|
UMAT Buddha harus meneladani
dan melaksanakan ajaran Buddha, bagaimana kita menerapkan kehidupan Dharma Hyang
Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Dan umat Buddha harus menganggap Buddha
sebagai Bhagawan atau sebagai Tathagata, bahwa Buddha adalah sebagai Guru utama,
maka kita harus mengikuti ajaran yang disampaikan oleh Buddha untuk
menggunakannya dalam sehari-hari, agar mencapai kebuddhaan.
Dalam tingkah laku kita
sehari-hari, baik terhadap masalah pada setiap orang, terhadap keadaan, terhadap
cetana kita, harus kita perhatikan semua. Apakah ini sesuai dengan ajaran
Buddha. Dan jangan bertanya Buddha berada dimana, namun kita hanya bisa
menemukan Buddha yang ada sekarang dalam bentuk arca/patung.
Hal terpenting tingkah laku
atau ucapan kita, harus disesuaikan dengan ajaran Buddha. Bila ada yang bertanya,
dimanakah ajaran Buddha itu berada, ajaran Buddha itu terdapat di Tripitaka/Tipitaka
seperti yang telah diketahui dan terbagi tiga bagian antara lain Sutra pitaka,
Vinaya pitaka dan Abhidharma pitaka. Kalau Sutra pitaka mencakup teori- teori
dharma, dimana tingkah laku manusia sesuai diajarkan oleh Buddha, Vinaya pitaka
mengajarkan bagaimana prilaku tingkah laku kita, sesuai dengan ajaran Budhha.
Dengan demikian kita diminta
untuk menghayati Dharma di dalam pelaksanaan kehidupan kita sehari-hari. Sewaktu
kita masih kanak-kanak saya punya perasaan keliru terhadap agama Buddha,
sepertinya agama Buddha adalah agama yang penuh dengan ketakyulan, tetapi
sebaliknya saya begitu mengagumi imam diantara pendeta kristen, karena pendeta
ini pemudanya bisa berkotbah. Sedangkan yang dilihat pada waktu itu, dari
pendeta-pendeta Buddha hanya membacakan ritual-ritual doa untuk orang mati.
Menurut penilaian saya
pada waktu itu agama Buddha adalah lebih dikhususkan kepada orang mati saja dan
bukan untuk manusia-manusia yang hidup. Pada usia 25 dan 26 tahun saya
berkenalan dengan seorang ahli filsafat Timur terkenal, Prof. Phang Thu Mey.
Profesor tersebut berkata justru didalam kitab suci agama Buddha terdapat ajaran
dan filsafat-filsafat yang sangat tinggi, tetapi hanya bisa diterima oleh
orang-orang yang dapat mengerti dharma dengan baik bila faham benar isi yang
terkandung di dalam kitab suci itu.
Saya begitu terpukau,
sehingga mulai tertarik untuk mempelajari filsafat Buddha. Disamping itu juga
menemukan pelajaran-pelajaran Buddha dan etika moral yang tercantum pada aliran
dan agama-agama lain yang tercantum pada kitab suci Buddha. Setelah mengetahui
betapa indah, halus dan tinggi nya kitab suci Buddha, saya dengan tulus
iklas menyembah dan takluk, bahwa sungguh agung Dharma yang begitu mulia. Oleh
karena itu saya cepat mengambil suatu keputusan, bahwa ini merupakan satu
misi dan tanggung jawab bagi saya untuk membabarkan Dharma diseluruh
dunia ini. Kalau seseorang dapat mengetahui ajaran Hyang Buddha yang begitu baik
dan bagus, tetapi dia tidak membabarkan, berarti kesalahan bagi dirinya. Oleh
karena itu orang yang mengetahui, harus benar-benar berperan dalam membabarkan
Dharma. Demikian selama 46 tahun saya tak henti-hentinya, membabarkan
serta mengajarkan Dharma kepada semua umat.
Seseorang hendaknya
mengembangkan Bodhicitta dan kemudian menerapkan Bodhicitta di dalam penghayatan
dharma. Pengalaman saya selama lebih dari 50 tahun berkenalan dengan
agama Buddha dan saya ingin sharing berbagi pengalaman dengan
bapak/ibu yang hadir disini. Bagaimana kita beragama Buddha dan cara
mengembangkan Bodhicitta, karena sesungguhnya Bodhicita itu untuk diteorikan.
Para acharya menulis kedalam sastra-sastra mereka, betapa sulitnya mengurai
untuk mengerti makna Bodhicitta tersebut.
Apa hakiki yang sebenarnya dari
Bodhicitta, meskipun begitu banyak tafsiran untuk menjelaskan pengertian
Bodhicitta tersebut. Lalu saya mengungkapkan dalam bahasa yang sederhana,
pengertian Bodhicitta setiap manusia adalah harus memiliki ketulusan hati, yang
berarti setiap kita berkomunikasi pada setiap orang, dan setiap kita menjumpai
dengan sebuah masalah, atau kita berada dalam situasi tertentu, kita senantiasa
menjaga ketulusan hati. Dengan demikian kita dapat menghayati dharma di dalam
kehidupan sehari-hari.
Seorang Buddhis meskipun dia
bisa membaca kitab suci Buddha, namun tanpa pelaksanaan, hal itu hanya teori
belaka. Bodhicitta yang mendalam begitu sangat halus sekali, tetapi didalam
aparimitayus sutra, Hyang Buddha membabarkan, hal ini dapat diterapkan didalam
kemurnian hati, perasaan samatha yaitu menganggap semua orang itu sama dan rasa
kesadaran selalu sadar dalam setiap saat (eling-waspada). Terhadap diri sendiri
kita melihat kemurnian batin dengan kemurnian pikiran. Terhadap diri sendiri
kita reflektif melihat kesamarataan dan kita melihat eling-sadar dan demikian
kita memeriksa tingkah laku kita. Tetapi keluar terhadap orang lain kita selalu
mengembangkan maitri- karuna(welas asih dan belas kasihan), dengan demikian
penghayatan dharma itu berjalan berangsur-angsur untuk bisa dan benar-benar
mengerti apa itu yang dimaksud dengan Bodhicitta.
Kita diminta untuk
mengembangkan Bodhicitta, cita-cita yang luhur untuk membebaskan diri kita
sendiri dan membebaskan makhluk lain. Itupun juga harus beranjak dari usaha kita
untuk melihat keadaan batin kita sendiri yang disebut cetana. Demikian setelah
mengerti penghayatan Bodhicitta itu, kita berusaha untuk menerapkan di dalam
tingkah laku kita untuk melihat tuntas dan menembus dunia nyata. Kita melepas,
tidak melekat ; terkenang dan damai ; kita mengikuti jodoh, jangan memaksakan
keadaan; mengenang dan melafalkan nama Buddha. Dengan pengertian melihat dengan
tuntas, berarti kita mengenal keadaan sebenarnya dari alam fenomena ini.
Kemudian kita diminta untuk
melepaskan rasa egois, melepaskan diri dari segala rasa ketenaran, keserakahan,
kebencian, rasa iri hati dan kita melepaskan segala yang menjerat dan melekat
pada diri kita. Dengan usaha-usaha yang tekun perlahan-lahan kita baru dapat
menghayati dharma dalam arti yang sebenarnya.
Kalau kita melihat didalam kehidupan Buddha Gautama, baik
didalam Sutra pitaka, Buddha hanya makan sekali dan beliau berpindapatra, lalu
tidur dibawah pohon. Secara kehidupan, Buddha tidak memiliki materi, namun
Buddha Gautama memiliki kebahagiaan, kedamaian yang sangat luar biasa. Meskipun
perguruan tinggi diseluruh dunia dengan segala macam fakultas dan mata pelajaran
yang begitu canggih, tetapi masih belum bisa menandingi dharma Hyang Buddha,
tertulis di dalam Tripitaka yang mengajarkan tentang hakekat kehidupan dan
bagaimana manusia membebaskan diri menuju kebahagiaan. Buddha mengajarkan kita
supaya mengikuti perkembangan, mengikuti jodoh dengan harapan tidak dipaksakan,
ikuti saja perkembangannya. Katakanlah yang sederhana kita lahir di dunia ini
berkat dari kedua orang tua dan mempunyai tubuh jasmani, kita harus menjaga
menyayangi dan benar-benar merasakan makna kehidupan. Jangan merusak jangan
mengikuti pola kehidupan sembarangan, lalu akhirnya merusak diri dan kehidupan
kita. toto
|