|
| |
|
Sekretariat WALUBI: Gedung BERCA, Jl. Abdul Muis No. 62 Jakarta Pusat 10160, Telp: 6221-3518801, Fax : 6221-3518803, email: dpp-at-walubi.or.id
| |
|
|
|
||
![]() |
||
Mengenang Budi & Jasa Orang Tua
Pada Peringatan Hari Ibu (YM Bhiksu Tadisa Paramita Sthavira) |
||
Arahan Hari Ibu ke 78 Oleh Bhiksu Tadisa Paramita untuk generasi penerus selayakya dapat diharapkan memberi tauladan serta melayani kaum Ibu, karena Ibu adalah tiang rumah tangga dan sangat berjasa dalam membesarkan keluarga, baik mulai dari dalam kandungan, lahir, remaja hingga dewasa. Secara detail, silahkan menyimak,menghayati dan merenungkan… Maksud dan tujuan perayaan Hari Ibu Hari Ibu merupakan tonggak sejarah yang di peringati secara nasional oleh seluruh bangsa Indonesia, begitupula umat Buddha di Indonesia senantiasa menyelenggarakan perayaan Hari Ibu, dengan maksud dan tujuan untuk mengingat, menghormati, menghargai serta mengenang jasa-jasa besar dari peran, pengabdian dan sumbangsih kaum ibu, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sebagai anak yang berbakti tentunya harus “Kenal Budi & Bisa Balas Budi” kepada orang tua khususnya ibu sebagai orang tua kita, yang telah mengandung, melahirkan, merawat, membesarkan, mendidik, juga telah membantu mensukseskan cita-cita anak-anaknya hingga pernikahan, disamping memperhatikan masa depan dan kehidupan yang bahagia. Begitupula melihat catatan sejarah, bahwa kaum ibu banyak yang ikut berjuang, berkorban, berperang dan berprestasi merebut, mengisi kemerdekaan untuk membela bangsa dan negaranya. Kebaikan dan kasih orang tua yang sangat dalam dan luas Didalam Sutra “Budi Jasa Besar Orang Tua Sulit Untuk Membalasnya”. Hyang Buddha bersabda ada 10 kebaikan orang tua, terutama peran dan kasih dari kaum ibu terhadap anak-anaknya, antara lain :
Pengabdian & pengorbanan anak sukar membalas budi orang tua. Di dalam Kitab Suci Hyang Buddha bersabda walaupun sang anak melakukan upaya membalas budi dengan berbagai cara antara lain :
Jangan menyakiti dan menelantarkan orang tua Di dunia ini banyak anak-anak tidak bisa menghormati dan berbakti kepada orang tua, umumnya mereka hanya bisa melihat kesalahan, kekurangan dan keburukan orang tuanya, jarang sekali ada anak yang bisa melihat dan membalas kebaikan-kebaikan orang tua. Seandainya bisa membalaspun hanya berskala kecil dan sebatas kulitnya saja, belum bisa membalas budi secara menyeluruh, luas dan berlangsung lama. Coba kita lihat dan perhatikan di sekeliling kita, berapa banyak anak-anak yang menyakiti, menjauhi, menelantarkan dan membuang orang tuanya di saat mereka lemah, banyak sakit, pikun, tidak produktif. Anak-anaknya begitu tega mencampakan mereka ketempat penampungan panti jompo di saat usia senja dan hidup terasing, sehingga banyak orang tua hidupnya merana dan kesepian karena jauh dari keluarga. Bagaimana membalas budi, jasa orang tua Kehidupan manusia dapat dikatakan tiada awal dan tiada akhir dan sudah berlangsung lama sekali, berproses di enam alam tumimbal lahir mengalami kelahiran dan kematian yang berulang-ulang, berapa banyak orang tua kita di masa lalu?, sulit terkatakan!, dan bagaimana sikap dan perilaku kita terhadap orang tua sekarang?. Bagaimana membalas budi jasa orang tua kita sekarang dan dimasa-masa lalu? Hyang Buddha di dalam banyak Sutra bersabda antara lain :
Gelagat, sikap dan perilaku anak yang di katakan durhaka Anak tidak menghormati dan selalu menyusahkan orang tua di sebut anak durhaka.
Kenapa bisa di katakan sebagai anak durhaka?. Coba kita lihat berapa energi dan keringat, darah dan harta orang tua yang terkuras untuk merawat, melindungi, mendidik dan membesarkan anak-anaknya, dengan harapan mereka kelak dapat hidup sukses dan harmonis dengan seluruh keluarga, bisa berbakti, merawat dan mengangkat harkat dan martabat orang tuanya. Tetapi kita sebagai anak malah mengecewakan, memalukan, menyusahkan dan membuat kesedihan orang tua, karena anak-anaknya menjadi bodoh dan jahat, hidup dan matinya anak selalu menjadi beban dan menyusahkan orang tuanya. Anak-anak durhaka ini dalam kehidupan sekarang di pastikan hidupnya kacau, bila hidup berkeluarga pasti berantakan, usahanya jarang ada yang sukses dan sulit menemukan kegembiraan dan kebahagiaan sejati, setelah mati pasti masuk keneraka, menerima penderitaan besar untuk waktu yang lama sekali. Perlu di ketahui anak berbuat jahat anaknya pula yang menerima karma utama, tetapi orang tuanya pun harus menerima karma efek, karena tidak bisa mendidik, mencegah dan mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya, sehinggga anak-anaknya senang berbuat bodoh dan jahat. Bijaksanalah menghadapi sikap dan perilaku orang tua. Menerima budi jangan lupa membalas budi, berdana budi jangan mengharapkan balasan budi. Belajar agama Buddha di mulai bagaimana menjadi orang baik dan berguna, yaitu dapat berbakti dan merawat orang tuanya. Semua kebajikan dimulai dari menghormati dan berbakti kepada orang tua. Ingatlah kebaikan orang tua, jangan ingat sifat dan keburukan orang tua. Ambil sisi kebaikan orang tua, jangan mengambil sisi lain dari keburukan orang tua. Karena sangat manusiawi sekali kalau orang tua kitapun tidak luput dari kesalahan atau kekhilafan, juga maafkanlah orang tua karena kondisi tertentu pernah menyakiti dan menelantarkan anak-anaknya. Renungkan orang tua tidak pernah ada bekasnya, karena tidak ada satu makhluk apapun yang dapat menggantikan posisi orang tua kita. Tubuh dan kehidupan anak-anaknya semua berasal dari orang tua. Kalaupun orang tua kita cara hidupnya salah dan bertentangan dengan hukum berlaku, kita sebagai anak harus berusaha menggugah, menyadarkan dan banyak berdoa untuk kebaikan orang tua. Sering-seringlah menjenguk orang tua dan bahagiakan mereka selagi masih hidup. Ceritakan sejarah perjuangan dan kebaikan orang tua kepada cucu-cucunya, ajarkan budi pekerti untuk menghormati dan menghargai jasa pahala orang tua. Ragam bakti untuk membalas budi orang tua Ada 3 jenis bakti yang dapat di lakukan oleh anak-anaknya antara lain :
Bakti kecil dan bakti sedang hanya berlangsung sesaat dan berskala kehidupan sekarang ini saja, karena perpisahan itu kelak pasti terjadi karena kematian, setelah kematian oarng tuanya, banyak anak-anak tidak peduli dan mudah melupakan keberadaan orang tua dan bagaimana kondisi kehidupan selanjutnya untuk orang tuanya? Banyak anak merasa sudah cukup berbakti selagi orang tua masih hidup saja, setelah mati kuburkan dan lupakan, atau paling tidak setahun sekali mengenang dan berziarah ke kuburan orang tua. Sedangkan bakti besar terus di lakukan oleh anak-anaknya untuk mencari keberadaan dan dimana orang tuanya, berupaya menolongnya untuk di lahirkan disorga Buddha, agar meraih keselamatan dan kebahagiaan hakiki orang tuanya. Penutup Pada peringatan Hari Ibu yang bersejarah ini, marilah kita melakukan sungkem memberikan penghormatan dan melaksanakan kebajikan melafalkan sutra dan mantra untuk membalas budi orang tua. Bagi yang sudah meninggal dunia, semoga mereka segera terbebas dari proses tumimbal lahir, bagi yang masih hidup semoga mereka berusia panjang, kesehatan yang baik, dapat mengembangkan Bodhi-Citta, untuk meraih kebijaksanaan dan kebahagiaan. Begitupula di Hari Ibu seyogyanya kita semua mengunjungi, berdana dan menghibur para orang tua yang tersisihkan dan di lupakan oleh anak-anaknya, agar bisa turut bersuka cita dan menikmati kebahagian pula. Akhir kata, semoga tulisan singkat dan sederhana ini, dapat menyadarkan, membangkitan motivasi, komitmen dan semangat juang bagi anak-anak bangsa terhadap Ibu Pertiwi, agar bisa berbuat yang terbaik dan berkarya untuk mengisi Pembangunan Nasional, sekaligus dapat mengatasi segera krisis multidimensional yang berkepanjangan ini, demi terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran bangsa dan negara, svaha |
||