Saudara se-Ketuhanan, salam damai sejahtera! Topik yang dibahas dalam tulisan ini adalah Rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru Panggilanku untuk mengemban Tugas Suci. Kemuliaan Jalan Ketuhanan dimanifestasikan dengan diturunkannya Jalan Ketuhanan kedunia dengan Kuasa Firman-Nya yang Maha Agung. Kita yang telah memperoleh Ketuhanan, pertama-tama harus senantiasa mengenang Rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru. Mengapa? Tak perlu membaca paritta, tak harus menguraikan sutra dan kitab atapun bermeditasi, tetapi hanya dengan satu Petunjuk Inisiasi, rohani kita serta merta kembali mencapai Nirvana. Apalagi selama enam puluh ribuaan tahun dalam roda tumimbal lahir, manusia sudah melakukan perbuatan dosa karma yang tak terkira, hingga mengakibatkan bencana global yang tiada duanya.
Malapetaka ini sungguh luar biasa, sehingga tak ada manusia yang dapat menghindarinya. Apa alasannya? Manusia modern telah kehilangan hati nuraninya yang kodrati, hilang tak berbekas. Inilah sebab-musabab bencana besar tersebut. Saudara se-Ketuhanan, kita harus sadar dan insaf. Di zaman ilmu pengetahuan dan teknologi ini, manusia tercekat pada segala bentuk lahiriah. Manusia menjadikan materi yang palsu sebagai yang sejati dan membuang moralitas, budi pekerti. hati nurani dan Tuhan, yang Penguasa Laksa Kehidupan, yang tak terlihat oleh mata.
Manusia berkutat untuk bersaing disegi lahiriah dan berebut dalam pemuasan nafsu-nafsu indra. Makan, minum, prostitusi, judi, harta, nama dan kedudukan selalu diperebutkan manusia. Dewasa ini, beraneka ragam hiburan dan kenikmatan dijajakan seluruh pojok dunia. Setiap orang mengejar gaya hidup yang senang dan berfoya-foya. Dan karena berebut materi, manusia umumnya telah kehilangan moralitas dan hati nuraninya. Kini segala sesuatu melimpah ruah di dunia, tetapi paling kekurangan moralitas dan hati nurani. Saudara se-Ketuhanan, kita harus berpaling kembali dan menyadari jelas bahwa kini yang paling kekurangan adalah moralitas dan hati nurani. Asalkan kita mampu berpaling kembali dan menginsafi dihati nurani kita sendiri, niscaya kita akan sadar untuk membalas Rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru. Dengan pemahaman ini, secara otomatis kita akan terpanggil untuk mengemban misi suci, kendati tidak diperintahkan.
Jalan Ketuhanan luhur juga karena Ia diturunkan karena malapetaka tersebut. Tanpa bencana global ini, Jalan Ketuhanan tak perlu diturunkan. Artinya setiap manusia memiliki hati nurani, tidak berfoya-foya, tak judi atau prostitusi. Semuanya tidak ada keterikatan terhadap nama, harta dan kekuasaan. Tiada persaingan dan pertikaian. Perlukan bencana global ini lagi? Tidak. Kini Ketuhanan dan bencana berjalan paralel. Tuhan menurunkan Ketuhanan untuk menyelamatkan manusia yang bajik, sementara bencana datang untuk memusnahkan yang jahat.
Saudara, dalam membina dan melaksanakan Ketuhanan sejati, kita harus intropeksi diri untuk meraih kesadaran dan keinsafan yang sejati pula. Setelah keinsafan yang sesungguhnya, kita akan menyadari bahwa aku adalah manusia yang terbaik atau terjahat? Kita inilah raja penjahat dari semua penjahat, seratus persen penjahat tulen. Benar-benar adalah manusia yang tidak berhati nuari. Mungkin sendiri belum siap mengaku dengan jujur.
Setelah memperoleh Ketuhanan yang sejati, kita harus membina dan melaksanakannya dengan sejati pula. Namun apakah mempunyai sifat serakah? Adakah sifat rakus akan popularitas dan keuntungan? Egoiskah kita? Apakah kita selalu mementingkan diri sendiri dan mengorbankan orang lain, atau adakah kita mendahulukan kepentingan orang lain? Adakah sifat diskriminatif, dendam iri hati dan cemburu? Pernahkan kita bergosip saling berseteru? Ada, semuanya komplit! Kita memang pendosa sejati. Dengan sungguh-sungguh intropeksi diri, kita akan menyadari kita adalah manusia awam duniawi yang jahat dan berdosa.
Sebelum memperoleh Ketuhanan, kita adalah penghuni Nirwana atau neraka? Arwah Neraka! Setelah terlahir dalam badan raga ini, kita juga hanya seorang manusia awam yang penuh keduniawian. Namun sekarang kita umat Ketuhanan tidak hanya mendapatkan Jalan Ketuhanan Sejati, juga bisa menyelamatkan manusia, arwah neraka dan dewata di alam eter. Betapa mulianya tugas dan misi yang kita lakukan sekarang. Sepanjang sejarah manusia belum pernah terjadi. Alangkah agung dan tinggi nilainya misi penyelamatan tiga alam ini.
Padalah kita sebelumnya adalah sesosok arwah neraka. Kalaupun ada jasmani, kita pun hanya seorang manusia awam. Berdasarkan apa kita memohon dan mendapatkan Ketuhanan. Patriat Lii Chun Yang melalang buana untuk membabarkan kebenaran. Baru terakhir mendapatkan Ketuhanan ini. Patriat kedua Shen Kuang membuntungkan lengan kiri baru kemudian memperoleh Ketuhanan. Apakah kita perlu membuntungkan lengan kiri atau berkelana tiga puluh sembilan tahun? Sama sekali tidak. Dan berdasarkan apa kita memohon ketuhanan. Semua ini berkat kebesaran rahmat Tuhan dan kebajikan Guru. Ketika kita benar-benar berpaling kedalam diri dan mengalami kebangkitan hati nurani yang sesungguhnya serta menghayati Rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru, kita akan menyadari saya tak mempunyai pahala walaupun telah melakukan amal yang betapa besarpun. Semuanya itu tidak bisa membalas Rahmat Tuhan dan kebajikan Guru. Tak ada pahala saya. Memahami dan menginsafi hati nurani, kita tidak pernah menyombongkan diri. Lenyaplah segala perbedaan kepentingan dan diskriminasi. Sungguh-sungguh berpaling kembali dan menginsafi hati nurani. Kita akan menyadari betapa besarnya amal yang dilakukan tidak akan bisa membalas Rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru.
Senantiasa berjuangan
Sekuat tenaga untuk
Menyelamatkan Triloka
dan senantiasa tidak berpisah
dari rahmat Tuhan dan Kebajiakn Guru.
Dengan demikian antara kita
dan Rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru
adalah satu kesatuan
Saudara se-Ketuhanan, kita dapat mencapai penyatuan Tuhan-manusia jika kita menyadari keagungan Rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru secara menyeluruh. Mengapa demikian? Karena kita akan senantiasa berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan Triloka dan senantiasa tidak berpisah dari Rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru. Dengan demikian antara kita dan rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru adalah satu kesatuan atau dua? Jawabannya adalah satu.
Sebaliknya, jika kita menganggap semua ini adalah kemampuanku, kehebatanku, kearifanku atau pengetahuanku, kita tercekat bawah saya yang mampu membimbing umat dan melakukan segalanya, semua ini menjadi tak bersangkut paut dengan Rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru. Berarti Tuhan dan manusia sudah terpisah.
Karena itu, kita harus senantiasa berteguh dalam panggilan Rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru dalam proses membina dan melaksanakan Ketuhanan. Dengan demikian, badan raga ini berubah menjadi alat perkakas Tuhan. Insafilah makna ini!
Oleh Y.A. Maha Sesepuh Kao San (Y.S. Hao Che Ta Ti)
|