Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  SURAT MEMBUKA MATA

KUTIPAN GOSYO :

Saya beserta murid-murid Saya walaupun menghadapi berbagai penganiayaan, jika tidak timbul keraguan, maka pasti mencapai Dunia Buddha. Janganlah mencurigai para Dewa tidak memberikan perlindungan. Janganlah mengeluh kehidupan sekarang yang belum mendapatkan ketentraman.

KETERANGAN :

Surat membuka mata adalah "Surat membuka dan mewujudkan Gohonzon dalam bentuk manusia". Hal mana menjelaskan dan menunjukkan kepada seluruh umat manusia masa mappo, bahwa Niciren Daisyonin adalah Buddha Pokok yang memiliki ketiga kebajikan dari Majikan, Guru dan Orang tua yang secara lengkap.

Selain itu, surat ini memberikan dorongan semangat dan bimbingan dengan menjelaskan alasan mengapa Niciren Daisyonin mengalami penganiayaan. Dan justru hanya dengan mengatasi kesulitan dan penganiayaan dengan sikap tetap meneruskan hati kepercayaan, baru dapat mencapai kesadaran Buddha.

Bersamaan dengan Niciren Daisyonin dilanda dengan taufan penganiayaan berupa hukuman pemenggalan kepala di Tatsunokuchi dan hukuman pembuangan di Pulau Sado, begitupun para murid dan penganut telah mengalami penganiayaan. Ada orang yang hanya karena dirinya adalah murid dari Niciren Daisyonin sehingga diusir, disita dan dirampas rumah tinggalnya oleh penguasa. Oleh karena itu, diantara murid-murid Beliau berturut-turut telah mundur dan melepaskan diri dari Hati Kepercayaan.

Justru di sini Niciren Daisyonin menandaskan "Saya beserta murid-murid Saya walaupun menghadapi berbagai penganiayaan, jika tidak timbul keraguan maka pasti mencapai Dunia Buddha", adalah mengajarkan bahwa tidak terkecuali Niciren Daisyonin begitupun sama halnya dengan murid-murid Beliau, walau mengalami penderitaan apapun, namun kalau tidak timbul keragu-raguan untuk terus mempertahankan hati kepercayaan pasti menjadi Buddha.

Mengalami penderitaan, karena melaksanakan kepercayaan dan pelaksanaan Hukum Kebenaran adalah sesuai prinsip "Mengubah karma berat, diterima dengan ringan" (Tenju-Kyoju), yakni menerima dengan ringan dosa karma pemfitnahan hukum masa lampau bahkan menghapuskannya, itupun merupakan demi membuka dan memperluas suasana jiwa hingga menjadi Buddha. Oleh karena itu, ketika timbul kesulitan dan penderitaan di dalam kehidupan, maka kita harus menanggapinya secara positif dengan bertekad hati bahwa "Sekaranglah kesempatan untuk mencapai kesadaran Buddha". Inilah hal yang sangat penting sekali.

Oleh karena itu, Niciren Daisyonin mengajarkan: "Janganlah ragu-ragu terhadap hati kepercayaan, karena para dewa tidak memberikan perlindungan, janganlah berkeluh kesah terhadap kehidupan sekarang yang belum mendapat ketentraman". Karena kalau seandainya timbul hati keragu-raguan, maka akan mengeluarkan kata-kata keluh kesah, hal mana akan menghapus dan menghilangkan kurnia kebajikan dan rejeki.

KUTIPAN GOSYO :

Walaupun siang malam Saya mengajarkan hal ini kapada murid-murid Saya, tetapi karena timbul keraguan, semuanya mundur dari hati kepercayaan. Sangat disayangkan bahwa kebiasaan orang bodoh adalah justru pada saat genting melupakan hal yang telah dijanjikan.

KETERANGAN :

Pada bagian ini Niciren Daisyonin mengajarkan, walau Beliau siang malam mengajarkan hal ini kepada murid-murid Beliau, namun kenyataannya ketika mengalami kesulitan dan penganiayaan, semuanya langsung timbul keraguan dan melepaskan hati kepercayaan. Hal ini menasehati kita semuanya bahwa kebiasaan orang bodoh adalah justru pada saat genting melupakan hal yang telah dijanjikan.

Ketika penderitaan dan penganiayaan tiba merupakan saat-saat sangat penting, karena dapat mengubah nasib karma dan menjadi Buddha. Justru pada waktu itu orang yang menentukan hati kepercayaan berkelangsungan yang betapapun takkan mundur satu langkah, dengan sendirinya orang itu akan mencapai Dunia Buddha ----- dapat menjadi Buddha.

Sebaliknya, walau belum pernah mengalami penderitaan dan penganiayaan besar yang menyangkut jiwa, namun karena terus secara tekun melaksanakan untuk mempertahankan pertapaan Jigyo Keta, maka dapat menegakkan jiwa Dunia Buddha diri sendiri ----- mencapai kesadaran Buddha.

Begitupun, ketika mengalami penderitaan dan penganiayaan besar yang menyangkut jiwa, namun kalau tetap mempertahankan dengan teguh hati kepercayaan tidak menyayangi jiwa raga, maka sekaligus dapat menanamkan sebab pencapaian kesadaran Buddha. Untuk itu, hendaknya setiap orang dari kita semuanya harus dapat memandang dan menatap penderitaan dan penganiayaan sebagai kesempatan yang baik dengan membangkitkan keberanian yang berlipat ganda.

Sumber : Parisadha Buddha Dharma Nichiren Syosyu Indonesia



 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.