Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  VARSA DAN MAKNA UPACARA ULAMBANA

Pada bulan tujuh perhitungan candra sangkala/Imlek, di Vihara-vihara agama Buddha Mahayana selalu diadakan upacara perayaan Ulambana, yang dikenal dengan istilah sembahyang cioko (Hok Kian), Cautu (Mandarin) atau yang dikenal dengan sembahyang rebutan bagi kaum peranakan. Untuk itu, marilah kita mengetahui dengan jelas sejarah dari Upacara Ulambana, yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Berdasarkan kitab suci, upacara ulambana ini benar ada, karena terdapat 3 peristiwa seperti dibawah ini, yaitu :

  1. Sejarah Varsa/Vassa disebut juga Hari Kathina Arya Sangha atau hari berbakti umat kepada Sangha dengan sebutan Hari Kathina.
  2. Maha Bhiksu Maugalyayana/Mogallana membuka pintu neraka untuk menolong ibundanya yang menderita dialam neraka.
  3. Maha Bhiksu Ananda bertemu makhluk alam neraka yang merupakan manifestasi Avalokitesvara Bodhisattva.
I.

Sejarah Varsa disebut juga Hari Kathina Arya Sangha atau hari berbakti umat kepada Sangha dengan sebutan Hari Kathina.

Masa Varsa/Vassa adalah suatu periode waktu yaitu selama 3 bulan, yang digunakan oleh para Bhiksu untuk secara mendalam membina diri di suatu tempat. Cara menghitung Varsa dapat ditinjau dari 2 sisi yaitu :

  • Menurut tradisi MAHAYANA
    Dimulai dari tanggal 15 bulan 4 hingga tanggal 15 bulan 7 penanggalan lunar. Selama 3 bulan Arya Sangha membina diri secara total didalam Dharma dan Vinaya. Tanggal 15 bulan 7 hingga 15 bulan 8 penanggalan lunar (1 Bulan) merupakan Hari Kathina, yang merupakan hari bergembira menyambut kemenangan para Arya Sangha membina diri kembali secara total.

  • Menurut tradisi THERAVADA
    Cara menghitung menurut tradisi Theravada ialah 40 hari setelah Waisak, yang disebut Hari Asadha dan selama tiga bulan (Varsa/Vassa) setelah Hari Asadha, yang disebut Hari Kathina ( Hari Kathina versi Mahayana disebut Kathina kesatu). Perbedaannya dengan versi Mahayana hanya 40 hari.

Meskipun terdapat perbedaan tersebut, namun mempunyai makna dan sejarah yang sama, yaitu :

Pada zaman Hyang Buddha, selama 9 bulan para Arya Sangha berkelana dari satu tempat ketempat yang lain sambil membina diri dan menyebarluaskan ajaran Buddha kepada manusia maupun makhluk-makhluk lainnya yang berjodoh dan menerima ajaran Buddha.

Perlu diketahui, di negara India ada suatu tempat yang memiliki 4 musim, yaitu musim panas, semi, hujan dan dingin. Serta ada pula disuatu daerah yang memiliki 3 musim, yaitu musim, panas, hujan dan dingin. Dikala musim panas, demikian panasnya bisa mencapai lebih dari 44 derajat, sehingga tanah menjadi retak, tumbuh-tumbuhan dan serangga banyak yang mati atau bersembunyi didalam sarangnya. Bila dimusim hujan, tumbuh-tumbuhan mulai bersemai dan binatang-binatang mulai keluar dari sarangnya.

Saat itu sekitar 1250 Bhiksu keluar bersama-sama, sehingga tanpa disengaja mereka menginjak tanaman yang baru bersemai atau telah menginjak binatang-binatang kecil yang baru keluar dari sarangnya. Melihat hal ini Maha Upasaka Anathapindika-Maha Donatur Hyang Buddha, yang memegang peranan cukup penting sekali dalam membantu perkembangan Agama Buddha, khususnya dalam rangka membantu, mendukung, menjaga para anggota Sangha-memohon kepada Hyang Buddha untuk menetapkan peraturan, agar para Bhiksu selama musim hujan selama 3 bulan, jangan pergi kemana pun dengan maksud agar tidak merusak tanaman yang baru bersemai dan tidak mematikan kesempatan binatang-binatang kecil untuk hidup.

Demi Maitri Karuna, Hyang Buddha menetapkan peraturan yang disebut Varsa/Vassa, yang isinya agar pada musim hujan selama 3 bulan, para bhiksu tidak pergi kemana-mana, hidup bersama membina diri dengan pedoman Dharma dan Vinaya serta melaksanakan kode etik 6 sikap kerukunan yaitu :

  1. Saling hormat menghormati sesuai kedudukan dan tanggung jawab
  2. Dalam berbicara menjaga sikap, tidak saling menjatuhkan.
  3. Bersama-sama memotivasikan pikiran untuk maju.
  4. Bersama-sama mempelajari, menghayati serta melaksanakan Dharma dan Vinaya dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Ada keuntungan dinikmati bersama
  6. Ada masalah di musyawarahkan bersama-sama dan mengambil keputusan yang terbaik.

Enam kode etik untuk persatuan dan kesatuan, yang diajarkan Hyang Buddha, dapat menjadi pedoman setiap keluarga, organisasi ataupun negara.

Dalam masa Varsa/Vassa ini, umat mengantarkan dan menyediakan : makanan, pakaian, tempat tinggal, obat-obatan, lain-lain keperluan Sangha sehari-hari, dengan maksud agar dalam membina diri para bhiksu tidak perlu memikirkan kebutuhan sehari-harinya.

Varsa/Vassa merupakan pula hitungan tingkat kesucian kebhiksuan. Saat para bhiksu menjalankan masa Varsa/Vassa mereka berkumpul untuk lebih menghayati Buddha Dharma secara bersama (rohani). Selesai masa Varsa, bulan 7 tanggal 15 Imlek, banyak bhiksu yang mencapai tingkat kesucian, antara lain: Srota-apanna, Sakrdagamin, Anagamin, arhat. Para umat menyambut dengan suka cita selesainya Varsa (bertapa)para Bhiksu, dengan memberikan dana dan memohon doa kepada Sangha yang disebut dengan istilah upacara Kathina Puja atau upacara mempersembahkan dana kebutuhan hidup bagi para Bhiksu Sangha.

II.

Maha Bhiksu Maugalyayana membuka pintu neraka untuk menolong Ibundanya yang menderita di alam neraka.

Pada suatu ketika didalam masa Varsa, yaitu di bulan 7 tanggal 7 penanggalan lunar, Yang Arya Maha Bhiksu Arhat Maugalyayana/Mogallana-salah seorang dari 10 siswa besar Hyang Buddha yang telah mencapai Arhat dalam masa Varsa dan terkenal akan kesaktiannya didalam meditasi. Disini terkenang ibundanya yang telah meninggal dunia. Dengan kesaktian seorang Arhat, beliau dapat melihat ibundanya sedang mengalami derita siksaan di alam neraka Avicci. Para makhluk di alam itu mempunyai bentuk kepala besar dan perutnya busung, sedang lehernya kecil, anggota badannya kurus kering. Mereka sangat menderita kepanasan. Untukl hidup tidak bisa dan untuk matipun tidak bisa, hidup hidup terpanggang akibat karma buruk yang dilakukan semasa masih hidup.

Didorong oleh rasa bakti seorang anak dan keinginnannya untuk membalas budi, maka, dengan kesaktiannya, Arhat Maugalyayana membuka pintu neraka dan berusaha menolong ibundanya, tetapi semua usahanya sia-sia belaka. Seluruh makanan yang diberikan ketika sampai di mulut ibundanya selalu berubah menjadi batu bara api, demikain pula dengan minuman yang diberikan juga berubah menjadi air raksa.

Melihat hal ini, Arhat Maugalyayana menghadap kepada raja Neraka (Yama Dipati), memohon penderitaan ibundanya. Raja Neraka berkata, bahwa hanya seorang Samyaksambuddha yang dapat menolong atau memberikan jalan, agar para makhluk di alam neraka terbebas dari penderitaan.

Akhirnya Arhat Maugalyayana kembali ke dunia dan menemui gurunya, Sakyamuni Buddha (pada waktu itu bulan 7 tanggal 13). Dengan penuh sujud beliau memohon petunjuk dan pertolongan gurunya. Sakyamuni Buddha dan penuh welas asih memberi petunjuk kepada siswaNya, bahwa semasa hidupnya ibunda Maugalyayana banyak melakukan perbuatan buruk, sehingga saat ini terlahir di neraka avicci.

Untuk dapat menolongnya, pada akhir masa varsa, yaitu bulan 7 tanggal 15 penanggalan lunar, salah seorang keluarganya harus timbul rasa bakti dan ingin menolong almarhum/mah dengan memberikan dana kepada sangha, lalu dengan penuh sujud mengundang Sangha untuk membaca kitab suci Hyang Buddha dan memohon Sangha menyalurkan pahala tersebut untuk menolong ibundanya.

Arhat Maugalyayana sangat gembira mendengar petunjuk gurunya. Dengan penuh sradha bakti, ia segera melaksanakan petunjuk gurunya. Setelah pindapatra beberapa hari dan menyimpan hasilnya, kemudian beliau memberikan hasil pindapatra nya kepada Arya Sangha termasuk kepada gurunya, Sakyamuni Buddha, serta memohon diadakan penyaluran jasa dan pahala oleh Arya Sangha. Pada saat itu Hyang Buddha memimpin langsung penyaluran jasa tersebut. Jasa dan pahala dari upacara tersebut dilimpahkan kepada ibunda Arhat Maugalyayana serta para makhluk lainnya yang berjodoh untuk menolongnya bebas dari penderitaan alam neraka.

Sewaktu upacara ini berlangsung, api neraka seketika menjadi padam (arti dari Gatha Yang Che Cing Sui). Suasana neraka yang panas menjadi sejuk, pada saat itu makhluk-makhluk di alam neraka terbebas dari penderitaannya dan tubuh ibunda Arhat Maugalyayana langsung terbelah tujuh, ia tumimbal lahir ke alam yang lebih baik. Upacara ini bukan hanya berhasil menolong ibunda Arhat Maugalyayana saja, tetapi juga berhasil menolong makhluk makhluk yang berjodoh di neraka.

Karena demikian besar manfaatnya tersebut, maka sampai sekarang upacara tersebut masih terus diselenggarakan setiap setahun sekali. Tradisi dari penyelenggaraan upacara ini merupakan salah satu cara melestarikan ajaran Hyang Buddha membalas budi dan menolong para makhluk di alam Samsara, yaitu Alam Neraka dan Alam setan gentayangan.

Oleh karena itu semangat dari Ulambana adalah menolong para makhluk yang sengsara, maka dikemudian hari oleh para sesepuh Bhiksu Sangha Mahayana dikembangkan dengan menganjurkan para umat yang mampu untuk memberikan sedekah (Dana Paramita) kepada fakir miskin. Sehingga, sampai saat sekarang terlihatnya saat tiba bulan 7 para umat menyisihkan uangnya yang ada untuk memberikan sumbangan beras, sandang pangan lainnya yang kemudian disalurkan oleh para pengurus Vihara kepada fakir miskin dan yatim piatu.

III.

Maha Bhiksu Ananda bertemu makhluk alam neraka

Pada suatu hari di dalam masa Varsa, Ananda, yang merupakan salah seorang siswa Hyang Buddha, ketika melatih diri memasuki lautan samadhi, tiba-tiba dia melihat satu makhluk aneh yang sangat buruk rupanya; kepala dan perutnya tetapi lehernya kecil seperti jarum, dari ketujuh lubang (mata, hidung, telinga, dan mulut mengeluarkan asap. Ananda lalu bertanya pada makhluk tersebut, "siapakah engkau dan kenapa engkau datang kemari?"

Makhluk tersebut menjawab,"Ananda, dulu Aku adalah seorang manusia seperti anda. Tetapi, akibat perbuatanku yang buruk setelah meninggal dunia, aku tumimbal lahir di alam Neraka Apaya. Keadaan penuh dengan derita dan sangat menyedihkan.Tolonglah aku!"

Ananda merasa kasihan dan hatinya tergerak oleh perasaan weas asih untuk menolong dan meringankan penderitaan makhluk tersebut. Tetapi, berbagai usaha yang dilakukan untuk menolong makhluk tersebut sia-sia belaka. Sehingga, pada akhirnya makhluk tersebut meminta Ananda untuk memohon petunjuk pada gurunya, Sakyamuni Buddha, agar beliau mau menolong makhluk - makhluk yang menderita seperti dirinya.

Setelah Ananda berjanji akan memohon petunjuk dari gurunya untuk menolong semua makhluk yang menderita, makhluk tersebut lenyap dari hadapan Ananda setelah megucapkan terimakasih.

Kemudian Ananda menghadap Sakyamuni Buddha dan menceritakan semua pengalamannya, serta memohon agar beliau berkenan memberi petunjuk bagaimana cara yang benar untuk menolong dan meringankan penderitaan makhluk - makhluk di tiga alam sengsara.

Setelah mendengar kisah Ananda, dengan penuh welas asih Hyang Buddha ber sabda : "Oh, Ananda, makhluk yang engkau lihat di alam meditasi tersebut sebenarnya adalah penjelmaan dari Avalokitesvara Bodhisattva. Berkat welas asih Nya yang tak terhingga terhadap semua makhluk, dia datang menampakkan diri dalam wujud seperti itu, agar hatimu tergerak untuk menolong mereka dan memohon petunjuk dariKu. Peristiwa ini juga untuk mengingatkan umat manusia, agar tidak berbuat karma buruk (Akusala Karma), sehingga tidak terjatuh ke tiga alam sengsara.

Kemudian Hyang Buddha mengajarkan Ananda cara untuk menolong dan meringankan penderitaan makhluk-makhluk di tiga alam sengsara. Ananda sangat bergembira dan berkata," sungguh suci dan mulia Avalokitesvara Bodhisattva. Berkat welas asihNya yang luar biasa, terbukalah pintu Dharma bagi mereka di tiga alam sengsara. Guru demi kebahagiaan semua makhluk, babarkanlah Dharma agar semua makhluk di tiga alam sengsara dapat diringankan penderitaannya."

Kemudian Hyang Buddha Sakyamuni menganjurkan kepada Arya Sangha, agar setelah selesai menjalankan masa varsa, mengadakan upacara Ulambana /Cioko, guna menolong mereka yang tumimbal lahir ditiga alam sengsara.
Ketiga hal tersebut diatasnya yang menjadi dasar bagi umat Buddha Mahayana dalam melaksanakan upacara Ulambana, yaitu setiap bulan ke-7 sistem penanggalan lunar.

Upacara ulambana biasanya diadakan mulai tanggal 15 bulan 7 sistem penanggalan lunar sampai akhir bulan 7 tersebut. Puncak penutupan upacara jatuh pada tanggal 29 atau 30 bulan ke 7, yang merupakan pula Hari Kebesaran Ksitigarbha Bodhisattva (Ti Cang Wang Po sat).

Berdasarkan Kitab Suci, pelaksanaan Ulambana harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  1. Upacara harus dipimpin sekurang-kurangnya lima anggota Sangha.
  2. Dalam melakukan upacara harus ada anak yang berbakti.
  3. Anak tersebut harus mau menjalankan keprihatinan dengan melakukan ciacay/ vegetarian selama 1 hari atau 3 hari atau seminggu.
  4. Upacara harus dilengkapi dengan sarana puja yang terdiri dari ; 5 macam buah, nasi, 6 macam sayur kering/matang, 6 macam manisan, 5 macam minuman/ cairan, hio, bunga segar, lilin atau penerangan dan lain-lain.

Makna perayaan Hari Ulambana

  1. Membalas budi kepada almarhum/mah.
  2. Memberi sedekah, memberi makan dan membalas budi kepada orangtua serta leluhur yang telah meninggal dunia.
  3. Menjalankan cinta kasih dan kasih sayang Hyang Buddha untuk menolong para makhluk.
  4. Mengundang Arya Sangha atau para Suhu untuk membacakan kitab suci pengampunan dosa dan ayat-ayat suci Jalan Menuju Sukhavati, agar semua makhluk yang berjodoh dapat tumimbal lahir di alam yang lebih baik atau tumimbal lahir di Surga Sukhavati.
  5. Memberikan dana puja/Kathina kepada Arya Sangha/Bhiksu.
  6. Memberikan sedekah kepada fakir miskin.

Kewajiban umat Buddha yang saleh di bulan Ulambana
Sebagai umat Buddha Mahayana yang saleh, pada upacara Ulambana ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan, yaitu :

  1. Membantu orangtua atau sanak saudara yang telah meninggal dunia dengan memberi sedekah dan memohon Arya Sangha melakukan upacara suci Ulambana. Dan jasa pahala dari membaca kitab suci tersebut, secara umum dilimpahkan untuk kebahagiaan semua makhluk di alam sengsara-alam neraka dan alam setan gentayangan dan secara khusus untuk sanak keluarga kita yang telah meninggal dunia.

  2. Memberikan dana kepada Arya Sangha di Vihara, baik berupa sandang, pangan, papan, obat-obatan, beras dan lain-lain. Dalam upacara itu, dana tersebut akan diberikan kembali kepada fakir miskin, anak yatim piatu atau orang-orang yang membutuhkan, dengan maksud memberikan bibit kebahagiaan kepada orang-orang yang tidak mampu, agar pada kehidupan selanjutnya bisa menjadi lebih baik. Tentu selaku orang yang miskin, yang menerima bibit berkah Ulambana (beras) tersebut, harus membangkitkan tekad, agar setelah mereka mampu kelak pada upacara Ulambana pada tahun berikutnya juga ikut menjadi donatur, walaupun jumlahnya hanya sedikit.

  3. Beramal kepada fakir miskin dan mendoakan mereka untuk memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan.

  4. Mencetak Kitab Suci

  5. Introspeksi, membina diri berpedoman pada Ajaran Hyang Buddha, membangkitkan Bodhicitta dengan senantiasa senang berbuat baik dan timbul- kan rasa menyesal dan bertobat atas perbuatan karma buruk yang baru. Selain itu, mau melakukan vegetarian/ciacay, tekun berbuat Smrti membaca sutra dan mantra untuk disalurkan kepada para leluhur, agar dapat tumimbal lahir di Surga Sukhavati.

Demikianlah sejarah singkat tentang manfaat dan arti daripada upacara Ulambana, yang hingga sekarang pada setiap bulan tujuh penanggalan lunar yang masih dilaksanakan, seperti persembahan makanan kepada para makhluk yang telah meninggal dunia, sekaligus menolong mereka, baik yang masih hubungan keluarga, maupun yang tidak mempunyai hubungan keluarga, agar memperoleh makanan yang telah diberkahi dan dapat bertumimbal lahir di alam yang lebuh baik lagi, bahkan mungkin dapat terlahir di alam Surga Sukhavati.

 

Koordinator Dewan Sangha Walubi (Sangha Mahayana)
Oleh :YA. Bhiksu Dutavira Mahasthavira
Vihara Avalokitesvara
Jl. Mangga Besar No.58 Jakarta 11150
Telp. (021) 6299551 Fax. (021) 6249984




Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.