Jika engkau insaf, engkau akan melihat kebenaran dimana-mana.
Jika hatimu sesat dimana-mana adalah kesesatan.
Kesejatian atau kepalsuan?
Bagaimanakah sifat dunia kita ini? Sebuah kesejatian atau sebuah kepalsuan? Apa yang dapat kita peroleh dari fenomena hidup ini? Kebenaran atau kesesahatan? Kebahagiaan atau penderitaan? Kebajikan atau kejahatan? Siapakah yang menjatuhkan kita? Siapa pula yang mendatangkan keinsafan dan kebangkitan? Dari manakah kebijaksanaan dapat diperoleh? Kemanakah kebenaran dapat dicari?
Jawabannya adalah "dalam diri ini" Diri inilah kunci dari segala jawaban. Jawaban apakah hidup adalah sebuah kesejatian atau sebuah kepalsuan, kebahagiaan atau penderitaan. Yang Arya: "Segala kejatian atau kepalsuan ada dalam dirimu!" Ada dalam hati kita. Ada dalam tindak perbuatan kita. Jika kita insaf, hati nurani kita bercahaya, cinta kasih dan kebijaksanaan memenuhi segenap hidup maka kita akan melihat kesejatian di mana-mana. Kita akan melihat kebenaran di semua tempat. Kita akan melihat kebenaran Tuhan dalam semua benda! Langit, bumi, gunung, telaga, pepohonan, sekuntum bunga, sebatang rumput hingga ke sebutir kerikil kecil, semuanya menyimpan kebenaran! Semuanya menyampaikan kebenaran. Semuanya memanifestasikan cahaya Nurani! Namun kesesatan membuat kita gagal menangkap semua kebenaran ini. Dalam pandangan kita, langit, bumi dan semua isinya hanyalah benda mati. Tak ada kebenaran apapun yang dapat dihayati. Langit ya hanya langit. Bumi ya bumi. Sebatang pohon ya sebatang pohon, benda mati yang tidak mengajarkan apa-apa. Tak ada Dharma apapun yang dapat diteladani. Semesta alam dan semua isinya hanyalah sebuah fenomena yang tak bermakna. Mengapa demikian? Sebab hatiku sesat. Adalah kesesatan diriku yang membuat aku melihat kesesatan dimana-mana. Pada hakekatnya, tak ada kesesatan apa pun dengan dunia dan semua isinya. Namun adalah kesesatan hatiku yang membuat aku gagal melihat semua kebenaran yang ada. Kesesatan hatiku telah merubah semua yang baik menjadi sesat. Semua yang sejati menjadi palsu. Yang Arya: "Satu kesesatan mendatangkan selaksa kesesatan! Satu kepalsuan membawa sejuta kepalsuan."
Satu Kesejatian
Bila hatiku insaf, nuraniku bercahaya, aku akan melihat kebenaran Tuhan di mana-mana. Langit, bumi, gunung, telaga dan semua benda adalah Dharma Hati yang hidup! Adalah kebenaran Tuhan yang tak terhingga! Alam adalah kitab suci yang tak ternilai. Semesta adalah perwujudan kasih LAO MU yang sempurna. Sekalipun hanya sebatang rumput, sebutir kerikil, orang yang insaf dapat melihat sifat Buddha yang mulia. Itulah sebabnya mengapa Buddha dan Nabi tidak perlu mempelajari kitab suci seperti kita, sebab mereka belajar pada alam. Dari alam dan semua isinya, Budha dan Nabi melihat semangat cinta-kasih, kebijaksanaan, pengorbanan tanpa pamrih, kebebasan sempurna, kesuka-citaan tak berkesudahan. Bahkan, melalui alam, para Buddha dan Nabi melihat kebesaran LAO MU, wajah dan senyuman LAO MU! Mengapa? Sebab hati yang insaf akan melihat kebenaran di mana-mana. Yang Arya: "Satu kesejatian mendatangkan sejuta kesejati-an."
Sejuta kesejatian
Semua benda adalah bajik. Semua benda bermanfaat. Namun bila jiwa tersesat, tiada suatu apapun yang bermanfaat bahkan berbahaya dan merugikan. Dunia hanyalah sebuah samudera yang menyesatkan. Demikian juga dengan semua bentuk kekayaan dan kedudukan adalah sumber penderitaan. Sehingga banyak yang bependapat bahwa uang (kekayaan) itu berbahaya. Uang membuat empunya sombong, angkuh, semena-mena, melakukan kejahatan, menindas yang lemah dsbnya. Sehingga orang cendrung berpendapat bahwa uang adalah sumber dari segala malapetaka. Padahal, pada hakekatnya uang itu sendiri hanyalah sebuah instrumen. Sebagai instrumen, uang tidak bajik juga tidak jahat. Bajik atau batil sepenuhnya bergantung pada diri kita. Jika kita sesat, uang akan menjadi sumber segala bencana. Jika kita insaf, ia (uang) adalah sumber kebajikan dan kebaikan. Demikian juga dengan kedudukan, pangkat dan kuasa. Pada hakekatnya, dunia adalah sebuah kewajaran. Hidup adalah sebuah proses. Proses yang mendatangkan kebahagiaan bagi orang yang insaf dan kehancuran yang mengerikan bagi yang sesat.
Bagi para Buddha dan Nabi, hidup adalah sebuah kemuliaan. Sebab hidup adalah proses pewujudan nurani. Dalam hidup inilah, Buddha dan Nabi merealisasi kebijaksanaan dan cinta-kasih, berjuang, berkorban dan menderita demi kebahagiaan umat manusia. Hidup adalah kesempatan mewujudkan kebesaran dan keagungan LAO MU!
Bagi orang insaf, setiap napas memiliki nilai yang tak terhingga. Setiap momen adalah kesempatan berkarya Ketuhanan. Namun bagi orang sesat, setiap detik adalah kesia-siaan. Demikian Yang Arya: "Satu kesejatian, sejuta kesejatian. Satu kepalsuan, sejuta kepalsuan."
Sebutir Nasi
Dalam pandangan Nurani yang bercahaya, sesuatu yang tampak kecil tidaklah kecil. Yang sederhana tidaklah sederhana. Dibalik sebuah kesederhanaan tersimpan ketiada-taraan. Demikianlah dengan Shemu yang suci, Master Nurani Agung, sebutir nasi mempunyai nilai yang tak terhingga sehingga beliau begitu menghargainya. Beliau mengajarkan kita semua untuk tidak boros walau hanya sebutir nasi. Bagi Shemu, nasi adalah rahmat dan kasih LAO MU. Demikianlah bagi orang yang sadar, ia dapat melihat kasih dan kebenaran Tuhan dalam sebutir nasi. Dalam sebutir nasi ia melihat totalitas alam semesta. Semesta adalah satu kesatuan yang bulat. Sebutir nasi adalah bagian dari semesta. Semesta adalah bagian dari dirinya. Dirinya adalah bagian dari LAO MU.
Bagi orang insaf, tak usah jauh-jauh mencari kebesaran LAO MU. Tak usah kemana-mana mencari kebenaran Tuhan. Cukup dalam sebutir nasi, kebesaran dan kebenaran Tuhan telah dapat dihayati. Itulah sebabnya, Orang suci berbahagia dengan hal-hal sederhana sementara orang awam mencari-cari yang luar-biasa. Betapa pun sesuatu itu luar-biasa akan menjadi biasa, sementara yang biasa akan menjadi luar-biasa sebab Satu kesejatian mendatangkan sejuta kesejatian
Spektrum Dharma Hati - Y.S. Maha Sesepuh Kao San
(Komentator: Phu Thi, Ch'an)
|