WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 

 PERSPEKTIF AGAMA BUDDHA DALAM DEMOKRASI

 
 

PERSPEKTIF AGAMA BUDDHA DALAM DEMOKRASI
 

SETELAH Indonesia mengalami pemerintahan otoriter selama 32 tahun, maka terjadilah era reformasi, yang pada intinya menghendaki tatanan pemerintahan yang demokrasi sesuai dengan kebutuhan rakyat Indonesia, namun tumbangnya rezim otoriter tidak dengan sendirinya menghasilkan sistem politik yang demokratis, melainkan pada kenyataannya yang terjadi ialah demokrasi yang kebablasan.

Proses demokratisasi di Indonesia terjadi dengan tiba-tiba, sehingga yang menonjol jadinya individualisme dan egoisme yang intoleransi dan penuh dengan kekerasan. Konflik elite politik menciptakan suasana yang menjurus pada berkembangnya separatisme dan anarkisme. Serta kondisi otonomi daerah yang lebih mengedepankan kepentingan daerah yang sempit, daripada kepentingan nasional sebagi bangsa yang besar.

Demokrasi yang biasa diterapkan pada negara kita ialah demokrasi Pancasila yang tidak identik dengan demokrasi liberal yang berlaku pada umumnya di negara Barat. Sebetulnya demokrasi Pancasila sudah tepat dengan budaya bangsa Indonesia yang mengutamakan Ketuhanan Yang Maha Esa, kedaulatan berada ditangan rakyat dilaksanakan  melalui sistem musyawarah mufakat, dan seterusnya. Hanya sayanganya di dalam praktek keseharian beralih jurusan kemudian mengarah pada otoriterian kerajaan keluarga kepala negara, itulah sebabnya muncul gerakan reformasi yang kita saksikan juga merupakan sesuatu yang kebablasan.

Demokrasi pada dasarnya merupakan sesuatu kedaulatan dan berada ditangan rakyat, kemudian dilaksanakan melalui sistem perwakilan menekankan pada hak asasi rakyat yang memiliki kebebasan, solidaritas persaudaraan sebangsa dan setanah air, dan kebersamaan untuk maju mencapai kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara.

Mengembangkan kesadaran dan pencerahan yang merupakan ajaran Buddha dalam meniti perjalanan kehidupan mahluk manusia sampai tercapainya Nirwana yaitu penerangan agung dan menjadi Buddha.

Demokrasi yang dimaksud dalam dunia politik kekuasaan, sebenarnya tidak disinggung dalam kitab suci Tri Pitaka, sebaliknya Guru Agung Buddha Gautama mengajarkan murid-muridnya untuk berjuang melawan hawa nafsu Sang Aku yang selalu muncul dalam bentuk egoisme.

Kekuasaan itu sendiri kental hubungannya dengan kepentingan ego pribadi atau kelompok yang menonjolkan keinginan duniawi, yang sebenarnya di dalam pandangan Buddha Dharma merupakan sesuatu yang tidak kekal dan terus berubah. Ini merupakan dukkha dan samsara yang tidak penting untuk dikejar apalagi dipaksakan.

Dalam pandangan Buddhis tentang demokrasi bersifat relatif, tidak ditafsirkan bahwa demokrasi dalam perspektif Buddha ialah demokrasi liberal atau demokrasi Pancasila mungkin demokrasi terpimpin atau segala macam bentuk demokrasi yang berada dipermukaan bumi ini.

Sepanjang demokrasi dilaksanakan dengan penuh kesadaran diiringi oleh batin yang cerah dilaksanakan dengan penuh kebijaksanaan dan prosesnya berada di dalam keseimbnagan, suatu kondisi yang stabil serta merupakan jalan tengah dari waktu ke waktu, maka demokrasi yang demikian pasti membawa kemajuan dan kesuksesan yang gemilang. Namun bentuk demokrasi apapun bilamana dilaksanakan dengan cara yang ekstrim,  penuh dengan egoisme dan fanatisme yang sempit, maka demokrasi yang demikian akan membawa malapetaka bagi masyarakat dan bagi bangsanya. 

Demokrasi dalam perspektif Agama Buddha merupakan demokrasi dimana kedaulatan terletak pada rakyat yan terbanayak yang dilaksanakan secara adil dan harmonis demi kebaikan dan kesejahteraan bersama. Pandanagn Buddha terpusat pada upaya membersihkan diri dari berbagai kotoran batin yang berintikan Sang Ego, fokus pada Bodhicitta dan kasih sayang yang dampaknya akan menjalin solidaritas  persaudaraan dan kebersamaan yang solid sesama rakyat dari suatu bangsa.

Demokrasi yang diperjuangkan oleh rakyat dan bangsa manapun juga tetap mendambahkan adanya kebebasan, kebersamaan dan solidaritas persaudaraan persaudaraan dari rakyat yang sebangsa dan setanah air. Pandangan Buddhis senantiasa memperjuangkan diri setiap mahluk dari segala belenggu kekotoran batin dan membebaskan diri untuk memperoleh pencerahan sempurna menjadi Buddha. Di dunia ini tidak ada yang kekal dan abadi, maka tak perlu diperebutkan bahkan diperdebatkan. Upaya pembebasan diri masing-masing akhirnya juga bermanifestasi dalam kehidupan bermasyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Sehingga kebebasan kehidupan rakyat terlepas dari belenggu tekanan kekuasaan diktator yang tidak adil.

 

 

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.