebaliknya saya begitu mengagumi imam diantara pendeta kristen, karena pendeta ini pemudanya bisa berkotbah. Sedangkan yang dilihat pada waktu itu, dari pendeta-pendeta Buddha hanya membacakan ritual-ritual doa untuk orang mati.

Menurut penilaian saya pada waktu itu agama Buddha adalah lebih dikhususkan kepada orang mati saja dan bukan untuk manusia-manusia yang hidup. Pada usia 25 dan 26 tahun saya berkenalan dengan seorang ahli filsafat Timur terkenal, Prof. Phang Thu Mey.  Profesor tersebut berkata justru didalam kitab suci agama Buddha terdapat ajaran dan filsafat-filsafat yang sangat tinggi, tetapi hanya bisa diterima oleh orang-orang yang dapat mengerti dharma dengan baik bila faham benar isi yang terkandung di dalam kitab suci itu.

Saya begitu terpukau, sehingga mulai tertarik untuk mempelajari filsafat Buddha. Disamping itu juga menemukan pelajaran-pelajaran Buddha dan etika moral yang tercantum pada aliran dan agama-agama lain yang tercantum pada kitab suci Buddha. Setelah mengetahui betapa indah, halus dan tinggi nya kitab suci Buddha, saya dengan tulus iklas menyembah dan takluk, bahwa sungguh agung Dharma yang begitu mulia. Oleh karena itu saya cepat mengambil suatu keputusan, bahwa ini merupakan satu misi dan tanggung jawab bagi saya untuk membabarkan Dharma diseluruh dunia ini. Kalau seseorang dapat mengetahui ajaran Hyang Buddha yang begitu baik dan bagus, tetapi dia tidak membabarkan, berarti kesalahan bagi dirinya. Oleh karena itu orang yang mengetahui, harus benar-benar berperan dalam membabarkan Dharma. Demikian selama 46 tahun saya tak henti-hentinya, membabarkan serta mengajarkan Dharma kepada semua umat.

Seseorang hendaknya mengembangkan Bodhicitta dan kemudian menerapkan Bodhicitta di dalam penghayatan dharma. Pengalaman saya selama lebih dari 50 tahun berkenalan dengan agama Buddha dan saya ingin sharing berbagi pengalaman dengan bapak/ibu yang hadir disini.  Bagaimana kita beragama Buddha dan cara mengembangkan Bodhicitta, karena sesungguhnya Bodhicita itu untuk diteorikan. Para acharya menulis kedalam sastra-sastra mereka, betapa sulitnya mengurai untuk mengerti makna Bodhicitta tersebut.

Apa hakiki yang sebenarnya dari Bodhicitta, meskipun begitu banyak tafsiran untuk menjelaskan pengertian Bodhicitta tersebut. Lalu saya mengungkapkan dalam bahasa yang sederhana, pengertian Bodhicitta setiap manusia adalah harus memiliki ketulusan hati, yang berarti setiap kita berkomunikasi pada setiap orang, dan setiap kita menjumpai dengan sebuah masalah, atau kita berada dalam situasi tertentu, kita senantiasa menjaga ketulusan hati. Dengan demikian kita dapat menghayati dharma di dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang Buddhis meskipun dia bisa membaca kitab suci Buddha, namun tanpa pelaksanaan, hal itu hanya teori belaka. Bodhicitta yang mendalam begitu sangat halus sekali, tetapi didalam aparimitayus sutra, Hyang Buddha membabarkan, hal ini dapat diterapkan didalam kemurnian hati, perasaan samatha yaitu menganggap semua orang itu sama dan rasa kesadaran selalu sadar dalam setiap saat (eling-waspada). Terhadap diri sendiri kita melihat kemurnian batin dengan kemurnian pikiran. Terhadap diri sendiri kita reflektif melihat kesamarataan dan kita melihat eling-sadar dan demikian kita memeriksa tingkah laku kita. Tetapi keluar terhadap orang lain kita selalu mengembangkan maitri- karuna(welas asih dan belas kasihan), dengan demikian penghayatan dharma itu berjalan berangsur-angsur untuk bisa dan benar-benar mengerti apa itu yang dimaksud dengan Bodhicitta.

Kita diminta untuk mengembangkan Bodhicitta, cita-cita yang luhur untuk membebaskan diri kita sendiri dan membebaskan makhluk lain. Itupun juga harus beranjak dari usaha kita untuk melihat keadaan batin kita sendiri yang disebut cetana. Demikian setelah mengerti penghayatan Bodhicitta itu, kita berusaha untuk menerapkan di dalam tingkah laku kita untuk melihat tuntas dan menembus dunia nyata. Kita melepas, tidak melekat ; terkenang dan damai ; kita mengikuti jodoh, jangan memaksakan keadaan; mengenang dan melafalkan nama Buddha. Dengan pengertian melihat dengan tuntas, berarti kita mengenal keadaan sebenarnya dari alam fenomena ini.

Kemudian kita diminta untuk melepaskan rasa egois, melepaskan diri dari segala rasa ketenaran, keserakahan, kebencian, rasa iri hati dan kita melepaskan segala yang menjerat dan melekat pada diri kita. Dengan usaha-usaha yang tekun  perlahan-lahan kita baru dapat menghayati dharma dalam arti yang sebenarnya.

Kalau kita melihat didalam kehidupan Buddha Gautama, baik didalam Sutra pitaka, Buddha hanya makan sekali dan beliau berpindapatra, lalu tidur dibawah pohon. Secara kehidupan, Buddha tidak memiliki materi, namun Buddha Gautama memiliki kebahagiaan, kedamaian yang sangat luar biasa. Meskipun perguruan tinggi diseluruh dunia dengan segala macam fakultas dan mata pelajaran yang begitu canggih, tetapi masih belum bisa menandingi dharma Hyang Buddha,  tertulis di dalam Tripitaka yang mengajarkan tentang hakekat kehidupan dan bagaimana manusia membebaskan diri menuju kebahagiaan. Buddha mengajarkan kita supaya mengikuti perkembangan, mengikuti jodoh dengan harapan tidak dipaksakan, ikuti saja perkembangannya. Katakanlah yang sederhana kita lahir di dunia ini berkat dari kedua orang tua dan mempunyai tubuh jasmani, kita harus menjaga menyayangi dan benar-benar merasakan makna kehidupan. Jangan merusak jangan mengikuti pola kehidupan sembarangan, lalu akhirnya merusak diri dan kehidupan kita.    toto

  -toto


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.