|
Jangan
menyesali pikiran yang sudah lewat
SEBAGAI seorang penganut
agama Buddha, sebenarnya yang kita cari adalah mengkondisikan keadaan pikiran
dan tidak menyesali perbuatan ucapan yang dilakukan oleh pikiran pada waktu yang
sudah terlewati. Hanya dengan cara ini kita dapat memiliki pikiran yang mantap
untuk meneruskan pengembangan ajaran agama Buddha. Jika kita selalu menyesali
kesalahan-kesalahan kita dimasa lalu, memikirkan hal-hal buruk yang telah kita
lakukan atau ucapkan, maka kita tidak akan dapat konsentrasi pada masa sekarang.
Jika kita mencoba untuk mengerti pikiran orang lain tanpa terlebih dahulu
mengerti pikiran diri sendiri, kita akan lebih mudah menyimpang dari ajaran Sang
Buddha dan akan menampak menuju jalan kejahatan.
Sikap yang benar
dalam mempelajari Buddha Dharma adalah dengan melihat pada kenyataan hidup
sekarang ini. Kita harus tahu dan menilai seberapa besar potensi yang ada dalam
diri kita, serta bagaimana kita dapat menggunakannya untuk menolong mahluk lain.
Ada suatu cerita sebagai
berikut. Terdapat sebuah Vihara tua, pada halaman depannya terdapat sebuah kolam
dan banyak terdapat katak yang hidup bermain di air. Katak-katak tersebut
kadangkala melompat menyelam ke dalam kolam dan tinggal di dalamnya. Terkadang
juga melompat keluar kolam untuk melihat-lihat dunia. Banyak penganut agama
Buddha datang ke Vihara tersebut untuk membakar dupa, membaca sutra, dll.
Kadangkala mereka berjalan disekitar altar dan melafalkan nama Buddha dengan
menggunakan tasbih. Saat itu katak-katak tersebut berada diluar kolam dan
melihat para penganut Buddha berjalan dengan anggun, mereka berharap dapat
melakukan hal yang sama.
Salah satu dari katak
tersebut melompat ke dalam altar pada saat orang-orang bernamaskara di depan
Buddha rupang. Katak diatas altar turut berdoa dengan sungguh sungguh dan
tulus, agar Sang Buddha dapat juga mengabulkan permintaan katak untuk dapat
berdiri dengan dua kaki dan berjalan seperti manusia. Seorang dewa penghuni
Vihara tergerak hati, karena ketulusan katak tersebut, kemudian mengabulkan
permintaannya. Si Katak akhirnya senang bercampur bangga, karena doa nya
terkabul, dapat berjalan dengan dua kaki, sedangkan katak lainnya masih melompat
dengan menggunakan empat kaki.
Pada suatu hari, tiba-tiba
muncul seekor ular. Hampir semua katak masuk kedalam kolam untuk bersembunyi
dari kejaran ular. Katak yang dapat berjalan seperti manusia, juga merasa cemas
dan takut, karena hanya dapat berjalan dengan dua kaki layaknya manusia, tidak
tangkas dalam melompat seperti teman-temannya. Sehingga kemampuannya berkurang,
lalu si ular dengan cepat memangsa katak yang hanya berjalan dengan dua kaki.
Pada saat di mulut ular, katak meronta-ronta kesakitan sambil berpikir dan
merenung dengan penyesalan yang mendalam,” mengapa saya mengorbankan kemampuan
saya untuk melompat, hanya karena ingin dapat berjalan seperti manusia. Kini
hidup saya berakhir ditelan dalam mulut seekor ular. Namun sekarang saya sudah
terlambat untuk kata menyesal”.
Walaupun hanya cerita
anak-anak (jataka), hal lain yang terkandung dalam penyampaian tulisan ini
memberi makna peringatan yang baik buat kita. Jika kita kembali mempelajari
Buddha Dharma, sebelumnya kita harus menemukan kembali sifat dasar dan kemampuan
kita. Dan janganlah selalu mencari sesuatu yang berada diluar jangkauan kita,
yang pada akhirnya menemui kegagalan. Beberapa orang telah mengatakan bahwa
mereka ingin mempelajari jalan menuju pencerahan, tetapi sebaliknya, mereka
kehilangan jati dirinya dan mengejar kekuatan supranatural berlanjut memasuki
kerajaan setan. Bukan hanya pikiran mereka yang menjadi kacau, tetapi dari
mereka akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kebijaksanaan. Hal ini
tentulah sangat menyedihkan.
Maksud yang sesungguhnya
dalam mempelajari Buddha Dharma adalah mengaplikasikan ajaran Buddha dalam
realita kehidupan sehari-hari. Dengan mempergunakan metode ajaran Buddha sebagai
embun pagi yang dapat membersihkan kebodohan dan noda batin pada pikiran kita.
Tujuan utama dalam mempelajari agama Buddha adalah mengimple- mentasikan
kehidupan yang selama ini di sia-siakan dan menyadari keterbatasan kita dalam
cinta kasih. Sesuatu hal yang amat keliru apabila berpikir dalam belajar agama
Buddha untuk mencari kekuatan supranatural.
Akhir kata, semoga kita
semua dapat memahami diri dan dapat melaksanakan dengan baik. Jika gagal
melakukan, biarpun terus menerus melatih pengembangan spritual, kita akan sulit
untuk memperoleh kebenaran. Sebenarnya, yang terdekat ada dalam diri kita,
tetapi seringkali kita lupakan dan malah mencari apa yang ada diluar diri kita.
Mata kita dapat melihat orang lain dengan jelas tetapi tidak dapat bercermin
melihat wajah kita sendiri. Mengapa yang terdekat dengan kita seringkali
dilupakan atau tidak terlihat.
Dalam mempelajari agama
Buddha, kita sudah seharusnya memulai dari yang terdekat, yakni memilih jalan
yang paling mudah, kemudian berupaya memberdayakan potensi kita yang ada untuk
menolong yang memerlukan. Ingatlah bahwa kita tidak boleh melupakan yang
terdekat dengan kita dan mencari sesuatu diluar jangkauan kita.
Tulisan Master Chenyen, di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Ibu Hartati
Murdaya yang diagendakan dan tersimpan 3 (tiga) tahun lalu.
|