Ideal Manusia Sempurna dalam
Tantrayana
Oleh :
Madha Tantri
CITTA-cita tentang menjadi
manusia sempurna telah melekat di setiap sanubari umat Buddha, karena cita-cita
umat Buddha adalah menjadi mahkluk sempurna seperti Sang Buddha dan sekaligus
ini membuktikan keluruhan manusia. Kata manusia sendiri berasal dari bahasa
sanskerta atau bahasa pali yaitu Manussa terdiri dari dua kata Manu
(Mana) dan Ussa. Mana berarti batin dan pikiran, Ussa berarti luhur dan tinggi.
Manusia berarti makhluk yang mempunyai jiwa luhur dan batinnya berkwalitas.
Berbagai konsepsi
aliran/mazhab dalam agama Buddha, dari masing-masingnya memiliki cita-cita atau
manusia ideal yang sempurna. Aliran Theravada, cita-cita ideal adalah
kesucian/seorang arahat yang mampu melenyapkan segala belenggu kekotoran batin.
Sedangkan aliran Mahayana idealisnya adalah seorang Bodhisattva yang memiliki
prajna dan karuna atau kebijaksanaan sunyata dan mengembangkan welas asih.
Dalam Tantrayana, ideal
manusia sempurna adalah siddha. Jenis manusia sidha ini juga dapat dicapai
melalui jalan pembebasan diri dari kekotoran batin dengan mengembang- kan prajna
dan welas asih, namun tidak terjadi pada kelahiran akan datang, tetapi bisa
masak pada kehidupan sekarang.
Orang suci yang ideal dalam
Tantra disebut Siddha, ini adalah orang suci yang hidup sangat harmonis
dengan alam. Selain itu Siddha juga menguasai kemampuan magis dimana
dengan bebasnya, ia mampu menggunakan kekuatan-kekuatan alam, baik di dalam
maupun di luar dirinya.
Aliran Tantra tumbuh dalam
kandungan Mahayana dan berkembang pesat di India Utara serta di Tibet. Hal ini
adalah bagian curahan kreatif dalam mengembangkan pemikiran atau konsep
cita-cita sebagai manusia ideal yang sempurna. Ideal manusia sempurna dalam
Tantra adalah menghargai keindahan alam, kekuatan kosmos serta kemampuan
spiritual manusia. Karena nya seorang Sidha adalah orang yang menghargai setiap
aspek dalam dirinya sebagai manusia, keterkaitannya dengan segenap aspek alam
semesta.
Aliran Tantra menganggap
manusia dan alam memiliki kaitan yang erat, tidak terpisahkan satu sama lain .
Sedangkan tubuh manusia merupakan mikrokosmos yang mewujudkan makrokosmos atau
seluruh alam semesta yang merupakan perantara untuk mencapai kebenaran. Dalam
Tantra terdapat berbagai tehnik yoga, sebagai sarana untuk menyatukan pikiran,
ucapan dan tindakan. Kesatuan, keselarasan antara pikiran dalam visualisasi,
ucapan dalam mantra dan sikap tubuh dalam mudra yang dilatih dengan sungguh
sungguh akan menghantar ke pencapaian kesempurnaan akhir sebagai orang suci
yang disebut siddha.
Tantrayana juga merumuskan
seni kehidupan yang memungkinkan manusia mampu memanfaatkan setiap aktivitas
tubuh, ucapan, dan pikirannya sebagai pembantu menuju kebebasan dengan cara-cara
yang ada di luar dugaan. Aliran Tantra misalnya, mengungkapkan sesuatu yang
tertinggi di dalam bentuk yang terendah dan sederhana, dan menjadikan yang suci
tampak duniawi atau biasa, serta pengetahuan yang paling bijaksana tersimpan
dalam paradoks-paradoks yang paling aneh. Karenanya dalam aliran Tantra ini
segala bentuk duniawi dipergunakan sebagai sarana untuk mencapai yang hakiki
atau yang sejati juga dapat memanfaatkan yang semu untuk mencapai yang sejati.
Terdapat banyak simbolik di dalam Tantra seperti yang terdapat di altar maupun
upacara yang dipergunakan sebagai upaya kausalya atau memiliki fungsi untuk
membangkitkan kesadaran manusia dan melepaskan dari segala bentuk kemelekatan
atau keterlenaan. Bahkan simbolik dalam seksualitas atau gambar yang
menyeramkan dipergunakan dengan maksud untuk mengejutkan tingkah laku yang
melekat terhadap aturan-aturan kaku yang lahiriah dan melepas ketakutan. Dalam
Tantra, orang suci siddha adalah orang yang telah tercerahkan dari segala
belenggu kekotoran batin maupun kemelekatan terhadap pandangan. Pencerahan orang
suci siddha itu merupakan hasil dari perpaduan antara pandangan kesunyataan
(prajna) dan ketrampilan dalam menggunakan berbagai cara (upaya kausalya) dalam
mewujudkan hakekat kesempurnaan, seperti misalnya kesejatian yang terkandung
dibalik penampakan yang lahiriah , yang menjadi simbol kesejatian.
Dalam Tantra terhadap segala
penampakan yang lahiriah atau hal-hal yang duniawi memang tidak harus sampai
melekat, namun begitu juga tidak harus ditinggalkan begitu saja. Karena alam
semesta ini merupakan mandala agung yang mengandung benih-benih pencerahan, dan
berisikan simbol-simbol yang dapat menghantar orang kepada pencapaian kebahagian
tertinggi dan tak terungkapkan (mahasukha) sebagaimana dialami oleh orang suci
siddha. Segala hal yang tampak lahiriah, biasa, umum bisa menjadi sarana dan
menghantar orang mencapai kesempurnaannya. Karenanya, orang suci siddha ini di
dalam Tantra merupakan ideal manusia sempurna yang bisa tampak secara biasa
biasa saja, sederhana, dan sangat dekat dengan alam, dan ada ditengah tengah
kita semua sebagai living Buddha atau Buddha hidup. Adakah mata batin kita
tertutup sehingga masih juga tidak mengenalnya?
*Siddha : Orang suci
yang ideal
|