Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  SURAT ARIF BIJAKSANA MENGALAMI PENGANIAYAAN
(Syonin Gonanji)

ISI GOSYO :

Sebagai kelemahan dari kita manusia biasa adalah tidak terdapat hati yang merasakan takut terhadap larangan yang dijelaskan di dalam sutra dan sastra maupun terhadap sesuatu yang akan terjadi jauh di masa akan datang. Walau tanpa kesalahan lagi, bahwa pasti Heino Saemon Nojo dan Akita Jonosuke akan marah besar dan mungkin semakin menganiayai seluruh murid saya, namun ketika hal itu terjadi, hendaknya memiliki kesadaran untuk menghadapinya. Hendaknya pikirkanlah orang-orang masyarakat sekarang ini, dimana di antaranya terdapat orang yang akan dikirim ke medan peperangan, orang yang sedang menuju ke medan peperangan dan orang yang sedang berada di medan peperangan. Dengan menyesuaikan pada diri kita sendiri. Hingga sekarang ini seluruh murid-murid saya masih tidak terdapat keluh kesah demikian. Mereka sekarang mengalami penderitaan sedemikian rupa, disamping itu, kalau hingga terbunuh, maka akan terjatuh ke dalam neraka. Sedangkan, walau kita sekarang demi Hukum Buddha telah mengalami penganiayaan besar, namun pada kehidupan akan datang menjadi Buddha. Itu adalah sebagai umpama, sama seperti pengobatan Akupuntur dimana walau di dalam proses pengobatan merasakan panas dan sakit, namun pada akhirnya akan menjadi obat, yang akan menyembuhkan sehingga rasa sakit tersebut bukan sakit sesungguhnya.

Dikatakan, bahwa manusia biasa tidak akan merasakan ketakutan terhadap hal-hal yang diajarkan di dalam kalimat sutra maupun sesuatu yang akan terjadi jauh di masa akan datang. Hal yang diutarakan di dalam sutra adalah, bahwa orang yang menyebarluaskan hukum kebenaran pasti akan mengalami penganiayaan besar. Walau dikatakan demikian, namun karena kebodohannya, sehingga dipikirkan sebagai sesuatu yang tidak berkaitan dengan diri sendiri dan tidak dapat menanggapinya sebagai permasalahan diri sendiri.

Namun demikian, karena penguasa pada waktu itu, baik Heino Saemon Nojo maupun Adachi Yasumori, diperkirakan akan menganiayai murid-murid Niciren Daisyonin, maka di dalam keadaan demikian harus memiliki suatu kesadaran dalam menghadapi penganiayaan tersebut. Dalam hal ini Niciren Daisyonin mengajarkan bahwa diperlukan ketekadan yang takkan menyerah terhadap penganiayaan apapun.

Rasa penderitaan yang dialami di dalam serangan Mongolia yang pertama, telah menyelubungi keadaan dalam persiapan menghadapi serangan dari Mongolia kembali. Dalam menghadapi serangan itu, banyak prajurit dikirim dari bagian Timur Jepang ke Tsukushi di Kyushu. Kalau berperang menghadapi tentara Mongolia, maka pasti akan banyak prajurit yang tewas. Di sini Niciren Daisyonin mengajarkan, bahwa hendaknya memikirkan perasaan orang-orang yang menuju peperangan dengan kesadaran akan mati, untuk disesuaikan dengan pendirian sendiri.

Para penganut Atsuhara pada waktu itu sedang dikawal untuk diinterogasi secara keji oleh Heino Saemon Nojo. Dalam hal ini, Niciren Daisyonin membandingkan penderitaan para murid Beliau dengan penderitaan para prajurit yang dikirim ke medan peperangan.

Dengan demikian, para prajurit yang tidak mengetahui bilamana musuh akan datang menyerang, sekarang berada di dalam keadaan penderitaan dari ketakutan terhadap kematian. Terlebih lagi, walau setelah mati di dalam pertempuran, namun harus menerima penderitaan neraka. Sebaliknya, para murid Niciren Daisyonin yang langsung berhadapan dengan penganiayaan, walau sekarang harus menghadapi penderitaan besar, namun setelah kematian akan mencapai kesadaran Buddha.

Dan hal itu diperumpamakan sebagai pengobatan akupuntur yang pada waktu pengobatan merasakan sakit, namun menjadi obat.

Dengan demikian, walau seakan-akan mengalami penderitaan yang sama pun, namun yang terpenting adalah demi dan untuk apakah penderitaan itu? Adapun penderitaan karena peperangan maupun perihal kemasyarakatan pada umumnya, semata-mata kebanyakan akan berakhir dengan penderitaan. Sebaliknya, penderitaan yang dialami karena Hukum Buddha, justru karena menerima penderitaan itu, dengan sendirinya akan memusnahkan dosa karma diri sendiri, dan pada akhirnya dapat memperoleh suasana Buddha.

Melalui prinsip kebenaran pemusnahan dosa karma dan perombakan nasib karma, Niciren Daisyonin telah memberikan dorongan semangat segenap jiwa raga kepada murid-murid di Atsuhara, bahwa betapapun tidak boleh kalah terhadap penderitaan yang dihadapi sekarang, sebaliknya janganlah lupa bahwa penderitaan sekarang adalah penderitaan yang mengakibatkan pencapaian kesadaran Buddha di masa akan datang.
Kita mudah terjerumus pada untung atau rugi dan gembira atau derita di hadapan mata, sehingga mengakibatkan tidak memikirkan pandangan perkembangan di masa akan datang. Niciren Daisyonin dengan ini mengajarkan, bahwa demi mengatasi kebodohan dan kelemahan manusia biasa serta membangun kebahagiaan kekal abadi di masa akan datang, justru sekarang betapapun harus meneruskan perjuangan tanpa menyerah terhadap penganiayaan.

Sumber : Parisadha Buddha Dharma Nichiren Syosyu Indonesia



 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.