|
Bagaimana merealisasikan dua etika dasar kebuddhaan yakni wajah penuh senyum kasih segala tindakan tanpa suara, etika kebuddhaan adalah sebuah etika yang harus ditaati oleh para Buddha, yang merupakan cerminan perilaku dari seorang Buddha. Jikalau tidak mengerti tentang etika kebuddhaan bagaimana bisa dikatakan sebagai seorang Buddha. Bodhisatva ataupun Nabi suci? Oleh karena itu seseorang yang telah menjadikan hati nurani yang paling sempurna sebagai penguasa bagi dirinya, tentunya dia telah merealisasikan dua etika dasar kebuddhaan dengan sangat sempurna yakni " kasih memenuhi roman wajah serta segala tindakan tanpa suara". Sebenarnya suara yang ada dalam hati kita tak terhitungkan jumlahnya kata-kata yang kita ucapkan melalui mulut ini merupakan suara yang berwujud sedangkan saat kita tidak berucap kata suara yang terdapat dalam hati kita akan semakin keras, semakin banyak, dan kata-kata yang kita lontarkan akan menyakiti hati orang lain, namun suara yang ada dalam hati kita tidak akan merugikan diri sendiri maupun orang lain.
|
Orang lain menyakiti saya, bersalah kepada saya, jikalau timbul rasa dendam tidak puas tentunya saya bukanlah anak LAU MU yang baik dan bukan merupakan emanasi dari Buddha Maitreya. Saat mendengarkan pujian dan sanjungan dari orang lain lalu kita menjadi bangga, angkuh dan sombong. Perbuatan ini juga telah melukai hati LAU MU. Jadi dikatakan segala tindakan tanpa suara artinya tiada suara, dan tidak memiliki suara yang angkuh dan sombong. Saat menemui kemujuran, kemalangan, mendapatkan, kehilangan, keberhasilan, kegagalan, keberuntungan, kemalangan, kita hanya penuh dengan senyum kasih dan segala tindakan tanpa suara baik yang berwujud ataupun tidak berwujud yang ekstern dan intern juga tiada suara, dengan sikap yang demikian barulah dikatakan melaksanakan tugas sesuai dengan percikan roh tuhan yang seutuhnya aku sejati telah direalisasikan. Ini merupakan pribadi LAU MU yang tak terlahirkan pribadi Buddha Maitreya yang lugu dan polos. Dengan demikian barulah dapat merealisasikan menghormati segala-galanya, segala-galanya dihormati.
Penyebab utama kekacauan dalam masyarakat adalah terletak pada pola pandang yang keliru dari masyarakat itu sendiri, pada masa sekarang ini segala pola kehidupan masyarakat telah simpang siur, karena sekarang merupakan masa yang hanya mementingkan intelektual dan setiap individu hanya memandang segala yang berada di luar dirinya, dan berusaha untuk mengejarnya. Hal ini menimbulkan sebuah fenomena yakni mereka hanya menghormati pada orang yang kuat, yang berkuasa, berkedudukan tinggi dan memberikan pujian yang berlebih-lebihan, namun terhadap seorang yang gagal yang rendah di bawah yang miskin melarat, maka mereka akan meremehkan, menghina, menjauhi mereka. Inilah yang menyebabkan dunia kita menjadi berantakan dan kegelapan bagi masyarakat. Tersebut di atas merupakan sebuah pola pandang yang sangat keliru, dengan menggunakan segala sebab jodoh untuk menggapai penghormatan yang berwujud rupa. Dalam kita membina mengamalkan ketuhanan haruslah kita membuang jauh konsep yang demikian.
Jikalau kita menginsafi makna hati nurani, maka hari ini meskipun saya telah menjadi seorang sesepuh, Pandita, Pandita Madya/Muda, ataupun seorang Dharma Duta yang handal, semuanya hanyalah berusaha menunaikan kewajiban nuraniku saja. Kalau kita bisa melupakan semua titel, jabatan, hanya menggunakan jabatan ini untuk memamerkan kehebatan diri, ini merupakan tipe manusia yang tidak bernurani, beranggapan hari ini saya sebagai seorang yang berpengaruh dalam Wadah ketuhanan maka orang lain harus menghormati dan menaruh perhatian kepada saya. Apapun yang saya kerjakan dalam Vihara, adalah demi mendapatkan penghormatan dari orang lain. Niat yang demikian adalah salah total, bila tidak disadari dan merubah diri maka seumur hidup membinapun tidak akan ada hasilnya, tidak pernah mencapai keberhasilan.
Membina mengamalkan ketuhanan adalah demi mendapatkan kedamaian bagi hati nurani, nurani bebas dari kekhilafan dan kesalahan, bila orang lain tidak menghargai segala jerih payah kita dalam membina dan mengamalkan ketuhanan apakah akan menyurutkan semangat pembinaan kita? Kalau memang demikian lalu apa tujuan pembinaan kita? Semuanya semata-mata hanya mementingkan bagaimana penilaian orang lain terhadap saya. Apakah sesama rekan menganggap saya ini orang yang penting? sebAgai bawahan hanya mendambakan penghargaan dari atasan. Arah pembinaan sudah semakin tidak jelas. Membina hingga akhirnya menjadi bosan, hambar rasanya, sungguh sangat kasihan, sepertinya membina tidak mendapat perhatian dari atasan, penghargaan dari sesama rekan, penghormatan dari bawahan, membina itu menjadi sia-sia belaka, hati yang demikian benar-benar telah melenceng dari kebenaran.
Mengapa saya harus membina mengamalkan ketuhanan? Kita tidak mewakili siapa-siapa dalam membina dan mengamalkan ketuhanan. Membina dan mengamalkan ketuhanan. Membina dan mengamalkan ketuhanan janganlah karena memandang wajah, pujian dan sanjungan. Namun membina mengamalkan ketuhanan haruslah diberkahioleh hati nurani, nurani bebas tanpa ikatan, ini merupakan hal yang terpenting.
Membina mengamalkan yang terpenting adalah sejalan dengan hati LAU MU, Buddha Maitreya, serta Dwi Guru Agung, kalau masih tercekat pada penilaian orang lain menginginkan penghormatan sungguh suatu pembinaan yang sangat rapuh, dan masih tercekat dalam keakuan dan menuntut pamrih. Namun disini bukan berarti membina harus sampai menyendiri, tidak peduli pada apapun juga bimbingan sesepuh dan pandita tidak pernah benar-benar dipahami, nasehat dari para senior tidak bisa diterima dengan sepenuh hati seribu satu cara telah digunakan untuk memberikan semangat namun tidak pernah digubris sedikit pun. Orang yang hanya menginginkan penghormatan dari orang lain serta tidak menghormati kepada yang lainnya. Orang yang demikian bukan memiliki harga diri yang tinggi, namun yang ia miliki hanya sifat teledor, sembrono, hati yang tak terkendalikan, akhirnya melakukan segala sesuatu sesuka hati, sikap yang demikian, akhirnya pasti masuk ke dalam ajaran sesat dan gagal.
Kita membina dan mengamalkan ketuhanan haruslah dapat bertanggung jawab pada hati nurani sendiri serta bertanggung jawab pada LAU MU, Buddha Maitreya, Dwi Guru Agung. Tindakan perilaku kita haruslah dapat dipertanggung jawabkan pada LAU MU, Buddha Maitreya serta Dwi Guru Agung. Kita harus menghormati LAU MU, Buddha Maitreya, Dwi guru agung maka kita tidak boleh melakukan hal-hal yang menyakiti hati LAU MU, dan jangan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan jangan masa bodoh, inilah adalah orang yang minder, pesimis, apatis dan menuju kehancuran sendiri.
Membina mengamalkan ketuhanan haruslah menjadi seorang pembina yang memiliki harga diri, apa yang dimaksud dengan harga diri? Masyarakat awam memandang harga diri analog dengan aku yang berwujud rupa, tercekat pada harga diri aku. Sedangkan pengertian harga diri dari mata nurani, harga diri adalah kita sendiri yang harus menghormati nurani sendiri, secara pribadi harus menghormati percikan roh LAU MU, kalau kita sendiri saja tidak menghormati nurani kita lalu siapa? Diri sendiri tidak bisa menghormati percikan roh LAU MU, hati nurani, lalu bagaimana kamu bisa menghormati LAU MU buddha Maitreya, she cun dan she mu.
Sehingga kita harus menjadi seorang manusia yang memiliki harga diri apakah orang lain menghormati saya atau tidak, itu tidak menjadi masalah bagi kita, namun jikalau saya sendiri tidak bisa menghormati hati nurani sendiri, namun orang lain menghormati saya maka akhirnya saya akan menjadi monster jahat. Mengapa dikatakan sebagai monster? Karena teknik pribadimu dilakonkan dengan sangat indah tapi sesuai dengan hati nurani, akhirnya menyebabkan seorang buta mempengaruhi seluruh manusia menjadi buta, menyesatkan diri sendiri dan menyesatkan orang lain.
Dalam membina dan mengamalkan ketuhanan, segala tindakan dan perilaku kita haruslah dapat dipertanggung jawabkan kepada LAU MU, Buddha Maitreya dan Dwi guru Agung harus menghormati dan tidak menyakiti hati LAU MU, Buddha Maitreya dan Dwi guru agung, dan jangan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, di dalam membina mengamalkan ketuhanan haruslah kita membedakan dengan jelas apakah itu ujian langit, atau ujian mara? Membina mengamalkan ketuhanan, haruslah memiliki harga diri, jikalau telah memiliki harga diri maka tidak perlu peduli apakah orang lain menghormati saya atau tidak memiliki harga diri, maka apa yang ia kerjakan adalah selalu sesuai dengan hati Tuhan melakukan sesuai kehendak Tuhan, berpedoman dan melaksanakan sesuai dengan hati guru. Kita sudah memiliki harga diri, namun orang lain tetap meremehkan saya, menghina saya, memfitnah dan menyakiti saya, ini semua dinamakan mengimpasi dosa dan karma dan juga disebut ujian dari langit dan cara tuhan mencetak Buddha Bodhisatva. Inilah cara terbentuknya seorang Buddha bodhisatva harap diingat.
Kalau telah memiliki harga diri dan atasan anda menempatkan anda dalam kedudukan penting antar sesama teman sangat menaruh perhatian padamu, dari bawahan sangat menghormatimu, ini merupakan hal yang biasa saja, tidak ada yang aneh. Kalau seseorang tidak memiliki harga diri, senantiasa mengharapkan atasan memberikan kedudukan yang baik padanya, antar sesama teman harus memperhatikannya bawahan harus menghormatinya ini namanya hati tamak kalau kita sendiritidak memiliki harga diri, namun hanya berharap orang lain menghormati saya, ini namanya memutarbalikkan yang benar dengan yang salah.
Jikalau saya sendiri tidak memiliki harga diri, namun tetap mendapatkan penghargaan dari atasan, perhatian dari sesama rekan, penghormatan dari bawahan, inilah yang disebut dengan ujian mara, jelas berbeda dengan ujian langit karena ujian dari langit adalah untuk mencetak calon Buddha Bodhisatva sedangkan ujian dari mara adalah untuk mencetak calon anak dan cucu mara, jikalau telah tertimpah ujian mara maka disinilah wujud penagihan dari dosa karma kita. Saat kita sendiri tidak dapat menghormati hati nurani sendiri, namun orang lain sangat menghormatiku, penuh dengan sopan santun, menaati kata-kataku, ini adalah kondisi yang berbahaya sungguh dikasihani, jadi nasehat yang terpenting bagi seluruh para fo yuen, cu ciao, fu uk yuen haruslah memiliki harga diri yang tinggi, kalau anda telah dapat menghormati hati nurani sendiri pastilah kita tidak akan berani melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nurani. Jadi seorang yang menghormati hati nuraninya, segala niat pemikirannya perilaku dan tindakannya pasti tidak berani meninggalkan hati nurani tidak pernah menjauhi percikan roh LAU MU.
Penghuni dunia sahaloka ini pada umumnya adalah orang yang telah tersesat nuraninya dan tidak memiliki harga diri didalam komponen mereka hanya mendambakan penghormatan dari orang lain, dengan menggunakan kekuasaan, kedudukan, kekayaan, pengetahuan intelektual, keahlian, kepintaran duniawi, dan sebagainya di dalam wadah ketuhan kalau terdapat manusia yang secara pribadi tidak memiliki harga diri, setiap pemikiran otaknya hanya ingin menjadi sesepuh, menjadi pandita pemimpin karena dengan demikian baru bisa mendapatkan penghormatan dari orang lain, menikmati hidup dengan kekuasaan dan sekali berbicara semua orang akan patuh itulah moment yang memuaskan, namun sungguh sangat sesat dan sungguh patut dikasihani.
Hari ini kita mendalami pendidikan spiritual hati nurani, seperti telah menelan obat penyadar diri, yang membuat otak ini semakin jernih dan sadar, tidak akan terlelap lagi, siao ti bersama-sama dengan para Buddha siswa saling mengasih mengasuh bahwa kita haruslah menjadi seorang manusia yang memiliki harga diri, apakah orang lain mau menghormati saya atau tidak, namun yang terpenting adalah saya sendiri harus menghormati hati nurani saya sendiri, dan menghormati percikan roh LAU MU, inilah pribadi moralitas manusia yang tinggi.
Seseorang yang memiliki harga diri pasti akan dilindungi harimau dan naga, serta ditakuti oleh para setan dan iblis, seseorang dapat menghormati percikan roh LAU MU, pengertian LAU MU adalah Tuhan. Yang agung, mulia dan tiada tara di dalam diriku maka di dalam dunia ini adakah yang lebih agung dan lebih mulia dari dirinya? Jadi seorang manusia yang memiliki harga diri, maka tidak ada satupun Buddha, Bodhisatva, Nabi suci yang tidak menghormatinya, sampai para arwah setan pun menghormatinya para dewa dewi di dalam 3 alam yakni alam hakekat alam hawa dan alam wujud tiada yang tidak menghormatinya. Sehingga seperti sebuah pepatah mengatakan orang yang memiliki kharisma Tao yang tinggi akan dilindungi oleh harimau dan naga, kebajikan yang tinggi akan disegani oleh oelh para arwah, inilah maknanya.
Telah memiliki harga diri, para dewa-dewi serta arwah dalam alam hakekat, alam hawa wujud akan menghormatimu, makanya kita harus menjadi seorang manusia yang memiliki harga diri tidak mempedulikan apakah diperhatikan oleh orang lain atau tidak, menghormati atau tidak menghormatimu. Jikalau kita membina mengamalkan ketuhanan haya mementingkan apakah orang lain menghormati saya atau tidak pernah memperhatikan akan harga diri ini, ini namanya menyimpang, antara akar dan ranting terbalik. Harus diingat dengan baik penghormatan yang tidak berwujud melebihi penghormatan yang berwujud, kalau kamu mendapatkan penghormatan yang tidak berwujud, maka dijamin kamu membina mengamalkan ketuhanan akan lancar inilah sebuah jalan untuk menapaki jalur Buddha, Bodhisatva harap kita semuanya harus memahami akan fakta ini.
Orang yang memiliki harga diri maka ia pasti mampu merealisasikan menghormati segalanya, segalanya dihormati anda dapat menghormati hati nuranimu dan dapat menghormati percikan roh LAU MU, maka anda dapat menghormati percikan roh LAU MU yang terdapat dalam diri seluruh makhluk hidup, menghormati langit dan bumi, menghormati matahari, rembulan, gugusan bintang, gunung bintang, gunung sungai, bumi, sekutum bunga, sebatang rumput, sebutir pasir, sebongkah batu artinya tiada tidak dihormati.
Seseorang yang tidak memiliki harga diri bagaimana bisa hidup di antara langit dan bumi? Dan bagaimana bisa berdiri di hadapan LAU MU buddha maitreya serta she cun-she mu ? orang yang tidak memiliki harga diri, adalah seorang manusia yang tidak setia, tidak berbakti, tidak memiliki metta karuna, tidak memiliki integritas, semoga kita semuanya harus bisa berkontak batin. Harus bulatkan tekad kita untuk menjadi seorang manusia yang memiliki harga diri.
Telah memiliki harga diri barulah dapat menghormati hati nuraninya, menghormati percikan roh LAU Mu yang ada dalam dirinya, dan selangkah lebih maju baru bisa menghormati percikan roh LAU MU yang terdapat dalam seluruh makhluk triloka, menghormati segalanya, segalanya dihormati. Orang yang memiliki harga diri maka segala tindakan, ucapan dan tutur katanya tidak meninggalkan hati nurani, dan membiarkan percikan roh LAU MU sebagai penguasa. Berarti juga membiarkan hati nurani yang paling sempurna sebagai penguasa, dan menguasai badan raga ini dengan sepenuhnya maka secara spontan bertahap muka dengan LAU MU berjumpa dengan Buddha Maitreya, bertemu dengan she cun-she mu, kembali ke kampung halaman abadi dan bersua dengan Bunda Ilahi. Dan hal ini bisa terjadi kapan saja dalam kehidupan kita dan bukan setelah kita meninggal baru dapat kembali ke alam abadi, bersua dengan Bunda Ilahi. Konsep ini harus kita insafi. Semoga saudara dapat berkontak batin.
Enam Perbuatan Mulia Sang Pengasih.
Aksara ren yang artinya sabar, menggambarkan sebilah pisau yang tertancap di atas hati. Hal ini melukiskan bahwa bersabar itu sangatlah menderita bagaikan hati kita tertusuk pisau . dalam derita harus sabar, saat tak mampu bersabar pun harus tetap sabar. Teknik kesabaran seperti ini sungguh sangat berbahaya, karena kapan saja bisa meledak. Kesabaran seperti ini merupakan sebuah tindak penyiksaan diri, yang akan mengakibatkan sifat dan kepribadian menjadi aneh, ataupun badan menjadi rusak karena sakit-sakitan akibat menahan segala tekanan dalam jiwa.
Puji syukur Buddha Maitreya yang telah datang membawakan kabar sukacita kepada kita semua yaitu hadapilah segalanya dengan kasih, kesabaran yang berlandaskan kasih adalah kesabaran yang penuh rasa syukur bagaimanapun buruknya perlakuan orang lain terhadap diriku, aku tetap mensyukurinya. Begitu rasa syukur telah berpancar maka lenyaplah semua ketidakpuasan, ketidakadilan, kebencian, dan sebagainya. Inilah keluhuran dari kesabaran Sang Pengasih, kesabaran yang penuh rasa syukur.
Pada saat orang memfitnah dan mencaci maki saya, mengapa saya harus berterima kasih atau bersyukur kepadanya? Pahamilah bahwa sesungguhnya diri kita penuh dengan kekurangan yang tidak kita sadari. Pada umumnya sebagai seorang pembina yang masih awam saat orang lain memperlakukan kita dengan tidak baik atau membenci kita bahkan memojokkan kita sampai menghadapi jalan buntu saat demikian kita baru disadarkan untuk berpaling dan mengoreksi diri sendiri. Jadi dalam keadaan yang penuh rintangan justru menjadi saat terbaik yang membuat kita mampu menemukan diri sejati. Inilah sebabnya mengapa kita harus bersyukur atas semua perlakuan yang tidak baik itu. Dengan berhasilnya kita berpaling atau memutar satu niat, dari penuh rasa ketidakpuasan menjadi penuh dengan rasa syukur, maka lenyaplah semua kebencian. Kita tetap mampu bersabar dalam semua perlakuan yang tidak baik, inilah kesabaran yang penuh rasa syukur. Di sisi lain, setiap manusia memiliki keterikatan akan ego dan keangkuahan diri yang mendalam. Tembok keakuan seperti ini sungguh tak gampang untuk dihancurkan. Pada saat difitnah dicaci maki, dipermalukan, direndahkan dan sebagainya, saat inilah merupakan saat inilah merupakan saat yang terbaik untuk menghancurkan tembok keakuan . tanpa melalui semua ini, keakuan dan keangkuhan diri tidak mungkin diruntuhkan. Dari hal ini kita dapat memahami bahwa ketika orang memperlakukan saya dengan tidak baik, sesungguhnya pada saat itu dia sedang mempersembahkan mustika untukku, sedang membentuk pribadiku, sedang melatihku untuk mewujudkan keindahan nuraniku, maka sudah selayaknya saya mensyukuri semua berkah ini. Kalaulah semua orang selalu memujiku, mengikuti kehendakku, menerima pendapatku, maka akan membuat keakuan dan kengkuhan diri menjadi semakin tinggi bahkan membuat kita lupa diri hingga terpuruk tiada sadar dalam buaian kesesatan diri.
Sadar untuk bersyukur merupakan perwujudan kasih nurani. Tanpa landasan kasih tak mungkin ada syukur. Tanpa syukur nurani tak bisa mencapai kesabaran tertinggi. Kesabaran teringgi adalah kesabaran yang tiada tindak kesabaran, tiada konsep bahwa saya sedang menahan diri untuk sabar-bersabar bebas bersabar. Kesabaran yang dikenal umum adalah kesabaran yang menahan diri, seperti kesabaran dalam aksara yang telah dilukiskan di awal. Dengan kesabaran demikian akan membuat kita selalu merasa diri telah dirugikan dan timbul keinginan untuk melampiaskan marah atau menuangkan kepahitan ini kepada orang lain. Dalam pandangan kita. Hanya diri sendirilah yang paling benar, sedangkan orang lain tidak berhati nurani, begitu tega memperlakukan saya dengan cara yang menyakitkan. Semua ini bukanlah kesabaran Sang Pengasih.
Hyang Buddha Maitreya menganugerahkan teknik maha metta lugu polos dan Dharma hati dipukul tak melawan dimarah tak membalas kepada kita. Mengajarkan kita untuk selalu memenuhi jiwa dengan kasih. Jika dalam jiwakita penuh kasih, maka pada saat menghadapi berbagai hinaan, kita akan mengatasinya dengan rasa sabar yang penuh syukur. Kesabaran seperti ini bukanlah kesabaran yang terpaksa, melainkan semua perlakuan yang tak baik telah dinetralisir dengan kasih dan ditransformasi menjadi mustika dengan rasa syukur. Insafi dan amalkanlah Dharma Hati Ajita Buddha Maitreya ini.
Yang dimaksud dengan menetralisir semua perlakuan tidak baik dengan cinta kasih di sini bukanlah berarti tindakan menghibur diri, melainkan sungguh-sungguh sebuah kerelaan dan kesadaran nurani, untuk mensyukuri semua rintangan yang datang menggoda. Mengapa kita harus mensyukuri semua perlakuan yang tak baik ini? Karena semua ini merupakan obat mujarab bagi penyakit nurani kita. Orang yang menghina, memfitnah, mencaci maki dan menjatuhkan saya adalah dokter yang datang mengobati penyakit nuraniku. Mereka telah diatur dengan sempurna untuk khusus datang menghina, memfitnah, mencaci maki, menjatuhkan sifat buruk, kesesatan, keangkuhan dan keakuan dalam diriku. Sudah laksaan masa penyakit nurani ini kuderita, dalam diri penuh iri, benci, dendam serakah dan sebagainya, bagaimana menyembuhkan penyakit nurani yang sangat parah dan komplek ini? tiada cara lain selain dengan tetap menghadapi semua perlakuan yang tak baik itu, untuk kemudian berjuang menetralisirnya. Inilah teknik dengan racun melenyapkan racun, dengan sakit mengobati sakit dengan derita mengakhir derita, hingga mencapaisengsara membawa nikmat, yaitu dengan akhir kecemerlangan nurani abadi. Insafilah bahwa di dunia ini tak ada pil ajaib yang bisa menyembuhkan penyakit nurani. Hanya dengan terus menghadapi banyak masalah dan perlakuan yang menyakitkan untuk kemudian kita bergelut dan berjuang secara nyata dalam jiwa sendiri barulah dapat menyembuhkan penyakit nurani hingga tuntas.
Selanjutnya mari kita simak kisah berikut ini. Pada zaman dahulu, hiduplah seorang bhiksu yang sangat terkenal dan dihormati orang banyak. Pada suatu ketika terjadi sebuah peristiwa yang menimpa sang bhiksu. Ada seorang perempuan yang mengandung di luar nikah, dan teman prianya itu tidak bertanggung jawab dan melarikan diri. Dalam keadaan demikian, perempuan yang kebingungan ini melemparkan aib kepada sang bhiksu. Kemudian orang tua dari perempuan tersebut pun membawa massa untuk menyerbu kuil, tanpa basa-basi lagi langsung memukul, mencaci maki dan memaksa sang bhiksu untuk bertanggung jawab kepada anaknya. Sang bhiksu menerima semua ini dengan tenang tanpa pembelaan diri sedikitpun kemudian sang bhiksu bersama perempuan tersebut diusir dari kampung halamannya. Sang bhiksu menyadari, apabila dia tidak menerima penghinaan ini, maka gadis dan janinnya tidak akan selamat. Dengan kasih inilah, dalam kesadarannya sang bhiksu menerima dan menetralisir semua penghinaan atas dirinya. Dengan penuh kesabaran tanpa keluhan, Sang bhiksu menghidupi perempuan tersebut hingga bayi yang dikandungnya dilahirkan dengan selamat. Setiap hari sang bhiksu mengemis demi mempertahankan hidupnya bersama perempuan tersebut dan bayinya.
Beberapa tahun kemudian. Pria yang seharusnya bertanggung jawab namun melarikan diri itu pun sadar. Kemudian pria tersebut memberanikan diri untuk datang menemui pihak perempuan untuk mengaku, memohon pengampunan, dan berjanji untuk menikahinya. Kedua orang tua gadis ini sangat terkejut dan merasa sangat bersalah mereka segera mengutus orang untuk mencari sang bhiksu. Akhirnya sang bhiksu dan perempuan beserta bayinya pun berhasil ditemukan. Dengan tenang sang bhiksu menyerahkan kembali ibu dan bayinya pada keluarga mereka. Sungguh mulia sang bhiksu yang mampu menerima fitnahan dan semua pukulan dengan tenang dan tiada kebencian. Semua ini mampu dilakukan karena ada kasih dalam jiwanya. Ia rela berkorban demi keselamatan orang lain. Inilah kesabaran sang pengasih. Bagi seorang pengasih, suka duka pribadi telah dinomorduakan, panggilan kasihlah yang berada di atas segalanya.
Kini Buddha Maitreya membimbing kita untuk memiliki pribadi Maha Kasih dan lugu polos. Inilah pribadi yang paling sesuai untuk manusia akhir zaman. Hanya dengan kasih, kita baru mampu menghadapi dan menetralisir semua hinaan dengan baik. Hanya dengan kasih kita bisa mentransformasi semua rintangan menjadi mustika yang tiada tara. Bagi sang pengasih, semua racun perlakuan yang tidak baik telah berubah menjadi ramuan obat mujarab bagi kesembuhan jiwa abadi. Dengan inilah sang pengasih menyelamatkan diri dan orang lain.
|