ISI GOSYO
Orang bijaksana adalah orang yang tidak dapat dipengaruhi oleh delapan angin. Delapan angin adalah keuntungan, kemalangan, pencemaran nama baik, kehormatan, pujian, ejekan, penderitaan dan kegembiraan. Garis besar pengertian tidak dapat dipengaruhi oleh delapan angin adalah tidak gembira dengan adanya keuntungan dan tidak mengeluh dengan kritikan. Orang yang tidak dapat dipengaruhi delapan angin, pasti dilindungi dewa-dewa. Namun, kalau anda dendam kepada majikan dan bertentangan dengan kewajaran, walau bagaimanapun banyak berdoa, dewa-dewa juga tidak dapat melindunginya.
KETERANGAN :
Waktu Syijo Kingo menerima surat ini pada kenji ke-3 (tahun 1277), ia semakin terjepit posisinya karena tidak mematuhi perintah penggantian tanah dari majikannya, Syijo Kingo memikirkan untuk mengajukan gugatan. Oleh karena itu, Niciren Daisyonin memberitahu cara hidup orangyang bijaksana yang tidak dipengaruhi delapan angin, dan memberi semangat kalau ia meneruskan cara hidup sebagai orang bijaksana, pasti dewa-dewa melindunginya.
Di sini "Keuntungan" berarti, mendapat keuntungan di depan mata, "Kemalangan" berarti, mengalami kemalangan baik darl segi jasmani maupun rohani. "Pencemaran nama baik" berarti, kehilangan kehormatan. "Pujian" berarti, dipuji oleh masyarakat, "Ejekan" berarti, mendapat kritikan dari orang lain, "Penderitaan" berarti, keadaan sulit dan senang dalam kehidupan manusia.
Keuntungan, kehormatan, pujian, kegembiraan disebut 4 hal yang di inginkan manusia karena orang menghendakinya. Menjadi kemalangan, pencemaran nama baik, ejekan, penderitaan, disebut sebagal 4 hal yang tidak diinginkan manusia karena orang tidak menghendakinya. Hal di atas ini semuanya dapat mempengaruhi hati manusia, maka disebut sebagai delapan angin.
Bila orang mendapat kehormatan dan pujian, maka akan merasa tinggi hati dan menjadi sombong. Sebaliknya, bila orang dikritik dan berada dalam keadaan sulit, maka akan terjerumus dalam keadaan kalah suasana. Kalau kehidupan kita selalu digoyah dengan hawa nafsu atau untung rugi seperti di atas, kehidupan kita akan menjadi sia-sia.
Dalam Gosyo ini Niciren Daisyonin mengajarkan kepada Syijo Kingo yang sedang menghadapi kesulitan, bahwa pentingnya maju tanpa kehilangan jati diri sendiri, pada waktu baik maupun waktu yang tidak menguntungkan. Memang, Hukum Buddha mengajarkan, "Perombakan sifat jiwa" yakni, menuju suasana jiwa yang kokoh tanpa tergoyahkan oleh keadaan lingkungan bagaimanapun.
Niciren Daisyonin menasehati Syijo Kingo, jangan dendam kepada majikannya yang bertentangan dengan kewajaran. Di sini dapat dibaca maksud Niciren Daisyonin, bahwa tidak boleh melupakan kebaikan majikan yang telah melindungi Syijo Kingo disaat la dan murid Niciren Daisyonin lainnya mendapat penindasan waktu Nichiren Daishonin menjalankan pengasingan di Pulau Sado, Kalu meneruskan kehidupan sebagai orang bijaksana sesuai dengan kewajaran dan berdasarkan hati kepercayaan pasti mendapat perlindungan.
"Tidak ada kemajuan baru, kalau semata-mata terikat pada hal-hal didepan mata dan pikiran sendiri yang sempit. Ketika kita membuka hati sedikit demi sedikit demi kosenrufu, demi susunan NSI, demi umat, maka suasana jiwa kita dengan sendirinya menjadi luas dan cerah." Marilah kita berusaha maju untuk kosenrufu dengan tekad baru
Sumber : Parisadha Buddha Dharma Nichiren Syosyu Indonesia
|