ISI GOSYO :
Yang dimaksud dengan hati kepercayaan bukanlah suatu hal khusus yang sulit. Itu bagaikan istri yang rindu kepada suami, dan suami yang berkorban jiwa demi istri; orang tua tidak akan membuang anaknya, dan anak tidak mungkin terlepas dari ibu. Memasukkan kepercayaan kepada Saddharmapundarika-sutra, Buddha Sakyamuni, Tathagata Prabhutaratna, para Buddha sepuluh penjuru, Bodhisattva, dewa pelindung, dan sebagainya dengan menyebut Nammyohorengekyo, dikatakan sebagai hati kepercayaan.
Bukan hanya itu saja, kalimat sutra Bab Upaya Kausalya Saddharmapundarika-sutra mengatakan, "Dengan tulus dan jujur membuang ajaran sementara, dan membabarkan jalan agung tiada tara" dan bagaikan syair Bab Perumpamaan berbunyi, "(bersikap anjali sambil menundukkan kepala memanjatkan doa, dan hanya menerima dan hanya mempertahankan sastra sutra Mahayana) tidak menerima satu bait pun sutra lainya." Kalimat sutra ini sama seperti seorang wanita yang tidak membuang cermin dari badannya dan kaum pria yang senantiasa membawa pedang. Demikianlah hendaknya, sekejap pun tidak ada hati untuk membuang, serta selalu menjaga dan mempertahankan (hati kepercayaan).
Tanggal 18 bulan 5
Surat balasan kepada Ama Goze
Tertanda,
Nichiren
KETERANGAN :
Surat ini memang singkat, tetapi isinya mengajarkan hati kepercayaan secara jelas. Kalimat "yang dimaksud hati kepercayaan bukanlah sesuatu hal khusus yang sulit" berarti hati kepercayaan kepada Hukum Buddha yang sesungguhnya bukanlah hal istimewa yang terlepas dari kewajaran sebagai manusia. Seperti halnya kasih sayang yang wajar sebagai manusia, atau hubungan antara suami dan istri, orang tua dan anak, demikianlah hati-kepercayaan kepada Saddharmapundarika-sutra, Buddha Sakyamuni, Tathagata Prabhutaratna, para Buddha, Bodhisattva, dewa-dewa pelindung; atau dengan perkataan lain, hati kepercayaan dengan menyebut Nammyohorengekyo kepada Gohonzon.
Pada umumnya, kita cenderung berpikir bahwa arti kepercayaan adalah suatu hal khusus yang berbeda dengan hal-hal kemasyarakatan zaman sekarang. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Pikiran bahwa gerakan hati yang khusus merupakan kepercayaan dari agama membuat tekanan dari agama terhadap kemanusiaan, dan bahkan menjadikan agama sebagai dunia khayal idaman yang terlepas dari kemanusiaan. Bagaimanapun, menurut Nichiren Daisyonin, Hukum Buddha berdasarkan pada kemanusiaan dan mengajarkan kemanusiaan sebagai titik tolak. Akan tetapi, kadangkala kasih sayang kepada manusia ini berkaitan erat dengan hawa nafsu dan bergantung pada obyeknya. Kasih sayang yang ditujukan kepada Saddharma yang menetap secara kekal bukanlah kasih sayang kepada manusia yang tidak kekal. Ini berarti, menerima dan mendarahdagingkan Saddharma dan menegakkannya dalam diri sendiri, sehingga dapat tercapai makna mencapai kesadaran Buddha dalam badan apa adanya. Dengan demikian, agama Buddha bukanlah sesuatu yang terlepas dari manusia, melainkan suatu dasar yang kokoh bagi kemanusiaan.
Kalimat "dengan tulus dan jujur membuang ajaran sementara yang tidak menerima sepatahpun syair sutra lainnya" menunjukkan keharusan mempunyai sikap mawas diri dengan penuh disiplin, sehingga tidak menerima hal-hal yang membuat tercampurnya hati kepercayaan dengan filsafat lainnya sedikitpun.
Perumpamaan "seorang wanita yang tidak membuang cermin dari badannya dan kaum pria yang senantiasa membawa pedang" menguraikan sikap hati kepercayaan yang lurus seperti yang diuraikan diatas. Bagi samurai atau prajurit, pedang bukanlah perlengkapan yang biasa, melainkan bagaikan jiwa dari dirinya sendiri. Demikian pula, cermin bagi kaum wanita; cermin itu bagaikan jiwanya sendiri. Pantangan Saddharmapundarika-sutra yang disebut "dengan tulus dan jujur membuang ajaran sementara" pada hakikatnya merupakan sikap hati dalam menerima dan mempertahankan Gohonzon. Seperti halnya cermin bagi kaum wanita dan pedang bagi kaum pria ---yang bagaikan jiwa bagi dirinya sendiri --- demikian pula hendaknya sikap menerima dan mempertahankan "sekejap pun tidak ada hati untuk membuang, selalu menjaga dan mempertahankan (hati kepercayaan)."
Sumber : Parisadha Buddha Dharma Nichiren Syosyu Indonesia
|